Kamis, 16 Agustus 2018 11:50:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 413838
Hits hari ini : 578
Total hits : 3790743
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Nasionalisme dan Pendidikan.






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 23 Mei 2009 00:00:00
Nasionalisme dan Pendidikan.
Salam transformasi pasti terjadi!



Tanggal 20

mei merupakan salah satu tanggal yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena tanggal itu ditandai dengan kebangkitan

Indonesia pada tahap yang modern, di mana Budi Utomo muncul sebagai satu organisasi budaya orang Jawa terpelajar untuk

memajukan kaum mereka di mana organisasi ini adalah cikal bakal perkembangan perjuangan politik secara modern yang melahirkan

Indonesia, seperti sekarang ini. Setelah 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda muncul pada tanggal 28 Oktober 1927, lalu kemerdekaan RI

menjadi satu negara bangsa yang baru, Indonesia sekarang ini pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam rentang waktu 37 tahun,

kemerdekaan secara politik dideklarasikan.



Mengapa kesadaran untuk menjadi satu bangsa justru baru muncul pada awal

abad 20, bukan sebelumnya? Bukankah kita dijajah sudah mencapai 2,5 abad? Mengapa kesadaran sebagai satu bangsa khususnya Jawa

untuk menjadi setara muncul dari kelompok priyayi muda yang terpelajar? Yang harus direnungkan adalah yang dijajah 2,5 abad

adalah tanah Jawa – bukan daerah-daerah di luar Jawa – karena penaklukkan Sumatera Utara, Aceh dan Kerajaan-Kerajaan Pantai di

luar Jawa praktis baru diselesaikan menjelang akhir – bahkan di awal abad 20 ini – karena raja-raja Jawa dan priyayi Jawa sudah

menjadi bagian dari penaklukkan politik, ekonomi dan budaya, tetapi peperangan oleh rakyat terus berjalan. Kalau kesadaran

muncul sebagai bangsa baru di abad 20 adalah karena penaklukkan oleh Belanda baru diselesaikan di awal abad 20 ini, sekaligus

munculnya orang-orang muda – mereka adalah anak-anak priyayi yang sudah ditaklukkan oleh Belanda dan menjadi pegawai Belanda –

sehingga mereka mendapatkan pendidikan yang setara dengan orang-orang Belanda dan Eropa lainnya, sesuai dengan politik etis

yang mulai muncul di pertengahan abad 19 untuk Hindia Belanda sebagai bentuk rasa etis atau berterima kasih Belanda kepada

Hindia Belanda yang berjasa membawa Belanda kepada kehidupan yang lebih baik dan memenangkan perang menghadapi

Spanyol.



Untuk itu sebagai sebuah negara bangsa, Indonesia baru muncul sejak tanggal 17 Agustus 1945, di mana awal

abad 20 dilihat sebagai satu persamaan nasib, yaitu keberadaan tentara penjajah Belanda – kemudian jepang yang singkat –

membuat sebuah kesadaran bahwa mereka sebagai satu manusia dan bangsa yang bermartabat – setelah mereka berkenalan dengan

“dunia lain” melalui sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Penjajah Belanda dan Sekolah-sekolah swasta gereja-gereja –

sehingga mereka mulai melihat sebuah kerangka humanism atau kemanusiaan yang sesungguhnya. Bahkan kalau kita membaca riwayat

Tan Malaka, seorang Minang yang berangkat sekolah di Belanda – karena mendapatkan bea siswa – terlihat dengan jelas

pertemuan-pertemuan dengan Komunisme Internasional, bahkan beliau mampu menjadi agen Komunisme di Asia Tenggara – dengan

gagasan-gagasan merdeka – jauh sebelum Bapak-Bapak Pendiri Indonesia menemukan kata merdeka – di mana terlihat dengan jelas

bahwa nasionalisme atau keluarga bangsa terwujud setelah mereka melihat dunia saja dari jendelan

pendidikan.



Usaha-usaha Boedi Oetomo dan Tan Malaka serta para pendiri Republik ini mulai menyadari bahwa untuk

mencapai menjadi keluarga bangsa yang besar – jauh melebihi kesukuan mereka – perlunya perjuangan dengan mencerdaskan akar

rumput bangsa Indonesia untuk disadarkan bahwa mereka sebagai seorang manusia yang utuh dan bermartabat – sama seperti

orang-orang Eropa dan Asia Timur lainnya yang mendapatkan perlakuan istimewa oleh penjajah Belanda --. Pendidikan yang

mencerahkan untuk membawa kesadaran sebagai manusia yang bermartabat untuk menentukan nasib mereka sendiri serta mencapai

kebahagiaan kemanusiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan yang mampu membebaskan belenggu ideologi kemanusiaan yang dibuat

oleh orang lain, sehingga mereka merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang dibawa pengaruh orang lain atau bangsa lain, harus

dipatahkan serta memiliki sebuah penyadaran bahwa hari esok mereka ada di tangan mereka sendiri. Untuk itu Pembukaan UUD 1945

menyebutkan dengan jelas bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan merupakan karunia dari Tuhan yang Mahakuasa kepada

bangsa Indonesia untuk mampu menentukan nasib mereka sendiri. Kemerdekaan – bukan tujuan – tetapi sebuah penyadaran besar

sebagai bangsa yang berdaulat untuk menentukan kehidupan yang adil dan makmur, serta berkeadilan sosial. Bukan sekedar

kemakmuran-kemakmur an material, tetapi sebuah kebaikan bagi pribadi dan orang lain, sebagai sebuah

bangsa.



Kegerakan sebagai manusia Indonesia yang bebas dan merdeka, sehingga mereka berani bersuara untuk mencapai

Indonesia Raya, yaitu bangsa sendiri yang dicerahkan sebagai satu bangsa serta tidak ditentukan oleh sekelompok bangsa atau

orang lain yang menentukan nasib mereka. Sehingga muncul HOS Tjokroaminoto, Sjarir, Soekarno, Hatta dan lain-lainnya, di mana

mereka mulai menyadari dengan tegas bahwa mereka adalah orang merdeka dan harus mencapai kemerdekaan sebagai satu bangsa –

bukan hanya sebagai bangsa Jawa, Batak, Maluku, Celebes (Sulawesi), Borneo (Kalimantan) , dan lain-lainnya – tetapi sebagai

satu kesadaran bersama sebagai satu nusa, bangsa dan bahasa, yaitu bangsa Indonesia Raya (merdeka).



Untuk itu, dalam

rangka memperingati 101 Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Pendidikan Nasional pada bulan Mei 2009 ini, penyadaran menjadi satu

bangsa adalah hal yang penting, yaitu bahwa dunia pendidikan adalah instrumen pokok bagi masyarakat untuk mengalami pencerahan,

yaitu sebagai manusia merdeka yang mampu menentukan nasib sendiri dan mampu memperjuangkan perubahan-perubahan diri secara

vertical maupun horizontal untuk mencapai pemanusiaan itu sendiri.



Dalam kisah menjadi negara bangsa,

lembaga-lembaga pendidikan Kristen dan Katholik memiliki andil yang besar – meski tidak diakui secara langsung oleh negara –

tetapi lembaga-lembaga pendidikan ini telah mencerahkan dan memberikan wawasan yang besar untuk mencari pencerahan bagi

kehidupan yang merdeka dan berdaulat. Menjadi manusia yang seutuhnya. Untuk itu, pelayanan dan panggilan yang membebaskan harus

terus dilanjutkan, sehingga wujud manusia merdeka dan mandiri sebagai bangsa yang besar harus terus

diselenggarakan.



Persoalan yang ada sekarang – memasuki dunia global dan materialism – pendidikan menjadi alat atau

sarana materialism, sehingga pendidikan yang mencerahkan atau yang memerdekakan manusia sulit ditemukan. Terlebih lagi sejak

Indonesia masuk dalam pusaran pasar global, di mana arsitek dari pendidikan – termasuk produk Undang-Undang Sistem Pendidikan

Nasional – telah masuk pada komersialisasi pendidikan. Pendidikan berorientasi pada pasar – bukan pencerahan lagi – karena

kebutuhan dunia industri tentang sumber daya manusia. Manusia merupakan bagian atau produk dari ekonomi, bukan lagi produk dari

budaya itu sendiri yaitu manusia seutuhnya. Manusia dipandang sebagai bagian proses kerja dan tidak ada bedanya dengan

mesin-mesin industri – bagian dari pengeluaran proses produksi – sehingga mereka terjajah oleh materialisme pasar itu sendiri.

Apabila pasar tidak membutuhkan, maka nilai sumber daya itu sendiri berkurang – sesuai dengan mekanisme pasar --. Perhatikan

kebijakan sekarang ini, dengan mendengung-dengungk an Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai produk unggulan pemerintah –

dengan iklan yang demikian gencar di seluruh media televisi nasional – produk sekolah untuk kebutuhan pasar atau Link and

Match, menjadi bagian yang ada, sehingga SMK naik peminatnya. Tetapi pertanyaan yang besar adalah apakah kebijakan pendidikan

ke SMK dibarengi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah membuka lapangan pekerjaan dan pemanusiaan manusia di dunia kerja. Ini

pertanyaan yang penting. Ini baru sudut parsial pendidikan itu sendiri. Ternyata pemerintah belum memberikan makna pendidikan

sebagai pemanusiaan manusia seutuhnya untuk menjadi manusia yang mandiri dan mampu menentukan nasib sendiri untuk transformasi

pribadi – baik secara vertical maupun horizontal – karena pemerintah mengaitkan kebijakan yang ada berdasarkan

pasar.



Belum lagi kalau dibahas proses komersialisasi pendidikan di mana biaya pendidikan mahal – khususnya

sekolah-sekolah Kristen dan Katholik – karena tida tergantung kepada pemerntah, sehingga mereka harus menarik atau mengusahakan

biaya operasional ditarik dari peserta didik. Biaya yang mahal mengisyaratkan lembaga-lembaga pendidikan Kristen harus kembali

ke jati diri panggilan mereka untuk membawa manusia Indonesia mengalami kemerdekaan kemanusiaan mereka. Menjadi manusia

Indonesia sepenuhnya. Memang tidak bisa dipungkiri untuk mencapai pendidikan yang terbaik – diperlukan modal yang besar pula.

Tetapi membuat upaya-upaya yang serius untuk kembali pendidikan Kristen dan Katholik sebagai agen nasionalisme dan kemerdekaan

individu Indonesia adalah satu pokok pemikiran yang besar dan harus diberikan ruang khusus untuk hal ini. Bagaimana

pemberdayaan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat atau keluarga bangsa yang besar di mana akar rumput diberdayakan dan

dicerahkan melalui dunia pendidikan, ini adala sebuah tantangan besar bagi gereja dan lembaga pendidikannya.



Untuk

itu, dalam mimbar ini, kita harus berdoa dan mohon intervensi Tuhan untuk kembali lembaga-lembaga pendidikan Kristen dan

Katholik mampu berperan lagi – meski tidak ada dukungan kebijakan dan dana dari pemerintah – terus mengupayakan kemandirian

operasional pendidikan yang mencerahkan atau memerdekakan akar rumput di mana lima atau sepuluh tahun mendatang ditemukan

manusia Indonesia yang transformatif dan tercerahkan untuk mandiri dan membawa Indonesia sejajar dengan negara-negara yang

lain, serta mengeratkan keluarga besar Indonesia. Apakah ini bisa terjadi? Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan umat yang

percaya. Tuhan memberkati.



Oleh : Agustinus Telaumbanua.

dilihat : 254 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution