Minggu, 17 Februari 2019 22:55:55 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 438
Total pengunjung : 473259
Hits hari ini : 2495
Total hits : 4345602
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pelajaran dari kontak awal Amerika dan Islam






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 10 Agustus 2009 00:00:00
Pelajaran dari kontak awal Amerika dan Islam
Oleh: Mokhtar Ghambou



New York, New York –

Mendengar orang Amerika dan Muslim saling membicarakan yang lain dalam tahun-tahun belakangan, Anda boleh jadi berpikir bahwa

hubungan antara Amerika Serikat dan dunia Muslim selalu dalam perseteruan. Kekerasan dan polemik panas yang muncul akibat

serangan teroris 11 September dan perang di Irak dan Afghanistan membuat sulit untuk berpikir sebaliknya. Tapi bila sejarah

intelektual menjadi panduan, tidak ada bangsa Barat yang berhubungan dengan masyarakat Muslim sepositif Amerika

Serikat.



Mari ambil beberapa contoh untuk mengklarifikasi sejarah hubungan antara Amerika Serikat dan Islam. Seperti

yang Presiden AS Barack Obama sebutkan baru-baru ini dalam pidatonya di Kairo, Kerajaan Maroko ialah negara pertama yang

mengakui kemerdekaan Amerika Serikat. Pada 1778, George Washington dan Sultan Alawi Muhammad III menandatangani perjanjian

persahabatan diplomatik untuk melindungi semua kapal berbendera Amerika dari bajak laut.



Melihat puisi-puisi,

drama-drama, atau novel-novel yang ditulis pada tahun-tahun awal kemerdekaan Amerika, perjumpaan pertama dengan negara

mayoritas Muslim inilah yang memberi kesempatan bagi orang-orang Amerika abad ke-18 dan ke-19 untuk berdialog budaya secara

intens dengan orang Muslim dan Arab. The Algerine Captive karya Royall Tyler, yang dianggap novel tertua kedua di Amerika,

adalah contoh penting.



Ditulis pada 1779, novel ini berkisah tentang seorang dokter Amerika dari Boston yang ditawan

oleh bajak laut Berber Muslim dan dijual sebagai budak di Aljazair. Tokoh utamanya, Dokter Updike Underhill, ditawan selama

beberapa tahun sebelum akhirnya bebas dan pulang ke Amerika.



Setelah tidak dicetak selama dua abad, novel ini

dicetak ulang pada tahun 2002, sayangnya dengan alasan yang ironis: untuk menyajikan latar historis tragedi 11 September.

Seperti yang ditulis salah satu kritikus dalam sampulnya, novel ini “secara gamblang mengetengahkan sebuah benturan budaya dan

kebuntuan diplomatik persis seperti yang terjadi antara Amerika Serikat dan negara-negara Muslim sekarang

ini.”



Benar, suasana menegangkan yang dibangun dalam novel itu memungkinkan dibuatnya perbandingan, terutama jika

kita menyamakan pembajakan abad ke-18 dengan terorisme kini. Akan tetapi, bila ditinjau lebih saksama, novel tersebut bisa

menjadi sebuah referensi yang solid untuk melawan, bukan mendukung, retorika benturan peradaban: jadi narasinya digunakan untuk

menggambarkan konflik politik dengan Islam guna membayangkan cara-cara mengatasinya.



Tyler mengubah cerita tawanan

menjadi sebuah pencarian pengetahuan yang mengagumkan. Para protagonisnya (para tawanan) memprakarsai banyak dialog dengan para

penawannya, para imam, dan orang-orang penting lainnya, yang semuanya orang Aljazair, tentang isu-isu kontroversial—seperti

perbudakan di Amerika, stereotip dan perpindahan agama—karena ingin mengungkap budaya Islam dan mempromosikan keyakinan

Kristennya.



Royall Tyler merintis jalan bagi penulis-penulis yang lebih terkenal—para pelopor Renaissance

Amerika—untuk meluaskan pengetahuan masyarakat tentang budaya Islam. Washington Irving menulis sebuah buku menarik tentang Nabi

Muhammad; Edgar Poe membuat sebuah cerita menarik tentang Arabian Nights; dan Hermann Melville banyak mengacu pada

naskah-naskah Arab dalam karya klasiknya, Moby Dick, yang tokoh-tokoh kuncinya adalah teman-temannya: orang Arab bernama

Ishmael, Quequeeg yang berpuasa di bulan Ramadan, dan Fedallah yang orang Persia.



Sebelum 1850, Arabian Nights

sangatlah populer di imajinasi orang Amerika sampai-sampai Harriet Beecher Stowe, yang merupakan figur penting lain dalam

Renaissance Amerika, menyarankan para orangtua di Amerika untuk mengisahkan cerita-cerita Shahrazad ke anak-anak mereka guna

menanamkan nilai-nilai estetika dan apresiasi terhadap perbedaan.



Merujuk pada al-Qur’an, Nabi Muhammad dan para

sahabatnya kerap dilakukan oleh para pendiri bangsa, penulis dan pujangga Amerika, mulai dari Benjamin Franklin dan Thomas

Jefferson hingga Ralph Waldo Emerson dan Walt Whitman. Emerson, bapak transendentalisme Amerika, menggambarkan al-Qur’an

sebagai “sumber kekuatan” dan mendorong pembaca Amerikanya untuk melihat Nabi “Mahomet, Ali, dan Omar” sebagai tokoh yang

menginspirasi, yang penuh semangat dan terbimbing oleh “akal yang baik dalam tubuh yang baik.”



Sekalipun

transendentalisme dipasarkan sebagai merek budaya Amerika, pelopornya—Emerson—mengakuinya sebagai filosofi Sufi Timur yang

aslinya diinspirasi oleh syair-syair Persia yang dibaca dan diterjemahkannya.



Contoh-contoh yang mencerahkan ini

perlu diingat ketika orang Amerika dan Muslim hendak membuka babak baru hubungan mereka. Dengan memahami bahwa tradisi lampau

kita jauh lebih toleran terhadap perbedaan ketimbang yang cenderung kita pikirkan akan membantu kita membebaskan dialog dari

para teroris yang mengatasnamakan Islam dan dari para ideolog konservatif yang menanti meledaknya bom para teroris itu untuk

memicu benturan peradaban mereka sendiri.



Tantangan ini tentu perlu dihadapi oleh semua orang America yang percaya

pada kekayaan warisan khazanah mereka sendiri.



###



* Mokhtar Ghambou ialah profesor kajian poskolonial

dan sastra Amerika di Yale University dan presiden Institut Amerika Maroko. Artikel ini awalnya dimuat dalam Philadelphia

Inquirer dan ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).



Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 7

Agustus 2009, www.commongroundnews.org

Telah memperoleh izin publikasi.

dilihat : 408 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution