Selasa, 16 Juli 2019 19:13:24 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520044
Hits hari ini : 1619
Total hits : 4809526
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pada Saat Suara Anak Tak Terdengarkan Lagi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 18 Mei 2008 00:00:00
Pada Saat Suara Anak Tak Terdengarkan Lagi
Sudah sejak 30 tahun di Tiongkok berlaku undang-undang; dimana setiap Pasangan hanya

diperbolehkan memiliki satu anak saja. Diperkirakan sekitar 80 juta anak tunggal sekarang ini ada di Tiongkok. Mengingat, bahwa

hanya satu anak saja yang boleh mereka miliki, maka wajarlah apabila anak-anak tersebut sangat dimanjakan sekali oleh orang

tuanya, sehingga diberikan nama panggilan khusus ialah "Sang Kaiser Kecil"



Tidak bisa dipungkiri pula, bahwa

kesedihan yang yang paling besar bagi orang tua, ialah pada saat anaknya meninggal dunia. Apalagi, apabila ini hanya anak

satu-satunya. Hal inilah yang pada saat ini terjadi dan dialami oleh ribuan orang tua di Propinsi Sichuan. Bagi mereka yang

telah menemukan mayat anaknya, mereka menderita karena kehilangan anak satu-satunya, tetapi dilain pihak masih banyak sekali

orang tua yang belum menemukan jenazah dari anak-anak mereka. Mereka hidup dalam ketidak pastian, ketakutan dan penuh

kekhawatiran, apakah anak kesayangan mereka masih hidup?



Diperkirakan lebih dari 50.000 orang meninggal dunia

akibat gempa ini dan tidak terhitung pula banyaknya anak-anak yang menjadi yatim piatu dalam seketika. Lebih dari lima juta

penduduk tidak memiliki tempat bernaung lagi. Dan tidak kurang dari 7.000 sekolah telah turut hancur luluh karenanya. Kalau

disetiap sekolah hanya ada 50 anak-anak saja, Anda bisa membayangkannya sendiri berapa banyak anak-anak yang telah menjadi

korban akibat dari gempa bumi ini.



Banyak orang tua yang tetap saja masih menunggu sambil berdoa, di depan puing

sekolahan anak-anak mereka. Mereka mengharap agar anaknya bisa segera diketemukan. Mereka menunggu siang dan malam tanpa tidur,

bahkan tanpa makan. Mereka sudah tidak bisa menangis lagi, karena kesedihan ini. Air mata mereka sudah kering, akibat

sedemikian lamanya mereka sudah menangis, sambil menunggu dengan penuh rasa takut dan harapan, moga-moga anaknya masih

diketemukan dalam keadaan hidup.



Kenyataannya mukzijat itu masih tetap saja ada, walaupun sudah lebih dari 80 jam

berada dibawah puing, tanpa makan maupun minum, masih tetap bisa diketemukan anak dalam keadaan hidup. Harapan dan mukjizat

inilah yang ditunggu oleh para orang tua dihadapan puing sekolahan anak-anak mereka.



Seorang ibu menceritakan dengan

suara terisak-isak, bahwa sebelumnya ia masih bisa mendengar dengan jelas rintihan suara anaknya, tetapi semakin lama suara itu

semakin mengecil, sehingga akhirnya tak terdengarkan lagi, karena para sukarelawan datang terlambat ke lokasi, tempat dimana

anaknya berada.



Para orang tua disana tidak mungkin akan bisa mengangkat puing batu besar-besar di reruntuhan

sekolah anak-anak mereka, tanpa adanya bantuan mesin-mesin besar maupun para sukarelawan yang membantu disana siang dan

malam.



Betapa pedih dan sakitnya perasaan seorang ibu/ayah, karena tidak berdaya untuk bisa menolong anaknya yang

mengharapkan bantuan mereka. Anak-anak mereka meninggal dihadapannya; tanpa mereka bisa melakukan apapun juga, walaupun mereka

mendengar dengan jelas isak tangis maupun rintihan sang anak yang membutuhkan pertolongannya. Satu-satunya yang mereka bisa

lakukan, hanya berlutut dan berdoa, semoga anaknya bisa cepat dan segera ditolong.



Selama mereka masih bisa

mendengar rintihan kesakitan dari anaknya; ini satu pertanda, bahwa anaknya masih hidup, hanya sayangnya suara rintihan dan

isak tangis dari sang anak tersebut, semakin lama semakin sayup-sayup menghilang, sehigga akhirnya tak terdengarkan lagi.

Mereka menyadari, bahwa setiap menit yang terlewatkan, berarti setiap menit itu pula harapan mereka semakin berkurang. Walaupun

demikian mereka tetap saja bertahan terus disana.



Kalau tidak bisa melihat dan mendapatkan anaknya dalam keadaan

hidup lagi, minimum mereka ingin mendapatkan kepastian untuk bisa melihat jenazah anaknya. Apakah salah apabila mereka tetap

menunggu terus disana sambil berharap? Dan setiap kali ada anak yang diketemukan dalam keadaan masih hidup, bangkit kembali

harapan baru, walaupun untuk ini mereka harus menunggu di alam terbuka siang dan malam dalam cuaca dingin dan hujan.





Oleh sebab itulah pada saat ini sedang digodok peraturan baru oleh pemerintah China, dimana mereka yang kehilangan

anaknya; akan diberikan ijin untuk mengadopsi anak yatim piatu, tetapi apakah anak tersebut bisa menggantikan anak mereka yang

hilang atau mati dibawah reruntuhan gedung?



Dengan ini teriring belasungkawa yang sangat mendalam dan doa dari mang

Ucup untuk para korban gempa bumi di Tiongkok dan juga bagi para keluarga yang kehilangan sanak keluarganya. Entah kenapa pada

saat saya melihat tayangan di TV dari para korban gempa di China itu; saya turut bersedih hati dan menangis bersama dengan

mereka.



Pengirim : Royanto Bonsajang



Sumber : www.mangucup.org



Diambil dari milis

www.pustakalewi.net

dilihat : 438 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution