Jum'at, 17 Agustus 2018 17:03:34 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 91
Total pengunjung : 414077
Hits hari ini : 1865
Total hits : 3794699
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Asal Sensasi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 16 Februari 2007 00:00:00
Asal Sensasi
Catatan Ringan



Asal Sensasi



Pertengahan pekan ini, sebuah sms terkirim dari Pendeta Chrysta Budi Prasetya Andrea, Pendeta Jemaat GKJW Ngagel yang juga Ketua Pengurus Harian Majelis Daerah GKJW Surabaya Timur. Pagi-pagi benar beliau mengabarkan, ?Jangan percaya berita TV manapun. Tak ada bom di Pastori GKJW Kebon Agung. Atap depan rumah ambruk karena tua, menimpa teras asbes suara keras full debu seperti asap.?



Tak lama, berita ?peledakan bom? di rumah pendeta di Malang itu muncul di salah satu segmen berita sebuah televisi nasional. Sekilas, ada garis polisi juga di depan rumah yang tampak reot itu.



Usai penayangan berita, kembali masuk pesan pendek dari beliau. ?Pastori tersebut sudah 1,5 tahun dikosongkan. Pendeta tinggal di pastori baru. Saya langsung lokasi. Police-line cuma dipasang satu jam. Saat sepi suara ambruk seperti ledakan. Aman. Gbu.?



Tak puas, dengan keterangan itu, sebuah permintaan konfirmasi terlayang kepada seorang rekan wartawan lokal di Malang. Sahabat dari kantor berita radio nasional itu menjawab dengan menuturkan keheranannya tentang reaksi rekan-rekannya yang dinilainya berlebihan dalam memberitakan ambruknya rumah pendeta Sri Ageng Kromoniti. ?Padahal Jihandak juga tidak menemukan bukti-bukti adanya bahan peledak,? tulisnya dalam pesan pendek balasan.



Nah, inilah penyakit jurnalis Indonesia. Maunya serba instan, serba matang, dan langsung mendapat ekspose memberitakan sesuatu yang sensasional. Tidak sepenuhnya salah memang, karena secara psikologi sebagai koresponden, sebuah berita yang tidak memiliki nilai jual pasti tidak akan lolos tayang atau lolos muat. Padahal, asap dapur koresponden sepenuhnya tergantung dari berapa banyak beritanya yang naik tayang setiap bulannya.



Jadi, saat ditanya, ?Dapat berita apa hari ini?? Maka, sang koresponden dengan bersemangat menjawab, ?Peledakan, bos!?



?Apa yang meledek?? Tanya sang kepala liputan lagi di Jakarta.

?Rumah pendeta, bos!?



Nah, keren kan? Langsung muat, dah. Perkara nanti berita itu harus diralat, butuh koreksi dan perkembangan lebih lanjut, itu urusan nanti. Padahal, bayangkan kalau kemudian banyak orang menganggap berita itu benar sebagai terorisme, dan kelompok Salib Merah yang militan di Indonesia bagian timur langsung bergerak mendengar pengeboman pastori di Jawa Timur. Jadi apa negeri ini?



Etos kerja macam inilah yang mesti diperbaiki dalam kancah jurnalisme kita. Apalagi, kisah misleading berita karena kurang akurasinya check and re-check bukan peristiwa baru. Masih ingat kisah ?ditemukannya? pesawat Adam Air? Hampir seluruh media memberitakan pesawat Adam Air KI-574 Surabaya-Manado yang hilang kontak dari Makassar ditemukan di pegunungan Sulawesi Barat. Ternyata, berita dari Bupati Polewali dan Gubernur Sulawesi Barat itu hanya isapan jempol, karena bersumber dari seorang ojek dan berbagai sumber sensasional lainnya.



Kisah moralnya adalah, mari berhenti membuat berita sensasional yang membodohkan publik, sebaliknya mari belajar membuat masyarakat menjadi cerdas karena berita-berita yang kita wartakan.





Agustinus ?Jojo? Raharjo, jurnalis dan pemerhati sosial, tinggal Jakarta

dilihat : 1382 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution