Kamis, 19 September 2019 06:49:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520102
Hits hari ini : 684
Total hits : 4961788
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Berdamai dengan Taliban






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 07 November 2008 00:00:00
Berdamai dengan Taliban
Lahore, Pakistan – 50 anggota Pak-Afghan jirgagai (dewan mini) mengakhiri sidangnya di

Islamabad pada hari Selasa dengan sebuah seruan untuk memulai pembicaran damai dengan Taliban, “termasuk semua yang terlibat

dalam situasi konflik”.



Dua komite telah didirikan, satu untuk memastikan pelaksanaan resolusi jirgagai, dan yang

lainnya untuk bersungguh-sungguh melibatkan Taliban dalam berbagai perundingan. Pihak Afghan, yang diwakili oleh mantan Meneri

Luar Negeri Abdullah Abdullah, jelas telah berubah pikiran. Negara tersebut sebelumnya terbiasa mengecam segala upaya yang

dibuat Pakistan untuk melibatkan para militan dalam pembicaraan damai.



Amerika juga telah berubah pikiran. Para

komandan ISAF-NATO sebelumnya terbiasa mengeluh bahwa “kesepakatan damai” yang dibuat Pakistan di Waziristan cenderung

meningkatkan serangan-serangan Taliban di lintas perbatasan. Menurut berbagai laporan, Gedung Putih dan para pejabat militer

senior cenderung memilih perundingan “untuk membantu membalikkan arah putaran yang sedang terperosok di Afghanistan dan

Pakistan”.



Tetapi juru bicara Taliban Afghan Zabihullah Mujahid telah menyebut seruan untuk berdialog tersebut

sebagai “tak ada artinya” selama “pasukan asing masih berada di negara kami”.



Alhasil, apakah usulan pembicaraan

damai menjadi gagal?



Taliban Afghan berada di daerah-daerah tertentu Pakistan, tetapi kekuatan mereka untuk bertahan

juga berasal dari Taliban Pakistan yang secara ideologis berdiri antara Taliban Afghan dan Al Qaeda, dengan menunjukkan simpati

bagi keduanya. Taliban Pakistan telah mengutarakan keinginan untuk melibatkan diri dalam pembicaraan dengan pemerintah Pakistan

sambil terus mempertahankan pernyataan mereka yang akan menyerang “kekuatan pendudukan” sepanjang Garis

Durand.



Tetapi setelah operasi-operasi militer tentara Pakistan yang sejauh ini berhasil di wilayah-wilayah suku

asli, para militan telah sedikit banyak “melunak”.



Akankah pembicaraan dengan mereka

membantu?



Pembicaraan antara pemerintah Pakistan dan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) sudah pasti akan membantu,

hanya mungkin waktunya yang belum tepat.



Sikap Pakistan, yang diambil pada sidang gabungan parlemen di Islamabad,

adalah bahwa memprioritaskan negosiasi, tetapi ini akan dilakukan hanya dengan mereka yang memutuskan untuk meletakkan senjata

dan setuju untuk mematuhi Konstitusi Pakistan. Pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh “juru bicara” Taliban — Afghan atau

Pakistan — tidak berarti banyak, karena mereka ditujukan terutama untuk memelihara semangat internal. Selalu ada ruang dalam

sebuah gerakan bagi hadirnya nuansa-nuansa rekonsiliasi di tengah pernyataan-pernyataan perlawanan.



Karena itu,

tidak akan lagi ada pertentangan dengan resolusi jirgagai bahwa komisi harus melanjutkan upaya menggali kemungkinan-kemungkinan

dialog dengan Taliban. Tidak ada keraguan bahwa di pihak Pakistan setidaknya ada perunding-perunding dengan akses dekat ke para

militan yang dapat menginformasikan kita tentang berbagai kemungkinan sebuah “jalan tengah”, di mana kekerasan dapat digencat

dan rekonstruksi dapat dimulai di daerah-daerah yang terpengaruh.



Jika Afghan tidak memiliki juru runding seperti

itu, Pakistan dapat membantu dengan berperan sebagai mediator. Tetapi apakah hanya ini yang perlu diantisipasi menyangkut

perubahan pikiran mendadak dalam berurusan dengan Taliban?



Semua berawal dari para pejabat militer dan diplomatik

Inggris yang “menyuarakan pikiran” tentang perang di Afghanistan. Tetapi sekarang para ahli strategi di Washington sedang

menyarankan “sebuah jalan keluar” dari Afghanistan kepada pemerintah mendatang. Mereka berpikir bahwa Afghanistan telah jatuh

ke dalam sebuah Permainan Besar lain dengan India dan Pakistan yang sedang memperjuangkan perang yang mereka mandatkan melalui

bidak-bidak yang ditempatkan di sana untuk menipu Amerika Serikat dan para sekutunya.



Di belakang kedua pejuang

lokal ini ada sederet lengkap pemain regional yang akan ikut campur di Afghanistan untuk mempertahankan daerah-daerah pengaruh

mereka. Jika skenario saat ini dibiarkan berjalan, harapan Pakistan agar konflik suku pedalamannya berpindah ke Afghanistan,

seperti halnya pada 1990-an, dapat menjadi impian kosong.



Iran, Rusia, Cina, dan India mempunyai kepentingan akan

sebuah tatanan baru di Afghanistan. Di atas papan catur kekuasaan, setiap gerakan didorong oleh dua faktor: kebangkitan Taliban

melawan para pemain domestik tidak akan dapat diterima; sama tidak dapat diterimanya dominasi Amerika di wilayah tersebut jika

ia menang melawan Taliban.



Ini membawa pada sebuah kesadaran bahwa faktor-faktor “eksternal” dalam perang di

daerah-daerah suku pedalaman Pakistan sesungguhnya bertujuan untuk menyingkirkan Amerika dari wilayah tersebut. Selain mengecoh

Amerika, tujuannya adalah untuk mencapai sebuah solusi “regional” yang disepakati tentang siapa yang menguasai

Afghanistan.



Sebuah pendekatan regional yang disepakati oleh tetangga-tetangga Afghanistan, secara fundamental

didasarkan pada sebuah normalisasi hubungan atara India dan Pakistan, sedang direkomendasikan. Ini tidak diragukan lagi akan

dapat membantu mengingat Pakistan semakin menyadari taruhan-taruhan dari India dan negara-negara lain dalam konflik yang

dihadapinya di daerah-daerah suku pedalamannya.



Masalah di dalam negeri Pakistan berasal dari keprihatinan yang

dimiliki kekuatan regional terhadap bentuk masa depan dalam negeri Afghanistan.



Keprihatinan-keprihatinan ini dapat

diatasi lewat sebuah “kelompok penghubung” yang menyebarkan sebuah pendekatan kolektif terhadap permasalahan Afghanistan kepada

negara-negara regional dan bertetangga tersebut.





###



* Artikel ini merupakan editorial Daily Times.

Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) atas seizin The Daily Times.



Sumber: Daily

Times, 30 Oktober 2008, ww.dailytimes.com.pk

Pustakalewi.Net Telah memperoleh hak cipta.

dilihat : 450 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution