Senin, 24 September 2018 04:45:57 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 195
Total pengunjung : 422787
Hits hari ini : 3441
Total hits : 3894631
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Salvation by grace through faith






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 27 Juli 2008 00:00:00
Salvation by grace through faith
Keselamatan hanyalah oleh anugerah semata

melalui iman (salvation by grace through faith). Itu bukanlah hasil pekerjaan kita, melainkan sepenuhnya pemberian Allah

(Efesus 2:8-9). Kita dibenarkan bukan oleh perbuatan kita, melainkan oleh darah Yesus Kristus (1 Petrus 1:18-19). Baptisan,

kehadiran di gereja dan perbuatan baik tidak bisa melepaskan kita dari dosa-dosa kita, tetapi hal-hal tersebut adalah buah dari

pertobatan yang sejati.



Pelajaran tentang doktrin Keselamatan bisa dibagi menjadi beberapa tema: panggilan,

anugerah, pertobatan, pembenaran dan penyucian. Panggilan adalah permulaan dari proses penerimaan dari anugerah (Roma 8:30).

Yesus berbicara tentang panggilan ini dengan perumpamaan tentang seorang penabur (Matius 13:1-9).



Perumpamaan ini

menggambarkan satu panggilan yang sama (misalnya dengan pemberitaan Firman Tuhan), dengan 4 hasil yang berbeda. Definisi

panggilan dalam hal ini adalah undangan dari Allah bagi semua orang berdosa untuk menerima anugerahNya, baik sebagai orang

Yahudi atau orang kafir (Roma 9:24). Tanpa panggilan ini kita tidak akan dapat selamat. Tetapi Alkitab juga mengajarkan bahwa

tidak semua orang (predestinasi) akan menerima anugerah Tuhan (Roma 9:15-18, Matius 22:14).



1. Bisakah kita

menggunakan doktrin predestinasi ini sebagai alasan untuk pilih-pilih dalam berkhotbah (panggilan pertobatan hanyalah

diperuntukkan bagi umat pilihan Allah)? Bagaimanakah kita dapat melihat kedua pandangan ini, panggilan untuk semua orang dan

predestinasi, dalam relasi yang benar ? (Baca ayat-ayat diatas) Ketika seorang hamba Tuhan menggunakan predestinasi sebagai

bayang-bayang di dalam khotbah panggilan pertobatannya, khotbah tersebut tidak dapat lagi disebut sebagai panggilan. Maka tidak

ada lagi kesempatan untuk memanggil orang yang mendengar untuk benar-benar bertobat dan menerima anugerah Kristus.





Jadi panggilan pertobatan itu harus diperdengarkan kepada semua orang (orang-orang terpanggil), dan orang-orang

pilihan adalah sebagian dari orang-orang dipanggil tersebut (Mat 22:14). Predestinasi bisa dipandang sebagai penjelasan bahwa

hanya ada sedikit saja orang-orang yang telah mendengar dan menjawab panggilan pertobatan, tetapi jangan dipandang sebagai

lingkaran target kepada siapa kita hanya mau memberitakan Injil. Hal ini tentu saja bertentangan dengan Firman

Tuhan.



Oleh sebab itu, sangatlah penting bagi orang Kristen untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum

percaya (1 Kor 9:16). Kalau tidak, bagaimanakah orang-orang pilihan dapat mendengar Kabar Baik tersebut? Jika kita sudah

diselamatkan, kita pun harus berusaha untuk memberitakan keselamatan ini kepada orang-orang lain, dan tidak hanya enak-enakan

saja dengan status kita sebagai anak-anak Allah.



Ketika suara Tuhan menembus hati kita, terjadilah hal-hal yang luar

biasa. Dalam Alkitab, ini disebut sebagai lahir baru (Yohanes 3:1-8, Titus 3:5, 1 Petrus 1:23). Lahir baru adalah pekerjaan

Tuhan, dimana kita tidak berbuat apa-apa. Proses ini adalah buah dari panggilan Tuhan: dilahirkan kembali dari benih yang tidak

fana. Di samping arti lahir baru untuk permulaan dari hidup di dalam Kristus, istilah ini dapat juga dipakai untuk proses

pembaharuan yang terus menerus setelah di dalam hidup kita yang baru (2 Korintus 4:16). Kita dapat membedakan antara dilahirkan

kembali ke

dalam iman, dan dilahirkan kembali dengan iman. Dalam proses lahir baru tersebut Roh Kudus menanamkan di hati

kita iman yang benar. Iman ini yang memulihkan hubungan kita sebagai orang berdosa dengan Allah dengan perantaraan Kristus.

Tidak sedikitpun manusia diberi kredit dalam proses lahir baru, karena iman hanyalah karunia Tuhan (Efesus 2:8). Biarpun

demikian, penting juga bahwa kita menyelidiki bagaimanakah iman yang membenarkan itu. Banyak orang berkata dan yakin bahwa

mereka percaya. Tetapi mereka tidak pernah ke gereja, tidak pernah membaca Alkitab, karena manusia tidak senang kalau disebut

orang kafir.



2. Apakah cukup untuk hanya berkata bahwa; kita percaya kepada Tuhan? Sudahkah aku mempunyai iman yang

benar? Bagaimanakah anda dapat menjelaskannya kepada tetangga yang tidak mau datang ke gereja? Kepada sesama jemaat ? (Bacalah

Matius 13:1-9, Matius 13:18-23 dan Matius 7:24-29).



Jika sejumlah orang berkata: Tetapi kami percaya, maka Yakobus

berkata: Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja ? Itu baik ! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan

mereka gemetar; (Yak 2:19). Maksud Yakobus adalah setan pun juga percaya, bahkan gemetar, sedangkan banyak orang gereja

menganggap pengetahuan bahwa Tuhan adalah Allah yang hidup sebagai angin yang berlalu. Hal ini dapat dilihat dari tindakan

mereka yang sama sekali tidak mencerminkan iman kepada Allah. Mereka tidak takut akan keadilan Tuhan dan tidak tertarik dengan

belas kasihan Tuhan. Hal ini adalah sebagai agama atau kepercayaan saja, dimana tidak ada relasi pribadi antara diri mereka

dengan Kristus.



Iman berarti; kepercayaan akan kebenaran suatu hal; (Van Dale). Iman yang sejati ditentukan dengan

apa yang kita percayai. Iman bukanlah suatu perasaan yang hangat atau aman, atau suatu harapan yang buta. Iman yang sejati

diwahyukan di dalam Firman Tuhan, yaitu didalam Yesus Kristus sebagai obyek iman (Yoh 3:16). Alkitab memberikan kita pedoman

untuk memiliki iman yang benar:



- Kita harus mengaku dosa-dosa kita (Luk 13:3)

- Kita harus percaya bahwa Yesus

mati dan bangkit untuk menebus dosa-dosa kita (1 Kor 15:3-4)

- Percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat pribadi dan Tuhan

(Roma 10:9)



Langkah-langkah ini harus kita ambil dengan kesadaran penuh untuk menerima karunia keselamatan Tuhan,

dan kita juga harus bersedia untuk menyerahkan hidup kita sepenuhNya kepada Dia.



3. Alkitab juga membahas tentang

iman yang besar (Lukas 7:9), yang kecil (Matius 8:24-26, Matius 14:31) dan yang lemah (Markus 9:24). Kapankah kita dapat yakin

bahwa iman kita adalah cukup untuk menyelamatkan ? Apakah ini berarti bahwa iman bukan hal yang pasti, ada unsur kepastian dan

keragu-raguan ? Dan bagaimanakah iman kita dapat bertumbuh ?



Sebuah ilustrasi: Seberapa banyak iman yang kita

butuhkan untuk menyeberangi sebuah jembatan gantung diatas sebuah sungai? Pertama-tama kita tentunya akan mengamat-amati apakah

jembatan itu kuat dan stabil. Jika kita dapat mengambil kesimpulan itu, maka kita baru akan menyeberang. Iman bekerja dengan

prinsip-prinsip yang mirip dengan ilustrasi diatas. Pertama-tama, kita harus mengetahui prinsip-prinsip dasar akan Tuhan,

manusia, dosa dan Kristus (Kisah 10:34-43, Roma 10:17). Sesudah kita tahu akan hal-hal tersebut, dan ketika dibutuhkan adanya

jawaban, kita baru akan mengambil keputusan untuk percaya kepada Kristus sebagai satu-satunya harapan untuk pengampunan dan

hidup yang kekal (Yoh 10:9, Kisah 20:21). Kristus berkata kepada murid-muridNya bahwa bahkan iman yang kecil pun dapat

memindahkan gunung (Mat 17:20).



Calvin menentang keyakinan gereja Katolik bahwa iman dapat terdiri dari beberapa

komposisi yang dapat ditambahi. Iman yang benar adalah keyakinan dan pengetahuan yang pasti akan kemurahan Tuhan kepada kita.

Iman tidak menjadi hal yang pasti selang berjalannya waktu, tetapi adalah hal yang pasti dari awal mulanya, sejak kita mengaku

percaya. Perlu diperhatikan bahwa kepastian yang Calvin maksud dalam hal ini menyangkut kwalitas dari iman. Jika kita berbicara

mengenai orang-orang beriman, maka muncullah aspek kwantitas dari iman. Di dalam diri kita ada perjuangan

terus menerus

antara daging dan roh, selama kita masih hidup di dunia.



Hati kita mempunyai kecenderungan untuk tidak percaya. Iman

belum menguasai diri orang beriman seutuhnya. Jika Alkitab berbicara tentang iman yang kecil dari Petrus (Mat 14:31) dan

murid-murid lainnya (Mat 8:24-26), maka tidak berarti bahwa mereka telah menerima iman yang kecil, tetapi bahwa mereka

mempunyai pengharapan yang sedikit akan uluran tangan Tuhan Yesus, karena kekuatiran daging dan ketakutan mereka. Oleh sebab

itu sangat diperlukan bahwa iman kita menjadi; Dalam proses pertumbuhan ini diperlukan dua hal yang saling berinteraksi:

pengajaran dan penerangan Roh Kudus.



Semakin iman kita bertumbuh, pengetahuan kita akan Firman Allah pun bertambah

banyak, dan semakin kita belajar akan FirmanNya, semakin iman kita bertumbuh. Kita tidak perlu sampai harus mengambil kuliah

jurusan teologi, tetapi hal yang penting adalah bahwa pengetahuan kita tentang Firman Allah semakin bertambah banyak.

Bagaimanakah kita dapat mempercayai apa yang kita tidak ketahui dan mengamini apa yang kita tidak kenal?



Dalam

hidupnya, Martin Luther telah bergumul dengan pertanyaan: Bagaimanakah aku dapat dibenarkan oleh Tuhan ? Akhirnya Roh Kudus

membuka matanya setelah membaca dan lama bergumul dengan surat Paulus kepada jemaat di Roma (Roma 9 - 11). Bukan karena

pekerjaan kita bahwa kita dibenarkan, melainkan hanya karena anugerah Tuhan (Efesus 2:8). Pertanyaan ini tetap aktual pada

jaman sekarang, dan adalah salah satu alasan yang penting mengapa gereja protestan memisahkan diri dari gereja katolik. Tentang

kesalahpahaman bahwa perbuatan kita juga diperlukan untuk keselamatan, kita akan mempelajari 2 perikop Alkitab.



4.

Tampaknya Paulus (Roma 9:16, Roma 10:9-10, 13) punya pendapat berbeda dengan Yakobus (Yakobus 2:14-26) tentang hal ini.

Siapakah yang benar? Bagaimanakah kita dapat melihat kedua aspek ini, anugerah dan perbuatan, dalam timbangan yang

benar?



Ini adalah salah satu contoh dimana kita membaca Alkitab dengan tidak menghiraukan konteksnya. Ajaran Yakobus

bahwa manusia dibenarkan karena perbuatannya (Yak 2:24), tidak bertentangan dengan ajaran Paulus. Lain soalnya jika Yakobus

menulis bahwa manusia dibenarkan hanya oleh perbuatannya. Maksud Yakobus sebenarnya adalah bahwa iman yang sejati dengan

sendirinya akan berbuah dengan perbuatan-perbuatan yang dapat dilihat. Bagaimana kita dapat mempraktekkan iman kita di dalam

kehidupan sehari-hari dapat dibaca di Roma 12 - 16.



Oleh : John Gerstner



Sumber-sumber: R. van Kooten,

Aan Zijn Voeten.-







dilihat : 328 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution