Jum'at, 22 November 2019 17:08:22 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 520227
Hits hari ini : 1643
Total hits : 5100929
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Geliat Saksi Yehuwa di Surabaya






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 02 November 2007 00:00:00
Geliat Saksi Yehuwa di Surabaya
Oleh : Heti Palestina Yunani



Tangan mungil Nenieta

Tamariska (7) diacungkan ketika Penatua--sebutan pimpinan agama dalam SAKSI YEHUWA--Hari Sugeng melempar pertanyaan dari isi

Menara Pengawal. Dengan lancar, gadis kecil itu bertutur layaknya memberikan ceramah.



Berikutnya, sejumlah remaja,

para dewasa, dan para tetuanya juga bisa angkat tangan jika penatua bertanya kembali untuk menegaskan materi dalam kebaktian di

Sidang Rungkut di Medokan Asri Timur IX/32, Surabaya, pagi itu.



Dalam bagian Pelajaran Menara Pengawal yang

merupakan sesi kedua kebaktian para jemaat SAKSI YEHUWA, jemaat memang diberikan kesempatan lebih banyak untuk interaktif.

Setelah penatua memberikan sedikit pengantar, pendamping penatua yang disebut Pembaca Menara Pengawal, akan

membacakannya.



Kebetulan, kebaktian Minggu (24/6/2007) disampaikan materi Kaum Muda Kejarlah Cita-Cita yang

Menghormati Allah. Tiap bagian selesai dibaca, cetakan bulanan tipis yang menjadi panduan materi SAKSI YEHUWA itu akan

disambung penatua dengan pertanyaan.



Tak sulit sebenarnya untuk menjawab pertanyaan penatua yang ternyata juga

sudah tertulis dalam Menara Pengawal. Di bagian yang dipisahkan dengan alinea, jemaat bisa membacakannya kembali atau bisa

menguraikannya dengan kata-kata sendiri. “Lebih-lebih kalau jemaat membacanya lebih dulu di rumah, maka pertanyaan penatua

mudah dijawab,” kata Soebari Tamsir, Pengawas Umum Sidang Rungkut.



Sesi kedua kebaktian yang berdurasi sejam itu

memang sangat beda dengan gaya kebaktian di gereja-gereja lain. Penatua kedua yang memimpin hanya bersifat mengarahkan materi

Menara Pengawal untuk dikaji. Pertanyaan berfungsi untuk mengecek apakah jemaat telah menyerapnya dengan baik. “Itulah

kelebihan SAKSI YEHUWA, kami fokus pada pembelajaran Alkitab,” kata Hari yang menjadi penatua sejak 2005.



Dengan

melibatkan jemaat lebih aktif, sesi kedua kebaktian itu terasa lebih hidup. Semua jemaat bahkan berpeluang untuk menjadi

pemateri dalam forum itu. Uniknya, tiap kali tangan jemaat terangkat tinggi, penatua tak hanya menyilakan mereka menjawab.





Nama calon penjawab pasti dikenali penatua dengan baik. Seperti ketika Nenieta, Andrianto, Sri, Agus, dan jemaat

lain unjuk tangan, penatua akan menyebutnya. Jika dipersilakan, petugas berdasi yang kebagian membagi mike akan menghampiri

agar bisa menjawab dengan lantang.



Untuk mengantar pelajaran Menara Pengawal yang penting untuk kaum muda, jemaat

lebih dulu diajak melantunkan pujian. Dengan membuka lagu bernomor 183 dari buku Nyanyikanlah Pujian bagi Yehuwa, iringan musik

dari CD itu pun mengiringi jemaat menyanyikan Peranan Kaum Muda dalam Tatanan Allah. “Tiap materi pasti ada lagu yang pas

dengan tema pembahasan kami,” terang Soebari, penatua paling tua di Sidang Rungkut.



Sesi kedua itu juga berbeda

dengan sesi pertama kebaktian yang akan berakhir tepat pada pukul 09.00. Dengan penatua yang berbeda, 111 jemaat dari wilayah

Rungkut dan sekitarnya yang terlihat mengenal dekat satu sama lain itu akan diajak mendengarkan khotbah umum.



Tanpa

pendamping, Petrus Erliyanto menyampaikan materi yang sangat identik dengan karakter SAKSI YEHUWA, yaitu persaudaraan

internasional. “Selalulah bergabung dengan rekan-rekan seiman agar kita tetap bisa menjaga persaudaraan internasional. Hanya

itu yang akan tetap membawa kita dalam jalan rohani bersama Yehuwa,” kata Petrus, yang menjadi Saksi Yehuwa pada 1997, mengurai

dari Alkitab Terjemahan Dunia Baru.



Di Surabaya, kegiatan kebaktian serupa itu berlangsung di 15 tempat perhimpunan

SAKSI YEHUWA. Seperti di Sidang Rungkut, kebaktian itu rata-rata dilakukan di rumah-rumah jemaat yang dialihfungsikan sebagai

sidang. Setiap sidang biasanya dinamakan tempat di mana wilayahnya berada. Seperti Sidang Rungkut, yang direlakan keluarga Hari

Sugeng sebagai tempat ibadah sejak 2005.



“Tahun ini juga, kita akan kali pertama memiliki sebuah Balai Kerajaan

SAKSI YEHUWA yang bisa menampung semua umat dari berbagai sidang. Pembangunannya sudah mencapai 70 persen,” kata Soebari

bangga.





Juli 2007, jemaat Saksi-Saksi Yehuwa akan meresmikan Balai Kerajaan. Tempat ibadah SAKSI YEHUWA

terbesar pertama di Surabaya itu sengaja dibangun tanpa satu pun orang di luar jemaat SAKSI YEHUWA. Semua demi pengabdian

kepada Allah Yehuwa.



Dengan bercelana jins dan kaus berkrah, bukan berarti Suparti (55 tahun) tak gesit bekerja.

Mengangkat bata, mengaduk semen dan pasir, atau sekadar mengambilkan alat pertukangan dilakoni Suparti dengan tekun. Suparti

memang bukan asli pekerja bangunan. Seperti 18 orang yang bekerja hari itu, Suparti adalah satu dari jemaat SAKSI YEHUWA yang

kini rela menjadi ’kuli’ dadakan pembangunan Balai Kerajaan di Kalijudan Madya.



"Ini kami lakukan sejak 9 April

2007. Semua umat dilibatkan untuk membangun Balai Kerajaan,” kata Sahata Perdamaian Ambarita, penatua Sulokilo, pengawas

pembangunan Balai Kerajaan SAKSI YEHUWA.



Buat SAKSI YEHUWA, Balai Kerajan ini terbesar di Surabaya. Maka ketika

semua izin diperoleh, pembangunan dirancang hanya melibatkan SAKSI YEHUWA. BK yang diharapkan selesai Juli tahun ini menjadi

bukti nyata pengabdian kepada Allah Yehuwa.



Seperti Suparti, keterlibatannya dalam pembangunan Balai Kerajaan

dinggapnya sebagai prosesnya untuk meneguhkan keyakinan. “Semoga ini akan memantapkan saya di jalan Allah Yehuwa,” kata

Suparti, yang menunggu pembaptisan dirinya setelah belajar SAKSI YEHUWA sejak 1999.



Balai Kerajaan yang menempati

area tanah seluas seluas 800 meter persegi itu memang sangat berarti buat SAKSI YEHUWA. Sejak dibekukan pemerintah pada 1976,

aktivitas SAKSI YEHUWA sangat terbatas. Begitu pemerintah mencabut pembekuan itu pada 2001, tempat ibadah bagi SAKSI YEHUWA

menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.



“Pendirian ini kami nilai sebagai bukti perjuangan SAKSI YEHUWA menunjukkan

eksistensi diri sebagai umat beragama yang harus dihargai hak-haknya,” terang Franky Mathisela, penatua Sulolilo yang turut

turun tangan bekerja.



Sebelum memiliki Balai Kerajaan, kebaktian sudah rutin berlangsung di 16 tempat perhimpunan

Kristen SAKSI YEHUWA. Seperti di Sidang Rungkut, kebaktian itu rata-rata dilakukan di rumah-rumah jemaat yang dialihfungsikan.

Setiap sidang biasanya dinamakan sesuai tempat wilayahnya berada. Seperti Sidang Rungkut yang direlakan keluarga penatua Hari

Sugeng sebagai tempat ibadah sejak 2005.



Di Balai Kerajaan yang memiliki luas bangunan 19 x 21 meter persegi,

sekitar 200 jemaat SAKSI YEHUWA bisa ditampung. Selain aula lepas, ada satu ruang yang akan difungsikan sebagai Sekolah

Teokrasi. Ini merupakan satu dari aktivitas SAKSI YEHUWA di hari Kamis yang biasa digelar bersama Perkumpulan Dinas. Sekolah

Teokrasi merupakan ajang melatih SAKSI YEHUWA memiliki kecakapan khusus dalam menyampaikan firman Allah Yehuwa.





Dalam SAKSI YEHUWA, ada tiga aktivitas penting dalam seminggu. Jika Kamis diisi dua kegiatan di atas, Selasa adalah

waktu para penatua yang bertugas di wilayah tertentu melakukan kegiatan rutin sekitar pukul 18.00 untuk memelajari isi Alkitab

Perjanjian Dunia Baru. Di hari Minggu pagi pukul 07.00, saatnya jemaat mengikuti kebaktian di sidang

masing-masing.



Yang perlu dicatat, tak ada satu pun kegiatan SAKSI YEHUWA itu berjalan tanpa panduan. Semua materi

telah disiapkan dari terbitan yang dikeluarkan SAKSI YEHUWA internasional. Dari Menara Pengawal yang terbit tiap bulan

misalnya, SAKSI YEHUWA akan mengkaji ajaran-ajaran Allah Yehuwa dengan bimbingan penatua dalam sidang.



“Semua serba

terjadwal, terpadu, dan sistemnya jelas. Inilah yang membuat pencapaian kami sama dengan semua penganut Yehuwa di mana pun

secara internasional dan telah membentuk persaudaraan yang kuat di antara kami,” tegas Soebari Tamsir, Pengawas Umum Sidang

Rungkut.



Bukan hanya tentang materi pembelajaran Alkitab yang ditentukan, namun kebaktian akbar yang digelar setiap

distrik juga telah dijadwalkan rapi oleh SAKSI YEHUWA internasional. Minggu ini juga, jemaat SAKSI YEHUWA distrik Jawa Timur,

Bali dan Lombok bakal menggelar kebaktian di Supermal Pakuwon Indah pada 29 Juni-1 Juli.



“Kami akan gelar drama

audio di Jumat siang, khotbah di Sabtu siang, dan simposium enam bagian, khotbah umum, hingga drama Alkitab berdasarkan kolose

3-12 pada Minggu,” kata Sugianto, panitia Kebaktian Distrik yang akan diisi dengan pembaptisan jemaat SAKSI YEHUWA dari

berbagai penjuru.



Lambertus L. Hurek



Sumber :

http://hurek.blogspot.com/2007/07/geliat-saksi-yehuwa-di-surabaya.html

dilihat : 463 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution