Senin, 18 Juni 2018 18:12:20 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Merawat Kebhinnekaan Menolak Intoleransi
Beragam peristiwa telah mewarnai sejarah perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di tahun 2017, dinamika yang diwarnai unsur konflik intoleransi muncul kepermukaan .



Pengunjung hari ini : 90
Total pengunjung : 399664
Hits hari ini : 982
Total hits : 3630520
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Lilin Besar






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 10 Oktober 2006 00:00:00
Lilin Besar
Dua minggu lalu, listrik di rumah kami mati. Maklum, daerah kami di Jakarta Barat mendapat giliran dari PLN yang ditengarai penuh dengan korupsi itu. Rumah kami gelap gulita. Saya kebingungan, karena biasanya istri saya yang cepat tanggap. waktu itu istri saya belum pulang dari kerja.



Saya teringat lilin yang disimpan istri saya di laci lemari. Lilin itu hadiah dari teman istri saya dari Argentina. Lilin itu diameternya 12 Cm, tingginya 20 Cm, warnanya coklat bergaris-garis. Saya nyalakan dengan menggunakan korek api. Selama listrik padam, lilin itu tahan terpaan angin. Kelebihan lain, lilin itu tidak terjatuh karena tinggi dan diameternya seimbang.



Lilin itu berbeda sekali dengan lilin yang biasa saya gunakan di kampung.Biasanya lilin yang saya gunakan kecil dan amat tinggi. Sehingga untuk menegakkan, harus saya lelehkan dulu buntutnya baru ditempelkan ke lantai. Itupun belum tentu tegak. Pokoknya repot. Dan, lantainya kotor juga kan.



Kampung saya ada di desa terpencil di daerah Porsea. Namanya desa Nalaela. Desa itu amat disenangi istri saya. Tidak tahu, mengapa istriku yang disebut orang Jakarta amat mencintai desa itu. Yah, mungkin saja karena desa memiliki pria ganteng yang dia cintai. Kuharap, kelak ketika kami kaya raya, istriku antusias juga untuk membangunnya. Tentu kaya raya dengan proses yang benar. Bagi kami, kaya raya bukanlah materi. Kaya raya bagi kami adalah dapt memberi sesuatu dengan tulus. Memberi sesuatu karena kasih Tuhan kepada kami. Kasih Tuhan dengan darahNya yang tertumpah di Bukit Golgota teramat mahal bagi kami.



Seringkali saya mendengar khotbah pendeta menyarankan agar umat menjadi lilin kecil. Lilin kecil itu menerangi kegelapan. Lilin itu habis meleleh untuk menerangi. Hal yang sama pernah disampaikan J Kristiadi, seorang intelektual Katolik dalam sebuah seminar. Menurut Kristiadi, kita harus mau habis terbakar demi sebuah penerangan. Dua hari yang lalu, seseorang menanggapi artikel saya di sebuah milis meminta agar saya menjadi lilin kecil.



Dalam hatiku bertanya, mengapa tidak disuruh menjadi lilin besar?. Bukankah lilin besar lebih tahan terpaan angin?. Memang, membuat lilin besar membutuhkan biaya besar dan waktu yang lama. Secara kasat mata saja, tanpa analisis yang dalam, nampaknya lilin besar lebih efektif penggunaannya.



Memahami analogi lilin kecil yang terbiasa didengungkan pendeta maupun guru agama, perlu dikritisi. Saya kuatir, analogi ini tidak mengoptimalkan kita untuk melakukan sesuatu. Memang benar, jika kita memahami Firman Tuhan yang mengajarkan kita agar setia kepada perkara kecil supaya dipercayakan perkara yang besar tentu tidak menjadi masalah. Kesetiaan itu akan menambah capacity building. Capacity building seingkali terlupakan. Berusaha menjadi populer kelihatannya lebih diminati.



Lihat saja, banyak pendeta mengejar gelar doktor honoris causa. Gelar ini diplesetkan menjadi doktor humoris causa. Di berbagai media Kristen, mereka ini menuliskan gelarnya dengan cara yang salah. Lucunya, penulisan gelar yang salah isinyapun biasa-biasa saja.



Menjadi lilin besar atau memiliki kapasitas yang besar tidaklah dengan gelar. Memiliki gelar doktor dengan kapasitas lulusan sekolah tingkat dasar justru menjadi batu sandungan. Lulusan tingkat dasar memiliki kapasitas doktor tentu amat terhormat. Walaupun teramat sulit. Tetapi jika diawali dengan sikap yang benar terhadap pemahaman sebuah ilmu pengetahuan sangat memungkinkan. Kita membaca di Harian Kompas beberapa waktu lalu. Seorang warga Timor yang tidak memilki pendidikan formal hingga ke perguruan tinggi menemukan pestisida alami yang disebut Superbio. Penemuan ini dijadikan referensi dari beberapa ilmuwan pertanian.



Mengapa saya menggugat para pembuat gelar doktor humoris causa itu?. Sebab, sebagai generasi muda, mudah untuk mengenali kemana kita belajar bila kita memiliki masalah. Keakuratan informasi ini untuk mengurangi kegamangan. Ada kesan, jika sudah doktor sudah tahu segalanya. Ini amat berbahaya bagi perkembangan keilmuan.



Hal yang teramat penting dalam tulisan ini adalah mengajak kita betapa pentingnya capacity building. Capacity building ditunjukkkan dengan karya bukan dengan gelar humoris causa. Gelar Honoris Causa memang perlu walaupun bukan gelar yang mendesak bagi kebutuhan Gereja maupun masyarakat kita. Kelihatannya, gelar itu untuk meningkatkan popularitas. Idealnya, populer karena kapasitas. Seseorang yang memiliki kapasitas yang bagus, kurang baik juga tidak populer. Anehnya, di negeri ini banyak yang kapasitas bagus tidak populer. Dampaknya, kebijakan ditentukan yang populer tanpa kapasitas.



Di akhir tulisan ini, ada baiknya kita memikirkan untuk menjadi lilin besar ditengah bangsa yang terpuruk. Jika tak jadi bupati, gubernur jadilah, tak tak jadi gubernur menteripun jadilah, tak jadi menteri, presidenpun jadi.



Di perguruan Tinggi, seringkali kita dengar, seseorang kalah menjadi dekan, tetapi lolos menjadi rektor. Atau, kalah menjadi rektor, malah menjadi menteri.

Maksud saya, jika anda tak terpilih menjadi nomor satu di organisasi Anda, ingatlah dunia belum kiamat. Atau, jangan paksakan diri Anda, sebab jika orang lain juga memaksakan diri, terjadilah bentrok. Jika terjadi bentrok seperti yang sering kita temukan dalam berbagai organisasi menghasilkan pemimpin gadungan.

Bersikap sportif dalam berbagai hal, biasanya capacity buildingnya bagus. Membangun capacity building pribadi lepas pribadi akan membangun komunitas yang kokoh.



Jadilah lilin besar.

Gurman (Penulis adalah pengamat lingkungan)

dilihat : 803 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution