Senin, 18 Juni 2018 18:00:06 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Merawat Kebhinnekaan Menolak Intoleransi
Beragam peristiwa telah mewarnai sejarah perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di tahun 2017, dinamika yang diwarnai unsur konflik intoleransi muncul kepermukaan .



Pengunjung hari ini : 89
Total pengunjung : 399663
Hits hari ini : 888
Total hits : 3630426
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Atas Nama Nalar Memilih Presiden






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 01 Juli 2009 00:00:00
Atas Nama Nalar Memilih Presiden
DALAM

pilpres 2009 beberapa hari mendatang rakyat Indonesia sebagai bagian insan semesta diuji kemuliaannya. Salah satu pengukur

kemuliaan insan adalah kejujuran menggunakan nalar. Dengan ini kita dihadapkan pada tiga kata yang khas untuk manusia:

kemuliaan, kejujuran, dan nalar. Sehebat apa pun makhluk-makhluk nonmanusia semisal hewan-hewan menjalankan kehidupannya,

bahkan dengan nalar pada tarafnya sendiri (suo modo), mereka tak pernah sampai pada kemuliaan dan kejujuran.



Jadi,

nalar adalah syarat paling mutlak agar manusia bisa mulia dan jujur. Jika beberapa waktu lalu kita mempersoalkan debat yang

bukan debat, maka dalam rangka pilpres ini kita bisa berdukacita tentang manusia yang bukan manusia (mustahil dibayangkan) atau

paling kurang manusia yang bisa dipersoalkan kemanusiaannya karena tidak jujur menggunakan nalar sebagai penanda

kemuliaannya.



Ini bukan soal ”manusia atas” atau ”manusia super” dalam salah satu aliran filsafat atau superego di

dalam psikologi, melainkan mengenai manusia biasa umumnya: makhluk yang hidup (mati)nya antara lain dan terutama berkat

nalarnya.





Bebas



Nalar itu bebas. Tapi justru karena bebas, nalar tidak bergerak sendiri, tapi

digerakkan unsur-unsur luar. Pada taraf paling rendah dalam otak ia digerakkan getar-getar biologis dan secara komunikatif

merupakan hasil pertemuan dengan nalar orang-orang lain. Rentang panjang peradaban adalah sejarah perkembangan nalar individual

yang meniscayakan nalar sosial secara kolektif dan dialektis.



Di dalamnya terbentang rentet panjang transformasi

seluruh bidang kehidupan. Yang terpenting adalah transformasi keinsanan. Ini memuat banyak sekali keniscayaan. Misalnya, sebab

nalar individu berkorelasi dengan nalar orang-orang lain dengan mutu beraneka ragam, manusia lalu mengenal banyak hal di luar

dirinya. Hal-hal di luar diri itu ada yang bisa dicerna nalarnya. Tetapi banyak juga yang tetap berada di luar jangkauan

nalarnya.



Demi kepentingan pembangunan catatan kecil ini, buku Within Reason (1999) karya Donald B Calne yang

diterjemahkan Parakitri T Simbolon menjadi Batas nalar (KPG, Jakarta 2004), antara lain menyajikan dua acuan

penting.



Pertama, manusia tahan menanggung hidup (sekaligus mati) karena terus-menerus mengembangkan nalar. Dan

nalar yang sama ini dalam banyak kasus telah ikut membuat lembar-lembar sejarah berlumur darah. Tetapi nalar yang terlibat

dalam 1001 kejahatan itu adalah nalar yang bertindak di bawah tekanan.

Nalar realistik ini selalu mahir menggunakan banyak

kedok: nalar membumi yang selalu terjepit dalam batas-batasnya. Karena itu menyamakan tingginya kekejian manusia dengan

meningkatnya perkembangan nalarnya adalah berbahaya.



Kedua, nalar memiliki batas tak tertembus sehingga bukan saja

tak bisa dimintai tanggung jawab, tetapi juga mematok mentok perkembangan manusia. Kehidupan (dan sekaligus Kematian) harus

dipertahankan terus-menerus, apa pun caranya, apa pun korbannya, dengan utak-atik nalar.



Berdasar dua acuan

tersebut, kita lalu bisa memaklumi ketika ternyata nalar kita selalu sudah terbingkai dalam situasi nyata yang kompleks.

Penggunaannya tidak pernah berlangsung di sebuah ruang-waktu yang hampa. Ketika digunakan demi kepentingan memilih presiden,

maka nalar kita sudah terkungkung oleh banyak faktor yang bermain di dalam realitas politik pilpres

tersebut.



Keterkungkungan itu makin dahsyat ketika proses pilpres, meski legal dan prosedural, di sana-sini memuat

cacat dalam rangka hakikat. Meski demikian, jika nalar digunakan dengan jujur, sang pengguna akan tetap bisa memilih yang baik

dari yang buruk. Bisa memilih yang benar dari yang salah. Bisa membedakan mana basi dan mana segar.



Justru di

sinilah masalah kita yang sebenarnya! Masalah lebih pelik muncul justru saat penalaran kita berlangsung dengan baik dan benar,

itulah saat ketika nalar telah tercerahkan menjadi akalbudi. Maka kejujuran dan kemuliaan di awal tulisan akan menuntut

keterpenuhan parameternya. Jika tuntutan ini dipenuhi secara konsekuen, akibatnya, bagi kita jangan-jangan hanya tersedia

kemungkinan memilih jelek atau lebih jelek, salah sedikit atau salah banyak, dan rusak sedikit atau sekadar rusak? Wah! Jika

begitu halnya, ya gampang, tinggal ndak usah milih! Klaar!



Begitukah? Sesederhana itukah? Dalam logika normatif yang

kaku dan matematis, sikap itu tentu saja benar. Tapi kenyataan kehidupan kadang-kadang menuntut logika yang lentur, pragmatis

dan realistis (kaum rasionalis garis keras tidak akan menggubris alasan macam ini). Apalagi, jika kita berani masuk ke ranah

individu pada tingkatan yang terdalam dan menyeluruh. Barangkali memang tak ada manusia yang benar-benar jahat sehingga tak

mungkin kita bisa menilai sejarah secara hitam putih. Hitler, Nero dan Amangkurat II juga mengandung kemuliaan dan kejujuran

mereka sendiri. Nah, dalam rangka ini maka para capres dan cawapres masih mungkin dikatrol. Misalnya, salah menjadi tidak

teliti. Buruk sekali menjadi tidak merepotkan.



Memang. Yang terjadi adalah degradasi nilai kemanusiaan. Tapi

degradasi itu dalam rangka sistem pikir kita yang sekarang bisa dikatrol juga: degradasi dikit ndak papalah asal tetap demi

Tanah Air! Nah, bagaimana? (80/suaramerdeka)



Oleh : L Murbandono Hs.



—L Murbandono Hs, jurnalis, Doktor

Filsafat Pendidikan, 1983-2008 tinggal dan bekerja di Belanda

dilihat : 220 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution