Minggu, 18 Agustus 2019 04:15:37 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520077
Hits hari ini : 418
Total hits : 4876527
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -ARTI HIDUP SEJATI MENURUT ALKITAB






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 29 Oktober 2008 00:00:00
ARTI HIDUP SEJATI MENURUT ALKITAB
Jemaat Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya dan proofreader di Momentum Christian

Literature, Surabaya yg terbeban untuk mensharingkan Theologia Reformed Injili dari Pdt. Dr. Stephen Tong & berisi

artikel-artikel: Mandat Budaya, Kegiatan Reformed Injili, Theologia Sistematika, Eksposisi Alkitab, Renungan, Analisa Kritis

Terhadap Buku The Purpose Driven Life, dll



“ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan

menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kejadian

2:7)



1.1 Arti Hidup Menurut Perspektif Dunia



Dunia di mana kita hidupi hari ini sedang mengalami

krisis makna hidup. Berbagai cara manusia berusaha untuk mencoba menemukan makna hidupnya, dari menyiksa diri (beraskese),

sampai hidup hedonis yang melampiaskan semua kesenangan hawa nafsunya. Mereka pada intinya ingin mengerti makna hidup untuk

selanjutnya makna itu bisa mereka jalani dengan baik. Oleh karena itu, marilah kita melihat sekelumit tentang definisi hidup

dalam perspektif dunia kita.



1. Hidup Adalah Perjuangan.

Pertama, dunia kita melihat hidup adalah suatu

perjuangan. Di dalam suatu perjuangan, dibutuhkan kekuatan untuk mengerjakannya. Tidaklah heran, manusia di dunia suka berjuang

meskipun banyak dari mereka tidak mengerti motivasi dan tujuan dari apa yang diperjuangkannya. Yang mereka ketahui bahwa hidup

ini adalah hanya untuk berjuang, terus berjuang agar mencapai apa yang diidam-idamkan. Oleh karena itu, di dunia ini sangatlah

laris promosi training motivasi dari para motivator dari sekelas Anthony Robbins sampai Andrie Wongso dengan idenya Success is

My Right. Para motivator ini terus memberikan motivasi bagi para peserta seminarnya dan manusia dunia ini agar mereka yang

merasa down boleh ditingkatkan kembali semangatnya, tetapi rupa-rupanya semangat ini tidak bersumber dari Allah, sehingga

motivasi peningkatan semangat ini adalah untuk kepentingan diri (humanisme) dan tujuannya pun untuk kemuliaan diri (meskipun di

dalam beberapa buku “rohani” sekalipun, tujuan motivasi ini untuk “kemuliaan Tuhan”). Inilah jiwa atheisme praktis di dalam

diri manusia yang berakar dari humanisme ditambah semangat pantheisme dan Gerakan Zaman Baru yang diindoktrinasikan melalui

berbagai training motivasi dan pengembangan pribadi. Perjuangan yang dilandasi oleh semangat ingin mencapai cita-cita dan

self-centered ini tentu tidak akan menemukan makna hidup sejati dan tentunya juga makna perjuangan sejati, karena yang menjadi

landasannya adalah kepentingan diri yang sebenarnya makhluk yang terbatas.



2. Hidup Adalah Kesempatan.

Kedua,

dunia kita yang terus mau berjuang, adalah dunia yang juga mengidentikkan hidup adalah kesempatan. Mereka menyadari bahwa hidup

di dunia ini hanya sementara, oleh karena itu mereka memakai setiap kesempatan yang ada untuk meraih apa yang mereka inginkan.

Di sini, dunia kita mengaitkan hidup dengan waktu yang ada. Di dalam setiap waktu/kesempatan, mereka mau mengerjakan apa yang

diinginkan oleh mereka, entah itu baik atau jahat menurut pandangan Alkitab, mereka tidak seberapa mempedulikannya. Bagi

mereka, apa yang diinginkannya harus dicapai di dalam setiap kesempatan. Misalnya, orang yang dulunya hidup miskin ingin

menjadi kaya, maka dia bukan hanya berjuang untuk meraih uang, tetapi juga menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk meraih

yang dicita-citakan. Tidak heran, beberapa dari mereka sampai-sampai menggunakan kesempatan untuk meraih yang dicita-citakan

dengan hal-hal yang buruk, contohnya, dengan korupsi, dll. Di sini, letak kegagalan dunia kita yang semakin jauh dari Allah,

yaitu memandang setiap waktu/kesempatan adalah untuk dirinya sendiri.



3. Hidup Untuk Kerja.

Ketiga, hidup

adalah kesempatan direalisasikan oleh banyak manusia sekarang dengan bekerja. Bagi banyak orangtua (termasuk banyak orangtua

“Kristen”), kerja adalah segala sesuatu. Manusia dapat disebut manusia ketika mereka sudah bisa berdikari sendiri atau bekerja

untuk mendapatkan uang sendiri tanpa tergantung dengan orangtua. Akibatnya, sejak kecil, anak-anak sudah ditanamkan konsep

bahwa hidup itu untuk bekerja, sekolah untuk bekerja, dll. Tidak heran, cukup banyak anak yang masih kecil, misalnya SD atau

SMP sudah bisa bekerja, misalnya, menjadi artis, model, dll. Akhirnya, fokus hidup sudah dialihkan dari Tuhan kepada kerja.

Itulah tipu daya iblis yang bekerja di abad postmodern ini dengan menyingkirkan Allah dari hidup manusia. Akibatnya, mereka

yang memandang hidup adalah kerja, akan memandang setiap kesempatan hanya untuk bekerja, dan aktivitas-aktivitas yang menurut

mereka “tidak penting”, misalnya bahkan pergi ke gereja, persekutuan, makan, minum, tidur, dll, adalah sesuatu yang tidak

penting, sehingga mereka rela mengorbankan banyak waktu untuk bekerja. Yang paling celaka adalah seorang ayah/suami/kepala

keluarga yang memiliki konsep bahwa hidup untuk bekerja pasti berdampak kepada keluarganya, di mana istri akan mengalami

kekurangan perhatian dari sang suami, dan anak-anak pun mengalami kekurangan perhatian dari ayah mereka, sehingga akhirnya

keluarga ini akan menjadi berantakan dan berakhir kepada perceraian. Perceraian ini bisa terjadi salah satunya karena terlalu

mementingkan pekerjaan sebagai fokus hidup manusia. Akibat lainnya dari konsep ini adalah mengerjakan segala sesuatu dengan

keterpaksaan. Artinya, hidup orang ini akan diikat oleh pekerjaannya, baik di kantor maupun di rumah. Sehinga, tidak heran,

orang ini lama-kelamaan akan menjadi stress, depresi dan akhirnya, jika tidak kuat lagi, akan bunuh diri.



4. Hidup

Adalah Uang.

Keempat, orang yang sudah memfokuskan hidupnya pada bekerja, maka dapat dipastikan banyak dari mereka juga

memfokuskan hidupnya pada uang. Konsep ketiga dan keempat ini sangat berkaitan erat. Seorang yang memandang hidup adalah hanya

untuk uang, maka segala sesuatu diukur dari segi apakah yang dilakukannya itu dapat mendapatkan uang/profit bagi dirinya.

Inilah jiwa pragmatis (utilitarian) dan materalis yang dianut oleh banyak manusia postmodern ini (bahkan di dalamnya banyak

orang “Kristen”). Bagi mereka, yang penting adalah mereka mendapatkan uang sebanyak-banyaknya bahkan kalau perlu “mengorbankan

orang lain”. Tidak heran, bisnis Multi Level Marketing (MLM), asuransi, dll laku keras, karena manusia sedang dikunci oleh

uang/materi yang fana sifatnya. Profesi dokter pun tidak luput dari fokus hidup manusia yaitu uang. Dokter bukan bekerja untuk

kepentingan pasien lagi, tetapi untuk uang. Tidak usah heran, mengapa banyak dokter tidak langsung memberikan obat kepada

pasien yang sedang sakit, tetapi dokter tersebut memberikan obat secara bertahap (banyak dari mereka bukan beralasan medis),

maksudnya, kalau pasien itu sudah habis meminum obat yang satu, maka mereka akan kembali lagi dan si dokter pasti mendapatkan

pemasukan uang lagi melalui kedatangan si pasien tersebut. Bahkan yang lebih celaka, banyak pendidik, dosen, dll mengajar bukan

karena panggilan-Nya di dalam hidup mereka, tetapi karena uang atau menimba pengalaman. Maka, jangan heran, banyak guru/dosen

baik yang mengaku diri “Kristen” berani mengajari anak-anak muridnya secara tidak bertanggungjawab, misalnya ada seorang dosen

“Kristen” saya secara tidak bertanggungjawab mengatakan, “science itu tidak ada hubungannya dengan religion”. Apakah pendeta

juga tidak bisa demikian ? BISA. Banyak “hamba Tuhan” terutama di dalam banyak gereja-gereja kontemporer yang populer saat ini

juga memfokuskan hidupnya pada uang dan profit pribadi. Jangan heran, di abad postmodern ini, yang dipentingkan bukan lagi

pengertian/pengetahuan yang beres, tetapi feeling, lalu gereja-gereja pun berlomba-lomba menyediakan sarana-sarana yang dapat

memenuhi feeling banyak orang “Kristen. Caranya ? Mudah, memanggil “pendeta-pendeta” yang “pintar” berkhotbah, bercerita lucu,

lalu mengkhotbahkan kemakmuran (meskipun banyak dari mereka menolak bahwa gerejanya mengajarkan kemakmuran, tetapi yang lebih

aneh lagi, slogan gerejanya mengandung unsur kemakmuran), dll. Zaman kita adalah zaman di mana sedang musim cho gereja (cari

untung melalui gereja). Motivasinya, jelas, para “hamba Tuhan” gereja tersebut “melayani Tuhan” demi uang, agar bisa sukses,

kaya, dll. Lalu, kesuksesannya untuk apa ? Jelas untuk profit pribadi, meskipun di depan mimbar selalu dipromosikan untuk

“pekerjaan Tuhan”. Saya sudah terlalu banyak menemukan “hamba Tuhan” model ini dan ibu saya sendiri sudah banyak sekali

mengalami hal ini dan menceritakannya kepada saya.



Adalah suatu kebodohan yang luar biasa, jika manusia diciptakan

segambar dan serupa dengan Allah bisa mau diperbudak oleh uang yang adalah benda mati. Uang yang seharusnya ditundukkan oleh

manusia, malahan sekarang dibalik, lalu uang menjadi tuan yang memerintah manusia. Ini namanya pembalikan posisi, yang

merupakan salah satu ciri masuknya dosa ke dalam diri manusia. Tidak heran, yang sebenarnya sangat penting, misalnya membaca

Alkitab, bersekutu dengan-Nya, dll, dianggap oleh manusia dunia menjadi tidak penting, dll, dan lebih aneh lagi jika ada

seorang “Kristen” berjiwa pragmatis dan relativis mengatakan bahwa itu semua tergantung pada masing-masing orang, lalu kita

tidak boleh memaksa mereka. Saya mengira anggapan ini sama sekali bukan anggapan seorang “Kristen” meskipun mengaku diri

“Kristen”, aktif di dalam persekutuan gereja sekalipun. Seorang yang cuek dengan orang lain sama sekali bukan ciri orang

Kristen sejati.



5. Hidup itu Biasa Saja.

Prinsip kelima dari definisi hidup yang dunia sedang ungkapkan yaitu

hidup itu biasa saja, jadi jalani sebagaimana adanya. Inilah jiwa pragmatisme dunia kita yang muncul melalui definisi hidup

yang biasa saja. Hidup yang biasa saja menandakan bahwa di dalam diri manusia sudah tidak ada lagi makna hidup sejati, sehingga

hidup ini hanya dijalani tanpa arah dan tujuan yang pasti sesuai dengan firman-Nya. Tidak usah heran, ketika manusia dunia

hanya mengerti hidup ini hanya biasa saja, maka mayoritas mereka menggunakan dan mengisi hidup mereka hanya untuk kepuasan diri

mereka saja. Salah satu iklan rokok mengatakan, enjoy aja. Itu yang sedang dunia tawarkan bahwa yang penting itu enjoy,

suka-suka bertindak apapun, yang penting happy, senang, gembira, dll. Hidup yang serba gembira ini sangat berbahaya, karena

hidup yang gembira tidak mengerti sesungguhnya apa itu penderitaan, kesusahan, dll. Tidak heran, banyak orang “Kristen” yang

sudah diindoktrinasi bahwa menjadi “Kristen” pasti kaya, sukses, dll, ketika ada penganiayaan datang, mereka lah yang pertama

kali langsung menghujat Tuhan, karena kondisi yang serba pleasure sebenarnya tidak mengerti hidup itu

sesungguhnya.



6. Hidup Adalah Penderitaan.

Kalau pada poin kelima, dunia kita mengartikan hidup itu sebagai

sesuatu yang biasa saja, lalu bisa bertindak seenaknya sendiri, maka pada poin keenam, sebagai kebalikannya, beberapa manusia

dunia yang ekstrim mengatakan bahwa hidup itu penderitaan. Di dalam hidup itu pasti menderita, entah itu ditinggal oleh

seseorang yang dikasihi yang telah meninggal, putus pacar, dll. Pokoknya, tidak ada hidup tanpa penderitaan. Inilah wajah dunia

kita yang hopeless yang mencari makna hidup tetapi akhirnya kehilangan hidup itu sendiri, karena terlepas dari jalan yang Allah

telah tetapkan. Itulah akibat dari menaruh pengharapan kepada dunia ciptaan yang terbatas dan berdosa ini. Tetapi, apakah kalau

kita menaruh pengharapan kepada Tuhan pasti kaya dan tidak menderita ? TIDAK. Kita jangan terlalu ekstrim. KeKristenan

hendaknya jangan terlalu ekstrim menekankan dua kubu, yaitu terlalu mementingkan kesuksesan hidup, yang lainnya menekankan

penderitaan terus-menerus. KeKristenan harus seimbang, menyeimbangkan antara penderitaan karena nama Tuhan dengan pengharapan

sesudah penderitaan yaitu hidup kekal bersama-Nya.



7. Hidup Untuk Orang Lain.

Terakhir, hanya sedikit manusia

bisa memiliki tujuan hidup demi orang lain. Artinya, meskipun definisi hidup yang terakhir ini masih kurang, tetapi setidaknya,

defisini hidup ini masih lebih baik dari definisi hidup dari nomer satu sampai dengan 6 yang self-centered. Pada konsep

terakhir ini, manusia memandang hidupnya dipersembahkan bagi orang lain. Contohnya, banyak pelukis, komposer musik, dll

melakukan segala sesuatu demi orang lain, sehingga tidak heran nama-nama mereka cukup dikenal di dalam zamannya maupun zaman

sesudah mereka meninggal dunia. Johan Sebastian Bach, G. F. Hendel, Leonardo da Vinci, dll adalah orang-orang yang telah

bersumbangsih bagi dunia karena mereka mementingkan orang lain ketimbang diri. Mungkin saja mereka mau rugi mengorbankan waktu,

tetapi yang penting orang lain mendapatkan kepuasan dari hasil kerugiannya. Tentu itu berbeda dengan semangat manusia di abad

postmodern yang lebih mementingkan profit pribadi dengan mengorbankan orang lain.





1.2 Arti Hidup Menurut

Perspektif “Kristen” yang Palsu



Lalu, sekarang ini, kita akan beralih kepada arti hidup menurut perspektif “Kristen”

yang seolah-olah kelihatan lebih “rohani”, tetapi sebenarnya palsu. Mereka berani menggunakan istilah “Kristen” untuk

menjelaskan makna hidup, padahal istilah itu hanya sekedar topeng untuk menyelimuti ide humanisme, pantheisme dan pragmatisme

di dalam dirinya. Itulah yang kita lihat di dalam buku The Purpose Driven Life karya Rick Warren.

Dari judul bukunya saja,

kita sudah menemukan ide yang sudah saya jelaskan tadi, yaitu istilah “Kristen” dijadikan topeng (dengan cara mengutip ribuan

ayat Alkitab yang kebanyakan di luar konteks asli) untuk menyelimuti esensi sebenarnya yaitu humanisme, pantheisme, materalisme

dan pragmatisme. Tentu, di dalam metode penafsiran Alkitab, Warren menggunakan tafsiran-tafsiran Alkitab yang semau gue menurut

seleranya pribadi tanpa memperhatikan konteks, bahasa asli dan terjemahan-terjemahan Alkitab yang lebih tepat. Itulah metode

eisegese dalam penafsiran Alkitab yang salah, tetapi laris dalam masyarakat “Kristen” (khususnya yang bertheologia Injili

non-Reformed). Hal ini akan banyak disinggung dan diuraikan secara tuntas pada bab kedua makalah ini. Kembali, apakah hidup

kita digerakkan tujuan ? Kalau benar demikian, sebenarnya ada tiga pertanyaan penting yang perlu dipertanyakan. Pertama, siapa

yang mengarahkan tujuan itu. Kedua, apakah tujuan yang diarahkan itu ? dan ketiga, tujuan siapa yang dituju ? (atau untuk apa

tujuan itu ?) Jelas, di dalam buku The Purpose Driven Life, meskipun menggunakan nama “Tuhan”, sebenarnya yang mengarahkan

tujuan itu adalah diri manusia itu sendiri, tujuan itu adalah berkenaan dengan cita-cita manusia yang hebat dan mulia (tanpa

Allah) lalu tujuan itu membawa kemuliaan bagi diri manusia sendiri (persis terbalik dari Roma 11:36 yang mengajarkan bahwa

segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia, bagi Dia lah kemuliaan selama-lamanya). Inilah jiwa humanisme sekuler

(atau sekularisme) tetapi yang masih memperalat “Tuhan” agar kelihatan “rohani”. Inilah jiwa manusia

berdosa.





1.3 Arti Hidup Sejati Menurut Alkitab.



Lalu, apa kata Alkitab tentang hidup sejati ? Pada

bagian awal Bab 1 ini, saya sudah mengutip Kejadian 2:7, “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan

menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Terjemahan Baru LAI) atau

terjemahan Alkitab BIS memberikan pengertian yang lebih jelas, “Kemudian TUHAN Allah mengambil sedikit tanah, membentuknya

menjadi seorang manusia, lalu menghembuskan napas yang memberi hidup ke dalam lubang hidungnya; maka hiduplah manusia itu.”

Kata “nafas hidup” berasal dari bahasa Ibrani, neshâmâh yang berarti tiupan atau hembusan atau nafas yang

vital/sangat penting/berkenaan dengan hidup. Kata Ibrani ini juga dipakai di dalam Amsal 20:27 untuk kata “Roh manusia”

(Terjemahan Baru LAI) atau “hati nurani manusia” (Alkitab BIS). Lalu kata “makhluk yang hidup” (TB-LAI) diterjemahkan a living

soul oleh King James Version (KJV) yang berarti jiwa/makhluk yang hidup. Kata “soul” dalam KJV ini diterjemahkan ke dalam

bahasa Ibrani nephesh yang artinya makhluk yang bernafas. Dari Kejadian 2:7 inilah, kita mendapatkan satu prinsip hidup sejati

dari Alkitab, yaitu hidup sejati adalah hidup yang berpaut kepada Allah sebagai Sumber Hidup. Kalau Allah tidak menghembuskan

nafas hidup-Nya ke dalam hidung manusia, maka manusia tidak dapat menjadi makhluk yang hidup. Nafas hidup-Nya itulah sumber

hidup bagi hidup manusia yang mengakibatkan manusia bisa bernafas dan itulah yang disebut makhluk yang hidup. Arti hidup

manusia yang sejati tidak didapat dari manusia itu sendiri yang sendiri merupakan makhluk yang dicipta, tetapi dari Allah

sebagai Sang Pencipta. Ketika kita ingin mengerti apa arti hidup sejati belajarlah dan bertanyalah kepada Allah karena Ia yang

menciptakan kita pasti mengetahui apa arti hidup itu, dan jangan sekali-kali bertanya kepada para psikolog, eksistensialis, dll

yang sendirinya juga adalah sesama manusia. Sungguh suatu kebodohan manusia dunia ini ketika mereka yang ingin mengerti arti

hidup tidak langsung bertanya kepada Sang Sumber Hidup, tetapi bertanya kepada sesama manusia yang sama-sama berdosa dan

terbatas. Itulah kegagalan psikologi dan eksistensialis yang tidak kembali kepada Allah.



Tetapi tahukah kita bahwa

hidup manusia yang pada awalnya telah diciptakan Allah begitu mulia sehingga manusia langsung bercakap-cakap dengan Allah

ternyata dirusak oleh manusia sendiri dengan meragukan eksistensi Allah. Itulah dosa. Dosa bukan dimulai ketika Hawa memetik

buah pengetahuan yang baik dan jahat yang dilarang oleh Allah, tetapi dosa dimulai ketika manusia mulai meragukan kebenaran

Allah. Usaha meragukan kebenaran Allah menjadi cikal bakal iblis terus mencobai manusia dan akhirnya manusia pertama jatuh ke

dalam dosa yang mengakibatkan manusia setelah Adam dan Hawa ikut mewarisi dosa asal (original sin), di samping ada dosa aktual

yang dilakukan oleh masing-masing pribadi manusia. Ketika dosa masuk ke dalam manusia, hidup manusia mulai kehilangan arah.

Kehilangan arah ini ditandai dengan keinginan manusia terus melawan Allah dan ini mulai nampak ketika Kain yang membenci dan

menaruh dendam kepada adiknya, Habel karena persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahan adiknya diterima

oleh Tuhan.



Lalu, dilanjutkan dengan kejadian-kejadian dan tindakan-tindakan manusia yang membuat Tuhan menyesal,

sampai-sampai Tuhan mengatakan, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan

hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu

memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6:5-6) Tetapi yang menarik, di dalam setiap kejahatan yang manusia lakukan, Tuhan tetap

menyediakan sekelompok sisa (remnant) yang masih setia kepada Tuhan. Dua ayat setelah Kejadian 6:6, yaitu pada ayat 8, Alkitab

mengatakan, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Nuh bisa mendapatkan anugerah Tuhan, itu semata-mata karena

kedaulatan-Nya saja, bukan karena kehendak Nuh yang ingin mencari Tuhan. Allah yang berdaulat adalah Ia yang berkehendak

menyatakan anugerah-Nya kepada siapapun menurut kedaulatan-Nya, bukan menurut perbuatan baik manusia tersebut. Itulah Reformed

theology. Nuh yang mendapatkan kasih karunia Tuhan di antara manusia-manusia berdosa di zamannya berusaha

mempertanggungjawabkan anugerah-Nya itu dengan hidup beres dan menaati Tuhan dan firman-Nya. Lalu, akibat ketaatannya itu dari

membangun bahtera sampai keluar dari bahtera dan mendirikan mezbah bagi Tuhan, maka Tuhan berjanji di dalam Kejadian 8:21-22,

“Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku

takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.



Selama bumi masih ada, takkan

berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” Bisa saja, pada waktu itu, Nuh

tidak menaati Tuhan, lalu berdalih dengan seribu macam alasan, akibatnya Nuh itu mati bersama orang-orang sezamannya. Tetapi

puji Tuhan, Nuh yang kita kenal di dalam Alkitab adalah Nuh yang meresponi anugerah Allah dengan tepat dan taat mutlak

kepada-Nya. Di situlah, Nuh mendapatkan makna hidup sejati, yaitu ketika ia kembali taat kepada-Nya. Banyak orang dunia

hari-hari ini berpikir bahwa menjadi Kristen itu susah, karena apa saja tidak boleh, lalu mereka berpikir bahwa kalau tidak

menjadi Kristen itu lebih enak. Itu adalah kesalahan besar. Saya bertanya, kalau kita hidup di zaman Nuh, apakah kita ingin

menjadi seperti Nuh atau orang-orang sezamannya ? Kalau orang-orang dunia pasti memilih menjadi seperti orang-orang yang hidup

di zaman Nuh yang mengejek Nuh ketika Nuh membangun bahtera, mereka berpesta pora, mabuk-mabukan, dll. Lalu, mereka menganggap

diri hebat, bebas, dan itulah hidup yang mereka cari. Tetapi benarkah demikian ? Setelah bencana air bah yang menyapu bersih

orang-orang di zaman itu, kecuali Nuh, maka mereka baru sadar bahwa hidup itu hanya sementara dan hidup yang tidak kembali

kepada Allah akan sia-sia adanya, tetapi Nuh meskipun dirinya dihina ketika membangun bahtera pada waktu kemarau, tetapi ia

mengerti hidup itu sesungguhnya karena ia kembali taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah itulah kunci utama kita menemukan

hidup sejati.



Tetapi kesalehan seperti Nuh itu sebentar saja terjadi di dalam sejarah, selanjutnya orang-orang

setelah Nuh banyak bermunculan dan mereka banyak yang jahat dan memberontak terhadap Tuhan. Oleh karena itu, Allah yang

Berdaulat memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Kepada mereka, Allah mewahyukan Taurat untuk memimpin dan mengatur

perilaku mereka agar berkenan kepada-Nya. Tetapi, bagaimana faktanya, apakah mereka semua menuruti perintah Taurat?

TIDAK.



Mereka memang menghafal semua yang tertulis di dalam Taurat, tetapi itu hanya menguasai bidang rasio saja,

dan tidak benar-benar mengerti artinya. Itulah sebabnya, mereka semakin mengerti Taurat, bukan semakin mengerti esensi Taurat,

tetapi lebih menekankan fenomena upacara sesuai Taurat. Bahkan ada yang melarang orang berjalan beberapa kilometer di hari

Sabat, dll. Taurat yang sebenarnya baik malahan dibuat tidak baik oleh para ahli Taurat yang menganggap diri ahli di bidang

Taurat (itulah namanya ahli Taurat, ahli di bidang Taurat, ahli pula untuk memelintir hal-hal esensi di dalam Taurat).





Mereka berpikir dengan hidup berbuat baik seperti yang Taurat perintahkan, mereka akan menemukan arti hidup dan

keselamatan sejati. Dari Surga, Allah tidak tinggal diam, Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk

mengembalikan fungsi hidup sebagaimana pada waktu Ia menciptakan manusia. Kristus datang untuk menebus dosa manusia dan

mengembalikan makna hidup sejati. Ketika Ia berinkarnasi dan turun menjadi manusia tanpa meninggalkan natur Ilahinya, Ia

mengajarkan prinsip-prinsip penting tentang makna hidup. Mari kita menelusuri satu per satu di dalam Injil.



Pertama,

hidup itu berpusat kepada firman Allah. Hal ini tercantum di dalam Matius 4:4, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti

saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (dikutip dari Ulangan 8:3) Hidup manusia bukan sekedar makan,

minum, bersenang-senang, tetapi hidup manusia itu berasal dari Allah, atau lebih tepatnya dari setiap firman Allah. Di sini,

Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa manusia itu hidup tidak memerlukan roti sama sekali, tetapi Ia mengatakan bahwa manusia

tidak hanya memerlukan roti saja untuk hidup. Kata “hanya” atau “saja” dalam ayat ini berarti kita masih membutuhkan roti atau

makanan jasmani untuk menyambung hidup, tetapi poin penting atau esensinya bukan terletak pada roti atau sesuatu yang

jasmaniah, tetapi firman Allah itulah yang esensi dan terpenting yang menjamin hidup kita menjadi bermakna.



Dengan

kata lain, firman Allah itu menjadi Sumber Hidup kita yang paling hakiki. Firman Allah menjadi penuntun, pemimpin dan

pengoreksi hidup kita ketika kita ingin berbuat dosa. Firman Allah menjadi batas dan penghakim bagi kita, sehingga kita tidak

keluar dari jalan-Nya, sebagaimana yang pemazmur katakan di dalam Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang

bagi jalanku.” Lalu, di dalam pasal yang sama di ayat 1-10, “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup

menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,

yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. Engkau sendiri telah

menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!

Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu. Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati

jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku

sama sekali.



Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan

firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” Firman-Nya

itu sangat berarti bagi hidup pemazmur. Hal ini sangat berbeda total dengan banyak paradigma hidup yang dianut oleh banyak

orang yang mengaku diri “Kristen” apalagi “melayani Tuhan” lalu alergi mendengar kata “Tuhan” disebutkan di luar gereja. Kalau

di dalam Mazmur 119:9, pemazmur mengatakan bahwa orang muda dapat mempertahankan kelakuan yang bersih ketika firman-Nya menjaga

hidup mereka, tetapi dunia kita mengajarnya secara bertolak belakang, yaitu ketika psikologi mengajar mereka tentang makna

“hidup”, maka tidak heran, banyak orang muda yang belajar psikologi (tanpa belajar firman-Nya) berakhir tragis, misalnya bunuh

diri, stress, dll. Ketika manusia mencoba menemukan makna hidup di luar firman-Nya, manusia tidak pernah menemukannya, karena

hidup sejati pasti berpusat kepada Allah dan firman-Nya sebagai Sumber Hidup.





Kedua, hidup yang tidak kuatir.

Di dalam Matius 6:25, Tuhan Yesus mengajarkan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang

hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih

penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Hidup manusia sudah ada di tangan-Nya, karena Ia lah

yang mengaturnya, tetapi seringkali di dalam hidup, manusia seringkali kuatir akan makanan, minuman, pakaian, dll, mengapa ?

Karena mereka diajar bukan kembali kepada Allah, tetapi kembali kepada dirinya sendiri sebagai pusat hidup. Ketika Allah

menjadi pusat hidup manusia, maka manusia tidak perlu menguatirkan hidupnya. Perhatikan kalimat terakhir di dalam ayat 25 bahwa

hidup itu lebih penting daripada makanan. Mengapa demikian ? Karena kalau kita kekurangan makanan, kita bisa mencarinya

kembali, tetapi kalau kita kekurangan makna hidup, bisakah kita mencarinya di dalam dunia ini tanpa kembali kepada Allah ?!

TIDAK.



Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak perlu kuatir. Lalu, apa solusi yang Tuhan Yesus

berikan agar manusia tidak perlu lagi menguatirkan hidupnya ? Di dalam ayat 31-33, Ia mengajarkan, “Sebab itu janganlah kamu

kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari

bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi

carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Anak-anak Tuhan tidak perlu

kuatir, karena kalau mereka kuatir, mereka sama halnya dengan bangsa-bangsa (manusia) yang tidak mengenal Allah.





Orang yang hidupnya terus kuatir sebenarnya meragukan kedaulatan dan pemeliharaan Allah di dalam hidupnya. Tetapi

tidak berarti dengan menggunakan kalimat ini, lalu kita berkata bahwa kita tidak perlu bekerja, karena semuanya diberikan

Tuhan. Itu anggapan yang konyol. Kita tidak perlu kuatir di dalam hidup karena kita percaya bahwa Tuhan itu memelihara hidup

anak-anak-Nya dengan berkecukupan, meskipun demikian Tuhan tetap menuntut kita untuk terus bekerja (lihat ayat 34 yang sering

dilupakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari

cukuplah untuk sehari.”) Kalau kita tidak perlu kuatir, tidak berarti kita tidak memiliki kesusahan apapun, tetapi Kristus

berkata bahwa kesusahan itu masih tetap ada, tetapi biarkanlah kesusahan itu cukup untuk sehari jangan ditambahi dengan

kekuatiran yang tidak perlu. Tuhan sangat mengerti benar apa yang diperlukan manusia, sehingga Kristus memerintahkan kita untuk

pertama-tama mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, baru setelah itu Ia akan menambahkan berkat-Nya. Jangan

menggunakan ayat ini lalu mengajarkan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus pasti kaya, diberkati, hidup lancar, dll. Itu

bidat/sesat. Ayat 33, kata “akan ditambahkan kepadamu” itu adalah bonus atau akibat setelah kita mempercayakan diri kepada-Nya

dengan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya (mengutamakan-Nya sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita). Jangan sembarangan

menafsirkan Alkitab.



Ketiga, hidup manusia sejati adalah hidup seperti anak kecil (rendah hati). Matius 18:1-6

mengajarkan prinsip ini, “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam

Kerajaan Sorga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata

kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan

Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu

dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia

ditenggelamkan ke dalam laut.” Di sini, Tuhan Yesus menggabungkan konsep “bertobat” dengan menjadi seperti anak kecil. Apa

artinya? Pada waktu itu, para murid sedang berebut kekuasaan ingin menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga, sehingga Kristus

harus menegur mereka dan mengatakan bahwa seorang yang masuk Surga adalah seorang yang bertobat, artinya tidak lagi

mementingkan hal-hal duniawi yang merupakan citra manusia lama dan segera memperbaharui hidup dengan mementingkan apa yang

Tuhan inginkan. Kedua, setelah bertobat, mereka harus menjadi seperti anak kecil yang memiliki kerendahan hati. Anak kecil

meskipun seringkali dihina oleh masyarakat sebagai manusia yang kurang pengalaman, tetapi dipakai oleh Kristus untuk menghina

mereka yang katanya sudah berpengalaman, berpendidikan, dll, tetapi sombong dan tidak rendah hati lagi.



Yang masuk

ke dalam Kerajaan Surga bukan konglomerat, presiden, pembesar negara, pendeta, dll, tetapi mereka yang hidup seperti anak kecil

(childlike) yang memiliki kerendahan hati (bedakan dengan childish, yaitu sifat kekanak-kanakan, sifat ini tidak disukai oleh

Tuhan). Hidup seperti anak kecil (childlike) adalah hidup yang mulia. Ketika kita belajar hidup menjadi seperti anak kecil,

maka kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Orang-orang yang suka menyombongkan diri sebagai “penghuni surga” lalu

“bersaksi” bahwa dirinya berkali-kali naik turun “surga”, berhati-hatilah, kalau ia tidak bertobat, mungkin ia nanti pasti

menjadi penghuni neraka. Tidak berarti karena kita telah berbuat baik, maka kita masuk Surga. Tolong baik-baik mengerti ayat

ini. Kita bisa rendah hati, itu semua karena Roh Kudus yang menggerakkan kita untuk berbuat baik dan rendah hati. Jadi,

kembali, anugerah Allah yang mendahului semua respon manusia, baru setelah anugerah ini dinyatakan, Allah pula lah yang

mengaktifkan kehendak manusia untuk berbuat baik bagi kemuliaan-Nya.





Keempat, hidup manusia sejati adalah

hidup kudus. Kekudusan hidup diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 18:8-9 yang berkaitan dengan penyesatan, “” Hidup

sejati adalah hidup yang kudus. Bagi Tuhan Yesus, percuma saja “masuk ke dalam Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau,

penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan

utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah

itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata

dua.hidup” (TB-LAI) atau “hidup dengan Allah” (BIS) dengan kedua tangan/kaki yang utuh tetapi salah satu berbuat dosa, lebih

baik hidup dengan Allah dengan sebelah tangan/kaki. Ayat ini jangan ditafsirkan dengan sembarangan. Saya sempat membaca ada

seorang pria Katolik di Filipina setelah membaca ayat ini lalu memotong kaki dan tangannya. Ini namanya penafsiran Alkitab

terlalu harafiah. Itu salah.





Kelima, hidup yang rela membayar harga demi Kristus. Di dalam Matius 19:29, Tuhan

Yesus mengajarkan, “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan,

bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”

Orang-orang dunia pasti kesulitan membaca ayat ini, karena mereka pasti berpikir bahwa kalau kita kehilangan sesuatu, pasti

kita tidak bisa hidup. Tetapi tidak demikian, Tuhan kita Yesus Kristus mengajarkan hal yang paradoks yang bertentangan dengan

pola pikir kita. Kristus mengatakan bahwa justru ketika berani membayar harga demi nama Kristus, maka di saat itulah kita

nantinya akan mendapatkan kemuliaan kekal dan hidup sejati (kata “hidup sejati” ditambahkan di dalam Alkitab BIS. Roma 8:18-21

sungguh menguatkan kita ketika kita di dalam bahaya penderitaan karena nama Kristus, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman

sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh

makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh

kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri

juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Inilah pengharapan

anak-anak Tuhan di mana mereka akan menerima mahkota kemuliaan setelah mereka menderita aniaya. Itulah paradoks. Hidup sejati

adalah hidup yang rela menyangkal diri sendiri dan hidup 100% bagi Kristus. Ini tidak berarti kita harus menjadi pendeta lalu

meninggalkan profesi kita. Tidak ! Hidup yang 100% bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidupnya,

mungkin hidup itu terasa sulit, kita akan diejek sok suci, sok religius, dll, tetapi kita harus setia untuk tetap men-Tuhan-kan

Kristus, karena di dalam Dialah ada hidup sejati (Yohanes 1:4 ; 14:6).





Keenam, hidup sejati adalah hidup yang

beriman. Di dalam Yohanes 3:15-16, Tuhan Yesus bersabda, “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang

percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Alkitab BIS mengartikannya, “supaya semua orang yang

percaya kepada-Nya mendapat hidup sejati dan kekal. Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan

Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal.”)

Sungguh menarik, kedua ayat ini. Seringkali kita mengaitkan kedua ayat ini hanya untuk mengungkapkan kasih Allah yang begitu

besar kepada kita. Itu tidak salah. Tetapi ayat ini juga bisa mengajarkan tentang makna hidup yang sejati hanya ada ketika kita

beriman di dalam Kristus yang berinkarnasi menebus dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Di dalam iman itulah kita bisa

menemukan hidup. Sebagaimana Roma 1:17b mengatakan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” (TB-LAI) atau “Orang yang percaya

kepada Allah sehingga hubungannya dengan Allah menjadi baik kembali, orang itu akan hidup!” (BIS) Orang dunia seringkali

membalik konsep ini dan mengatakan bahwa orang hidup itu harus beriman, tetapi Alkitab dengan konsepnya yang pasti dapat

dipercaya mengatakan bahwa justru ketika beriman di dalam Kristus, manusia pilihan-Nya bisa hidup. Mengapa demikian ? Karena

hidup sejati adalah hidup yang terlebih dahulu beriman di dalam-Nya dengan menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya

dan menjadikan-Nya sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup kita. Ketika kita percaya kepada sesuatu, di situ kita berani

menyerahkan apapun kepada yang kita percayai. Demikian juga kita percaya di dalam-Nya, maka kita juga rela menyerahkan apapun

yang ada pada diri kita untuk dikuasai oleh-Nya, karena kita percaya bahwa Allah itu adalah Allah yang Mutlak dan pasti dapat

dipercayai.



Terakhir, hidup sejati adalah hidup yang berpengharapan dan menuju kepada kekekalan. Hal ini diajarkan

oleh Tuhan Yesus di dalam Yohanes 10:27-28, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut

Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun

tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.”, Yohanes 11:25,26, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia

akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” dan

Yohanes 12:25, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di

dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Di dalam Yohanes 12:25, Alkitab BIS mengartikan dengan lebih jelas,

“Orang yang mencintai hidupnya akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang membenci hidupnya di dunia ini, akan memeliharanya

untuk hidup sejati dan kekal.” Apakah dengan ayat ini, kita harus bersama-sama membunuh tubuh jasmani kita supaya kita bisa

hidup kekal ? Lalu, apakah kita tidak boleh mencintai diri kita ? TIDAK. Kata “mencintai nyawanya” itu dari bahasa aslinya

dapat diartikan mengasihani diri atau menganggap diri berguna, hebat, dll, sehingga ketika kita berlaku demikian, maka justru

yang terjadi bukan kita semakin hidup, tetapi malahan kita semakin kehilangan nyawa atau makna hidup sejati kita. Sebaliknya,

ketika kita membenci (tidak mencintai) nyawa kita (atau dapat diterjemahkan menyangkal diri kita—bandingkan Matius 16:24), maka

yang didapat bukan kehilangan nyawa tetapi kita akan menerima dan menemukan makna hidup sejati dan kekal. Ini namanya paradoks.

Dunia kita tidak akan mengerti konsep ini sampai suatu saat Roh Kudus mencerahkan pikirannya. Puji Tuhan, kita adalah salah

satu dari antara mereka yang boleh mendapatkan anugerah Tuhan. Inilah indahnya menjadi orang Kristen dapat mengerti paradoks.

Hidup sejati adalah hidup yang terus menuju kepada pengharapan akan kekekalan. Akibatnya, di dalam hidup ini, kita tidak perlu

dipusingkan dengan hal-hal yang tidak penting, misalnya kekayaan duniawi, kedudukan yang dihormati, dll, itu semua sampah, sama

seperti yang diungkapkan Paulus bahwa pengenalannya akan Kristus membuat dia rela menganggap sampah pada semua yang ia anggap

kebanggaan pada masa dulunya. Beranikah kita seperti Paulus menganggap sampah semua kemegahan dan kehebatan dunia yang berdosa

ini lalu kembali hidup yang berfokus kepada pengharapan akan kekekalan ? Renungkanlah.



Setelah kita merenungkan

ketujuh poin makna hidup menurut ajaran Tuhan Yesus, sudahkah kita berani menentukan fokus hidup sejati yaitu kepada dan di

dalam Kristus itu sendiri ? Biarlah kita mulai mengambil keputusan untuk segera men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidup kita dan

menentukan tujuan hidup kita berpijak dari firman Allah, bergantung kepada pimpinan Roh Kudus dan murni untuk memuliakan-Nya

selama-lamanya. Soli Deo Gloria. Amin.





Oleh: Denny Teguh Sutandio, S.S.,

dilihat : 436 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution