Sabtu, 17 Agustus 2019 22:41:52 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520076
Hits hari ini : 1549
Total hits : 4875965
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Apa Kode Wilayah Tuhan?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 18 Desember 2008 00:00:00
Apa Kode Wilayah Tuhan?
Phoenix, Arizona – “Hai, saya Anne dan saya ilmuwan Kristen.” “Saya Tex, seorang Metodis.” “Saya John, anggota Gereja LDS.”

“Saya Dilara, seorang Muslim.”



Bukan, ini bukan pertemuan AA religius – ini pertemuan bulanan Arizona Interfaith

Movement (AIFM), yang misinya adalah menjembatani pemahaman, penghargaan, dan dukungan di antara orang-orang yang berbeda agama

melalui pendidikan, dialog, pelayanan, dan implementasi Peraturan Emas.” Kelompok-kelompok antar agama seperti AIFM ada di

seluruh AS.



Tuhan tidak dibatasi oleh kode area.



Entah saya berlutut di bangku gereja atau menyentuhkan

dahi saya ke sajadah, pengamatan saya akan kekuatan yang lebih tinggi adalah tindakan spiritual akan ingatan dan pengabdian.

Tapi mengapa sebagian orang Amerika berfokus pada perbedaan dalam dogma, ketimbang menyoroti persamaan dalam toleransi,

pengetahuan dan kesatuan? Niat mereka adalah untuk memecah belah kita.



Klaim-klaim terdahulu bahwa Katholik Amerika

menempatkan kesetiaan kepada Paus mereka ketimbang kesetiaan kepada negara mereka mengingatkan pada sikap mereka baru-baru ini

yang menentang Muslim Amerika. Dengan menyiratkan bahwa mereka menyembah Tuhan yang berbeda, (sebenarnya tidak – Allah adalah

bahasa Arab untuk Tuhan – Tuhannya Ibrahim, Musa, dan Yesus), itu merupakan tuduhan bahwa siapapun yang bukan Kristen bukanlah

orang Amerika.



Tidak Amerika? Setelah mendengarkan retorika dalam kampanye kepresidenan yang lalu, Anda tidak dapat

disalahkan jika mencapai kesimpulan seperti itu. Tapi Anda salah.



Prinsip-prinsip dasar yang ada dalam kedua

Konstitusi kita serta Declaration of Independence kita – konsep-konsep persamaan, kebebasan, dan pemisahan antara gereja dan

negara – semua tampaknya telah diabaikan dan lebih condong kepada intoleransi, menyebarkan ketakutan, dan kefanatikan beragama.

“Memperbedakan” seseorang berdasarkan ras, agama atau etnisitas telah menjadi pendekatan yang mundur ke belakang ketimbang

analisa serius suatu masalah.



Sejak kapan keyakinan kepada Tuhan menjadi tes lakmus untuk kepresidenan, atau malah,

untuk kewarganegaraan?



Survei terbaru Forum Gereja tentang Agama dan Kehidupan Publik terhadap 35.000 orang pada

Februari 2008 mengenai lanskap keagamaan orang Amerika memberikan perincian yang berguna tentang keragaman agama negara kita,

dengan lebih dari 78 persen responden mengidentifikasikan diri mereka sebagai "Kristen.” Lima persen lainnya menganut

agama-agama lain, tapi jumlah yang signifikan (16 persen) mencap diri mereka sebagai "Ateis", Agnostik", atau sekadar "tidak

meyakini agama tertentu". Tapi mereka semua orang Amerika.



Sindiran bahwa non-Kristen adalah tidak-Amerika

menyangkal semua logika dan akal sehat – diskriminasi berkedok kefanatikan beragama tetap merupakan

diskriminasi.



Saya diberkahi dengan saudara-saudara beragama Islam, Kristen dan agnostik. Saya yakin bahwa banyak

keluarga Amerika lainnya yang dapat mengklaim keragaman yang sama, jika bukan kelompok agama yang sama, duduk mengitari meja

Thanksgiving mereka setiap tahunnya.



Sementara iman dan kebajikan tetap merupakan nilai-nilai inti dari banyak

agama, hal itu merupakan wilayah pribadi masing-masing kita, entah kita memilih untuk menyatakan keyakinan kita secara publik

atau menyimpannya untuk pribadi, atau bahkan apakah kita percaya kepada kekuatan yang lebih besar.



Saya dapat

menyediakan limun dan kue-kue pada pembukaan sekolah menengah Jesuit putra saya bersamaan dengan para ibu dari agama-agama yang

berbeda. Karena kami tidak menuntut ketaatan hingga ke perincian kecil dari agama masing-masing, kami sekadar bersatu untuk

kebaikan bersama.



Bukankah persamaan tujuan itu merupakan landasan dari kewarganegaraan – pengakuan yang tak

diucapkan dari Peraturan Emas?



Baru-baru ini Arizona menambahkan pelat lisensi baru untuk website Divisi Kendaraan

Bermotornya – pelat pemandangan indah yang melukiskan Grand Canyon saat matahari terbenam dengan motto “Jalani Peraturan Emas”.

Pelat lisensi khusus ini bertindak sebagai papan perjalanan yang memuji nilai kebajikan "perlakukan orang lain seperti Anda

ingin diperlakukan," prinsip kehidupan yang juga dipegang oleh banyak agama. Bayangkan kemungkinan peningkatan dalam keadilan

sosial, keterlibatan warga negara dan tindakan kebaikan sederhana jika kita semua menerapkan motto ini.



Dr. Paul

Eppinger, direktur eksekutif Gerakan Antar-Agama Arizona, selalu merupakan orang terakhir yang mengidentifikasi diri pada

setiap pertemuan direksi. Dia melakukannya dengan begitu indah, dengan membuka tangannya lebar-lebar untuk menyambut setelah

mendengarkan serangkaian doa dari kelompok-kelompok agama yang hadir. Dia mengatakan, “Saya Paul, dan saya adalah semua itu.”

Tak ada yang lebih Amerika dari itu.



Oleh : Dilara Hafiz



###



* Dilara Hafiz adalah wakil

presiden Gerakan Antar-Agama Arizona & penulis bersama The American Muslim Teenager's Handbook. Artikel ini disebarluaskan

oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) atas seizin AltMuslim.com.



Sumber: altmuslim.com, 4 Desember 2008,

www.altmuslim.com



Pustakalewi.Net telah memperoleh hak cipta.

dilihat : 438 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution