Kamis, 21 November 2019 05:02:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520225
Hits hari ini : 545
Total hits : 5096744
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Awas Bahan Kimia Mengancam di Rumah






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 12 Oktober 2009 00:00:00
Awas Bahan Kimia Mengancam di Rumah

Musim

pancaroba dan kemarau panjang adalah musim datangnya penyakit. Namun penyakit juga bisa datang akibat penggunaan bahan-bahan

kimia di dalam rumah. Apa sajakah?



Kebanyakan dari kita umumnya menjadikan "pihak luar" sebagai tersangka penyebab

manakala salah satu anggota keluarga kita sakit. Cuaca yang berganti-ganti dari panas ke hujan, kualitas udara yang buruk,

polusi yang diakibatkan oleh asap kendaraan dan pabrik, atau suhu lingkungan yang makin panas, adalah hal-hal yang lazim

menjadi materi dakwaan.



Secara tidak sadar, selama ini kita menggugat bahwa pokok masalahnya ada di pihak-pihak

luar. Padahal, bila dihitung-hitung, 60-90% dari waktu kita selama 24 jam justru dihabiskan di dalam ruangan, baik di dalam

rumah, sekolah, maupun di tempat bekerja. Anak-anak juga demikian. Bila jam belajar mereka di sekolah adalah 3-8 jam sehari,

maka sekurang kurangnya 16 jam waktu mereka berada di dalam rumah.



Akibat informasi yang masif, mulai dari buruknya

kualitas udara, pemanasan global, menurunnya kualitas air tanah dan air minum, sampai dengan serangan virus baru yang

mengglobal, orang makin yakin bahwa masalah kesehatan manusia terletak "di luar", bukan "di dalam". Lalu, pemecahannya pun

selalu memandang ke arah luar, mengabaikan bahwa kemungkinan sang terdakwa bisa saja justru berada di dalam

rumah.



Rumah, baik yang baru (kurang dari 5 tahun dibangun) maupun yang telah berumur puluhan tahun, sesungguhnya

adalah sumber terbesar gangguan kesehatan. Ibarat kulit, rumah adalah kulit ketiga bagi tubuh kita setelah kulit tubuh kita

sendiri dan pakaian yang kita kenakan. Bila rumah tak sehat, secara otomatis hidup kita pun ikut-ikutan menjadi tidak

sehat.





Bahan Kimia



Sejak dalam proses pembangunannya, rumah sudah berpotensi menjadi penyimpan

racun berbahaya bagi tubuh manusia dan menjadi lahan subur berbiaknya penyakit bagi calon penghuninya. Proses pengerjaan yang

menghasilkan debu-debu berukuran mikron dan material material bangunan yang sebagian besar mengandung bahan kimia hanyalah dua

penyebab yang paling gampang dideteksi. Sebab lainnya adalah sirkulasi udara yang buruk dan pencahayaan yang tidak

memadai.



Material bangunan yang bersifat kimiawi sendiri adalah sesuatu yang tak terelakkan. Dirunut dari

sejarahnya, mula-mula pembangunan rumah umumnya memang menggunakan bahan-bahan dan material alami yang mudah ditemukan dan

dekat dengan lokasi calon hunian. Begitu tuntutan kebutuhan material melesat cepat mengikuti ledakan penduduk, bahan-bahan

pengganti material alam yang artinya adalah berbahan kimia-adalah sesuatu yang tak terhindarkan.



Sejak selesainya

Perang Dunia II tahun 1945, produksi bahan bahan kimia untuk aneka keperluan rumah tangga meningkat pesat, sebagai akibat dari

keperluan restorasi pemukiman dan perkotaan di sebagian besar wilayah dunia yang rusak sehabis perang. Dengan tuntutan yang

sedemikian besar dan dalam waktu singkat, tidak mungkin lagi alam mampu memenuhinya.



Menurut buku Prescriptions for

a Healthy House karya Paula Baker-Laporte, Erica Elliot, dan John Banta, produksi bahan kimia pada tahun 1945 yang baru

berkisar 10 juta ton meningkat menjadi lebih dari 110 juta ton pada tahun 2005. Saat ini, sekarang-kurangnya ada lebih dari 4

juta barang kimiawi yang dibuat oleh manusia. Sebanyak 70-80 ribu di antaranya sangat familiar digunakan oleh manusia

sehari-hari, yang tanpa disadari kemungkinan besar mengganggu kesehatan tubuh, terutama gangguan saluran pernafasan,

pencernaan, dan alergi.





Sumber Masalah Di Rumah



Bila salah satu dari anggota keluarga Anda

mengalami masalah serius dengan pernafasan, pencernaan, atau alergi, dan telah berlangsung dalam kurun waktu lama namun Anda

tak kunjung menemukan jawaban pastinya, cobalah sekarang mendeteksi masalahnya "ke dalam", alih-alih melirik "ke luar"

sana.



Berikut ini beberapa sumber masalah yang diakibatkan penggunaan bahan kimia di dalam rumah.







Insektisida, pestisida, dan herbisida.



Pemakaian pembunuh serangga dan binatang pengganggu sudah dikenal luas dan

dikemas dalam bentuk yang menarik, diiklankan seakan-akan "aman". Padahal, yang namanya obat pembasmi serangga, binatang

pengganggu, dan sejenisnya, sudah pasti bersifat mematikan dan tidak aman bagi kesehatan

manusia.





Produk-produk campuran kayu non-alami, termasuk di dalamnya adalah particle-board, plywood, pelapis

kitchen set dan furnitur, sampai dengan kusenkusen pintu dan jendela non-kayu, umumnya mengandung bahan kimia formaldehida yang

bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) bagi tubuh manusia.





Volatile organic compounds (VOC) atau senyawa

organik yang mudah menguap.



Senyawa ini banyak sekali digunakan pada cat dinding, cat besi, cat kayu,

pelarut-pelarut dan pembersih barang-barang rumahan, sealant, dan lem/perekat. Senyawa kimia yang terdapat dalam bahan tersebut

antara lain toluena, benzena, formaldehida, dan aseton. Senyawa-senyawa ini bila terhirup dalam jumlah tertentu dapat

mengakibatkan gangguan pernafasan akut, penyakit kanker, dan kerusakan sistem saraf.





Aspal dan produk yang

mengandung aspal.



Bahan ini sering ditemukan pada penutup atap jenis bitumen atau pelapis antibocor. Garasi yang

terletak di dalam rumah dan menyatu dengan ruangan rumah juga bisa menjadi masalah karena senyawasenyawa kimia dari aspal yang

melekat pada roda-roda kendaran bermotor terangkut masuk ke dalam rumah, lalu terjebak di dalam rumah.







Pembersih noda/kotoran.



Proses pengerjaan rumah kadang menyisakan kotoran atau bercak yang hanya bisa dibersihkan

menggunakan larutan kimia. Aktivitas rumah tangga tak barang juga memicu digunakannya pembersih kimiawi semacam ini, hanya

untuk mengejar sebuah tampilan interior rumah yang secara tampak mata kelihatan bersih, tapi efeknya mengakibatkan gangguan

kesehatan.



Untuk mengurangi risiko terpaparnya penghuni rumah oleh senyawa-senyawa kimia. itu, satu-satunya cara

adalah dengan menguranginya seminimal mungkin. Pendekatan lain yang dapat ditempuh adalah dengan merancang bangunan dengan

lebih memperhatikan aspek sirkulasi udara dan, pencahayaan sinar matahari. (JJ)





Sumber :

http://properti.kompas.com/read/xml/2009/10/12/10465071/awas.bahan.kimia.mengancam.di.rumah

dilihat : 454 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution