Senin, 14 Oktober 2019 03:16:19 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520138
Hits hari ini : 223
Total hits : 5020807
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Rama Bargawa dan Bencana Spiritual






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 09 Januari 2007 00:00:00
Rama Bargawa dan Bencana Spiritual
Setiap kali terjadi bencana alam:

entah itu gempa bumi atau tsunami, banjir bandang atau gunung meletus, media-media seperti televisi dan surat kabar akan ramai

membicarakannya, tapi ketika terjadi bencana spiritual: hancurnya nilai-nilai moral dan kemanusiaan, tidak pernah terdengar

orang ramai membicarakannya.



Lakon wayang kulit Rama Bargawa adalah salah satu lakon yang paling berkesan di benak

saya: saya menonton pagelaran lakon ini sudah sekitar 10 tahun yang lalu, dan dalangnya adalah Ki Purba Asmara yang sangat

menguasai seni filsafat dan sastra dalam wayang kulit. Alkisah, kerajaan di mana Rama Bargawa bekerja sebagai penegak hukum

mengalami krisis moral: sang raja asyik bertapa di gunung dan gua-gua untuk mencari 'ilmu', sementara sang permaisuri karena

kesepian mencari kepuasan dari prajurit-prajurit kerajaan yang perkasa. Maka lengkaplah sudah kerusakan kerajaan tersebut:

ekonomi dan politik tidak tertata, sementara sang permaisuri hanyalah seorang tukang selingkuh. Ironisnya: sang raja dan

permaisuri dalam kerajaan tersebut adalah ayah dan ibu kandung Rama Bargawa sendiri.



Rama Bargawa sebagai seorang

pembela kebenaran tentu merasa sangat terpukul menyaksikan kondisi di sekitarnya: lebih celaka lagi sang raja, yaitu ayah

kandungnya, memintanya untuk menghukum mati ibunya sendiri sebagai hukuman atas pelangaran moral yang beliau lakukan: yaitu

berselingkuh. Rama Bargawa menghadapi dilema moral yang sangat berat: di satu sisi, sebagai hakim di negeri tersebut dia harus

menghukum siapapun yang bersalah: dalam hal ini dia harus menghukum mati ibu kandungnya sendiri, sesuai titah sang raja, tapi

sebagai seorang anak yang berbakti pada orang tua dia merasa wajib menyelamatkan nyawa ibunya apapun yang terjadi: mikul dhuwur

mendhem jero, begitu pepatah orang Jawa.



Maka Rama Bargawa pun membawa ibunya masuk ke dalam hutan, dengan maksud

untuk menyembunyikannya, agar dia selamat dari hukuman mati dari sang raja. Puncak kekalutan yang dialami Rama Bargawa adalah:

ketika akhirnya ibu kandungnya tersebut bunuh diri karena tak kuat menanggung malu.



Seperti seekor harimau gila Rama

Bargawa pun akhirnya masuk ke dalam kota kerajaan dan membantai semua prajurit yang ia temui di sana: ia sudah kehilangan

kepercayaan akan sistem dan nilai-nilai: kerajaan yang ia bela mati-matian dan ia agung-agungkan selama ini ternyata tak lebih

dari sekedar sarang penyamun dan kemunafikan. .. maka ia pun bermaksud menghancurkannya. Setiap prajurit, penjaga gerbang,

perwira atau siapa saja yang ia temui... ia bunuh tanpa ampun! Kerajaan tersebut pun bersimbah darah. Ulahnya tersebut tentu

membuat kahyangan geger, sehingga para dewa mengutus seksi humas-nya, yaitu Bathara Naradha, untuk memberikan petunjuk dan

pencerahan bagi Rama Bargawa. Beginilah nasehat Bathara Naradha: Rama Bargawa harus bertapa di dalam hutan sampai lahirnya

seorang Ratu Adil, bayang-bayang Sang Mesias dalam budaya Jawa, yaitu Rama Wijaya yang kelak akan mengalahkan Rahwana, sang

Raja Alengka (dalam lakon Rama-Shinta) .



Dari lakon tersebut nampak bahwa: bencana spiritual tidak kalah dahsyat

dengan bencana yang terjadi di alam fisik: seperti bencana alam. Orang mungkin tidak mengalami bencana alam, tapi mungkin

tinggal di dalam sebuah negeri, atau wilayah, atau di dalam lingkungan keluarga yang mengalami 'bencana spiritual'. Dalam

menghadapi bencana semacam itu: Hyang Pukulun Bathara Naradha meminta Rama Bargawa untuk masuk ke dalam hutan: dan menjernihkan

hati dan pikirannya, sampai ia bertemu dengan sang Ratu Adil untuk menyelamatkan hidupnya... Dan akhir ceritanya kita tahu:

Rama Bargawa akan mengabdikan seluruh hidupnya bagi Sang Raja Agung: Prabu Rama Wijaya, bayang-bayang Sang Mesias dalam budaya

Jawa... maka ia pun diangkat sebagai seorang dewa yang sangat terhormat di kahyangan dengan gelar: Prabu Rama Parasu. (Yohanes

Sutopo)

dilihat : 444 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution