Jum'at, 22 November 2019 17:55:41 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 520227
Hits hari ini : 1764
Total hits : 5101050
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Apa Yang Terjadi di Kana?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 16 Mei 2008 00:00:00
Apa Yang Terjadi di Kana?
Nats : Yohanes 2:1-11



Kisah yang terjadi di pesta perkawinan di Kana adalah

suatu kisah yang luar biasa karena disana kita dapat mempelajari banyak hal menyangkut kehidupan kita dan pertolongan Tuhan

bagi kita. Alkitab mengatakan bahwa mujizat yang dilakukan Yesus di pesta ini adalah mujizat pertama yang dilakukan Yesus dalam

pelayanannya di bumi. Mari kita melihat apa yang terjadi di Kana bisa menjadi berkat bagi kita.



Ayat 1-2: Pada hari

ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-muridNya diundang juga ke perkawinan

itu.



Di dalam keterbatasan Yesus sebagai manusia, Ia tidak selalu bisa hadir dan memberikan pertolongan nyata bagi

manusia. Dalam kemanusiaannya Dia hanya bisa ada pada waktu tertentu, kesempatan tertentu dan tempat tertentu, seperti yang

terjadi di Kana. Namun dalam ke Allahan-Nya di dalam Roh, Ia tidak lagi dibatasi ruang dan waktu.



Hari ketiga

merujuk pada “waktu”, perkawinan merujuk pada “kesempatan atau kegiatan” sedangkan Kana dan Galilea merujuk pada “tempat”. Saya

percaya bahwa Allah berkeinginan untuk selalu ada dalam kehidupan keseharian kita untuk membawa pertolongan nyata. Kapanpun,

dimanapun dan dalam hal apapun.



Dikatakan pada ayat diatas, “Yesus dan murid-muridnya diundang juga ke perkawinan

itu”. Di sini menunjukkan bahwa yang mempunyai pesta mengenal Yesus. Mereka mengundang Yesus artinya mereka menghendaki

kehadiran Yesus disana. Pertolongan Tuhan akan terus kita rasakan kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun ketika kita

mengaminkan kehadiran-Nya di dalam hidup kita.



Ayat 3: Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata

kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur”.



Bagi orang yang Yahudi kehabisan anggur pada waktu pernikahan merupakan

suatu hal yang sangat memalukan, karena anggur merupakan bagian dari sajian utama dalam pesta. Tetapi mengapa mereka bisa

sampai kehabisan anggur, pada hal pesta ini adalah pesta perkawinan yang notabene adalah pesta sukacita?







Alkitab tidak menjelaskan hal itu. Namun mengacu pada alasan yang umum terjadi dalam suatu pesta mungkin dapat kita

bagi setidaknya dalam dua sebab:



1. Sebab dari dalam.



Ada kemingkinan yang memiliki pesta salah

perhitungan. Perhitungan banyaknya anggur yang disediakan tidak sesui dengan jumlah undangan. Bisa jadi juga si pemilik pesta

memperhitungkan/ memprediksi bahwa yang datang ke pesta paling ada setengah dari jumlah undangan, sehingga ia menyediakan

anggur untuk sejumlah yang diperkirakan. Nah, ketika jumlah orang yang hadir benar-benar sesuai dengan jumlah undangan, maka

sudah pasti mereka akan kekurangan anggur.



Sepanjang hidup kita, mungkin tidak dapat dihitung atau tidak dapat kita

ingat lagi sudah berapa kali kita salah perhitungan dalam memutuskan berbagai hal dalam hidup kita. Sudah berapa kali kita

salah langkah, sehingga membuat kita harus menanggung malu dan menderita. Ucapan dan tindakan kita yang tidak memperhitungkan

untung-ruginya dan baik-buruknya bisa berakibat fatal bagi kita sendiri. Ucapan dan tindakan kita yang tidak baik juga dapat

menimbulkan akar pahit bagi orang lain yang kemudian melahirkan kebencian, dendam dan amarah.





2. Sebab dari

luar.



Kemungkinan adanya keserakahan dari antara para undangan. Mereka mengambil kesempatan untuk meminum anggur

sepuas-puasnya bahkan mungkin sampai membawa pulang. Tentu ini hanyalah satu kemungkinan. Namun dalam konteks jaman ini, hal

seperti ini mungkin tidak sulit kita temukan, khususnya pesta yang diadakan di desa-desa. Seperti yang pernah saya temukan pada

suatu pesta di kampung. Seorang ibu meminta berkali-kali makanan untuk seorang anaknya kepada pelayan yang berbeda. Setelah

meminta kepada pelayan yang satu, dia membungkus dan menyimpannya dalam tas. Saat pelayan yang lain lewat, dia juga meminta hal

yang sama untuk anak yang sama. Dan bukan hanya satu-dua yang saya temukan berbuat demikian.



Tidak semua hal yang

tidak baik yang kita alami dalam hidup kita disebabkan oleh ulah kita sendiri. Bisa jadi oleh karena imbas perbuatan orang lain

kita mengalaminya. Mungkin kita bertanya, “Mengapa Tuhan ijinkan cobaan terjadi dalam hidup kita?” Jawabannya dapat kita

peroleh dari Yakobus 1:2-4 yang berkata:” Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam

berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu

memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.



Pencobaan

adalah bagian dari proses pendewasaan iman. Dengan pencobaan, kita secara tidak langsung di ajak berpikir dan merenungkan

tentang kehidupan itu sendiri. Pencobaan membawa kita pada kedewasaan berpikir yang kemudian menghasilkan kedewasaan dalam

bertindak. Saya percaya pencobaan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita adalah sesuai dengan kebutuhan dalam proses

pendewasaan itu sendiri, seperti yang dikatakan firman Tuhan “tidak melebihi kekuatanmu sendiri”.



Oleh karena itu

kita perlu belajar berpikir positif terhadap pencobaan yang kita alami. Hal yang perlu kita lakukan adalah menerima cobaan itu

dengan ikhlas hati dan mempercayai bahwa dibalik semua pencobaan yang diijinkan itu ada maksud Allah yang indah bagi

kita.



Ayat 4-5: Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus

berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"



Maria menyampaikan permasalahan yang

terjadi kepada Tuhan Yesus yaitu pesta itu kekurangan anggur. Maria tidak secara langsung meminta Yesus untuk bertindak namun

Tuhan Yesus dapat membaca atau mengerti keinginan dari Maria ibunya sehingga Ia langsung berkata : “mau apakah engkau dari

padaKu, ibu? SaatKu belum tiba”.



Apabila kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, sama seperti Maria, kita

dapat mengenal kebaikan hati Bapak yang dapat menolong dalam permasalahan yang ada. Dan Allah mengerti apa yang kita inginkan

daripadaNya walaupun kita tidak mengatakannya.



Ayat 6: Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan

menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.



Bejana air menunjuk kepada kita sebagai manusia

atau sebagai umat Tuhan. Sama seperti anggur yang pertama adalah juga anggur yang baik yang disediakan si empunya pesta, namun

tidak dapat memberi jaminan yang cukup untuk terhindar dari masalah atau persoalan. Niat dan perbuatan yang baik tidak dapat

menjamin bahwa kita tidak akan pernah menghadapi persoalan. Sebagai manusia kita memiliki keterbatasan. Kita hidup di dunia

yang penuh dosa dan kejahatan. Kita hidup serumah yang bernama bumi bersama-sama dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Oleh

karena itu kita membutuhkan campur tangan Tuhan di dalam hidup kita. Kedahsyatan pekerjaan Tuhan akan memampukan kita tetap

berdiri dalam iman dan pengharapan yang teguh meski kita menghadapi persoalan.



Ayat 7-9: Yesus berkata kepada

pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus

kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu

mengecap air, yang telah menjadi anggur itu—dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air

itu, mengetahuinya—ia memanggil mempelai laki-laki,



Untuk mengalami muzijat, kita perlu di penuhi air hidup yaitu

firman Allah. (Eph 5:26; Jn 15:3). Banyaknya firman Allah kita ijinkan memasuki hidup kita akan menentukan banyaknya kekuatan

Allah yang akan kita alami. Seperti perkenalan Yesus dengan para pelayan, Visi/rancangan Allah kita alami di karenakan

kepatuhan kita pada perkataannya. Pelayan-pelayan itu tahu dari mana anggur itu berasal, tetapi “orang-orang penting” yang di

pesta itu tidak tahu. Ketika seseorang melayani Kristus, dia belajar rahasia-Nya. (Amos 3:7; Yoh 15:15). Pelayan merasa gembira

menjadi bagian dari mujizat dan mendapat pengertian akan pekerjaan Allah (Mat 14:19,20). Siapapun kita, memiliki kesempatan

untuk mengalami muzijat Allah. Jangan engkau berfikir bahwa hanya orang-orang yang dianggap paling penting di dalam gereja yang

dapat mengalami mujizat Allah. Atau hanya pendeta atau pelayan-pelayan altar saja. Bukan, melainkan kita semua yang mau

melayani Tuhan dengan bentuk pelayanan apa pun yang dipercayakan kepada kita.



Ayat 10-11: Dan berkata kepadanya:

"Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau

menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari

tanda-tanda- Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid- Nya percaya kepada-Nya.







Apa yang diberikan Tuhan adalah selalu yang terbaik.



Mujijat yang pertama pada musa adalah berubahnya

air menjadi darah (Exo 7:19), yang berbicara tentang hukuman (PL/Taurat)



Mujijat pertama Yesus adalah air menjadi

anggur dalam perkawinan di Kana, berbicara tentang anugerah, perjanjian yang lebih baik (PB/Injil) .Yesus mewujudkan keagungan

Tuhan dan hasilnya adalah murid-murid percaya kepada-Nya (Rom 2:4)





Blessing.

St.Ev.L.Hutabalian





Dikutip dari milis www.pustakalewi.net

dilihat : 440 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution