Jum'at, 22 Juni 2018 23:55:23 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 208
Total pengunjung : 400671
Hits hari ini : 1899
Total hits : 3641936
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Mereka Bilang Aku Cantik
Kamis, 28 September 2006
Mereka Bilang Aku Cantik


Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/pustaka1/domains/pustakalewi.net/public_html/mod/builtin/hiburan.php on line 41
Mereka Bilang Aku Cantik

Oleh : Mundhi Sabda Hardiningtyas*



Bila meneliti wajah dan bagian tubuh lainnya, secara obyektif saya mengakui bahwa bentuk wajah saya sebenarnya kurang sempurna. Kelopak mata yang terlalu sempit, bibir yang terlalu lebar dan bentuk rahang yang besar bisa saya masukkan dalam daftar ketidaksempurnaan fisik. Ukuran badan yang terlalu pendek dengan betis yang terlalu besar juga bisa menambah panjang daftar kekurasan fisik saya.



Setiap berdiri di depan cermin, saya tak lagi bisa menghitung berapa banyak kerutan yang mulai menggurat di wajah. Tidak bisa disembunyikan lagi, garis-garis halus dan kerutan ulai bermunculan di wajah sejak 10 tahun terakhir. Ditambah lagi dengan kelopak mata yang mulai turun, tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa saya semakin tua.



Sebenarnya saya tahu bahwa semua orang akan mengalami masa tua dengan kulit yang semakin keriput dan kendor. Namun, sangatlah manusiawi jika perempuan seusia saya mulai resah dan kurang percaya diri, karena kondisi dan penampilan fisik semakin menurun. Itulah sebabnya, sejak tahun 2003 saya rajin mengunjungi salon. Tentu saja saya harus menyisihkan sebagian gaji untuk 2 kali facial setiap bulan. Walaupun pengeluaran cukup besar, namun hal tersebut bukanlah masalah karena waktu itu gaji saya cukup besar.



Satu tahun silam, saya memutuskan untuk melayani Tuhan secara fulltime dengan penghasilan setengah dari gaji semula. Berkali-kali Pdt.Julianto Simanjuntak memotivasi saya dengan berkata "Kita bekerja di tempatNya Tuhan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Kita harus bekerja dengan cara Tuhan, supaya pada waktuNya Tuhan, kita dapat menuai hasil seperti yang Tuhan kehendaki". Kata-kata tersebut cukup membesarkan hati saya.



Walaupun secara matematis penghasilan saya tidak bisa menutup kebutuhan ketiga anak saya, tetapi saya yakin Tuhan sendiri yang akan mencukupi dan menjaga hidup kami. Saya berkeyakinan, Tuhan akan memperlengkapi saya dengan kebijaksanaan bagaimana mengelola berkat yang Tuhan berikan. Dengan hikmat Tuhan, sayapun memangkas item-item pengeluaran yang tidak penting dan tidak mendesak. Setelah mengutak-utik angka-angka untuk mengupayakan supaya "debet-kredit" dalam rencana penggunaan uang bulanan bisa klop, akhirnya saya harus memangkas budget untuk facial di salon. Kekuatiran pertama yang muncul dengan baying-bayang wajah saya yang kusam dengan tanda-tanda penuaan yang semakin nyata.



Selain karena alasan penghematan uang, saya tidak bisa lagi mengunjungi salon langganan karena hampir tidak ada waktu yang kosong. Hari Sabtu yang dulu bisa saya nikmati dengan "ha-ha-hi-hi" (sesuka hati), sekarang justru menjadi hari "pelayanan" yang sangat penting. Sabtu pertama, saya harus menyediakan waktu untuk konseling dan terapi kelompok senasib untuk anak-anak Tuhan yang bergumul dengan masalah perselingkuhan, disharmoni dengan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, dan single

parent. Sabtu berikutnya, saya harus menyediakan waktu untuk berbagi pengalaman bagaimana menjalani lembah-lembah kekelaman depresi bersama Tuhan serta bagaimana mendampingi anggota keluarga yang mengalami depresi dan skizofrenia. Dengan semakin padatnya jadwal pelayanan Pdt. Julianto Simanjuntak, mau tidak mau saya harus lebih sering membantu beliau mengisi acara konseling interaktif di Radio Pelita Kasih, pada hari Sabtu malam. Pendek kata, Sabtu adalah hari "membagi dan mendengarkan penderitaan" .



Membagikan pengalaman pahit yang traumatis, bukanlah pekerjaan yang mudah. Adakalanya luka hati dan sisa-sisa trauma yang sudah sekian lama saya kubur dalam-dalam, harus saya korek ulang untuk dibagikan tangis kepada teman-teman senasib. Pada awal program, orang biasanya membagikan bebannya dalam tangis. Lambat laun, tangis semakin reda, seiring dengan berkurangnya rasa sakit dan luka hati.



Semula, saya berharap bahwa penderitaan yang saya bagikan bisa membalut luka hati orang lain. Namun sungguh ajaib, kepahitan dan sisa-sisa trauma dalam diri saya pun lambat laun terkikis habis. Entah berapa banyak air mata yang telah saya keluarkan.Namun saya tahu bahwa air mata itu tidak sekedar membasuh wajah, tetapi juga membersihkan hati saya.



Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi teman-teman di kantor saya yang lama. Jujur saja, sebelum bertemu mereka, ada rasa minder muncul dalam hati saya. Selain kesejangan penghasilan dengan mereka, saya kuatir jadwal ke salon yang telah saya coret selama hampir setahun, telah membuat wajah dan penampilan saya "out of date". Terlebih lagi, sejak meninggalkan kantor lama, saya tidak menambah koleksi pakaian baru. Mau tidak mau, saya harus menggunakan baju lama. Dengan kata lain, "tidak ada sesuatu yang baru" yang bisa saya "pamerkan" kepada teman-teman lama.



Sungguh tidak disangka, teman lama yang pertama saya jumpai berteriak kaget ketika melihat saya. Ia mengatakan bahwa saya cantik. Walaupun agak tersipu, saya mengabaikan gurauan teman itu. Anehnya, hampir semua teman yang saya temui mengatakan hal yang sama. Semula, saya pikir kata-kata mereka sekedar bualan gombal.



Tanggal 27 September 2009, pukul 00.52 saya terbangun setelah mendengar bunyi ponsel, menandakan ada SMS yang masuk. Saya sangat bahagia karena adik rohani saya yang sedang sekolah di Singapura mengirim ucapan ulang tahun untuk saya. Sejenak kemudian, kebahagian tak terbendung setelah puluhan kawan rohani dan beberapa pembaca buku mengirim ucapan ulang tahun lewat SMS. Walaupun saya tidak bisa tidur hingga pagi, namun saya sangat bersyukur karena Tuhan telah mengisi kekosongan hidup saya dengan kehadiran begitu banyak sahabat yang peduli dan memperhatikan saya.



Ketika para pembelajar Counseling & Parenting Education - CPE berdatangan di kelas, sayapun kebanjiran salam dan cium sayang. Ketika teman-teman mengatakan "Selamat ulang tahun ya! Makin cantik aja nich !" hati saya cukup tersanjung. Namun ketika mereka bertanya "Ulang tahun yang keberapa nich?", saya hanya berkelakar "Wauw.angka yang menyeramkan! Yang jelas, saya harus siap-siap panen keriput di wajah, ha,ha,ha.."



Seorang teman pembelajar CPE tidak kalah iseng. Ia membisikkan ide gila "Tenang saja! Sekarang kan jaman teknologi. Kalau mau tetap cantik, bisa operasi plastik kok! Sayapun memaksakan diri untuk tertawa, walaupun hati ingin berteriak "Oh, No!"



Mungkin bagi kebanyakan perempuan kelas atas, umur yang semakin merambat bisa saja disamarkan dengan mereparasi wajah. Kulit wajah yang mulai kendor bisa ditarik dan wajah yang kurang sempurna bisa direnovasi melalui operasi plastik. Bahkan hidung yang pesek, bentuk bibir ataupun payudara yang tidak seksi, bisa direkayasa sedemikian rupa untuk mendapatkan penampilan yang sempurna. Sayangnya, upaya memperbaiki dan merubah wajah tidak serta merta mendatangkan kepuasan. Setelah menarik kulit wajahnya yang kendor, orang akan tergoda untuk mempercantik bentuk hidung, mata, bibir dan seterusnya. Semua itu tentunya harus dilakukan dengan biaya yang cukup besar.



Sepintas, tampaknya operasi plastik bisa menjadi alternative solusi yang bisa saya tempuh untuk merenovasi fisik saya yang jauh dari sempurna. Namun, semakin saya memfokuskan diri pada ketidaksempunaan fisik, rasanya semua yang ada dalam diri saya tidak memuaskan hati saya. Haruskah semua bagian tubuh saya dioperasi plastik? Lalu berapa kali saya harus melakukan operasi? Benarkah Tuhan memberikan berkat yang cukup supaya saya bisa bermegah diri dengan kecantikan fisik?



Saya tahu bahwa firman Tuhan memang tidak menyatakan secara eksplisit bahwa operasi plastik untuk mengubah dan mempercantik diri adalah dosa. Namun ketidakpuasan terhadap keadaan yang diberikan Tuhan itulah yang menjerumuskan kita dalam dosa. Rasa tidak puas akan mendatangkan keserakahan dan keserakahan akan mendatangkan kebanggaan diri.



Di sela-sela hiruk pikuk obrolan peserta CPE, saya teringat sebuah acara rohani di sebuah di TV swasta yang membahas kisah Daud. Dalam Mazmur 139 : 13-14 tertulis "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya" Firman ini meyakinkan saya bahwa Tuhan menciptakan setiap orang secara unik dengan maksud yang baik dan indah.



Daud diciptakan Tuhan dengan badan kecil dan pendek. Orang tua Daud sempat merasa malu sehingga mereka membuang Daud. Ketika Samuel datang untuk mengurapi, orang tua Daud menyerahkan saudara-saudara Daud yang berperawakan sempurna. Namun Tuhan berfirman kepada Samuel "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati" (I Samuel 16:7). Akhirnya Tuhan tetap memilih dan mengurapi Daud.



Ketika Daud berperang melawan Goliat, badan Daud yang kecil dan pendek memang merupakan sebuah kelemahan. Namun dengan hikmat Tuhan, akhirnya Daud bisa mengalahkan Goliat yang bertubuh besar dan gagah. Daud memang lemah tetapi melalui kelemahannya itu, kekuatan Tuhan dinyatakan.



Kembali ke masalah wajah saya yang tidak sempurna dan mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Ada beberapa hal yang harus saya lakukan supaya tetap tampil cantik di usia yang semakin tua ini. Pertama-tama, saya harus menerima dan mensyukuri setiap keadaan yang Tuhan berikan. Dengan demikian, saya patut berterima kasih dan merasa bangga atas Tuhan yang telah menganugerahkan berbagai berkat dan talenta dalam hidup saya. Saya tidak perlu minder atau kehilangan rasa percaya diri karena Tuhan memperlengkapi saya dengan berbagai talenta. Ketika saya mempersembahkan kembali talenta yang Tuhan berikan demi kemuliaan nama Bapa, saya menyadari bahwa saya sangat berharga di hadapan Tuhan. Keyakinan bahwa saya berharga di hadapan Tuhan, membuat kepercayaan diri saya semakin meningkat.



Seperti firman Tuhan yang mengatakan bahwa hati yang gembira adalah obat, hati saya yang menerima setiap keadaan dengan penuh syukur, membuat saya tampil ceria. Selain mendatangkan suka cita bagi saya sendiri, keceriaan saya juga memberi semangat dan menghibur orang-orang di sekitar saya. Di balik ketidaksempunaan fisik saya, Tuhan menunjukkan kekuatanNya yang menjadikan hidup saya bermakna dan bisa menjadi berkat bagi orang lain.



Kalaupun wajah saya mulai kendor dan keriput, saya menerimanya sebagai berkat dari Tuhan. Saya patut bersyukur bila di usia setua ini, saya masih sehat, bisa memaknai dan menikmati hidup apa adanya dengan penuh suka cita, serta menjadi berkat bagi orang lain.



Tanpa terasa, hati yang penuh syukur, suka cita dan keceriaan yang saya tampilkan dan kerinduan untuk terus menghadirkan pribadi Kristus serta keingian yang kuat untuk menjadi berkat bagi orang lain, telah menjadikan penampilan saya tampak cantik dan menarik. Bahkan di depan kelas CPE, Pdt. Julianto Simanjuntak mengatakan bahwa saya tampak lebih muda dari waktu-waktu sebelumnya.



Saya yakin, kecantikan saya akan semakin lengkap dengan kebijaksanaan dan hikmat dari Tuhan. Kecantikan itu akan semakin bersinar jika saya tidak mengukuhi berkat yang saya terima untuk kemegahan diri saya sendiri. Saya menyadari bahwa Tuhan memberi saya hidup berkecukupan (walau tidak berlebihan), supaya saya bisa menjadi teman sekerja Allah untuk menolong orang miskin yang terlantar papa. Saya berharap semua yang saya lakukan ini dapat memuliaan nama Tuhan, dan semakin mempercantik hati saya di usia yang semakin senja ini.



************ ********* ********* **

* Penulis buku "Tangan Yang Menenun" yang mengisahkan perjuangan orang tua

dalam mengajar anak-anak tentang kasih dan takut akan Tuhan (Kairos, April

2005) dan buku "Melewati Lembah Air Mata" sebuah kesaksian hidup yang sulit

dari seorang korban kekerasan yang akhirnya ditolong Tuhan melewati lembah

kekelaman depresi dan berdiri tegak di atas puing-puing kehancuran (Gradien,

Juni 2006). Info lebih lanjut hub : sabdaningtyas@ indo.net. id atau HP

08151661312 atau 081932123738




   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution