Senin, 23 Juli 2018 12:23:40 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 116
Total pengunjung : 407664
Hits hari ini : 468
Total hits : 3717618
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 25 Juni 2008 00:00:00
Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka
(2Raj 22;8-13; 23:1-3; Mat

7:15-20)



"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi

sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur

dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon

yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun

pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang

dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Mat 7:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari

ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut :





Cukup banyak orang bangga dan puas diri dengan gelar sarjana, jabatan/kedudukan, upacara liturgis/formal, ahli waris orangtua

terhormat dan terkenal, dst.., namun kebanggaan dan kepuasan mereka berhenti pada formalitas atau liturgy, dan apa yang

dibanggakan tidak menjadi kenyataan sesuai dengan apa yang dibanggakan. "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka", demikian

sabda dan nasihat atau ajaran Yesus. Marilah sabda ini kita renungkan atau refleksikan:



(1) Jika merasa diri

sebagai orang yang terkenal dan terhormat, entah karena jabatan/kedudukan dalam SARA atau masyarakat, gelar, dst.., marilah

kita tidak berhenti bangga dan puas secara teroritis dan formal, melainkan sungguh berbuah dalam apa yang berguna atau

berfungsi bagi kesejahteraan umum. Hendaknya juga menjauhkan diri dari aneka macam bentuk kepalsuan, kebohongan atau

kesombongan; jangan menyamar sebagai `domba' padahal kenyataannya adalah `serigala ganas'!



(2) Kepada kita yang

merasa diri sebagai orang biasa, rakyat atau orang kebanyakan marilah kita `waspada terhadap nabi-nabi palsu yang mendatangi

kita'. Nabi-nabi palsu tersebut dapat berupa orang, nasihat, iklan-iklan aneka macam produksi atau barang, tawaran atau

rayuan.Bagi kita semua marilah kita sadari dan hayati bahwa `dari buah perilaku atau tindakan atau kinerja' , kita dikenal

oleh orang lain siapa saya sebenarnya. Kita semua kiranya menyadari dan mengakui sebagai orang beriman, maka hayati nasihat

Yakobus ini: "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati."(Yak 2:17). Marilah kita

wujudkan iman kita ke dalam perbuatan atau keutamaan-keutamaan, misalnya "kebajikan, pengetahuan, pengetahuan penguasaan diri,

ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih akan semua orang" (lih 2 Pet 1:5-7) Bagi para orangtua saya

ingatkan bahwa berhasil atau sukses menjadi orangtua berarti anak-anak dan cucu-cucu kita lebih baik, suci, cerdas, beriman

dst..daripada kita.



"Berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup

dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah- Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan

segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. Dan seluruh rakyat

turut mendukung perjanjian itu."(2Raj 23:3).



Kutipan ini kiranya baik menjadi acuan permenungan dan refleksi. Siapa

yang merasa diri sebagai `raja', yang berarti menjadi yang tertinggi, terhormat dalam kehidupan bersama, hendaknya menjadi

teladan "untuk hidup dengan mengikuti Tuhan, dan tetap menuruti perintah-perintahNya, peraturan-peraturan Nya dan

ketetapan-ketetapanNya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam

aneka macam perjanjian". Ada `raja' rumah tangga/keluarga/ komunitas, kantor/tempat kerja maupun masyarakat. Keteladanan atau

kesaksian hidup sang `raja' dalam aneka macam penghayatan peraturan atau perjanjian. `Raja' kiranya juga hanya menjadi bagian

kecil dalam kebersamaan hidup yang besar, bersama-sama dengan `yang dirajai', maka hendaknya juga hidup dan bertindak dengan

`rendah hati' agar yang dirajai dapat mendekat dan bersahabat dan kemudian mendukung usaha atau upaya sang `raja'. Sebaliknya

bagi yang merasa diri sebagai `rakyat' atau `anggota' hendaknya secara positif mendukung usaha atau upaya sang `raja'.

Dengan kata lain semuanya berkerja dan bertindak untuk menepati perjanjian yang tertulis, tejadilah kerjasama atau

gotong-royong yang indah dan fungsional, sebagaimana dihayati oleh `semut-semut yang bekerja sama mengangkat bangkai binatang

seperti cacing atau `menghabiskan ` bangkai binatang besar sampai tuntas. Jika tidak percaya: lihat dan cermati semut-semut

yang sedang mengusung bangkai cacing mendaki tembok!



"Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk

ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu;

aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku

menyukainya"(Mzm 119:33-35)



Jakarta 25 Juni 2008, RM Maryo

dilihat : 233 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution