Senin, 18 Juni 2018 18:16:13 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Merawat Kebhinnekaan Menolak Intoleransi
Beragam peristiwa telah mewarnai sejarah perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di tahun 2017, dinamika yang diwarnai unsur konflik intoleransi muncul kepermukaan .



Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 399664
Hits hari ini : 1023
Total hits : 3630561
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -USAI IBADAH
Kamis, 16 Juni 2005
USAI IBADAH


Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/pustaka1/domains/pustakalewi.net/public_html/mod/builtin/hiburan.php on line 41
Hari masih pagi ketika warung kecil di depan rumahku ramai bukan oleh pembeli, tapi karena ada seorang ibu bertengkar dengan seorang penagih hutang. Sekilas saja aku mendengar, persoalannya aku tahu persis. Dengan si penagih utang itu aku hampir tiap hari ketemu sebab salah satu wilayah operasinya memang di kampungku. Pekerjaannya adalah adalah memberi utangan model rolasan. Artinya, kalau hutang Rp 25.000, uang itu harus dikembalikan secara mengangsur tiap hari Rp 2.500 selama dua belas hari. Angsuran pertama dimulai sehari setelah uang diterima. Jadi hutang itu berbunga 20% selama 12 hari. Bandingkan dengan bunga bank pada umumnya yang mematok bunga antara 7 – 17 % pertahun.



Meski memberlakukan bunga mencekik, ia adalah sahabat bagi kebanyakan ibu-ibu di kampungku. Di kala kesulitan uang, meski hanya sekedar untuk membeli 1 kg beras untuk makan hari itu, cuma si Mas tukang kredit itulah yang mau menolong tanpa banyak tanya apalagi cemoohan. Meski cicilan para ibu-ibu di kampungku itu umumnya tak seberapa namun sering kali memicu pertengkaran sebab ada saja seorang ibu yang menyembunyikan diri karena tak punya uang. Aku cuma bisa mengelus dada untuk sekedar memahami persoalan mereka.



Sementara dengan si ibu yang menjadi lawan bertengkar tukang kredit tadi, aku sangat kenal sebab sama-sama jemaat di satu gereja. Ia pun pernah mengeluh soal beban hidupnya, dan aku cuma bisa menolong sekali saja meski tak seberapa. Setelah itu ia tak berani lagi mengeluh karena hutangnya padaku belum dibayar. Aku sendiri berusaha menghindar sebab memang tak punya kemampuan menolong terus-terusan.



Ketika aku berusaha menganalisa, hutang-piutang di kampungku itu memang sulit dipahami. Banyak para ibu yang semakin terbelit hutang karena tidak mampu memenuhi bunga yang tinggi itu. Sementara untuk tidak berhutang, ada perut yang harus diisi. Akibatnya, kerumitan itu semakin bertimbun. Dan di gerejaku, bukan cuma ibu itu saja yang mengalami persoalan keuangan. Meski tiap kali ke gereja para jemaat selalu mengenakan pakaian terbaik sehingga terkesan tak punya masalah, sebenarnya tiap kali menyanyi atau mendengar kotbah, pikirannya selalu melayang pada kerumitan hidup di luar gereja.



Di suatu Minggu, aku hadir pada kebaktian pagi gerejaku. Seperti biasa, aku selalu gelisah kala menyadari seluruh ruangan gereja tua yang besar itu telah dipenuhi jemaat. Sudah pasti aku tak mendapatkan tempat duduk paling belakang. Tapi kegelisahan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini bukan cuma soal tempat duduk, tapi juga soal harus bagaimana aku sebaiknya bergereja. Ada kegelisahan yang tak jelas. Itu sebabnya, saat kotbah berlangsung, aku sering mengalihkan pandang ke atas menyaksikan burung walet yang beterbangan di langit-langit gereja yang teduh itu.



Tiba-tiba, di tengah dudukku yang selonjor dengan kepala merebah di sandaran bangku gereja itu, aku tergagap karena kantong persembahan telah terjulur di hadapanku. Dengan tergopoh-gopoh kucari uang di saku celanaku dan ketika kutarik beberapa uang logam ikut tercerabut dan bergemerincing di lantai gereja. Aku berusaha tenang meski mukaku merah padam diperhatikan orang-orang sekelilingku.Barangkali karena panas yang tiba-tiba membakar kepalaku itu, aku bergumam, “ah, coba saja seandainya uang persembahan gereja yang terkumpul tiap minggu itu sebagaian dijadikan modal koperasi dan kemudian dihutangkan kepada jemaat yang membutuhkan dengan bunga rendah. Pasti tak ada lagi pertengkaran kudengar di warung depan rumahku.”



Kemudian seperti biasa, setlah kebaktian usai semua jemaat berbaris untuk menyalami majelis dan pendeta yang telah berdiri di depan gereja. Penampilan mereka yang penuh senyum sambil bercanda ria sekedarnya saat bersalaman membuat jemaat seakan berhadapan dengan sang pelindung. Di saat giliranku bersalaman dengan Pak Pendeta, kuberanikan diri untuk menyampaikan gagasan yang tiba-tiba muncul tadi.

“Pak Pendeta, bagaimana kalau sebagian uang persembahan yang terkumpul itu dijadikan modal koperasi simpan pinjam untuk jemaat agar mereka yang membutuhkan tak tercekik rentenir.”

“Waduh, itu tidak mungkin pak soalnya itu kan milik Tuhan.” Jawab Pak Pendeta.



Seketika itu pun aku seakan mengeluh pada diriku sendiri, “nah, apa aku bilang, Tuhan saja tak mau memberi hutangan, apalagi aku!”





Nginden Intan, 11 Juni 2005

Fardik Rudiyanto.

   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution