Rabu, 13 November 2019 11:36:31 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 520208
Hits hari ini : 1405
Total hits : 5076245
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Saksi Bisu Perang Laut Pertama Di Indonesia






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 11 November 2009 00:00:00
Saksi Bisu Perang Laut Pertama Di Indonesia

Cekik : Monumen Perjuangan Lintas Laut yang berlokasi di Cekik, Gilimanuk merupakan saksi bisu pertempuran

laut pertama di Indonesia antara pejuang Indonesia dengan tentara Belanda.



Dalam monumen tersebut terpatri

setidaknya 290 nama para pejuang pasukan Markadi dan para pejuang pemuda di Bali. Peristiwa perang laut pertama di Indonesia

ini terjadi di Selat Bali pada 4 April 1946.



I Nyoman Nirba, seorang pelaku peristiwa bersejarah tersebut menuturkan

pertempuran di Selat Bali tersebut dipimpin oleh Kapten Markadi.



“Pada 3 Maret 1946 Belanda datang lagi dengan

membonceng Sekutu dan berhasil mendaratkan tentaranya di Bali.



Informasinya, Bali merupakan batu loncatan untuk

menggempur Jawa,” ujar Nirba mengawali kisahnya.



Ketua LVRI Jembrana ini menambahkan tidak mau prediksi itu terjadi,

pimpinan pusat memutuskan untuk membuat gerakan dengan menerjunkan pasukan tempur di Bali, guna menghambat konsolidasi tentara

Belanda.



“Lalu dikirimlah Pak Markadi dengan pasukannya yang dikenal dengan Pasukan M untuk membantu Resimen Sunda

Kecil dibawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai,” imbuhnya.



Dalam ekspedisi pertama ke Bali, kata Nirba, ada tiga

rombongan yang berangkat dengan menggunakan 3 perahu nelayan, yakni rombongan ekspedisi Troop Sunda Kecil TKR Laut atau

rombongan Markadi, rombongan Pangkalan X/TKR Laut atau rombongan Waroka dan rombongan Resimen TKR Sunda Kecil atau Rombongan I

Gusti Ngurah Rai dengan tugas yang berbeda-beda.



“Lalu tanggal 3 April 1946 malam, ketiga rombongan bergerak

menyeberangi Selat Bali. Rombongan Waroka mendarat dengan selamat di Celukan Bawang. Namun dua rombongan lainnya terlibat

peperangan sengit dengan pasukan angkatan laut Belanda,” ujarnya.



Dalam pertempuran tersebut, lanjut Nirba, pada

rombongan Markadi dua pejuang gugur yakni, Sumeh Darsono dan Sidik.



“Sedangkan pada rombongan Ngurah Rai, Cokorda

Oka, Cokorda Rai Gambir dan Kapten Cokorda Darma Putra serta tiga rakyat nelayan gugur,” ujarnya.



Kendati

mengakibatkan korban jiwa, Ekspedisi TKR Laut saat itu berhasil menggerakkan para pemuda dan rakyat Bali untuk bergerilya

melawan Belanda.



“Pertempuran laut itu tidak sia-sia karena setelah itu operasi-operasi gerilya terus dilancarkan di

berbagai tempat di Bali dan mencapai puncaknya pada perang puputan di Margarana,” pungkas Nirba. (JJ)





Sumber :

http://www.beritabali.com/index.php?reg=&kat=&s=news&id=200911100006

dilihat : 451 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution