Senin, 23 Juli 2018 12:59:54 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 134
Total pengunjung : 407682
Hits hari ini : 642
Total hits : 3717792
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Susu untuk Anak Sekolah di Pedesaan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 13 September 2009 00:00:00
Susu untuk Anak Sekolah di Pedesaan
Oleh: Soekirman



Beberapa bulan terakhir ini, sering terdengar rencana pemerintah pusat

dan daerah untuk mengadakan program susu anak sekolah di pedesaan dan masyarakat miskin. Bahkan, ada partai dalam kampanyenya

menjanjikan setiap anak akan minum susu. Sudah menjadi mitos di kalangan masyarakat dan pejabat, susu dianggap solusi dari

masalah kekurangan gizi. Karena itu, susu menjadi program dunia yang disponsori oleh UNICEF dan US-AID. Tetapi, itu pada

1950-an sampai 1970-an. Sejak 1970-an, program dunia itu dihentikan.



Mitos bahwa susu mengatasi masalah kurang gizi

tidak terbukti. Masalah kekurangan gizi di negara penerima bantuan susu UNICEF dan USAID di Afrika dan Asia, termasuk

Indonesia, pada 1970-an tidak berkurang, malah meningkat. Bukti lain bahwa susu bukan "obat" mujarab dapat dilihat di India.

Bangsa India sejak zaman dulu dikenal sebagai "Bangsa susu". Dengan kampanye "White Revolution"-nya, India dikenal sebagai "the

World Leader of Milk Production". Tidak ada orang India, kaya dan miskin, yang sehari-harinya tidak minum susu. Suatu sumber

menunjukkan, konsumsi susu di India rata-rata 200 gram per kapita per hari. Indonesia baru sekian cc per kapita per hari.

Anehnya prevalensi anak kekurangan gizi di India adalah tertinggi di Asia.



Berdasarkan berbagai penelitian, sejak

1970-an, susu bukanlah jawaban dari upaya mengatasi kurang gizi. Sebab masalah gizi adalah multifaktor, bukan hanya karena

makanan, termasuk bukan karena susu (sapi). Meskipun demikian, tidak berarti susu tidak penting. Susu tetap penting, seperti

halnya telur, ikan, daging, sebagai sumber protein hewani, bagi siapa saja, kecuali susu sapi untuk bayi 0 - 6 bulan yang hanya

memerlukan ASI.



Suatu angan-angan untuk menyediakan susu bagi setiap anak adalah angan-angan mulia, asal disadari

bahwa beberapa infrastruktur yang harus disiapkan. Pertama, menyediakan tempat penyimpanan susu dengan suhu yang dapat mencegah

susu tidak mudah rusak, tersedia air bersih, dan terjamin kebersihan lingkungan. Kedua, disediakan susu dengan rendah laktosa

untuk mencegah terjadinya diare karena intoleransi laktosa. Banyak orang yang sehabis minum susu kembung, sakit perut dan

diare.



Program susu sekolah sebenarnya dibutuhkan, terutama oleh anak-anak miskin yang sebagian besar kekurangan

gizi. Masalahnya, susu bagi masyarakat miskin menjadi minuman yang tidak aman, karena berbagai persyaratan agar susu menjadi

makanan yang aman, seperti disebut di atas, sulit dicapai.





Komoditas Impor



Masalah lain, sebagian

besar (75%) susu adalah komoditas impor. Termasuk komoditas mahal, yang tidak terjangkau daya beli rakyat banyak. Kalau

dijadikan program, opportunity cost-nya terlalu-tinggi. Artinya, ada pilihan program yang lebih cost-effective, prorakyat dan

petani kecil, yaitu telur. Karena itu susu seharusnya diperlakukan sebagai private goods (urusan swasta, keluarga, masyarakat)

bukan public good (urusan pemeritah). Di negara mana saja berlaku dalil program gizi yang bergantung pada komoditas impor tidak

akan sustainable.



Ditinjau dari efektivitas program, banyak data menunjukkan bahwa program susu anak sekolah di

negara berkembang tidak berhasil mengatasi masalah kekurangan gizi. Hal ini antara lain menyebabkan dihentikannya program susu

UNICEF dan USAID, pada 1970-an. Demikian juga contoh mengenai susu di India seperti diuraikan di atas. Sedang dari sudut cost,

baik untuk susu maupun logistik, program susu adalah program gizi termahal di antara program gizi lainnya, namun tidak efektif

memecahkan masalah gizi.



Karena berbagai masalah tersebut, program gizi di Indonesia tidak menggunakan susu, kecuali

program susu UNICEF pada 1970-an. Program gizi lebih menekankan penggunaan bahan pangan sumber protein hewani, seperti, telur,

ikan, dan unggas. Hal itu dilaksanakan dalam program makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS) yang dimulai 1994. Entah atas

desakan siapa, pada 1994, Presiden Soeharto pernah memerintahkan Ketua Bappenas Ginanjar Kartasasmita untuk memasukkan susu

dalam Program PMT-AS di daerah tertinggal sebagai bagian dari program IDT. Menyadari banyaknya masalah program susu seperti

diuraikan di muka, Bappenas tidak melaksanakan perintah tersebut.





Penulis adalah Guru Besar (Em) Ilmu Gizi,

IPB.



SUMBER: http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=10346

dilihat : 249 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution