Senin, 18 Juni 2018 20:06:43 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Merawat Kebhinnekaan Menolak Intoleransi
Beragam peristiwa telah mewarnai sejarah perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di tahun 2017, dinamika yang diwarnai unsur konflik intoleransi muncul kepermukaan .



Pengunjung hari ini : 96
Total pengunjung : 399670
Hits hari ini : 1303
Total hits : 3630841
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Datang Untuk Kebaikan
Datang Untuk Kebaikan


Ingwer Ludwig Nommensen (lahir di Nordstrand, Denmark (kini Jerman), 6 Februari 1834 – meninggal di Sigumpar, Toba Samosir, 23 Mei 1918 pada umur 84 tahun) adalah seorang penyebar agama Kristen Protestan di antara suku Batak, Sumatera Utara. Ingwer Ludwig Nommensen, yang lebih dikenal dengan sapaan Nommensen, ialah seorang tokoh pekabar injilJerman yang terkenal di Indonesia.[1] Hasil dari pekerjaannya ialah berdirinya sebuah gereja terbesar di tengah-tengah suku bangsa Batak Toba yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)


Masa kecil
Nommensen berasal dari Pulau Noordstrand di Schleswig, yang pada waktu itu merupakan wilayah Denmark.[1] Keluarganya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, sehingga sejak kecil, Nommensen terbiasa hidup dalam kondisi yang demikian. Maka dari itu, sejak kecil, ia sudah mencari nafkah untuk membantu orangtuanya Ketika berumur 7 tahun, Nommensen memilih menggembalakan angsa daripada duduk di bangku sekolah. Pada umur 8 tahun, ia mulai mencari nafkah untuk membantu orang tuanya dengan cara menggembalakan domba. Pada usia 9 tahun, ia belajar menjadi tukang atap. Lalu, pada usia 10 tahun, ia bekerja pada seorang petani yang kaya sambil belajar mengerjakan tanah. Ia juga bekerja menuntun kuda yang menarik bajak untuk membajak tanah petani kaya tersebut. Pada tahun 1846, saat berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan. Sewaktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, ia ditabrak kereta kuda yang menggilas kakinya sampai patah. Keadaan yang demikian memaksanya berbaring di tempat tidur berbulan-bulan lamanya. Waktu itu, dalam doanya, Nommensen meminta kesembuhan dan berjanji, jika ia disembuhkan, maka ia akan memberitakan injil kepada orang kafir.[1] [5] Setelah kakinya sembuh, Nommensen kembali menjadi buruh tani untuk membantu keluarganya setelah kematian ayahnya.

Pendidikan dan misi
Pada usia 20 tahun, Nommensen berangkat ke Barmen untuk melamar menjadi penginjil. Selama empat tahun ia belajar di seminari zending Lutheran Rheinische Missionsgesellschaft (RMG). Sesudah lulus, ia kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1861.[1]Ia ditugaskan oleh RMG ke Sumatra dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai misinya di Barus dengan harapan akan mendapatkan izin untuk menetap di daerah Toba. Namun, pemerintah kolonial tidak mengizinkan dengan alasan keamanan. Oleh sebab itu, ia bergabung dengan penginjil-penginjil lain yang telah berada di daerah Sipirok yang setelah Perang Padri dimasukkan dalam wilayahHindia-Belanda. Di situ, sebagian dari penduduk sudah memeluk agama Islam sehingga kemajuannya lambat. Ketika diberi izin oleh pemerintah kolonial, maka RMG menunjuk Nommensen untuk membuka pos zending baru di Silindung. Kehadiran zending ditantang oleh sebagian raja dan juga oleh sebagian besar penduduk karena mereka takut akan terkena bencana jika menyambut seorang asing yang tidak memelihara adat. Selain itu, sikap menolak para raja disebabkan pula oleh kekhawatiran bahwa dengan kedatangan orang-orang kulit putih ini menjadi perintis jalan bagi pemerintahan Belanda yang berkuasa pada waktu itu. Sekalipun demikian, Nommensen berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (terjemahan dari Yerusalem - Kampung Damai). Tahun 1873, ia mendirikan gedung gereja, sekolah, dan rumahnya di Pearaja.[1] Hingga kini, Pearaja tetap menjadi pusat Gereja HKBP. Karena kehadiran para misionaris tidak disetujui oleh sebagian raja, terutama oleh mereka yang berpihak pada Si Singamangaraja XII, maka pada Januari 1878, Singamangaraja sebagai raja yang memiliki kedaulatan atas Silindung, memberi ultimatum kepada para zendeling RMG untuk segera meninggalkan Silindung. Pada akhir Januari, Nommensen meminta kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengirim tentara untuk segera menaklukkan Tanah Batak yang pada saat itu masih merdeka. Awal 1978, pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevel menuju Pearaja dan disambut oleh Nommensen. Antara Februari hingga Maret, 380 pasukan tambahan dan 100 narapidana didatangkan dari Sibolga. Februari 1878, ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda selama ekspedisi militer yang dikenal sebagai Perang Toba I. Atas jasa membantu pemerintah Belanda, pada 27 Desember 1878, Nommensen dan Simoneit menerima surat penghargaan dari pemerintah Belanda, ditambah uang tunai sebanyak 1000 Gulden.
Setelah Silindung dan Toba ditaklukkan dalam Perang Toba I, Batakmission (zending Batak) mengalami kemajuan dengan pesat, khususnya di daerah Utara. Nommensen berhasil meyakinkan ratusan raja untuk berhenti mengadakan perlawanan . Tentunya, hal ini dapat terjadi setelah Nomensen meyakinkan kembali masyarakat bahwa ia bukan kaki tangan Belanda dan kedatangannya untuk membawa kebaikan. Hal ini nampak dalam tindakan keseharian Nommensen bagi orang-orang Batak waktu itu. Contoh beberapa raja yang akhirnya bersikap positif ialah Raja Pontas Lumbantobing (Sipahutar), Ompu Hatobung (di Pansurnapitu), Kali Bonar (di Pahae), Ompu Batu Tahan (di Balige), dan lainnya. [ Pada tahun 1881, Nommensen memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, dan ia tinggal di sana sampai akhir hayatnya. Pada tahun kematiannya, Batakmission (cikal bakal Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) mencatat jumlah orang Batak yang dibaptis telah mencapai 180.000 orangUntuk menjaga tatanan hidup dari ribuan orang yang baru masuk menjadi Kristen, Nommensen menyediakan bagi mereka suatu tatanan yang baru. Pada tahun 1866, ditetapkanlah sebuah Aturan Jemaat. Aturan itu meliputi kehidupan orang Kristen di dalam jemaat maupun dalam lingkungan keluarga menyangkut ibadah, perkawinan, hukum, dan pejabat gerejawi. Di samping itu, Nommensen menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak. Ia menerbitkan cerita-cerita Batak dan menerbitkan cerita-cerita PL. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, dan menebus hamba-hamba dari tuannya. Jasa Nommensen juga dikenang oleh orang Batak antara lain karena usahanya di bidang pendidikan dengan membuka sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah, RMG bersama Nommensen membuka pendidikan guru. Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan, maka pimpinan RMG, pada tahun 1881,mengangkat Nommensen sebagai Ephorus. Jabatan ini diembannya sampai akhir hidupnya. Di hari ulang tahunnya yang ke-70, Nommensen mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Bonn. Pada tahun 1911, ia memperoleh penghargaan Kerajaan Belanda dengan diangkat sebagai Officer Ordo Oranye-Nassau. Ia pun akhirnya mendapat gelar sebagai Rasul Orang Batak.
[sunting]Kematian
Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, pada umur 84 tahun. Nommensen kemudian dimakamkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku Batak, setelah bekerja demi suku ini selama 57 tahun lamanya.

Strategi penginjilan
Strategi misi yang dikembangkan Nommensen ialah mengubah strategi penginjilan awal yang menekankan konversi perorangan dengan mengembangkan strategi yang menekankan konversi kelompok baik keluarga (mencakup keseluruhan anggota keluarga sebagai satu kesatuan) maupun keseluruhan komunitas kepada iman Kristen. Untuk mewujudkan hal itu, Nommensen membuka pos penginjilan (Missionsstation) baru (termasuk sekolah) dengan tujuan menjalin hubungan baik dengan pemuka raja-raja setempat. Para raja inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya usaha misi karena mereka merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di tengah-tengah masyarakatnya.


sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ludwig_Ingwer_Nommensen

Tokoh - tokoh
Liek WilardjoLiek Wilardjo
Stanislaus Sandarupa'Juru Kunci' Budaya Toraja
Ade Rostina SitompulObituari: Tokoh HAM itu Telah Pergi Selamanya
Dr. Johannes Leimena Dr. Johannes Leimena
FG Van Gessel FG Van Gessel
Eka DarmaputeraEka Darmaputera seorang pendeta dan teolog Indonesia yang banyak menulis sehingga karya-karya dan pikirannya seringkali muncul
Ir. MARTINUS PUTUHENA (1901 – 1982)Ir. MARTINUS PUTUHENA (1901 – 1982)
Cornelius Van TilCornelius Van Til
W.J. RumambiW.J. Rumambi
Pdt. H.O.H. AwuyPdt. H.O.H. Awuy
IhromiIhromi
Albert Schweitzer Albert Schweitzer
Reinhard BonnkeReinhard Bonnke
Kiai SadrachKiai Sadrach
Josephus Gerardus BeekJosephus Gerardus Beek
Martin LutherMartin Luther
Paus Benediktus XVIPaus Benediktus XVI
Paus FransiskusPaus Fransiskus
Lambertus N. PalarLambertus N. Palar
Pdt. DR. Hisar Raja Parlindungan Siringoringo, SH, MThPdt. DR. Hisar Raja Parlindungan Siringoringo, SH, MTh
Alfred SimanjuntakAlfred Simanjuntak
Fransisca FanggidaejFransisca Fanggidaej
I.J. KasimoI.J. Kasimo
Sutan Gunung MuliaSutan Gunung Mulia
Dr. RA JaffrayDr. RA Jaffray
Romo Lugano Pr.Romo Fx. Lugano Pr.
Mochtar Riady Mochtar Riady Sang Manusia Ide
Jessica SudartaHarpa Bawa Jessica Sudarta Harumkan Nama Indonesia di kancah International
   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution