Senin, 24 September 2018 04:32:31 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 195
Total pengunjung : 422787
Hits hari ini : 3371
Total hits : 3894561
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Warga Muhammadiyah merayakan Lebaran pada Jumat.






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 13 Oktober 2007 00:00:00
Warga Muhammadiyah merayakan Lebaran pada Jumat.
JAKARTA—Jutaan umat Muslim, terutama

warga Muhammadiyah, melaksanakan salat Idul Fitri 1 Syawal 1428 H, pada Jumat (12/10). Ketua Umum Pengurus Pusat (PP)

Muhammadiyah, Din Syamsudin menjadi imam dan khatib di Lapangan Wijayakusuma, Slipi, Jakarta Barat. Pada saat yang sama mantan

Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang juga mantan Ketua MPR, Amien Rais menjadi imam dan khatib dalam salat Idul Fitri di Lapangan

Monumen Jogja Kembali, Sleman, DI Yogyakarta.



Dalam khotbahnya, Din meminta agar momentum Idul Fitri sebagai hari

kemenangan, harus dibuktikan dengan tindakan nyata untuk berbuat yang terbaik bagi negeri ini, dengan bingkai semangat merajut

temali kebersamaan dan mengasah kepekaan sosial.



"Puasa di bulan Ramadan telah mendidik kita untuk menahan lapar,

haus, serta perilaku fisik lain yang dapat membatalkan puasa. Ini pelajaran berharga bagi umat Islam agar menapaki hari-hari

yang akan datang dengan lebih baik," ujar Din dalam khotbahnya bertema "Merajuk Temali Kebersamaan, Mengasah Kepekaan

Sosial".



Menurutnya, ada tiga pelajaran berharga dari Ramadan dan berpuasa. Pertama, membuat umat menjadi pribadi

yang tangguh dan disiplin. Kedua, menjadikan umat pribadi yang peka secara sosial. Ketiga, menjadikan umat siap lahir dan batin

untuk berbuat baik dan bijaksana terhadap masyarakat sekitarnya.



"Tiga pelajaran berharga dari 'Fakultas Rohani

Puasa Ramadan' sangatlah relevan bagi upaya-upaya strategis kita memberikan kontribusi berharga bagi kebangkitan Indonesia

sebagai bangsa yang besar secara ekonimi, budaya, ilmu pengetahuan, dan politik di mata dunia," ujarnya di hadapan umat Muslim,

termasuk Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo.



Dalam khotbahnya tersebut, Din menyoroti model penanganan

krisis multidimensi oleh Bangsa Indonesia yang tidak dibingkai dengan semangat merajut temali kebersamaan dan mengasah kepekaan

sosial. Hal itu telah membuahkan kemiskinan sosial, ekonomi, dan pendidikan yang masih mendera bangsa ini cukup

serius.



Dia menyebutkan, tingkat kemiskinan di Indonesia saat ini mencapai 11 persen dari total penduduk yang

berjumlah 210 juta jiwa. Menurutnya, hingga saat ini belum tampak adanya terapi ekonomi secara berkesinambungan dan

parmanen.



Din menilai, bila dibandingkan dengan negara lain yang juga didera krisis, Indo- nesia berbeda dalam

menyikapinya. Korsel, Thailand, Vietnam, dan Malaysia bisa segera pulih dan masyarakatnya tidak berlarut-larut menderita,

karena mereka memiliki kepekaan sosial dan kebersamaan, serta solidaritas besar di antara masyarakat untuk bangkit dari

keterpurukan.



"Bukankah kita memiliki peribahasa 'Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh'? Ironisnya, peribahasa

itu hanya tinggal kata-kata tak bermakna dan tidak lagi memiliki daya magis yang membuat para pemimpin, kelompok-kelompokm

serta pribadi-pribadi yang bernama Banga Indonesia ini untuk bangkit dan menyejahterakan seluruh rakyatnya. Sebaliknya, bangsa

ini terkotak-kotak oleh perbedaan agama, keyakinan, mashab keagamaan, parpol, organisasi kemasyarakatan, dan perbedaan lain

yang tidak substansional, " ujarnya.

Din mengingatkan, Alquran secara tegas melarang umat Islam untuk berbuat dan

bersikap fanatik dan buta terhadap kelompok sendiri, atau terlalu membanggakan kelompoknya.



Di Yogyakarta, Amien

Rais juga mengingatkan bahwa hidup selalu berdimensi sosial. Jika hidup hanya untuk berpikir, bekerja, dan berkorban untuk diri

sendiri, iman menjadi kering dan gersang. "Mari saudaraku, kita perbanyak amal saleh," ucap Amien.



Dia juga

menyoroti kondisi Indonesia saat ini yang masih merana, terpinggirkan dalam pergaulan dunia, kemiskinan meluas, pengangguran

terus bertambah, dan korupsi mengganas, bahkan membudaya dan melembaga.



Selain itu, kondisi kesehatan anak bangsa

juga memprihatinkan, biaya pendidikan masih tinggi dan sulit dijangkau rakyat kecil, demikian juga kondisi lingkungan hidup

yang merisaukan.



"Karena itu saya angkat secara sederhana dalam khotbah ini, kita tidak usah saling menyalahkan.

Mari semua bersatu bersama mengatasi masalah yang ada," ucapnya.



Menyikapi Perbedaan



Selain di dua lokasi

yang dihadiri petinggi Muhammadiyah, salat Idul Fitri pada Jumat pagi juga dilaksanakan di seluruh Indonesia. Sekretariat

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyediakan sedikitnya 2.680 lokasi salat Idul Fitri di 31 provinsi.



Salah satunya yang

berlangsung di Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara, lebih dari 100 warga setempat mengikuti salat Idul Fitri

di Masjid Al Mursalin. Khatib Ustad Achmad Badi dalam khotbahnya mengimbau jemaah yang hadir agar mensyukuri hari kemenangan

bagi umat Muslim ini. Dia juga meminta agar tetap menghormati perbedaan dalam penentuan hari raya Idul Fitri kali

ini.



Warga yang hadir umumnya tidak mempersoalkan perbedaan penetapan Idul Fitri tahun ini. "Bagi saya perbedaan itu

tidak masalah. Yang terpenting saya dan keluarga mampu melewati ibadah puasa selama sebulan penuh dengan baik," ujar Achmad

Badi.



Demikian halnya dalam salat Idul Fitri di Wisma Pede, Tebet Barat, Jakarta Selatan, Imam Sunan Miskan yang

bertindak sebagai khatib juga mengajak umat untuk tidak melihat perbedaan waktu salat Idul Fitri sebagai perpecahan di umat

Islam.



Seruan yang sama juga dinyatakan Ketua Bidang Dakwah Yayasan Bani Saleh, Bekasi, H Junaedy Hasim. Dia

menuturkan, perbedaan hari raya harus diambil hikmahnya. "Perbedaan ini tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi dipertentangkan,

karena sama-sama memiliki alasan. Sama dengan manusia yang dilahirkan dalam berbagai perbedaan, baik suku, agama, dan bangsa.

Namun, perbedaan itu untuk saling mengenal, memupuk persaudaraan, dan menghindari perselisihan satu sama lain.

[E-5/W-12/152/M-16/ASR/ATW/HTS]

dilihat : 269 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution