Senin, 10 Desember 2018 09:46:23 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 68
Total pengunjung : 448686
Hits hari ini : 272
Total hits : 4137705
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Memahami Otak Anak






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 16 November 2009 00:00:00
Memahami Otak Anak
ORANGTUA

kadang dibuat berang dengan perilaku si kecil yang sulit diatur atau maunya ngemil permen setiap hari. Jangan selalu memarahi,

cobalah pahami karakter otak anak yang beda.



Adakah anak kecil yang tak suka permen? Konon, otak anak memang telah

"terprogram" untuk terobsesi terhadap manisnya permen atau gula-gula. Namun, karakter sulit menghindar atau "menahan keinginan"

ini pada satu sisi justru menjadikan anak-anak sebagai makhluk penemu dan pembelajar handal.



Sharon Thompson-Schill,

seorang profesor bidang psikologi dari Universitas Pennsylvania, selama 15 tahun meneliti karakter orang dewasa yang punya

masalah dalam hal mengingat sesuatu karena kerusakan pada lobus frontal (bagian depan belahan otak besar). Sepanjang masa itu,

sang profesor yang juga ahli saraf ini mendapati bahwa apa yang terjadi pada anak kecil (misalnya dalam kaitannya dengan permen

tadi) mirip dengan kasus kerusakan lobus depan pada orang dewasa tersebut.



"Belajar dan berprilaku tanpa lobus depan

otak ini akan berbeda hasilnya dengan aktivitas belajar dan berprilaku dengan lobus depan otak," katanya. Efeknya, lanjut dia,

pada anak-anak misalnya akan cenderung impulsif, menentang aturan, dan tidak patuh pada perintah.



Penelitian

terdahulu perihal perkembangan otak anak menunjukkan bahwa anak-anak bukanlah "manusia dewasa mini" dan bahwa korteks

prefrontal (bagian otak yang berperan dalam kemampuan menilai dan mengambil keputusan), baru akan mencapai tingkat kematangan

saat seseorang mencapai usia remaja atau dewasa muda (sekitar usia 21).



Dalam paper yang diterbitkan Current

Directions in Psychological Science, Thompson-Schill menyebut penundaan kematangan lobus frontal otak ini sebagai "pikiran

tanpa kendali". Pikiran tanpa kendali ini, menurut dia, merupakan hal yang baik untuk anak, kendati kadang membuat orangtua

berang atau jengkel.



Menghargai bakat yang tersimpan dalam otak si kecil juga banyak digaungkan, termasuk dalam buku

terbaru Alison Gopnik, The Philosophical Baby: What Children's Minds Tell Us About Truth, Love, and the Meaning of Life

(Farrar, Straus and Giroux). Gopnik yang merupakan peneliti dari Universitas Washington, menunjukkan bagaimana anak usia

prasekolah menggunakan "kecanggihan" otaknya untuk berpikir dan mencermati cara kerja dunia bekerja. Mereka terbukti mampu

melakukannya biarpun tanpa panduan guru ataupun media pembelajaran seperti video edukasi dan flashcard.



Anak dengan

otaknya yang "beda" dari orang dewasa, juga menjadikan mereka memiliki bakat unik dalam mencipta atau menemukan sesuatu. "Orang

dewasa biasanya malah penemu yang buruk," tukasThompson-Schill.



Dibandingkan anak-anak, orang dewasa biasanya

terlalu banyak pertimbangan dalam mencari dan berpikir untuk menemukan sesuatu dan menyaring sisanya. Sebaliknya anak-anak

dengan pikirannya yang masih lugu cenderung tidak pernah menyaring apa yang terjadi dalam dunianya seperti yang dilakukan orang

dewasa. Mereka bisa menaruh perhatian dan penasaran pada hal apa pun.



Belajar dari pengalaman mengasuh ketiga

anaknya saat mereka masih kanak-kanak,Thompson- Schill lebih banyak mengaitkan perilaku anaknya dengan kematangan otak dan

bukannya soal ketidakpatuhan atau penentangan dari sang anak. Ia pun menggunakan beberapa trik pendisiplinan anak seperti

halnya yang dilakukan terhadap pasien dewasa yang mengalami gangguan lobus frontal tadi.



Ia mengingatkan bahwasanya

perilaku anak dipengaruhi lingkungan sekitarnya, bukan semata ditentukan pikiran di benaknya atau nasihat sopan santun yang

diajarkan orangtuanya. Jadi, ia berpesan, jika tidak ingin anak Anda terus mengemil permen, jangan biasakan menyimpan permen

atau gula-gula di rumah.



Profesor jenius ini juga mengungkapkan trik lainnya. Misalnya, jika ingin anak Anda menjadi

pemain sepak bola andal, jangan mengajarkan anak berdasarkan apa yang Anda pelajari. Anak akan lebih banyak belajar jika mereka

mencoba mempraktikkannya sendiri dan menilai apa yang telah dilakukannya itu (apakah sudah benar atau belum?). Selanjutnya

sebagai pertimbangan dan masukan, barulah orangtua memberi saran semisal teori tentang bermain sepak bola yang

baik.(JJ)





Sumber : http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/27636/memahami-otak-anak

dilihat : 228 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution