Jum'at, 22 Juni 2018 23:52:45 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 208
Total pengunjung : 400671
Hits hari ini : 1886
Total hits : 3641923
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Masalah (Markus 4: 35 ? 41)
Telaah Alkitab
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 24 Juli 2005 00:00:00
Masalah (Markus 4: 35 ? 41)
Hidup itu memang full problem. Benarkan? Bangun pagi saja kita sudah diperhadapkan sejumlah daftar masalah: mulai dari apa yang kita makan sampai siapa yang akan kita makan?(hehehe). Tapi siapa yang bisa menghalangi datangnya masalah? Wah, sepertinya ga ada. Orang sehebat George W Bush, pemimpin negara adikuasa juga punya masalah sekarang, setidaknya skandal orang kepercayaannya si Rove! Tuh kan?apalagi kita-kita yang ga punya kekuasaan ini: setiap hari full masalah .



Masalah memang ga diundang, tapi kok selalu datang ya? Heran, masalah senang bersahabat dengan kita. Oleh karena permasalahan ga bisa dihindari maka pertanyaanya: Bagaimana sikap kita menghadapi masalah? Ini yang penting?.betulkan? Nah, untuk sebagian orang ada yang lari dari masalah tetapi masuk ke dalam masalah yang lain. Contohnya: orang yang broken home jatuh ke drugs. Ini namanya dari gua singa masuk ke gua harimau. Sebagian lagi, ada yang panik terhadap masalah, ketika masalah datang taunya cuma nangis, marah-marah atau stress. Tetapi ada yang berani menghadapi masalah. Nah, yang sepeti ini melihat masalah seperti makanan sehari-hari. Masalah harus dimakan alias diselesaikan!



Pada perikop ini kita melihat ada dua sikap dalam mengahadapi masalah, yakni sikap murid-murid Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus sendiri. Disebutkan dalam teks, setelah Tuhan Yesus selesai mengajar di tepi danau Galilea, Ia mengajak murid-muridNya untuk bertolak ke seberang. Di ayat ke-37 disebutkan, tiba-tiba mengamuklah taufan yang sangat dasyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu?Lho, memangnya murid-murid ga tahu badai taufan akan datang? Kan murid-murid Tuhan Yesus kebanyakan nelayan yang profesional? Bukannya mereka ga tahu, tetapi memang sudah begitu tabiatnya danau Galilea, taufan selalu datang tiba-tiba alias ga bisa diprediksi. Bayangkan kalau kita ada dalam perahu itu, apa yang akan kita lakukan? Benar, panik! Bingung mau melakukan apa?.Sementara itu Tuhan Yesus asyik tidur dengan lelapnya seakan-akan ga ada masalah (38). Lho, memangnya Tuhan Yesus ga ngerasa? Ya, namanya juga lelah. Lihat saja pada ayat sebelumya (Mat 4: 1-34), Tuhan Yesus sudah mengajar banyak orang satu harian, jadi Dia kelelahan sehingga tidak merasakan ada masalah angin ribut sedang menerpa kapal tersebut.



Mari kita lihat sikap murid-murid dalam mengahadapi masalah angin ribut tersebut. Dengan kesal mereka membangunkan Tuhan Yesus: ?Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?? Mungkin mereka pikir?Wah Tuhan Yesus ini kok ga berempati sama sekali sih? Orang-orang sudah panik kok Dia dengan enaknya tidur? Bisa jadi karena Tuhan Yesus tahu murid-muridNya adalah nelayan, orang-orang yang sudah profesinal menghadapi danau Galilea, maka Ia mempercayakan perjalananNya kepada mereka. Tetapi yang terjadi orang-orang yang profesional itu membangunkan orang yang tidak tahu sama sekali tentang danau Galilea dengan panik! Lucu ya?Lalu Tuhan Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau: ?Diam! Tenanglah!? Aneh bin ajaib, angin itu reda dan danau menjadi teduh. Luar biasa?..! Lalu Tuhan Yesus berkata kepada mereka (40): ?Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya??



Nah, ada dua sikap yang kita lihat dalam masalah angin ribut di atas. Pertama, sikap murid-murid yang panik terhadap masalah, sehingga mereka marah-marah, kesal dan takut! Kedua, sikap Yesus yang berani menghadapi masalah, sehingga Ia tetap tenang dan menyelesaikan masalah. Yang mana yang seharusnya kita teladani? Tentunya sikap Tuhan Yesus. Masalah itu harus dihadapi, harus diselesaikan. Bukan dengan marah-marah, kesal atau pun stress. Tetapi masalah itu harus dihadapi dengan tenang. Bagaimana bisa tenang menghadapi masalah? Kuncinya adalah: Percaya!



Percaya berarti kita menyerahkan sepenuhnya hidup kita kepada Tuhan. Percaya bukan berarti pasrah. Tetapi percaya berarti kita yakin Tuhan bersama dengan kita, menguatkan kita dan memampukan kita untuk menghadapi masalah. Meskipun Tuhan kelihatan sedang tidur ketika kita menghadapi masalah, tetapi yang terpenting Dia ada bersama-sama dengan kita. Tentu sudah tahukan apa yang akan dilakukanNya? So, hadapilah masalah?..



Diskusi :



  1. Dalam konteks Gereja. Menurut pengamatan kita saat ini, bagaimana sikap

    Gereja dalam menghadapi masalah ?


  2. Apakah percaya sudah cukup untuk menghadapi masalah?




Pdt.Darwita Purba

dilihat : 952 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution