Sabtu, 23 Maret 2019 02:04:40 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 33
Total pengunjung : 484326
Hits hari ini : 257
Total hits : 4453032
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Wahyu dan Kritik






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 07 Juli 2008 00:00:00
Wahyu dan Kritik
Bagi banyak orang di abad ke-20, kewibawaan kanon bukan lagi titik tolak dalam

pendekatan Alkitab mereka. Kitab-kitab Suci diterima hanya sejauh kitab-kitab itu dapat bertahan terhadap uji coba kritik kita,

atau jika sesuai dengan panjang gelombang pengalaman kita sendiri. Pergaulan bebas dengan Alkitab ini tampaknya disahkan oleh

apa yang disebut ilmu pengetahuan Alkitab modern sejati. Karena banyak kritik terhadap Kitab-kitab Suci dilontarkan dengan

kewibawaan ilmu pengetahuan, maka kita seakan-akan menjadi kurang ilmiah kalau bersikap kritis terhadap kritik itu. Tetapi

justru pada pokok itu diperlukan sedikit perenungan. Bolehkah kita sungguh-sungguh menganggap sikap-sikap bebas terhadap

Kitab-kitab Suci dan kanon yang diterima pada masa kini, sebagai hasil wawasan ilmiah yang lebih baik dan membebaskan orang

dari kepercayaan kepada Alkitab secara lugu dan tanpa pertimbangan masak? Atau adakah perspektif yang lain?



Bab ini

tidak membahas berbagai pertanyaan konkret yang diajukan oleh para penafsir modern, dan yang juga meminta jawaban konkret. Yang

menjadi pokok bahasan pada halaman-halaman berikut ialah suasana dimana diskusi itu akan dilakukan. Kalau sikap bebas dan

kritis terhadap Kitab-kitab Suci merupakan hasil ilmu pengetahuan yang sejati, berdasarkan fakta-fakta, dan bebas dari

praanggapan, maka semua orang yang mau berdiskusi dengan mereka yang mendekati Alkitab secara kritis itu, sudah lebih dulu

dicap sebagai manusia yang tidak mengikuti zamannya dan mencoba tetap mempertahankan dengan keras kepala pendiriannya yang kuno

dan tidak ilmiah. Maka kritik terhadap kritik Alkitab tampaknya sesuai bagi orang-orang yang lahir terlambat dan yang lebih

sesuai dengan periode sebelum abad ke-18 atau ke-19. Dengan cara ini, iklim untuk berdiskusi dengan sungguh-sungguh menjadi

rusak.



Kita perlu mengusut secara historis apakah kritik terhadap kanon benar-benar baru muncul oleh ilmu

pengetahuan modern. Atau apakah kritik ini barangkali jauh lebih tua dan hanya penampilannya yang baru di zaman kita? Jika yang

terakhir ini benar, maka meskipun kita tidak dapat melepaskan diri dari diskusi dan penelitian lanjut, tetapi kita bebas dari

anggapan membingungkan bahwa kritik Alkitab adalah modern dan ilmiah, sedangkan kepercayaan pada Alkitab adalah lugu dan tanpa

pertimbangan masak.



Peninjauan kembali berikut ini terdiri dari tiga bagian. Mula-mula kita memperhatikan periode

yang mendahului penetapan tertulis wahyu dan kononisasinya. Kemudian kita memperhatikan periode dimana wahyu berfungsi dalam

bentuk tertulis sebagai kanon. Akhirnya, kita memperhatikan potret diri dari ilmu pengetahuan Alkitab yang modern dan

kritis.





1. Asal Dan Bentuk Kritik



Kritik terhadap wahyu Allah tidak baru. Ia sama tuanya dengan

taman Firdaus, jadi ia berasal dari zaman serangan pertama Iblis terhadap umat manusia ciptaan Allah. Pertanyaan pertama ular

kepada perempuan itu, berbunyi, "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

Pertanyaan ini mengandung nada kritik terhadap Allah sendiri. Kritik terhadap Allah itu langsung menghasilkan kritik terhadap

wahyu-Nya: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan

kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:1-5). Permulaan itu menandai kelanjutan yang

berlangsung selama berabad-abad.



Dalam kebenciannya kepada karya Allah dan kasih Allah kepada manusia, Iblis

mengerahkan berbagai sarana ke dalam peperangan. Misalnya senjata berupa ajaran sesat, atau penduniawian, atau pematahan

semangat. Namun senjata-senjata tersebut seringkali diasah dengan batu asahan yang sama, yakni kritik terhadap wahyu Allah.

Dengan kritik itu, segala sesuatu yang lain dirongrong, karena siapakah yang berani membangun hidupnya di atas dasar yang goyah

dan meragukan? Dan bagaimana sebuah Alkitab yang diserang masih bisa menjadi batu penjuru bagi etika Kristen?



Dalam

perjalanan sejarah, kita melihat bagaimana wahyu Allah selalu diiringi oleh kritik yang menggerogotinya. Ketika TUHAN melalui

Musa membebaskan sebuah bangsa dan memberi hukum-hukum untuk kehidupan, kewibawaan hukum itu dirongrong oleh gerutuan,

“Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bil. 12:2).

Ketika TUHAN memberi nasihat keras melalui Yeremia untuk menyelamatkan bangsa-Nya dari kebinasaan, dan menyuruh supaya

nubuat-nubuat itu dicatat untuk raja Yoyakim, kita melihat bahwa sesudah pembacaan nubuat itu, raja merobek-robek gulungan

tulisan itu halaman demi halaman dan melemparkannya ke dalam perapian, sebagai benda yang tidak berharga (Yer. 36:23). Ketika

orang banyak kagum melihat keunggulan Yesus atas roh-roh jahat, para ahli Taurat menuduh Yesus telah mengadakan perjanjian

dengan penghulu setan, Beelzebul (Mrk. 3:22). Yesus Kristus dengan jelas menunjukkan asal dari penolakan dan kritik yang tiada

habisnya itu. Pada waktu orang mengecam wahyu yang Ia terima dari Bapa, dan menyebut Dia kerasukan atau bersimpati terhadap

bangsa Samaria (Yoh. 8:48). Yesus menjawab orang-orang Yahudi yang menghakimi-Nya itu, "Apakah sebabnya kamu tidak mengerti

bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melalukan

keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak

ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta"

(Yoh. 8:43-44). Teguran yang tajam dan keras itu diucapkan kepada orang-orang yang mengira bahwa mereka berdiri dalam tradisi

iman. Firman itu memperingatkan kita juga supaya menyadari bahwa pengakuan terhadap wahyu Allah bukan hal yang otomatis bagi

siapa pun. Allah memberikan wahyu-Nya di dunia yang penuh asap mesiu peperangan. Dan gas beracun dapat memabukkan kita sehingga

kita tidak mendengar dengan sungguh-sungguh atau tidak mau mendengar apa yang Allah katakan. Sejak saat Allah memberikan

wahyu-Nya, terdapat gerakan menentang yang hebat untuk menutupi wahyu itu dengan cara apa pun.



Mengenai

bentuk-bentuk kritik itu, setidak-tidaknya kita dapat membedakannya dalam beberapa bentuk utama.



a. Kritik terhadap

asal-usul wahyu. Pada saat TUHAN melakukan perbuatan-perbuatan -Nya yang besar di dunia ini, tidak mudah bagi manusia untuk

mengingkari kenyataan itu. Firaun tak dapat mengabaikan keajaiban yang dilakukan Musa. Tetapi raja itu berusaha menganggap

tanda-tanda itu bukan berasal dari TUHAN, tetapi dari keahlian sihir yang dimiliki Musa. Bukankah para tukang sihirnya sendiri

mampu melakukan hal yang sama? Akhirnya jalan pelarian ini ditutup, karena pada tulah yang ketiga para tukang sihir Firaun

tidak berdaya. Dan dengan terkejut mereka mengatakan, "Inilah tangan Allah!" (Kel. 8:18-19). Usaha untuk menghindari kuasa

wahyu dengan berkata bahwa asal-usulnya bukan pada Allah, juga kita lihat ketika mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus

dianggap berasal dari Iblis (Beelzebul), padahal alasan seperti itu tidak mereka kemukakan ketika ada orang lain yang mengusir

roh jahat (Luk. 11:18-20). Lalu Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi bahwa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk melihat

“tangan Allah” (Luk. 11:20).



b. Kritik terhadap realita wahyu itu. Apabila antara perbuatan Allah dan masa dimana

kita hidup telah berlalu beberapa waktu, lebih mudah untuk menyatakan bahwa mungkin semua mukjizat itu tidak pernah terjadi.

Peristiwa besar itu menjadi sebuah cerita dan cerita itu tidak dipercaya, sehingga realita sejarah di mana Allah menyatakan

diri-Nya diragukan. Demikianlah Sanherib dengan kata-kata penghinaan yang ditujukan kepada penduduk Yerusalem, sama sekali

meremehkan fakta bahwa TUHAN benar-benar telah memimpin bangsa-Nya keluar dari Mesir (Yes. 36-37). Dan saat gempa bumi pada

hari Paskah itu telah berlalu, dan para penjaga kuburan yang tadinya lari tunggang langgang tak lagi ketakutan, Sanhedrin

menyebarkan berita dusta bahwa jenazah Yesus dicuri oleh murid-murid- Nya. Dengan demikian, mereka hendak mengingkari kenyataan

kebangkitan Yesus dan tidak memperhitungkan wahyu mengenai hal itu (Mat. 28:11-15). Dan sudah dalam suratnya yang kedua, rasul

Petrus harus melawan orang-orang yang menganggap para rasul mempercayai dongeng-dongeng (2Pet. 1:16).



c. Kritik

terhadap kewibawaan wahyu. Meskipun seandainya orang-orang tidak mempersoalkan asal dan realita wahyu, tetapi wakyu itu tetap

dapat dirongrong. Sesuai sifatnya, wahyu Allah menuntut pengakuan, kepercayaan dan ketaatan karena ALLAH yang memberikan wahyu

kepada manusia ciptaan-Nya. Namun kewibawaan itu dapat dilemahkan. Hal itu terjadi ketika nabi-nabi palsu berdiri di samping

nabi sejati dan meminta perhatian dan penghormatan yang paling berbeda untuk pemberitaan yang berbeda. Demikianlah nabi Hananya

merongrong perkataan Yeremia dan mematahkannya, diiringi kata-kata, “Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah

Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa” (Yer. 28:11). Dan Zedikia bin Kenaana,

menampar pipi Mikha sesudah nabi itu menyampaikan pesannya yang mengandung malapetaka kepada Ahab, dan berkata: “Mana boleh Roh

TUHAN pindah daripadaku untuk berbicara kepadamu?” (1Raj. 22:24). Juga rasul Paulus harus melawan orang-orang yang menyamar

sebagai rasul, sebagai malaikat terang, yang ingin memudarkan wahyu yang diberikan Tuhan kepada Paulus dan mengurangi rasa

hormat bagi perkataannya (2Kor. 11:13-15; 12:11-21).



Kritik atas wahyu Allah dapat kita lihat juga di sekitar wahyu

yang dituangkan dalam tulisan, yakni Alkitab. Namun kritik Alkitab bukanlah awalnya. Yang lebih tua dari kritik Alkitab ialah

kritik terhadap wahyu, yang kemudian melahirkan kritik terhadap Alkitab.





2. Kritik Terhadap Kitab

Suci



Kritik terhadap Perjanjian Baru dalam abad-abad pertama mempunyai prasejarah dalam kritik terhadap Perjanjian

Lama dalam abad-abad sebelum Masehi. Pertama-tama, kaum kafir yang sanagt membenci bangsa Yahudi, mengkritik isi kitab yang

dijadikan pedoman hidup bangsa itu. Menurut kaum kafir, “Alkitab” Yahudi adalah dokumen yang mencatat usaha mempertahankan

diri, buah pikiran beberapa orang kusta yang dihina dan diusir dari Mesir (demikianlah kata Tacitus, orang kafir pencatat

sejarah di awal abad kedua Masehi). Orang kafir khususnya mengecam hukum-hukum mengenai makanan orang Yahudi, dan cara hidup

mereka yang memisahkan diri. Penulis Yahudi Josephus, yang lebih tua daripada Tacitus yang hidup sezaman dengannya, berusaha

membantah kritik itu dalam tulisannya yang menentang Apion, dan juga dalam bukunya yang besar mengenai zaman-zaman lampau

bangsa Yahudi, yang nadanya lebih positif.



Tetapi Kitab-kitab Suci Musa dan para nabi tidak hanya diserang oleh

pihak kafir. Ada juga kesulitan mengenai jumlah Kitab-kitab Suci yang ditimbulkan oleh pihak lain. Bangsa Samaria dengan keras

kepala menolak mengakui tulisan Daud, Salomo dan semua nabi; mereka menganggap memiliki wahyu Allah dalam bentuk yang lebih

murni karena hanya mengakui kelima Kitab Musa dan karena lebih mementingkan Sikhem “dari zaman Musa” daripada Yerusalem “dari

zaman Daud” (bnd. Yoh. 4:20). Di pihak lain, ada beberapa kalangan apokaliptis yang di samping Hukum Taurat dan para nabi,

menjunjung tinggi pengungkapan rahasia dari Henokh atau Barukh, dan menganggapnya sebagai firman Allah. Jadi, sejak sebelum

Masehi isi dan cakupan Perjanjian Lama sudah menjadi sasaran tekanan dan kritik.



Apa yang terjadi pada awal Masehi

dengan Perjanjian Baru, sebetulnya berjalan sejajar dengan apa yang terjadi dengan Perjanjian Lama. Di sini juga kita temukan

kritik terhadap isi dan cakupan.



Isi Injil dan surat-surat diserang oleh pihak kafir. Sebagaimana Josephus membantah

Apion, begitu juga Origen satu abad kemudian menentang Celcus, orang kafir yang ahli filsafat. Orang ini menyerang Injil dalam

tulisannya “Firman yang Benar” (Alêthês Logos, kira-kira tahun 175). Ia berpendapat bahwa tak mungkin kebenaran tunggal yang

begitu mulia dapat terpecah-pecah menjadi empat Injil yang berbeda-beda. Celcus menganggap Yesus lebih sebagai produk

zaman-Nya. Menurutnya, penyihiran dari Mesir telah memberi sumbangan pada mukjizat Yesus, sedang pemujaan helenistis terhadap

manusia sebagai dewa menyebabkan Yesus disembah sebagai ilahi oleh para pengikut-Nya. Pada abad ketiga dan keempat, Kaum

neoplatonisme, dan para pengikut Mani mengecam agama Kristen yang menurut mereka merupakan gejala penyakit dalam kebudayaan.

Seorang pengikut neoplatonisme, Porphyrius (lahir tahun 232) sudah menunjukkan berbagai hal dimana menurut pendapatnya, Injil

saling bertentangan satu sama lain. Ia juga memperhatikan apa yang pada abad ke-20 disebut "Parusieverzögerung" (penundaan

kedatangan kembali Yesus Kristus). Menurutnya, perkataan Yesus mengenai akhir dunia yang sudah dekat, tidak terwujud

sebagaimana yang dimaksudkan, dan belum terjadinya kedatangan-Nya kembali membuktikan bahwa ucapan-ucapan dalam Injil tidak

dapat dipercayai. Kaisar Julianus si murtad yang bertahta kemudian, yang sesudah mengikuti pendidikan Kristen pindah ke agama

kafir Neoplatonisme, menulis banyak buku menentang orang Kristen, yang disebutnya kaum “Galilea.” Ia merekonstruksi semacam

sejarah evolusi agama Kristen, karena penyebutan Yesus sebagai Allah dipandangnya sebagai perkembangan yang timbul kemudian

oleh pengaruh Yohanes, padahal sejarah sebenarnya mulai dengan seorang guru yang hanya manusia saja, sebagaimana para penulis

Injil sering menggambarkan Yesus. Pada waktu yang sama, pada paruh kedua abad keempat Masehi, mantan Neoplatonis, Augustinus,

bukannya tanpa alasan menulis buku yang khusus dibaktikan untuk membasmi pemikiran bahwa ada pertentangan dalam Injil.

Tulisannya yang tidak jadi diselesaikan “Kesesuaian Para Penulis Injil” (De consensu evangelistarum) menunjukkan aktualnya

kritik terhadap Injil dan perlawanan terhadapnya di abad-abad pertama gereja. Isi Injil diserang dengan kritik terhadap

Kitab-kitab Suci di mana Injil itu ditulis.



Di abad-abad yang sama cakupan kanon Perjanjian Baru juga dikritik. Ini

dilakukan terutama oleh pihak orang murtad yang memiliki penilaian lain tentang kebenaran wahyu. Di satu pihak di beberapa

kalangan Gnostik, berbagai tulisan yang sangat dijunjung tinggi ditempatkan di samping Perjanjian Baru. Sebagaimana kalangan

apokaliptis Yahudi menghormati wahyu-wahyu rahasia, begitu pula kelompok-kelompok Gnostik hidup dari pengetahuan rahasia

mengenai aeon, manusia, dan kosmos. Pada akhir abad kedua, Irenaeus dalam bukunya “Melawan kesesatan” (Adversus Haereses)

berusaha keras memerangi kaum Gnostik dan kitab-kitab mereka yang berisi wahyu-wahyu rahasia.



Di sisi lain, di

samping ekspansi kanon itu ada pula reduksi kanon yang formal, khususnya pada Marcion di pertengahan abad kedua. Para pengikut

Marcion adalah orang-orang pertama yang melancarkan penilaian kritus dan reduksi terhadap kanon dari sudut semacam gambaran

Allah yang "dicerahi" (lihat juga Bab III 2). Bentuk yang mereka pakai bersifat khas. Namun demikian, metode mereka sering

muncul lagi di abad-abad kemudian. Mereka bertitik tolak dari anggapan bahwa Allah yang abadi jauh lebih tinggi daripada segala

hal yang duniawi. Dia juga lebih tinggi daripada Allah Pencipta (demiurgos), yang menciptakan dunia yang dalam Perjanjian Lama

disebut sebagai TUHAN (JHVH). Yesus telah mewahyukan Allah yang mahatinggi dan mengajarkan bahwa Dia adalah kasih dan karunia.

Allah tidak mengenal emosi-emosi manusiawi seperti kemarahan dan kesedihan. Iman mempersatukan kita dengan Dia dan mengangkat

kita di atas dunia yang diciptakan oleh Allah Pencipta demiurgos, dimana disana juga terdapat surga dan malaikat. Berdasarkan

gambaran Allah itu, Marcion menolak Perjanjian Lama. Baginya Kitab itu hanya berfungsi sejauh dapat mendukung wahyu Injil yang

datang kemudian. Di dalam Perjanjian Baru, ia hanya mempertahankan Injil Lukas, dan sepuluh surat Paulus. Menurutnya, rasul dan

penginjil yang berhubungan erat dengannya itu paling jelas membedakan Injil dari Hukum Taurat yang diberikan oleh demiurgos

(Perjanjian Lama). Para penulis Kristen pada akhir abad kedua, dipelopori oleh Tertulianus dengan bukunya “Menentang Marcion”

(Adversus Marcionem), telah dengan sengit melawan perusakan kanon dan pembuatan patung Allah ini, hingga akhirnya para pengikut

Marcion tidak dapat bertahan sebagai penentang gereja.



Kritik Kitab Suci itu memaksa Gereja Kuno untuk semakin

teliti dan dengan kesepakatan umum mendaftarkan kitab-kitab yang sudah diakui oleh gereja-gereja sebagai yang mempunyai

kewibawaan dan berasal dari Kristus. Pada akhirnya, kanon menjadi data yang begitu mutlak dalam sejarah gereja, sehingga kritik

atas cakupan kanon itu hampir tidak diterima lagi. Kanon menjadi fakta yang tetap. Bahkan mereka yang di abad ke-20 memangkasi

bagian-bagian pada semua sisi kanon itu dan hanya mau menyisahkan beberapa bagian kecil yang mereka anggap penting karena sifat

otentik dan religiusnya, biasanya tidak punya rencana untuk menerbitkan Alkitab alternatif yang sudah "dimurnikan" sebagai

pengganti Perjanjian Baru atau seluruh Alkitab. Oleh karena itu, dilihat sepintas lalu, Alkitab dalam bentuk dan cakupannya

sekarang tampaknya telah diakui oleh semua orang sebagai titik tolak. Namun di abad-abad kemudian, muncullah bentuk kritik

terhadap Kitab Suci yang ketiga, yakni bentuk campuran dari kritik terhadap isi dan cakupan kanon. Inilah kritik terhadap

kewibawaan Kitab-kitab Suci.



Kita menyebutnya bentuk campuran. Ia mirip dengan kritik terhadap cakupan, karena

dilontarkan oleh orang-orang yang menyebut dirinya orang Kristen atau ahli theologi. Tetapi, kesamaannya dengan kritik terhadap

isi ialah bahwa sekarang kritik orang kafir diterapkan, meskipun dengan pretensi Kristen. Dengan kritik Kitab Suci ini, hakikat

agama Kristen tidak dijadikan sasaran dan kanon yang resmi tidak disentuh. Sepintas hal ini tampak lebih baik daripada kritik

orang kafir atau kaum murtad di Gereja Kuno. Tetapi sebenarnya kritik atas kewibawaan kanon (atau bagian-bagian darinya) bisa

disamakan dengan ngengat, baik dalam agama Kristen maupun dalam kanon.



Apa yang terjadi sekarang? Dari dalam, rasa

hormat dan segan pada wahyu Allah digerogoti, dan dengan demikian, fondasi agama Kristen menjadi lapuk. Sekarang orang

mengadakan pembedaan antara “kanon formal” dan “kanon material.” Dengan kanon formal orang memahami Alkitab sebagaimana yang

telah diterima di gereja Kristen, sejak zaman dulu. Kanon material ialah bahan tertentu di dalam kanon formal, yang dianggap

mempunyai kewibawaan religius tertentu. Jadi kanon sebenarnya terletak dalam kanon dan harus ditentukan lebih lanjut oleh

penelitian ilmiah yang kritis. Bagaimanapun populernya ungkapan “kanon di dalam kanon” itu kini, tetapi kita berpendapat telah

terjadi permainan kata yang keliru. Hal itu memang tak mungkin lebih dari permainan kata, yaitu pemakaian kata “kanon” dalam

arti yang berbeda. Namun itu bukan permainan yang jujur, melainkan permainan curang. Meskipun terkadang maksudnya baik,

sesungguhnya taruhannya disembunyikan. Taruhan dalam kata “kanon” ialah pengakuan terhadap kewibawaan ilahi dari wahyu yang

ditetapkan dalam tulisan. Tetapi walaupun kata itu dipertahankan, taruhannya dengan diam-diam dihilangkan. Sebuah “kanon di

dalam kanon” yang terbentuk lewat analisa dan penilaian kritis manusia, tak pernah dapat menjadi kanon yang berasal dari tempat

lain, dan yang diliputi kewibawaan ilahi. Siapa yang membuat manusia menjadi cacat dan mengiris-irisnya, sambil berkata bahwa

yang penting baginya ialah “manusia di dalam manusia,” telah menggantikan rasa hormat dan segan terhadap orang lain itu dengan

gambarannya sendiri.



Usaha mencari kanon material selalu menemukan pembenarannya dalam berbagai ketidakberesan di

dalam atau di sekitar Alkitab yang menimbulkan kritik. Old soldier never die! Maka muncul lagi semua hal yang pada abad-abad

pertama sebetulnya sudah dilihat oleh para musuh orang Yahudi dan penentang orang Kristen. Pertentangan antara Injil, persamaan

dengana agama-agama kontemporer, keragaman theologi di dalam Injil, pertentangan dengan ilmu pengetahuan alam atau dengan ilmu

pengetahuan sejarah, beberapa hal yang tak dapat diterima oleh orang-orang yang membaca Injil di abad-abad berikut, dan

seterusnya, dan seterusnya. Tetapi kalau dulu semua itu diajukan untuk menyelesaikan masalah dengan orang Yahudi atau untuk

mengesampingkan gereja Kristen, sekarang hal itu dipakai untuk mempertahankan kanon dan menghilangkan hakikatnya. Kitab-kitab

Suci boleh tetap ada, sementara Apa Yang Ditulis dikecam dengan keras. Tetapi dalam abstraksi ini, iman tidak akan hidup! Namun

demikian, perkataan berikut tetap berlaku, tanpa iman tak seorang pun akan selamat. Tetapi siapa yang dapat mempertahankan

iman, apabila orang harus mengikuti petunjuk dari Kompas di dalam kompas?



Oleh : Prof. Jakob van Bruggen,

Th.D.





Dikutip dari buku : Siapa Yang Membuat Alkitab? Mengenai Penyelesaian dan Kewibawaan Perjanjian Lama dan

Perjanjian Baru;



Oleh: Jakob Van Bruggen;



Alih Bahasa oleh : J. P. D. Groen;



Diterbitkan oleh

: Momentum Christian Literature atas kerjasama dengan LITINDO



Cetakan pertama, Agustus 2002. Hlm.

85-97



Disarikan dari: http://www.geocitie s.com/thisisrefo rmed/artikel/ siapa_membuat_

alkitab.htm





Profil :

Prof. Jakob van Bruggen, Th.D. lahir pada tahun 1936 di Belanda. Beliau meraih gelar

Doctor of Theology (Th.D.) dari Utrecht. Selama 35 tahun, beliau bekerja sebagai profesor jurusan Perjanjian Baru di

Universitas Theologi (Theologische Universiteit, Broederweg) di Kampen, Belanda, dan pensiun pada bulan Oktober 2001. Karya

tulisnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Hongaria, Korea, dan Portugis. Tulisannya yang sudah diterbitkan

dalam bahasa Inggris adalah The Ancient Text of the New Testament (1976), The Future of the Bible (1978), The Sermont on the

Mount (1986), Jesus the Son of God (1999), yang dalam bahasa Indonesia adalah “Kristus di Bumi” (2001,

BPK).





Pengirim : Denny Teguh Sutandio.



Diambil dari Milis Pustakalewi.

dilihat : 415 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution