Senin, 18 November 2019 23:49:43 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520218
Hits hari ini : 2702
Total hits : 5090881
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pertemuan Pemuda Antar Agama yang Mengejutkan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 24 Mei 2008 00:00:00
Pertemuan Pemuda Antar Agama yang Mengejutkan
Oleh: Dilara

Hafiz



Phoenix, Arizona – Delapan belas remaja mencatat kesan satu kata mereka di atas lembaran Post-It warna-warni

tentang delapan agama yang terdaftar di papan poster di hadapan mereka. Sebagian tidak menunjukkan rintangan apa pun saat

mereka menuliskannya dengan cepat, sementara yang lain ragu-ragu untuk mengungkapkan pikiran mereka, karena takut terlihat

tidak toleran atau abai. Apakah ini kelas kajian Injil? Bukan, ini hanya pertemuan bulanan biasa Gerakan Pemuda Antar-Agama

Arizona – perkumpulan inklusif yang aman, di mana para pemuda dari semua agama didorong berkumpul untuk dialog, permainan, dan

tentu saja, makanan.



“Bagaimana kalau saya belum pernah mendengar tentang agama ini?” tanya salah seorang remaja.

“Tak apa – tuliskan saja hal pertama yang melintas di benakmu,” jawab saya. Sebagai Direktur Pemuda, saya senang melihat

keseriusan kelompok ini. Mereka dengan tulus berkonsentrasi penuh untuk aktivitas ini, karena ini sebagian merupakan tantangan

atas pengetahuan umum mereka, sekaligus sebuah kesempatan untuk berbagi “kebenaran” dari kepercayaan agama

mereka.



Delapan agama yang saya pilih secara acak sebagian merupakan agama yang sudah dikenal baik oleh semua, tapi

saya juga memasukkan beberapa kepercayaan yang kurang dikenal: Katolik, Islam, Ateisme, Sikhisme, Ilmu Kekristenan, Budhisme,

Yudaisme, dan Gereja Sainstologi. Remaja itu menempelkan kesan mereka di papan poster, mengambil sebotol air atau kue, lalu

kembali ke kursi mereka. Saya mensurvei cakupan kata-kata yang terkumpul untuk masing-masing agama dan meminta relawan untuk

maju dan membaca hasilnya keras-keras.



Putraku menjadi relawan untuk membaca komentar-komentar yang tertempel di

papan untuk agama Islam – kelompok agamanya sendiri. “Kekerasan, busana aneh, cuci otak,” suaranya makin melemah ketika dia

melanjutkan membacakan kesan-kesan itu. “Turis? Bu, lihat, mereka pikir Muslim itu turis – cukup bagus!” Saya mendekatinya dan

membaca catatan itu sendiri – ternyata dia salah membaca kata “turis” – yang benar adalah “teroris.” Kami mengulas dengan

singkat ajaran dari masing-masing agama untuk membenarkan kesalahan persepsi dan mengurangi stereotip.



Menurut Pew

Forum's 2008 US Religious Landscape Survey, 83 persen orang Amerika mengidentifikasikan diri mereka sebagai anggota agama

tertentu; namun, "orang-orang yang tidak tergabung dengan agama tertentu menonjol untuk usia mereka yang relatif muda

dibandingkan dengan tradisi keagamaan lainnya.”



“Di antara mereka yang tidak tergabung, 31 persen berusia di bawah

30 tahun dan 71 persen berusia di bawah 50. Lebih dari seperempat orang dewasa Amerika (28 persen) telah meninggalkan

kepercayaan dengan mana mereka dibesarkan, atau tanpa agama sama sekali. Jika perubahan dalam afiliasi dari satu tipe

Kristianitas Protestan ke agama lainnya dimasukkan, 44 persen orang dewasa telah berganti agama, pindah dari tidak tergabung

dengan agama manapun menjadi bergabung dengan agama tertentu, atau memutuskan hubungan dengan tradisi keagamaan

tertentu.”



Apa nilai konflik ini dalam agama-agama tersebut? Di satu pihak, mereka mengidentifikasi diri sebagai

orang yang religius, bahkan jika itu berarti mereka telah meninggalkan agama asli yang mereka anut ketika masih kecil,

sementara di pihak lain, ketika orang Amerika bertambah usia, mereka tampaknya meninggalkan agama yang

terorganisir.



Apakah pencarian atas pemenuhan spiritual ini merupakan tren yang dimulai sejak usia muda? Sebagai

guru sekolah Minggu di Masjid Scottsdale selama tujuh tahun terakhir, saya telah mengamati keragaman kepercayaan dari anak-anak

usia pra-sekolah hingga remaja sekolah menengah. Tergantung pada lingkungan rumahnya, anak-anak ini entah datang dengan riang

ke Sekolah Minggu atau dengan malas-malasan, menguji batasan aturan berpakaian (yang menekankan pada kesopanan) dengan menarik

kaos mereka untuk menutupi pusar atau melepaskan kerudung mereka. Berapa banyak pelajaran yang akan diingat para remaja ini

ketika dihadapkan dengan sekularisme lingkungan sekolah publik mereka, di mana ketegangan usia tekanan teman sebaya dan

kelompok mengatur hari-hari mereka?



Agama tetap merupakan masalah pribadi, tapi apakah ada ruang aman bagi para

remaja yang tertarik untuk mengeksplorasi keyakinan agama mereka? Sekilas pandang, lorong buku non-fiksi remaja di toko Borders

atau Barnes & Noble memampang buku-buku agama yang ditujukan untuk remaja. Keragamannya sungguh mengejutkan, dari Kristen,

Yudaisme, Budhisme, sampai buku panduan Wiccan. Jadi, para remaja sesungguhnya mencari jawaban pada buku-buku yang lebih

personal dan tidak keras. Tapi apakah pendidikan ini mendorong mereka untuk meninggalkan kepercayaan orang tua, karena mereka

menemukan tradisi lain?



Ketika pertemuan antar agama kami berlanjut, saya lihat Budhisme menerima komentar paling

positif - meski pun hanya satu dari anak-anak itu yang mengenal orang beragama Budha secara pribadi. Dan agama apa yang paling

banyak menerima komentar negatif? Tidak, bukan Islam, melainkan ateisme.



Ternyata, bahkan jika anak-anak beralih

dari satu kelompok kepercayaan ke kelompok lain, pikiran hidup tanpa agama paling menakutkan bagi

mereka.



###



* Dilara Hafiz adalah pensiunan bankir investasi, guru sekolah Minggu, aktivis antar agama,

dan penulis The American Muslim Teenager's Handbook bersama putrinya, Yasmine, dan putranya, Imran. Artikel ini

didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.



Sumber:

altmuslim, 2 Mei 2008, www.altmuslim.com

Telah memperoleh hak cipta.





**********

dilihat : 452 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution