Selasa, 19 November 2019 15:43:41 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520219
Hits hari ini : 2249
Total hits : 5093142
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kyai Sadrach II






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 18 Januari 2007 00:00:00
Kyai Sadrach II
Sadrach kembali ke daerah asalnya. Ia menetap di Semarang, di Kauman,

menurut Adriaanse. Ketika itu ia menambahkan nama "Abas" di belakang namanya. Pada masa itu pula ia berjumpa dengan bekas

gurunya. Pak Kurmen, yang ternyata sejak berpisah dengannya telah menjadi Kristen. Itu karena ia kalah dalam debat melawan Kiai

Tunggul Wulung yang sudah Kristen lebih dulu.



Maka, untuk kedua kalinya, Radin Abas berhubungan dengan orang dan

ajaran Kristen. Tidaklah mengherankan: bagian utara Jawa Tengah zaman itu merupakan pusat Kristen kedua di Jawa, setelah Jawa

Timur.



Tiga misionaris pertama yang dikirim ke Jawa tidak lagi sekadar menerjemahkan Kitab Suci seperti Bruckner.

Dua diantaranya, Hoezoo dan Jansz, menetap di Semarang. Yang ketiga, Jellesma, tinggal di Surabaya, kemudian pindah ke

Mojowarno. Mereka boleh dikatakan gagal dalam penyebaran Kristen.



Penyebabnya bermacam-macam, tapi alasannya dapat

disederhanakan menjadi: para pendeta itu ngotot agar orang-orang Jawa itu juga menerima ortodoksi sebagaimana dipahami orang

Eropa. Tidak satu pun di antara mereka rela menerima orang Kristen Jawa yang kurang mendalami Injil dengan cara mereka dan

tidak bersedia menanggalkan adat kebiasaan. Maka, mereka yang ditampik para pendeta itu lebih suka mengikuti Kiai Kristen

Tunggul Wulung, yang lebih mudah mereka pahami. Jadinya, orang Kristen di daerah ini terbagi dua: Kristen Jowo, yang mengikuti

sang kiai, dan Kristen Londo yang berada di bawah pengaruh misionaris.



Ketika memutuskan untuk masuk Kristen, Radin

Abas sebenarnya tidak memilih salah satunya. Mulanya ia kelihatannya mengikuti Hoezoo. Ia meninggalkan Kauman dan menetap di

sebuah desa kecil, lima jam perjalanan dari Semarang. Setiap Sabtu ia berjalan kaki ke Semarang untuk dapat menghadiri

kebaktian yang dipimpin misionaris di gereja pada hari Minggu. Tetapi setelah

diperkenalkan Pak Kurmen dengan Tunggul

Wulung, Sadrach merasa lebih akrab dengan kiai Jawa ini. Hubungan keduanya demikian eratnya. Tahun 1865 Tunggul Wulung membawa

Sadrach ke Batavia untuk menemui pejabat tinggi Belanda, Anthing. Anthing, yang sangat aktif dalam kristenisasi di Jawa,

mulanya bertugas di Semarang, dan di situlah ia berkenalan dengan Tunggul Wulung. Tahun 1863, Anthing diangkat menjadi Wakil

Ketua Mahkamah Agung di Batavia.



Dua putra Tunggul Wulung tinggal di rumah Anthing. Salah satunya, bernama Ibrahim,

mengikuti jejak ayahnya, mendirikan sebuah komunal Kristen di Tanah Tinggi, Jakarta. Tunggul Wulung sendiri sempat lima bulan

bekerja sama dengan Anthing bertugas membagi-bagikan brosur agama dari rumah ke rumah di Batavia. Karena pekerjaan ini kurang

diminatinya, meskipun mendapat gaji, akhirnya Tunggul Wulung berangkat dari Batavia.



Radin Abas tetap tinggal di

rumah Anthing mulanya sebagai pembantu, kemudian sudah dianggap "anak".



* * *



Berada di Batavia berarti

menjalin kontak dengan pusat kristenisasi ketiga di Pulau Jawa - meski tidak begitu banyak data yang diperoleh mengenai

kegiatan Sadrach. Ia berada di Batavia tiga tahun, tinggal di Kampung Serani, belajar membaca dan menulis dalam aksara Latin,

dan akhirnya dibaptis.



Adriaanse mengatakan, pendeta dan bapak permandian Radin adalah Teffer - yang lahir tahun

1827, pernah berkebun tembakau di Timor Portugis (Timor Timur), pernah muncul di Ambarawa sebagai imam militer di perkampungan

tentara Belanda, tercatat tidak begitu rukun dengan koleganya misionaris Protestan, dan, setelah jatuh sakit di tahun 1894 dan

tidak punya uang untuk berobat, lalu dirawat oleh seorang misionaris Katolik, beralih agama menjadi Katolik.



Tetapi

pasti yang membaptis Sadrach adalah Ader, pendeta gereja Protestan meski Yotham hanya menyebut nama King untuk masa hidup

Sadrach di Batavia ini. E. W. King (1824-1884), lahir di Batavia, kata orang ia peranakan Belanda tapi mungkin lebih tepat

peranakan Inggris, punya sebuah komunal Kristen di Mesteer Cornelis (Jatinegara) dan sebuah percetakan kecil untuk menerbitkan

majalah misionaris De Opwekker.



Kiranya hubungan Pendeta Ader dengan Sadrach hanya terbatas pada pembaptisan sang

kiai. Karena pendeta juga pegawai negeri, maka dapat dibayangkan bahwa Sadrach segera menyebut nama Ader ketika penguasa

Belanda kelak menginterogasinya. Ader tidak berperan sedikit pun dalam proses panjang yang dijalani Sadrach-sebelum masuk

Kristen. Selain itu, umumnya para pendeta - kecuali yang bertugas pada komunal Melayu tidak mengerti satu bahasa daerah pun,

dan Sadrach juga tidak bisa berbahasa Belanda.



Sedangkan Teffer bisa dipastikan mengerti bahasa Melayu, mengingat

tempat-tempat tugasnya yang terpencil itu.



Adapun King, sebagai seorang peranakan, dibandingkan dengan pendeta yang

Belanda totok itu jelas lebih menguasai bahasa daerah. Karakter ke"indo"-annya itulah yang menyebabkan nama King tetap hidup

dalam ingatan Sadrach bertahun-tahun kemudian, seperti yang diungkapkan pada anak angkatnya, Yotham. Pengetahuan mengenai

bahasa dan kebudayaan Jawa membuat King mampu berkomunikasi dengan baik.



Sadrach sendiri secara resmi memperoleh

pengajaran agama dari Teffer, sedangkan yang sangat berpengaruh terhadapnya adalah King. Pembaptisan itu berlangsung 14 April

1867 - oleh Ader, di Portugeesche Buitenkerk (sekarang Gereja Sion), gereja tua dari akhir abad XVII, di belakang Stasiun

Kota.



Radin Abas memilih nama bantis Sadrach. Ini tentu mengherankan orang Kristen Belanda. Memang kadang-kadang

orang Kristen Jawa menerima nama depan yang berasal dari Perjanjian Baru, seperti orang Eropa. Namun, kebanyakan mereka diberi

nama ambilan dari Perjanjian Lama. Dan ini sebetulnya anjuran resmi pemerintah untuk membedakan penganut Kristen pribumi dan

umat Kristen Belanda. Yakni agar kaum bumiputra sadar, dengan menganut agama Kristen pun mereka tidak akan bisa melepaskan diri

dari kondisi sebagai masyarakat terjajah.



Nama Sadrach itu pun berasal dari Perjanjian Lama - dari Daniel 1, 4, yang

memuat episode "Tungku Api" yang terkenal itu. Tetapi bahwa yang dipilih adalah Sadrach, nama yang tidak populer, dan bahwa

pemilihan itu kalau dipikir-pikir bukan atas dasar kebetulan, rupanya bisa dijelaskan oleh kisah bagian Perjanjian Lama itu -

yang menyangkut masa pengusiran orang Yahudi setelah jatuhnya Yerusalem ke tangan Nebukadnezzar.



Alkisah, Raja

Nebukadnezzar meminta kepada kepala penjaga haremnya untuk mencari beberapa anak muda Yahudi yang cemerlang, untuk ditampung di

istananya setelah diwajibkan mempelajari bahasa dan sastra Babilonia. Di antara yang terpilih terdapat Daniel dan Ananias. Yang

kedua itu diberi nama Babilonia: Sadrach (Shadrak). Dengan menyimpan kepercayaan dan kebanggaan kepada bangsa sendiri, sambil

berintegrasi dengan peradaban Babilonia, orang-orang Yahudi itu mempertahankan identitas. Juga menolak makanan yang "tidak

suci" yang berasal dari meja santap Raja. Mereka terutama menonjol dalam ilmu agama, dan menolak berlutut di depan patung yang

dibangun Nebukadnezzar, yang tak lain dari potret dirinya. Karena itu, mereka dihukum: dijatuhkan hidup-hidup ke dalam tungku

api - toh keluar dengan selamat. Sesudah melihat mukjizat itu, Raja menyuruh mereka "berkembang biak di Provinsi

Babilonia".



Beberapa unsur dalam kisah Rasul Daniel itu sangat disenangi Radin Abas - bagian yang boleh dikatakan

semata-mata terdiri dari mimpi-mimpi dan tafsirannya, sesuatu yang sejalan dengan ngelmu Jawa. Di situ antara lain diramalkan:

"Michel, seorang pangeran agung, akan berada di tengah anak-anak dari rakyat engkau", tapi hal itu akan didahului dengan

bencana maha dahsyat - seperti yang pernah melanda Jawa pada abad XIX. Yang ditunggu-tunggu itu tak lain Ratu Adil yang akan

memerintah Pulau Jawa.



Di pihak lain, jangan lupa membandingkan orang Yahudi yang dikuasai Babilonia dengan orang

Jawa yang dijajah Belanda. Sadrach, tokoh dalam Kitab Suci itu, terpilih sebagai yang terbaik dalam kaumnya, diakui penguasa

kerajaan, tetapi tetap kukuh mempertahankan identitas. Demikian pula "Sadrach Jawa di Ibu Kota, Batavia, yang juga berdampingan

dengan pejabat tinggi pemerintah kolonial seperti Anthing, tapi - seperti akan kita lihat nanti berjuang sepanjang hidupnya

untuk memperoleh hak yang sama dengan orang-orang Belanda, juga lewat agama Kristen - meski sia-sia. Boleh dikatakan, pemilihan

nama itu merupakan kunci seluruh kasus Sadrach alias Radin Abas.



Sesudah dibaptis, Sadrach ditugasi oleh Anthing,

seperti yang dikerjakan Tunggul Wulung, menyebarkan brosur dan buku-buku tentang agama Kristen dari rumah ke rumah di Batavia.

Apa yang terjadi kemudian?



Sadrach pun sebetulnya kurang berminat pada pekerjaan seperti itu. Tidak ada jawaban yang

pasti, dan, menurut penuturan Yotham, ia akhirnya meninggalkan Batavia "tanpa pamit". Sebagai seorang yang telah "terpilih,"

oleh Anthing, tindakannya itu tentu saja cukup mengherankan.



Sadrach berangkat dari Batavia dengan berjalan kaki,

pertengahan tahun 1867. Lewat Bandung dan Cirebon - di sini ia berhenti di rumah pendeta dan orang-orang Belanda - ia kembali

ke daerah asalnya, Semarang. (bersambung)





(sumber: majalah Tempo 2 Nov 1985 )

dilihat : 443 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution