Senin, 18 November 2019 05:42:21 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520218
Hits hari ini : 512
Total hits : 5088691
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Belum Pernah Belanda Sehina Seperti Sekarang Ini






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 02 April 2008 00:00:00
Belum Pernah Belanda Sehina Seperti Sekarang Ini
Bermacam peristiwa dalam dan luar negeri yang dialami Belanda

yang tidak enak didengar, tidak nyaman dirasa, tidak indah dilihat. Baru-baru ini Ombudsman mereka mengeluarkan pernyataan

bahwa Pemerintah sangat buruk dalam melayani warganya sendiri, brutal dan seenaknya sendiri saja. Jawatan Pajak

(Belastingdienst) terlalu banyak melakukan kesalahan administrasi, sistim yang tidak baik, bahkan hingga korupsi. Jawatan

Sosial (Sociaale dienst) juga begitu, konstan melakukan kesalahan administrasi yang korbannya antara lain penerima uitkering

(penganggur yang menerima bantuan Pemerintah). Selama mereka belum mendapat pekerjaan, setiap orang diwajibkan melakukan kerja

sukarela (sukarela tapi wajib) dimana saja tanpa bayaran kecuali uang tunjangan Pemerintah yang mereka terima setiap bulannya

dan kewajiban bersukarela itu selalu disertai disiplin ketat, terkontrol dan dengan ancaman bila kurang baik melakukannya maka

uang tunjangan akan dihentikan yang itu bisa berakibat fatal bagi yang terkena dengan perspektif jadi gembel tanpa rumah, tanpa

uang dan boleh mati kedinginan atau kelaparan bila tak berhasil mendapatkan pekerjaan.



Juga para jurusita Negara

bertindak kejam bagi mereka yang mendapat kemalangan seperti umpamanya harus keluar dari rumah sewa karena tunggakan sewa

rumah. Barang-barang mereka dilemparkan keluar hingga sebuah oto pengangkut barang khusus mengambilinya untuk dibuang ke tempat

sampah (penulis sudah pernah menyaksikan adegan ini ketika seorang tetangga kedatangan juru sita itu). Kemanakah seseorang yang

baru diusir dari rumah sewanya akan bertempat tinggal? Itu sama sekali bukan urusan Pemerintah, zonder pardon, silahkan tidur

di bawah kolong langit walaupun di tengah musim dingin.



Tindak kriminil yang mengakibatkan drama keluarga, drama di

gedung dan diluar gedung sekolah adalah berita-berita pembunuhan kejam yang dilakukan oleh para orang tua terhadap anak-anak

mereka, main tikam main tembak antara teman sekolah sedikit saja timbul pertengkaran dan macam-macam cerita horor yang bisa

dibaca di koran-koran maupun dari berita radio dan TV. Sebab yang paling populer adalah stress di antara penduduk Belanda,

putus asa, pengangguran, kemiskinan, pengguna narkotika, pengemis di tengah negeri kaya yang kedengarannya sungguh aneh dan

tidak masuk akal. Tapi telah dianggap biasa. Mungkin mereka juga berpikir, itukan peristiwa biasa yang terjadi di dunia manapun

dan mengapa tidak boleh terjadi di Belanda. Nampaknya semua berjalan normal, orang-orang juga keluar masuk toko-toko dengan

belanjaan yang tampak seperti keluarga makmur. Di supermarket simpang siur kereta-kereta belanja yang penuh dengan

barang-barang belanjaan seolah setiap orang menyiapkan pesta besar. Semua kejadian ngeri dan korban-korban perlakuan kasar,

masa bodo, dingin hingga arogan lebih banyak diketahui di koran-koran dan televisi.



Lalu yang belakangan atau yang

sekarang ini sedang hangat adalah ribut-ribut akan film "FITNA" karya Geert Wilders. Beritanya sudah mendunia tak perlu diulang

cerita lagi. Belanda jadi sasaran kebencian, terutama dari dunia Muslim. Pemerintahnya, praktis tampak tak berdaya karena

bertekad mempertahankan demokrasi dan kebebasan mengajukan pendapat. Timbul perdebatan dalam masyarakat antara hak demokrasi

dan penghinaan terhadap agama. Sampai di mana batas toleransinya. Mempertahankan demokrasi tapi harus mengorbankan keamanan dan

lalu ongkos demokrasi di Belanda melonjak naik harga yang bukan main tingginya: puluhan bahkan hingga ratusan juta euro untuk

semua tindakan pengamanan perseorangan dari tokoh-tokoh tersangkut maupun rakyatnya. Tapi yang lebih penting lagi nama Belanda

di era Internasional. Orang-orang bilang penganut agama Islam adalah yang terbanyak di dunia sekarang ini dan bersamaan dengan

itu kebencian dari ummat Islam sedunia semakin berkembang terhadap Belanda akibat dipetunjukkannya film Geert Wlders FITNA.

Bahkan kaum muslim di Belanda sendiri termasuk tokoh-tokoh terkenal mereka seperti Abu Thaleb (ambtenar tinggi dalam sebuah

kementrian) yang berlatar belakang Maroko itu berani menyatakan keberatannya terhadap film Wilders meskipun dia juga

berkali-kali menyatakan: Ik houd van Holland, Ik houd van Holland = saya cinta Belanda. Juga tokoh muda yang baru mencuat

menjadi superster Ehsan Jami (berasal dari Iran) dengan lantang mengatakan": Ik houd van Nederland". Ayaan Hirsi Ali yang

terlantar tak punya tempat berpijak yang berkewarga negaraan Belanda itu tak pernah lupa menyatakan : Ik houd van Holland!

Seolah bila seseorang (terutama yang bukan Belanda asli) bila ingin menyatakan sesuatu yang kurang atau dirasa kurang positip

untuk Belanda harus melafalkan kata-kata: "Ik houd van Holland" yang kata-kata itu belum terdengar dari Wilders sendiri. Geert

Wilders lebih suka mengulang-ulang kalimat: Semua muslim harus pergi dari Belanda... Muslim tidak boleh masuk Belanda... Al

Qur'an adalah buku fasist dan harus dilarang di Belanda... Islam adalah agama fasist dan terorist... Separo dari kitab Al

Qur'an harus dirobek oleh orang muslim sendiri... dan begitulah rupanya cara Wilders menyatakan Ik houd van Holland-nya. Saya

jadi ingat perkataan penyanyi superster Amerika Lionel Ricci yang bilang: "saya suka negeri Belanda, di sini semua orang bisa

mengatakan apa saja yang tidak boleh dikatakan di negeri lain. Tapi apakah Ricci bisa meramalkan apa yang akan terjadi bila

seorang Belanda pendatang (bukan asli) mengatakan: "Ik houd niet van Holland (saya tidak suka Belanda). Apakah demokrasi masih

berlaku.



Asahan Aidit

Hoofddorp, 142008

dilihat : 447 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution