Selasa, 11 Desember 2018 01:41:45 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 299
Total pengunjung : 448934
Hits hari ini : 3926
Total hits : 4141359
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Tunisia Berjanji Memelihara Sikap Moderat dalam Beragama






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 20 April 2008 00:00:00
Tunisia Berjanji Memelihara Sikap Moderat dalam Beragama
Tunisia Berjanji Memelihara Sikap Moderat dalam Beragama



Mourad Sellami



Tunis – Di Tunisia, sinagog dan

gereja berdiri berdampingan dengan masjid-masjid. Minoritas Yahudi dan Kristen bebas mempraktikkan ritual keagamaan mereka.

Iklim yang toleran ini dipastikan oleh undang-undang yang memberikan habeas corpus, menjamin kebebasan kesadaran dan melindungi

kebebasan praktik keagamaan. Tapi atmosfer yang terbuka untuk praktik-praktik religius ini telah menghadapi tantangan dalam

beberapa tahun terakhir oleh munculnya Islam radikal di dunia Muslim-Arab.



Belasan pemuda Tunisia telah bergabung

dengan konflik di Afghanistan, Chechnya dan Bosnia selama beberapa dekade terakhir, dan berbondong-bondang ke Irak terutama

saat ini. Di dalam negeri, kameez (pakaian longgar setinggi lutut yang dikenakan oleh pria-pria di Afghanistan dan Pakistan)

bermunculan di jalan-jalan kota Tunisia sebagai simbol dukungan kepada masyarakat negara tersebut. Bagi wanita, jilbab religius

kini menggantikan kerudung tradisional Tunisia, safsari (kerudung putih lebar yang menutupi kepala dan

baju).



Perubahan-perubahan ini mencemaskan sejumlah besar warga Tunisia, karena mereka memprihatinkan pilar-pilar

masyarakat mereka, berdasarkan keragaman agama dan perundang-undangan yang – nyaris – sekuler. Kedua prinsip ini diserang oleh

Muslim yang lebih radikal, yang menganggapnya bertentangan dengan Islam.



Di mana lagi di dunia Arab saat ini Anda

bisa menemukan komunitas kuat Yahudi berjumlah sekitar 6000 orang? Di Tunisia, badan utama komunitas Yahudi tumbuh di pulau

Djerba, berdampingan dengan komunitas Kristen yang berjumlah lebih dari 20.000 jiwa, terdiri atas Katholik, Protestan, dan

Yunani Ortodok. Mereka saling menghargai budaya dan ritual agama masing-masing. Malah, Muslim Tunisia menghadiri

festival-festival Kristen dan Yahudi, terutama Natal dan Ziarah Yahudi ke Djerba.



Pendekatan toleran dan liberal

ini juga berlaku untuk status para wanita. Pada 1956, presiden pertama Tunisia, Habib Bourguiba, mengumumkan “Kode Status

Pribadi” (CSP), satu-satunya perundang-undangan yang mengatur monogami dalam dunia Muslim-Arab. Presiden yang sedang berkuasa,

Zine El Abidine Ben Ali, telah memperkuat CSP lebih jauh. Sebagai tambahan, Tunisia adalah satu dari sedikit negara di dunia di

mana upacara pernikahan religius tidak dilangsungkan. Pesta pernikahan hanya dilakukan oleh sipil yang berwenang, meski kadang

bertempat di masjid.



Orang-orang Tunisia tidak siap untuk melepaskan peraturan sipil ini di bawah tekanan Islam

radikal yang kian meningkat, yang menggunakan saluran televisi satelit untuk mengutuk kebebasan beragama dan kehadiran

turis-turis non-Muslim di Tunisia, dan menyerukan berakhirnya perundang-undangan sekuler.



Masyarakat sipil

mendukung konsep masyarakat modern dan toleran. Universitas-universitas mengadakan seminar-seminar tentang ko-eksistensi agama

dan menghargai perbedaan budaya. Belasan petisi juga telah diedarkan untuk mempromosikan dukungan pada perlindungan hak-hak

wanita di Tunisia dan menyerukan penguatannya lebih lanjut.



Pemerintah telah memilih langkah-langkah pengamanan

ekstrim. Aktivitas dan media yang mungkin bisa dimasuki oleh fundamentalis – aktivitas religius seperti lingkaran diskusi

Islami dan diskusi untuk menguraikan kata-kata Nabi Muhammad - sudah dibekukan. Selain itu, penggunaan masjid dibatasi hanya

untuk melakukan ibadah sholat lima waktu.



Imam-imam yang dicurigai sebagai ekstrimis religius sudah dikeluarkan

dari ceramah Jumat— ibadah shalat Jumat diawali dua ceramah oleh imam, dan termasuk ajaran kehidupan sehari-hari. Jilbab

dilarang di sekolah-sekolah, universitas, dan kantor-kantor pemerintahan.



Bagi banyak pengamat hak asasi manusia,

langkah-langkah paksaan semacam itu dianggap kurang menghargai kebebasan beragama. Dengan menempatkan ekstrimis sebagai korban,

mereka mengagungkan ekstremisme di mata pemuda yang sedang mencari identitas atau oposisi. Langkah-langkah semacam itu hanya

menawarkan perlindungan semu terhadap fundamentalisme yang kian meningkat.



Sebuah diskusi mendalam dan proaktif,

berdasarkan pada wacana toleransi beragama, penting untuk menghapus percabangan fundamentalisme dalam masyarakat. Kemoderatan

aliran Maliki dan budaya toleran yang lazim dari orang-orang Tunisia harus dimanfaatkan untuk menyatakan ko-eksistensi damai

bagi semua kelas sosial dan penghargaan bagi orang lain, termasuk perbedaan-perbedaan mereka.



Tunisia selalu berada

di persimpangan dari berbagai peradaban. Keragaman budaya ini harus mendukung ko-eksistensi damai bagi semua kebudayaan dan

agama berdasarkan saling menghargai.



Hanya kebijakan semacam itulah yang mampu menangkal rasa simpati pada kaum

ekstrimis yang ingin menciptakan pertikaian dalam masyarakat dengan mencap kafir semua yang tidak mengikuti mereka. Jika

kebijakan garis keras diterapkan, ekstrimis mungkin tampak sebagai korban intoleransi, yang dihukum atas keyakinan religius

mereka.



Perjuangan untuk toleransi yang tanpa henti di Tunisia lebih bernuansa dibandingkan perjuangan untuk

hak-hak wanita. Kini, seperti sebelumnya, penting untuk memenangkan perjuangan ini dengan kekuatan

argumen.



###



* Mourad Sellami adalah jurnalis Tunisia yang bekerja untuk koran berbahasa Perancis Le

Temps. Artikel-artikelnya bisa didapatkan di www.letemps.com.tn. Artikel ini ditulis untuk Common Ground News Service (CGNews)

dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.



Sumber: Common Ground News Service, 15 April 2008,

www.commongroundnews.org

Telah memperoleh hak cipta.



dilihat : 304 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution