Selasa, 12 November 2019 05:59:08 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 520205
Hits hari ini : 671
Total hits : 5072041
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Seminari Hokeng di Flores Timur






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 05 Oktober 2007 00:00:00
Seminari Hokeng di Flores Timur
Masuk batas Larantuka

Lihat lembah Hokeng situ

Ada seminari kecil

Calon imam bangsaku

Indahlah,

indahlah, Floresku indahlah



Lagu sederhana ini sangat populer di kalangan anak-anak di Flores Timur pada 1980-an.

Isinya menceritakan tentang Flores yang indah. Ada danau tiga warna [Kelimutu], perkebunan kelapa di Sikka, lalu Seminari

Hokeng di Flores Timur. Nama resminya Seminari Menengah San Dominggo.



Lembaga pendidikan khusus ini sangat dikenal

oleh orang Flores Timur, bahkan Nusatenggara Timur.



Baru-baru ini saya ditanya beberapa teman di luar negeri

tentang Seminari Hokeng. Sekolahnya seperti apa? Biayanya berapa? Kurikulumnya? Masa depannya? Okelah, meskipun saya tidak

pernah sekolah di seminari, saya pernah beberapa kali ke sana. Bahkan, saya pernah menulis kisah kunjungan ke Seminari Hokeng

dan dimuat di KUNANG-KUNANG, majalah anak-anak di Ende, Flores Tengah.



Seminari Hokeng berlokasi di lembah sejuk

yang selalu tertutup kabut. Perkebunan kopi sangat luas, di kaki Gunung Lewotobi Laki-laki dan Perempuan [gunung berapi kembar]

yang masih aktif. Daerah ini sangat subur dan mampu menghasilkan tanaman-tanaman yang tidak bisa tumbuh di daerah Flores Timur

lainnya. Karena itu, berkunjung ke Hokeng adalah kenikmatan tersendiri bagi orang Flores Timur di luar Kecamatan

Wulanggitang.



Kehadiran Seminari Hokeng tak lepas dari masuk dan berkembangnya Gereja Katolik di Pulau Flores.

Imam-imam misionaris Societas Verbi Divini [SVD] yang sangat berhasil mengatolikkan rakyat Flores merasa perlu mendirikan

seminari kecil alias seminari menengah. Tempat pembibitan calon-calon pastor di Flores, bahkan Indonesia, bahkan dunia.

Seminari Hokeng itu pada hakikatnya SMA [Sekolah Menengah Atas] Plus. Plus, karena dikondisikan sebagai komunitas calon

biarawan. Jadi, laki-laki semua. Plus, karena masa belajarnya empat tahun, bukan tiga tahun seperti SMA

biasa.



Lulusan SMP [Sekolah Menengah Pertama] di Flores Timur dan sekitarnya diseleksi secara sangat ketat. Seleksi

berlangsung sepanjang masa pendidikan di seminari. Jika ada pelajar yang dapat nilai merah, logikanya tidak jalan, malas, suka

bikin kacau, suka mencuri buah-buahan, sulit diatur... pasti disuruh pulang pada akhir semester. Saat saya masih tinggal di

Larantuka, saya selalu mendapat informasi bahwa puluhan siswa terpaksa dikeluarkan.



Pengelola Seminari Hokeng memang

tidak segan-segan mengeluarkan siswanya. Kenapa begitu. Satu, peminat Seminari Hokeng masih sangat banyak, sehingga pengelola

seminari tidak perlu takut kekurangan murid. Dua, ingin menemukan bibit unggul calon pastor yang bakal berkarya di seluruh

dunia, khususnya NTT. Lebih baik mengeluarkan siswa yang tidak layak secara akademis atau emosional ketimbang nantinya mendapat

pastor berkualitas buruk.



Dengan seleksi superketat, jangan heran kalau Seminari Hokeng dikenal sebagai SMA paling

bermutu di Flores. Anak-anak Seminari Hokeng sangat cerdas. Bahasa Inggrisnya lancar. Bahasa Latin, sastra klasik, dikuasai

dengan baik. Bahasa Jerman dan Belanda pun setahu saya sangat fasih. Ini karena para pastor pembina Seminari Hokeng mewajibkan

para siswanya [semua laki-laki, tentu saja] berbahasa asing sesuai dengan programnya. Ketahuan pakai bahasa Indonesia atau

bahasa daerah [Lamaholot] adalah pelanggaran berat. Pada akhirnya dikeluarkan!



Anak-anak Seminari Hokeng juga

hebat-hebat main bola. Hebat main musik. Hebat menyanyi. Hebat paduan suara. Hebat menulis. Hebat bertani. Hebat berkhotbah.

Hebat pidato. Tapi tidak hebat merayu gadis-gadis cantik karena memang tidak dibiasakan. Hehehehe.....



Para siswa

yang keluar dari Seminari Hokeng, apa pun alasannya, rata-rata menjadi pelajar teladan di SMA biasa. Dia pasti masuk the best

five atau primus inter pares. Terbaik di antara sesama temannya. Tempaan keras, disiplin yang ditanamkan, selama studi di

Seminari Hokeng boleh dikata tidak akan pernah hilang selama hidup si seminaris atau eks seminaris. Disiplin berpikir, kerja

keras, semangat belajar... wah, luar biasa.



Cukup banyak eks Seminari Hokeng yang sukses sebagai intelektual. Sebut

saja Prof. Dr. Gorys Keraf [almarhum] yang lulus Seminari Hokeng pada tahun 1954. Kemudian Dr. Ignas Kleden yang masuk SMP

Seminari Hokeng pada 1959. Mereka menjadi pemikir yang disegani di tanah air.



Oh, ya, setahu saya sistem pendidikan

di Seminari Hokeng mengalami beberapa kali penyesuaian. Kalau pada 1950-an, 1960-an, 1970-an, anak-anak lulusan sekolah dasar

[SD] boleh langsung masuk ke Seminari Hokeng, pada 1980-an Seminari Hokeng juga menerima lulusan SMP. Sehingga, masa pendidikan

dan pembentukan calon imam Katolik berlangsung sangat lama dan intensif. Hasilnya memang luar biasa. Generasi Gorys Keraf dan

Ignas Kleden terbukti sangat hebat secara akademik.



Apa saja yang diajarkan di Seminari Hokeng?



Menurut

Ignas Kleden, Seminari Hokeng berorientasi pada gimnasium di Eropa dan separonya mengikuti kirikulum Departemen Pendidikan

Nasional. Pelajaran di Seminari Hokeng semuanya sama dengan SMP/SMA negeri, kecuali bahasa Latin. "Porsi bahasa Latin sangat

banyak dan memakan energi terbanyak," papar Ignas Kleden, yang lahir di Waibalun, Flores Timur, 19 Mei 1948.



Tidak

ada pelajaran lain yang diberi porsi enam jam pelajaran seminggu seperti bahasa Latin. Pelajar Seminari Hokeng juga wajib

mengerjakan pekerjaan rumah bahasa Latin tiap hari. Selain itu, "Olahraga dan musik sangat diutamakan," papar Ignas Kleden yang

piawai main organ berkat pelajaran di Seminari Hokeng pada 1960-an.



Jadwal bahasa Latin dipertahankan saat masuk ke

tingkat SMA di Seminari Hokeng. Mengapa SMA-nya harus empat tahun? Menurut Ignas, ini karena beban pendidikan bahasa Inggris

dari SMP, dilanjutkan dengan pengajaran bahasa Jerman tiga kali seminggu. Bahasa Latin dipertahankan enam jam pelajaran

seminggu.



"Semenjak kelas satu SMA, kami sudah mulai membaca karya Julius Caesar, pidato-pidato dan polemik Cicero

dengan Catilina, kisah Hanibal mengempur kota Roma, sajak-sajak Ovidius dan Horatius. Kemudian berlanjut ke Vergilius untuk

kembali ke tulisan para pujangga gereja seperti Augustinus dan Hieronimus," tulis Ignas Kleden di bukunya, Sastra Indonesia

dalam Enam Pertanyaan.



Kehebatan anak-anak Seminari Hokeng juga saya rasakan saat menyaksikan teater keliling [alias

sandiwara alias drama] mereka di kampung-kampung. Ada kebiasaan, setiap kali liburan, anak-anak Seminari Hokeng menghibur kami,

orang-orang kampung di Flores Timur. Wah, luar biasa teater mereka. Hampir semua penduduk terpukau oleh permainan mereka yang

kebanyakan membawakan kisah-kisah realis.



Biasanya, setelah main sandiwara [malam Minggu], besoknya anak-anak

Seminari Hokeng mengisi paduan suara untuk misa atau kebaktian di gereja kampung. Kami benar-benar puas karena paduan suara

anak-anak Seminari Hokeng punya standar tinggi untuk ukuran Nusatenggara Timur.



Setelah lulus dari Seminari Hokeng,

para alumni digembleng lebih lanjut di seminari tinggi di Ledalero [untuk SVD] dan Ritapiret [praja]. Gemblengan yang sangat

lama dan intensif di Seminari Hokeng membuat mereka semakin mantap mempersiapkan diri sebagai gembala-gembala umat.





Paman saya, Paskalis Kabe Hurek, pada 1980-an dikenal sebagai siswa Seminari Hokeng yang piawai main gitar dan

menyanyi. Berkali-kali dia menghibur masyarakat di kampung saya. Puji Tuhan, sekarang dia sudah menjadi Romo Paskalis K. Hurek,

Pr., setelah menyelesaikan pendidikan di Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere.



Seminari Hokeng memang aset Flores

Timur yang sangat berharga.

dilihat : 451 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution