Sabtu, 17 Agustus 2019 22:32:38 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520076
Hits hari ini : 1520
Total hits : 4875937
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Bisa Berdosa, Bisa Tidak Berdosa






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 24 Mei 2009 00:00:00
Bisa Berdosa, Bisa Tidak Berdosa
(Posse Pecare, Posse Non Pecare)



Sejatinya manusia pertama diciptakan tanpa dosa

(sinlessness) dan sempurna tanpa kecacatan moral di hadapan Allah. Namun tidak berarti ia tidak bisa berbuat dosa, sehingga

sekalipun diciptakan tidak berdosa ia berpotensi untuk melakukan dosa dan nyatanya manusia telah jatuh di dalam dosa (Kej.

3).



Ketika manusia jatuh dalam dosa ia menjadi tercemar oleh dosa (polluted) sehingga segala kecenderungan hatinya

(sinful nature) selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej. 6:5; Yer. 19:7) dan pada saat bersamaan manusia berada dalam

status bersalah/berdosa (guilt) di hadapan Allah sehingga berada di bawah hukuman dosa (Rm. 3:23; 6:23). Status bersalah ini

mutlak dan Alkitab menegaskan bahwa tidak seorang pun yang dapat dibenarkan/dibebask an dari hukuman dosa sekalipun ia

melakukan hukum Taurat” (Rm. 3:20, 27) dan pasti akan menuju kematian kekal, kecuali menerima penebusan dalam

Kristus.



Apakah dampak kejatuhan tersebut betul-betul membuat manusia tidak bisa lagi melakukan kebenaran dalam

hidupnya? Jelas sekali Alkitab menyatakan bahwa dosa mengakibatkan kematian rohani sehingga manusia tidak bisa lagi mengenal

kebenaran sejati dan pada dirinya sendiri tidak ada keinginan untuk mencari kebenaran. Seperti ada tertulis: “Tidak ada yang

benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah

menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Rm. 3:10-12; Mzm. 14). Dengan kata

lain manusia dalam status keberdosaannya di hadapan Allah hanya menghasilkan dosa dan tidak bisa lagi menghasilkan kebenaran,

karena kecemaran akan selalu menghasilkan kecemaran. Lalu apakah ada perbedaan setelah seseorang menjadi

Kristen?



Ada tiga istilah theologi dalam bahasa Latin yang digunakan untuk menjelaskan hal ini: (1) Non posse non

pecare – tidak bisa tidak berdosa, ini merupakan keadaan manusia setelah jatuh dalam dosa. Dalam kondisi tercemar oleh dosa

tidak ada lagi potensi bagi manusia untuk melakukan hal yang benar dihadapan Allah, pikiran, perasaan, tindakan dan motivasi

manusia akan selalu dipengaruhi oleh keberdosaannya. Sehingga ia non posse non pecare, tidak bisa tidak berdosa. (2) Posse non

pecare – bisa tidak berdosa, merupakan keadaan seseorang setelah diselamatkan (dibenarkan, diampuni/ditebus) dari dosa-dosanya

dalam kematian Kristus di kayu salib (Rm. 3:24). Setelah diselamatkan setiap orang Kristen diberikan status baru sebagai orang

yang dibenarkan yang telah dihapuskan kesalahannya dan dibersihkan dari pencemaran dan dampak kematian kekal (Rm. 6:23). (3)

Non posse pecare – tidak bisa berdosa, merupakan keadaaan manusia setelah menerima pemuliaan (glorification) di dalam sorga

setelah kedatangan Tuhan Yesus kedua dan orang-orang percaya diangkat dan masuk ke sorga (Rm. 8:30; 1Tes. 4:16-17). Setelah

diselamatkan, potensi kerohanian orang Kristen menjadi mirip dengan keadaan Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa, bisa

berdosa dan bisa tidak berdosa (posse pecare, posse non pecare). Tetapi tidak bisa dikatakan bahwa kondisi dan potensi

kerohanian orang Kristen sekarang dengan kondisi Adam dan Hawa sebelum jatuh mutlak sama karena sebelum kejatuhan mereka sama

sekali belum dipengaruhi dosa.





Pertarungan Daging dan Roh



Sejak semula manusia diciptakan dalam dua

natur yang terdiri dari daging dan roh, Kitab Suci menjelaskan bagaimana Allah membentuk tubuh manusia dari debu tanah

kemudian mengehembuskan nafas hidup (neshamah/breath, spirit) sehingga ia memiliki hidup (livingsoul/ being, Kej. 2:7). Tuhan

Yesus juga menegaskan bahwa manusia tidak hidup dari makanan jasmani saja, tetapi juga dari setiap Firman Allah yang merupakan

makanan rohani manusia (Mat. 4:4; 26:41; Ul. 8:3). Penegasan terhadap dua natur manusia juga banyak digunakan Rasul Paulus

dalam surat-suratnya dengan istilah keinginan daging (sarx/flesh) dan keinginan roh (pneuma/spirit) yang keduanya secara mutlak

saling bertentangan dalam diri manusia. Banyak orang Kristen yang dirusak oleh keinginan-keiginan daging terhadap alkohol,

perjudian, seks, narkoba atau gabungan di antaranya yang memperbudak mereka untuk terus-menerus melakukannya tanpa ada daya

untuk melepaskan diri darinya. Termasuk keinginan-keinginan daging yang berkaitan dengan perasaan-perasaan dendam, kebencian,

kemarahan, iri hati, kesombongan, dsb., bisa begitu menguasai seorang Kristen hingga lumpuh untuk menghasilkan perubahan dalam

hidupnya.



Bahkan sering kali keinginan untuk berhenti dan lepas dari perbudakan dosa disertai perasaan frustrasi dan

ketidakmampuan untuk bangkit dan melepaskan diri dari jerat dosa tersebut. Rajin beribadah, rajin melayani, berpuasa, mengikuti

kelas-kelas pembinaan yang bagus, ternyata tidak menjamin seorang Kristen akan mengalami perubahan rohani yang signifikan dalam

hidupnya. Banyak orang Kristen yang mengalami kegagalan dalam kerohaniannya dan tidak hidup dalam kekudusan sebagaimana yang

Allah harapkan (Kol. 3). Oleh karena itu untuk memiliki kemenangan rohani dan hidup dalam kekudusan diperlukan langkah-langkah

strategis yang secara sengaja dilakukan dengan penuh ketaatan kepada Allah dan firman-Nya.



Beberapa langkah dan

kebiasaan yang diajarkan oleh Rasul Paulus adalah agar orang Kristen memikirkan hal-hal rohani dan menjauhkan

keinginan-keinginan daging: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup

menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh” (Rm. 8:5-11). Dalam Kolose 3 Paulus juga mengajarkan proses membuang

sifat-sifat dan dosa-dosa lama yang telah bercokol dalam diri kita serta mulai mengenakan sifat-sifat baru yang harus menjadi

karakter baru setiap orang Kristen. Mengadopsi dan melatih diri melakukan kebiasaan-kebiasaan baru yang diajarkan Alkitab

mutlak bagi orang Kristen agar mengalami pembaruan hidup (Rm. 12:1-2). Dalam Roma 6:12-1,3 Paulus mengajarkan agar orang-orang

Kristen tidak membiarkan diri dikuasai dosa, dan tidak menyerahkan anggota-anggota tubuh untuk berbuat dosa, sebaliknya agar

orang-orang Kristen menyerahkan total anggota-anggota tubuhnya kepada Allah, bagi kemuliaan Allah (Kol. 3:17,23). Hal ini

menuntut pilihan dan keputusan yang dilakukan dalam kesadaran penuh dan dalam totalitas ketaatan kepada Allah dan

firman-Nya.





Bisa Berdosa, Bisa Tidak Berdosa



Bisa berdosa dan bisa tidak berdosa menjadi potensi

dan peluang baru bagi orang-orang Kristen yang sudah diselamatkan dalam penebusan Yesus Kristus, yang mana yang harus kita

hidupi dan harus kita pilih? Keinginan Allah mutlak supaya kita hidup tidak berdosa, kita diselamatkan supaya hidup dalam

kekudusan dan menjadi terang di dunia ini (Mat. 5:16; 1Ptr. 2:9). Mengapa orang yang sudah lama menjadi Kristen dan rajin

beribadah tetapi tetap di dalam kehidupan yang diperbudak dan dikuasai oleh dosa? Kemungkinan orang Kristen tersebut belum

pernah melatih diri dan mendisiplin diri untuk hidup kudus dalam ketaatan dan kesetiaan yang sungguh-sungguh kepada Allah.

Kekudusan hidup bukanlah kondisi kerohanian yang secara otomatis hadir dalam diri orang Kristen ketika ia lahir baru, tetapi

lebih merupakan kewajiban untuk memperjuangkannya setelah ia menerima status dikuduskan atau dibenarkan melalui penebusan

Kristus. Hanya dengan pertolongan Roh Kudus dan kehadiran Firman Allah yang diresponi dengan kesediaan untuk taat disertai

kedisiplinan yang memungkinkan orang Kristen mencapai kekudusan perubahan hidup. Sekalipun tidak ada jaminan seorang Kristen

bisa melepaskan diri dari keinginan dan perbuatan dosa secara terus-menerus dan konstan, namun kemungkinan itu telah diberikan

oleh Allah dalam penebusan-Nya (posse non pecare). “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji

itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan

kita dalam takut akan Allah.” (2Kor. 7:1).



Oleh: Pdt. Robert Ridsad Siahaan, M.Div



Profil :

Pdt.

Robert Ridsad Siahaan, S.Th., M.Div. adalah gembala sidang Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Kebayoran Baru dan dosen

Theologi Praktika di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana

Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) di STTRII Jakarta.



Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

dilihat : 444 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution