Senin, 14 Oktober 2019 02:58:37 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520138
Hits hari ini : 179
Total hits : 5020763
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Bersikap Sebagai Orang Kristen yang Benar






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 10 Juni 2008 00:00:00
Bersikap Sebagai Orang Kristen yang Benar
Angkatan yang jahat dan tidak

setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus.

(Matius 16 :

4)



Sejarah kehidupan orang-orang yang beriman kepada Kristus, semenjak masa-masa awal sebelum kelahiran Tuhan Yesus,

telah diramaikan oleh keberadaan orang-orang Farisi, orang-orang Saduki, dan juga para imam atau ahli-ahli

Taurat.



Perkembangan kehidupan Kekristenan pada saat ini, tidak terlepas dari adanya ketiga kelompok masyarakat ini,

karena pada prinsipnya, mereka juga percaya kepada Allah.



Akan tetapi, iman kepercayaan mereka kepada Allah, hanya

dilandaskan pada konsep prinsip-prinsip keimanan yang belum diperbaharui dan digenapi oleh Tuhan Yesus, karena memang pada

dasarnya, mereka tidak percaya kepada Kristus.



Hal ini terlihat dari munculnya suatu anggapan dari mereka, bahwa

mukjizat-mukjizat yang dihadirkan oleh Tuhan Yesus, merupakan mukjizat yang berasal dari Setan, dan bukan dari Allah. Anggapan

itu ada, karena mereka takut, banyak orang akan beralih percaya, datang dan mengikuti Yesus.



Besarnya pengaruh

kehidupan yang dapat dirasakan banyak orang oleh karena karya Tuhan, yang membuat banyak orang lebih memilih untuk menerima,

datang serta menjadi pengikut Yesus, membuat orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan para imam menganggap Tuhan Yesus sebagai

penghalang keberadaan mereka dalam kehidupan masyarakat, hingga akhirnya mereka berencana untuk menyingkirkan Tuhan Yesus.





Hati mereka didegilkan, sehingga mereka tidak percaya pada suatu kenyataan, bahwa kehadiran Yesus di bumi ini,

merupakan penggenapan janji Allah tentang kedatangan Juruselamat manusia, yang membawa sukacita dan karya-karya besar Allah,

sehingga semakin banyak lagi orang yang percaya.



Dalam beberapa kesempatan, mereka datang menemui dan berbicara

kepada Tuhan Yesus untuk mencobaiNya. Usaha untuk mencobai Tuhan Yesus, dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanya an

kepada Tuhan Yesus, yang tujuannya untuk menjebak, dan pada suatu saat nanti, bisa mereka pakai sebagai alat untuk menghasut

banyak orang, sehingga mereka bisa membawa Tuhan Yesus ke muka pengadilan.



Usaha untuk mencobai Tuhan Yesus, tidak

hanya dalam bentuk pertanyaan semata. Pada suatu kesempatan pertemuan dengan Tuhan Yesus di sekitar tepian pantai danau

Galilea, para pemuka agama tersebut, mengajukan permintaan kepada Tuhan Yesus, untuk menunjukkan adanya tanda dari sorga.





Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan

suatu tanda dari sorga kepada mereka.

(Matius 16 : 1)



Yesus melihat niat tidak baik mereka itu. Dengan

bijaksana Tuhan Yesus memberikan jawaban, bahwa mereka mampu untuk meramal bagaimana keadaan cuaca dengan melihat keadaan

langit, namun pada sisi yang lain, mereka sendiri tidak mampu untuk membaca berbagai “tanda-tanda zaman” yang dapat dilihat

dari kegiatan pelayanan dan adanya mukjizat kesembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus.



Segala cara memang mereka lakukan

untuk mencari kelemahan atau hal-hal yang bisa menyudutkan Tuhan Yesus, sehingga mereka dapat menyebut Tuhan Yesus sebagai

Pribadi yang bukan datang dan diutus oleh Allah.



Tanpa kita sadari, kita juga pernah bersikap seperti orang-orang

Farisi dan Saduki itu. Meskipun bentuk dan kondisinya tidak sama, namun sering kali tanpa kita sadari, kita telah bertindak

untuk mencobai Tuhan Yesus.



Kita percaya serta beriman penuh kepada Kristus, namun pada sisi yang lain, kita

terkadang masih meminta kepada Tuhan dengan sikap tidak percaya.



Dalam keadaan yang dirasakan mendesak, beberapa

anak-anak Tuhan bahkan berani memaksa Tuhan agar mengadakan mukjizat seperti yang diinginkannya, dimana ego manusia lebih

diutamakan, dibandingkan dengan menempatkan rencana dan kehendak Allah saja yang terjadi.



Beberapa anak Tuhan bahkan

pernah menyatakan hal yang sangat menyedihkan, yaitu mereka baru mau membuat komitmen keimanan, apabila mereka telah melihat,

atau apabila mereka telah merasakan kuat kuasa kasih Tuhan atas diri mereka. Padahal, banyak dari antara mereka, yang mengaku

kalau iman kepercayaan mereka adalah sebagai pengikut Yesus.



Sikap yang ditunjukkan oleh sejumlah anak-anak Tuhan

itu, merupakan sikap yang tercetus karena mereka belum meyakini dengan setulus serta sepenuh hati mereka, untuk percaya dan

beriman kepada Yesus.



Hal ini bisa terjadi, karena berbagai pengetahuan mengenai Firman Tuhan yang telah mereka

dapatkan selama ini, tidak seutuhnya mereka landasi dengan pola sikap beriman yang seharusnya, sehingga mereka masih melakukan

pencarian akan segenap kebenaran yang ada didalam Yesus Kristus.



Manusia yang bertindak seperti itu, masih

dipengaruhi oleh sejumlah pola pemikiran dan pola hidup, yang tidak mencerminkan kehidupan Kristen yang seharusnya.





Oleh karena itu mereka pun berpendapat, keinginan pribadi untuk lebih berkomitmen kepada iman yang percaya kepada

Kristus, baru mereka rasakan apabila diri mereka telah melihat atau telah merasakan secara langsung, bagaimana sesungguhnya

besar hikmat Allah datang menghampiri dan menyentuh hati mereka.



Jadi, pola penerimaan yang ada, terjadi bukan

karena ada sebentuk kesadaran iman, yang mengetuk pintu hati mereka, namun oleh karena adanya sebuah keyakinan yang didasari

oleh adanya sebentuk visualisasi secara langsung, yang dapat mereka rasakan atau dapat mereka lihat.



Padahal,

prinsip yang seharusnya terjadi adalah kita memandang segala sesuatu dalam hubungan dengan Allah, oleh karena adanya kesadaran

diri kita untuk terus-menerus dihadirkan dalam kehidupan kita, dan bukan karena kita mengaktualisasikan sesuatu oleh karena

kita telah merasakan atau melihatnya.





Bukankah demikian prinsip iman yang sesungguhnya?



Iman adalah

dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani

11:1)



Apabila kita menerima seluruh pernyataan yang tertulis didalam Firman Allah dengan berlandaskan iman, maka

penerimaan kita itu tidak akan menghadirkan kecemasan, bahwa sikap percaya itu tidak berjalan pada rel yang salah tanpa harus

memaksakan diri dengan menghadirkan pembuktian visual, untuk maksud mencari pembenaran.



Tuhan memang menginginkan

agar setiap orang percaya terus-menerus mengaktifkan cara berpikir secara iman, sehingga pengertian yang mereka peroleh akan

membawa sukacita karena mereka percaya meskipun tidak melihat (dalam arti pembuktian).



Iman yang ada di dalam diri

setiap orang percaya, seharusnya membuat mereka segera menyadari, bahwa iman telah menuntun orang-orang percaya kepada jalan

kehendak Allah. Ketika iman itu bertumbuh, kesaksian yang didapatkan, akan membuat hidup orang percaya semakin dekat kepada

Allah. Keraguan akan Firman Tuhan, tidak akan pernah mengilhami benak pikiran orang percaya.



Berhembusnya suatu

pernyataan, perbuatan, dan keinginan yang mau mencobai Allah, merupakan sesuatu hal yang tidak akan pernah dilakukan, karena

kesadaran telah timbul, bahkan semua itu hanya akan membawa kesia-siaan.



Oleh karena itu dapat dikatakan, setiap

orang yang mencari kebenaran didalam nama Yesus Kristus, sudah selayaknya menjalankan konsepsi keimanan dengan tulus karena

telah memiliki semua bukti yang dibutuhkan untuk kokoh beriman kepadaNya.



Kebangkitan Yesus Kristus, yang sudah

terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu, dapat indah dirasakan sebagai sebuah sukacita pada saat ini, karena semua keadaan,

yang mengandung arti adanya penyerahan diri dari orang-orang percaya ke dalam tangan Tuhan, akan dapat merasakan kemenangan

Yesus Kristus dari alam maut, berupa ringannya langkah kehidupan yang dijalani dan tidak dirasakannya adanya beban didalam

hati.



Penggenapan segenap janji-janji Allah didalam Perjanjian Baru, sesungguhnya telah mengungkapkan banyak hal

yang ingin diketahui dan dirasakan setiap orang percaya, terutama bagi mereka yang membuka hati dan akal pikiran mereka dengan

tulus serta haus akan kebenaran didalam nama Yesus Kristus.



Dan pada akhirnya, semua rahasia Tuhan akan

diberitahukanNya kepada mereka yang takut akan Dia.



TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan

perjanjianNya diberitahukanNya kepada mereka.

(Mazmur 25 : 14)



Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan

kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjianNya dan peringatan-peringat anNya.

(Mazmur 25 : 10)



Tuhan

Yesus memberkati kita semua.





Salam saya,



.Sarlen Julfree Manurung

Penulis & Moderator Milis

www.pustakalewi.net

dilihat : 441 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution