Senin, 18 November 2019 05:32:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520218
Hits hari ini : 473
Total hits : 5088652
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Yahudi dan Muslim Amerika perlu aturan main baru






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 12 Januari 2005 00:00:00
Yahudi dan Muslim Amerika perlu aturan main baru
Chicago - The

Council of Islamic Relations menyebut serangan Israel terhadap Gaza sebagai “tidak proporsional dan tidak produktif....

pembunuhan masal”. Situsnya menampilkan foto bangunan yang habis dibom di Gaza dan petugas yang panik menggiring penduduk sipil

ke tempat aman.



Situs American Jewish Committee (AJC) menampilkan foto pejuang garis keras Palestina dengan topeng

ski sedang memegang senjata. Di sampingnya, video Direktur Eksekutif AJC David Harris yang berbicara tentang “situasi yang tak

bisa ditolerir” yang dihadapi Israel dan bagaimana mereka “tak punya pilihan” kecuali mengebom Gaza.



Muslim Public

Affairs Council menyebut serangan udara Israel “brutal” dan membantu menggalang dana bagi para korban Palestina.



The

Union for Reform Judaism menyebut pengeboman itu “perlu” dan menggalang dana bagi para korban Israel.



Semuanya cukup

bisa ditebak, semuanya sudah biasa.



Merespon krisis di Timur Tengah memang merupakan cerita lama bagi kebanyakan

organisasi Muslim dan Yahudi di AS. Yang harus mereka lakukan adalah mencari press release dan surat-surat penggalangan dana

lama, mengubah beberapa nama dan tanggal, dan mereka pun siap untuk beraksi.



Aturan main ini sudah tertulis sejak

puluhan tahun lalu.



Di satu sisi memang siapa yang bisa menyalahkan pengulangan yang dilakukan oleh

organisasi-organisasi ini? Toh mereka punya loyalitas kelompok yang kuat dan jelas serta konstituen yang besar dan vokal.

Memutar lagu lama sudah cukup bisa memuaskan pendukung kelompok masing-masing. Buktinya bisa ditunjukkan oleh rekening bank

organisasi-organisasi ini selama musim penggalangan dana seperti saat ini.



Tapi, saya merasa geli ketika membaca

membaca situs-situs web dan press release mereka dalam rangka riset untuk kolom ini. Saya melihat ada ketakutan yang sama pada

organisasi Muslim dan Yahudi. Keduanya merasa bahwa situasi saat ini lebih buruk ketimbang sebelumnya. Organisasi-organisasi

Yahudi berbicara tentang semakin luasnya jangkauan roket-roket Hamas. Sementara organisasi-organisasi Muslim berbicara tentang

meningkatnya jumlah korban dari orang Palestina.



Jadi, mari kita luruskan. Kedua pihak mengatakan bahwa saat ini

mereka membutuhkan dukungan yang lebih besar daripada sebelumnya. Keduanya mengatakan bahwa mereka berjuang untuk yang

terbaik.



Kedua pihak mengatakan bahwa situasinya kian memburuk.



Semua ungkapan itu tampak seperti pepatah

lama ”Jika Anda melakukan apa yang selalu Anda lakukan, Anda akan mendapatkan apa yang selalu Anda dapatkan”. Status quo di

Timur Tengah sudah cukup buruk, dan seharusnya membuat kita semua bercermin pada pendekatan kita. Tapi jika situasinya memang

memburuk bagi semua orang (yang tampaknya menjadi satu hal yang bisa disetujui oleh Muslim dan Yahudi), bukankah seharusnya

kita menyobek buku aturan lama dan mencoba sesuatu yang baru?



Saya punya kutipan favorit dari Susan Sontag: “Apapun

yang sedang terjadi, sesuatu yang lain selalu sedang berlangsung.” Karena itu saya yakin bahwa di tengah-tengah diputarnya lagu

lama ini, ada sesuatu yang berbeda yang layak untuk diperhatikan.



Bagi organisasi-organisasi Muslim dan Yahudi,

melakukan blokade komunikasi dengan ”pihak lain” adalah soal harga diri. Ungkapan klise yang saya dengar dari dua kelompok

adalah, “Kami tak bisa bicara dengan orang-orang yang memiliki pertentangan pendapat begitu fundamental dengan kami.” Dan

karenanya kelompok dialog antar agama pun terpecah. Persahabatan antara Muslim dan Yahudi menjadi tegang. Dan kita kembali

meneriakkan yel-yel lama kita lebih keras.



Tapi, perlahan, tampaknya sebagian orang menyadari bahwa meningkatkan

volume yel-yel masing-masing dan berusaha untuk menenggelamkan pihak lain bukanlah sebuah strategi untuk mendapatkan

solusi.



Seorang pejabat Yahudi Amerika mengatakan kepada saya kemarin “Yahudi dan Muslim di Amerika harus

mencontohkan hubungan yang positif di sini, dan berharap agar hubungan baik ini memperbaiki situasi di sana.”



Saya

juga berkirim email dengan pejabat senior Islamic Society of North America kemarin. Mereka juga ternyata mengungkapkan hal

serupa. Malah, poin lima dari press release ISNA mengenai situasi Gaza berbunyi: “Terlibat dalam dialog dengan orang Amerika

lainnya, terutama dengan kalangan Yahudi, sehingga perbedaan religius tidak menjadi sumber perselisihan dan perpecahan

sipil…”



Saya kira ide untuk terus terlibat dengan pihak lain mungkin akan semakin populer di kalangan organisasi

Muslim dan Yahudi, meskipun hal itu masih merupakan sikap yang minoritas (kelambanan memang kekuatan yang

dasyat).



Jadi kita sedang menyaksikan langkah yang amat kecil menuju kemenangan besar.



Kemenangan itu

bukan sekadar menuliskan kembali aturan main yang digunakan oleh masing-masing organisasi Muslim dan Yahudi ketika konflik

Timur Tengah memanas. Kemenangn haruslah berupa pengakuan bahwa, jika kita ingin benar-benar menyelesaikan konflik, maka

kelompok-kelompok Muslim dan Yahudi harus menulis aturan main baru itu bersama-sama – karena mereka berada di pihak yang

sama.



Telepon pertama pejabat Yahudi dan Muslim ketika bom meledak di Timur Tengah bukanlah kepada

organisasi-organisasi di lingkungan komunitas religius mereka sendiri, tapi kepada pihak terkait di komunitas yang

lain.



Kalimat pertama pembicaraannya, “Saya setuju dengan koeksistensi, dan saya yakin Anda juga. Pernyataan publik

apa yang bisa kita buat bersama, press release apa yang bisa keluarkan bersama-sama, apa yang bisa membantu mereka yang setuju

dengan koeksistensi untuk mengalahkan pendukung konflik?”



Itulah aturan main yang bisa mengubah

permainan.



Oleh : Eboo Patel



###



*Eboo Patel adalah pendiri dan direktur eksekutif Interfaith

Youth Core, sebuah LSM yang berkantor di Chicago yang mempromosikan kerjasama antar-agama. Artikel ini didistribusikan dengan

izin dari kolom On Faith di Washington Post/Newsweek oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa diakses di

www.commongroundnews.org.



(Sumber: Washington Post/Newsweek's On Faith, 31 Desember 2008,

newsweek.washingtonpost.com/onfaith/



Pustakalewi.Net memiliki izin hak cipta untuk publikasi.

dilihat : 443 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution