Jum'at, 22 Juni 2018 00:44:03 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 150
Total pengunjung : 400445
Hits hari ini : 1600
Total hits : 3639657
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pasang Surut Indonesia-Jerman






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 03 April 2008 00:00:00
Pasang Surut Indonesia-Jerman
Berlin.—Tidak terasa, sudah lebih dari setengah abad hubungan bilateral

Indonesia dan Jerman terbangun. Pasang dan surut dalam sebuah relasi ikut mewarnai kerjasama dua negara

ini.



Hubungan diplomatik Indonesia-Jerman sudah dimulai sejak 1952. Selain Thailand, Indonesia adalah negara kedua

di kawasan Asia Tenggara yang memiliki hubungan yang cukup langgeng dengan Jerman.



Hubungan ini mencapai masa

keemasan di era Orde Baru. Saat itu, Presiden Soeharto memiliki kedekatan personal yang baik dengan Kanselir Jerman Helmut

Kohl. Kondisi ini makin dikuatkan dengan peran BJ Habibie, yang saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi.



Namun

era puncak itu tidak bertahan lama. Seiring dengan jatuhnya Soeharto, manisnya hubungan ini kemudian ikut memudar.

Indikatornya, Indonesia kini tidak lagi sebagai negara tujuan utama bagi wisatawan asal Jerman. Padahal, di masa puncak

hubungan diplomatik, wisatawan asal Jerman menempati posisi pertama disusul Belanda dan Inggris.



Meski demikian, di

mata Kepala Kanseleri KBRI Jerman, Wajid Fauzi, negeri pimpinan Kanselir Angela Merkel ini tetap memberi perhatian pada

Indonesia. "Jerman tetap melihat Indonesia bisa menjadi mitra bagi demokrasi di Asia Tenggara," ujarnya di Berlin, Rabu

(2/4).



Di saat perusahaan asing ramai-ramai meninggalkan Indonesia ketika krisis mendera, justru perusahaan asal

negara jantung Eropa ini tetap bertahan. "Mereka ingin selalu mengidentikkan tetap sebagai teman saat kita ada masalah," kata

Wajid.



Namun, anggota Komisi I DPR, Andreas Pareira menilai saat ini posisi hubungan Indonesia-Jerman sedang surut.

Terlebih, Partai Demokratik Sosial (SPD) yang menguasai 222 dari 614 kursi tidak melihat Indonesia sebagai mitra strategis.

"Kita tidak mau memahami kondisi itu," ungkapnya di Berlin.



Andreas berpendapat pemerintah Indonesia lebih banyak

menunggu dan menuntut dalam hubungan ini. Padahal, seharusnya Indonesia yang harus lebih banyak mengembangkan diplomasi. "Kita

yang harus memposisikan diri dalam pentas diplomatik," tegasnya.



Dosen Hubungan Internasional Universitas Katolik

Parahyangan Aknolt Kristian Pakpahan menambahkan, pemerintah masih kurang melakukan eksplorasi dalam berdiplomasi dengan

Jerman. Padahal, saat ini momen tepat mengimbangi pesatnya China dan agak ‘tersisihkannya’ Jerman dalam kancah Uni

Eropa.



Buktinya, tandas Aknolt, posisi Atase Perdagangan di KBRI Jerman hingga kini masih kosong. Kursi ini lowong

sejak 2006 lalu. Apalagi, saat ini KBRI juga masih belum memiliki gedung sendiri alias masih menyewa. Dan kondisi ini cukup

kontras dengan KBRI di kawasan Eropa Timur yang sudah memiliki gedung sendiri. "Ini menunjukkan pemerintah masih kurang menaruh

perhatian terhadap Jerman," tandasnya.



Di satu sisi, papar Aknolt, kepentingan Jerman dan Indonesia cukup besar.

Selain pasar ekspor besar, Jerman juga banyak memberi bantuan dana kepada Indonesia untuk pembangunan dan pemerintahan.

"Saatnya kita fokus memperdalam diplomasi untuk meningkatkan kerja sama Indonesia dengan Jerman,"

ucapnya.



Bagaimanapun juga, Jerman tetap menjadi primadona bagi pelaku usaha Indonesia. Wajid mengakui Jerman adalah

mitra yang potensial untuk sektor ekonomi. Ditambah lagi, penilaian Kementerian Luar Negeri Jerman terhadap Indonesia positif.

"Kita memang yang harus mengambil peluang itu dan mengisinya dengan kekayaan yang dimiliki," kata Wajid.



Jika

Indonesia tak rajin berdiplomasi dan berpromosi ke negara-negara di Benua Biru, jangan salahkan jika perekonomian nasional

kering investasi asing dan larangan terbang bagi maskapai penerbangan nasional tak jua dicabut.[L2/I4]



Penulis :

Anton Aliabbas, Wartawan inilah.com dari Berlin.



Sumber : http://www.inilah.com

dilihat : 199 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution