Jum'at, 22 Juni 2018 00:42:47 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 150
Total pengunjung : 400445
Hits hari ini : 1592
Total hits : 3639649
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Fenomena Gerakan Kesembuhan Ilahi Dalam Umat Kristen Indonesia






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 06 Desember 2006 00:00:00
Fenomena Gerakan Kesembuhan Ilahi Dalam Umat Kristen Indonesia
Fenomena Gerakan

Kesembuhan Ilahi Dalam Umat Kristen Indonesia





Abstraksi



Gerakan kesembuhan ilahi, menjadi

suatu fenomena yang marak terjadi akhir-akhir ini, walaupun bukan merupakan hal yang baru. Dalam makalah ini akan dibahas

berbagai artikulasi dari gerakan ini, terutama dengan mengambil beberapa contoh kasus. Karena keterbatasan literatur yang

dipunyai penulis, maka sebagian besar data diperoleh dari hasil browsing dari internet.



Pertama – tama akan dibahas

awal mula dan perkembangan munculnya gerakan kesembuhan ilahi ini, terutama yang marak dikalangan gereja kharismatik. Kemudian

penulis akan mengambil beberapa contoh gerakan ini di Indonesia, terutama yang punya pengaruh besar. Setelah itu akan dibahas

terutama dari sisi doktrinal, dan pada akhirnya akan coba menganalisis akibat yang ditimbulkannya, baik positif maupun negatif.





Gerakan Kesembuhan Ilahi (faith healing / divine healing) dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dimana

seseorang dipulihkan kesehatan fisik, mental, ataupun spiritualnya dengan apa yang dipercayai sebagai intervensi langsung dari

kuasa ilahi. 1



Ini pula yang membedakannya dengan penyembuhan modern atau secara umum , dimana kesembuhan dari

seseorang itu sangat tergantung sekali dari keahlian dokter dan obat-obatan yang dibuat melalui suatu proses penelitian ilmiah.





Kesembuhan ilahi ini pertama-tama dikenal pada masyarakat Yunani Kuno dan Romawi yang mempercayai bahwa Asclepius,

dewa pengobatan, yang mungkin tampak dalam mimpi orang-orang yang sedang sakit yang tidur dalam kuil dan bertekun dalam

pemujaannya, dan bahwa kemudian dewa

tersebut menyembuhkan mereka dan menentukan cara penyembuhan tertentu untuk mereka

ikuti.2



Dalam Alkitab sendiri, penyembuhan ilahi mula-mula bisa kita temukan dalam 2 Raja-Raja 5 : 1-14. Dimana

diceritakan bahwa Nabi Elisa menyembuhkan Naaman, panglima raja Aram, yang menderita sakit kusta.



Dengan

memerintahkan untuk mandi di sungai Yordan tujuh kali, seketika itu juga penyakit kusta yang diderita Naaman menjadi sembuh.

Dalam Perjanjian Baru, kita juga bisa mengetahui berbagai mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para rasul

yang kalau ditelaah secara ilmiah bisa dikatakan mustahil melakukan berbagai penyembuhan tersebut.



Tinjauan Ilmiah





Dalam perspektif ilmiah, kita bisa mengklasifikasikan gerakan kesembuhan model ini dalam penyembuhan alternatif,

seperti halnya penyembuhan alternatif tradisional lain yang sering kita kenal. Seperti disebutkan di atas, penyembuhan model

ini sangat sulit sekali untuk diukur dengan parameter dunia pengobatan modern. Penyembuhan alternatif sendiri sudah lebih

dahulu jauh berkembang sebelum ilmu pengobatan modern muncul. Metode yang digunakan mulai dari pengobatan menggunakan bahan

atau ramuan dari alam sampai yang



menggunakan anasir-anasir mistis. Penyembuhan model ini sangat dipengaruhi oleh

konsep animisme, okultisme, dll, yang berasumsi bahwa sakit yang kita derita akibat kita hidup tidak selaras dengan alam, dan

kesembuhan pun akan terjadi bila kita hidup sesuai dengan alam semesta (konsep pantheisme) atau bila kita hidup sesuai dengan

roh-roh yang di alam baka (konsep animisme/okultisme).



Konsep penyembuhan tradisional ini kemudian mengalami

perubahan karena mulai ditemukannya sistem penyembuhan modern seperti yang dilakukan oleh Thales dan kemudian Hipokrates

(460-337 SM), asumsi pun bergeser dengan menyatakan bahwa penyakit disebabkan oleh faktor alami, bukan karena roh jahat.

Perkembangan ilmu pengobatan modern terus terjadi, tapi karena kekuatan hegemoni Gereja Katolik yang sangat kuat pada abad

pertengahan, urusan pengobatan pun menjadi otoritas Gereja Katolik. Baru setelah abad Renaissance pengobatan modern berkembang

dengan pesat. Andreas Vesalius yang merinci anatomi manusia, Ambroise Pare yang merancang ilmu bedah, Louis Pasteur yang

meneliti bakteri, sampai abad 21 sekarang ini dimana suatu proyek mahabesar mulai dikerjakan sejak tahun 1997 lalu untuk

melakukan pemetaan DNA manusia yang nantinya digembargemborkan menciptakan “perfect human”.



New Age Movement …?





Walaupun ilmu kedokteran telah berkembang dengan pesat, tapi penyembuhan alternatif masih tetap eksis sampai

sekarang, bukan hanya dikalangan masyarakat tradisional, tapi juga pada masyarakat urban perkotaan. Apalagi akhir –akhir ini.

dengan bermunculannya penyakitpenyakit baru yang resisten terhadap obat-obatan modern, timbul kekecewaan yang mengakibatkan

beralihnya animo mereka kepada penyembuhan alternatif. Ditinjau dari sudut ilmiah, kegagalan dari metode pengobatan secara

modern ini disebabkan akibat terlalu dipusatkannya perhatian terhadap aspek fisik manusia, sedangkan aspek psikisnya sering

diabaikan. Akibatnya banyak penyakit yang berkaitan langsung dengan aspek mental dan kejiwaan manusia yang belum mampu

diobati.3



Sejalan dengan berkembangnya ideologi postmodernisme, yang berusaha untuk menghapuskan metanarasi

pemikiran manusia, yang lahir di Prancis pada tahun 1960-an, muncul pula suatu gerakan yang disebut gerakan zaman baru/GZB (New

Age Movement). New Age Movement ini berusaha membuat sintesis dari tradisi barat dan timur, sehingga ciri utamanya adalah

perpaduan yang cenderung mengarah kepada sinkretisme.



Dalam hal penyembuhan, GZB ini menawarkan suatu penyembuhan

alternatif yang mungkin sering kita dengar bentuk-bentuknya, seperti Prana, Reiki, dll. Metode penyembuhan yang ditawarkan oleh

GZB ini adalah melalui pengolahan kekuatan batin manusia melalui latihan pernafasan. meditasi, pemusatan pikiran, olah tubuh,

dan semacamnya dimana manusia menjadi titik sentral untuk memperoleh suatu kekuatan supranatural. Dengan kekuatannya sendiri

manusia itu akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri maupun orang lain tanpa ada kuasa lain yang terlibat.



Dilihat

dari ciri-ciri penyembuhan GZB di atas, ada beberapa kesamaan dengan Gerakan Kesembuhan Ilahi yang terjadi dalam umat Kristen

akhir-akhir ini. Yakni faktor “iman” yang sangat memegang peranan penting. Jika seseorang itu percaya maka ia akan sembuh,

sebaliknya jika ia tidak percaya, maka ia tidak akan sembuh dari penyakitnya.





Tinjauan Doktrinal





Permasalahan mengenai sakit ini sejak dahulu menjadi perdebatan luas dalam kalangan gereja. Sering terjadi beda

pendapat mulai dari persoalan atau nature dari sakit itu sendiri, sampai perdebatan bahwa apakah kita ini memang harus

disembuhkan dari kesakitan, bagaimanapun caranya.



Dalam sejarah Kitab suci, kita bisa melihat bahwa baik Tuhan

Yesus maupun para Rasul dan para Nabi memang menyembuhkan orang sakit, tapi tidak semua orang sakit disembuhkan. Pandangan umum

mengenai sakit itu dikatakan merupakan buah dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, tapi ada juga yang beranggapan bahwa sakit

itu berasal dari setan, sehingga harus dimusnahkan oleh orang Kristen, pandangan seperti ini banyak dianut oleh aliran

Kharismatik. Karena itulah, aliran Kharismatik sangat interest terhadap masalah ini, di samping karunia roh tentunya.





Ada tiga diskursus dalam hal ini :

1. Dari manakah asal sakit tersebut ?

2. Apakah kita memang harus

sembuh dari penyakit sebagai konsekuensi

bahwa sakit itu berasal dari setan atau bukan ?

3. Dengan kuasa manakah

kesembuhan itu didapatkan ?



Kalau ditelaah secara logika awam pun, maka sangatlah tidak adil jika praktek-praktek

yang mengatasnamakan kesembuhan ilahi ini berkembang dengan pesat dan dalam jumlah yang besar. Bagaimana nasib para dokter atau

mereka yang menggunakan metode penyembuhan modern yang telah

belajar bertahun-tahun, mereka tentu kalah pamor dari

orang-orang yang menggunakan kesembuhan ilahi ini. Pikiran orang yang sakit tentu akan lebih memilih metode penyembuhan ilahi

seperti ini daripada keluar uang banyak dan belum tentu berhasil pula.



Akibat – Akibat Gerakan Kesembuhan Ilahi





Setiap gerakan yang ditimbulkan tentu menimbulkan dua dampak, yaitu positif dan negatif. Akibat positifnya tentu

pelayanan kesembuhan ilahi ini sebagai sarana yang paling efektif. Kenapa begitu? Karena semua orang pastilah pernah sakit, dan

tentu yang sakit ingin sembuh bagaimanapun caranya. Pemberitaan Injil bagi sebagian kalangan tidak akan pernah efektif tanpa

memakai tanda – tanda atau mukjizat dan salah satunya adalah penyembuhan penyakit seperti ini.



John Wimber ,pendiri

dari gereja Vineyard Christian Fellowship di Anaheim California, pada tahun 1986 menerbitkan sebuah buku berjudul “Power

Evangelism”, penginjilan dengan kuasa, dan terutama kuasa penyembuhan.4 Istilah “Power Evangelism” inilah yang kemudian menjadi

terkenal di kalangan penginjil dan dianggap sebagai senjata utama dalam melakukan PI terutama kepada penganut agama dan

kepercayaan lain.



Dasar Alkitab yang mereka pakai biasanya mereka ambil dari Markus 16:15-20. Dalam ayat tersebut

disebutkan bagaimana pemberitaan Injil kepada umat seluruh dunia yang disertai dengan tanda-tanda atau mukjizat yang akan

menyertai mereka.



Sekarang mengenai dampak negatifnya yang tak kalah banyaknya. Salah satunya yang sering tidak

disadari adalah adalah memunculkan prasangka buruk bagi saudara-saudara kita pemeluk agama lain. Kita bisa ambil contoh dari

kejadian rusuhnya KKR yang disertai penyembuhan yang diadakan oleh seorang hamba Tuhan asal Kanada Rev. Peter Youngren pada

pertengahan Agustus 2003 di Bandung.



Sebenarnya tidak ada masalah penyelenggaraan kegiatan itu, hampir sama dengan

KKR-KKR lainnya. Tapi yang menjadi pemicu permasalahan di sini adalah selebaran atau pengumuman KKR itu di media massa yang

bahasanya terlalu provokatif dengan menonjolkan penyembuhan ilahi yang akan dilakukan sehingga memancing kemarahan pemeluk

agama lain. Alih-alih mengabarkan Injil, malah memicu sengketa dan dituduh melakukan kristenisasi secara terangterangan.





Berita terakhir, Rev. Peter Youngren ini datang ke Indonesia pada Januari 2005 lalu dan mengadakan kebaktian yang

tentu saja disertai penyembuhan ilahi di Graha Bethany Nginden Surabaya. Dalam dua sesi kebaktiannya tersebut selalu dihadiri

kira-kira 20 ribu orang.5



Dalam Yohanes 3 kita bisa membaca di situ dikisahkan seorang pemimpin agama Yahudi

bernama Nikodemus mendatangi Yesus. Mengapa dia sampai mendatangi Yesus, tak lain karena Nikodemus telah mendengar berbagai

mukjizat yang telah dilakukan Tuhan Yesus. Bagi kalangan Yahudi, mukjizat dilihat sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah. Tapi

Tuhan Yesus menyangkal pemahaman ini dengan mengatakan bahwa syarat utama dalam dalam mengalami kerajaan sorga adalah melalui

kelahiran baru, bukan melalui tanda tanda mukjizat.



Kisah di atas menjadi refleksi kita mengenai berbagai macam

gerakan kesembuhan ilahi yang marak terjadi akhir-akhir ini. Aggaplah kita ini orang yang sedang sakit, kemudian kita mencari

kesembuhan melalui penyembuhan ilahi seperti yang diadakan dalam suatu KKR atau ibadat penyembuhan. Tujuan utama kita dating ke

situ tentu ingin mencari kesembuhan dari penyakit kita, bukannya ingin membangun iman kita melalui penyembuhan terhadap Tuhan.

Jika memang seperti itu yang kita lakukan, maka kita beriman hanya kepada mukjizat, kepada tanda tanda mukjizat, bukan beriman

kepada Tuhan. Kalau dilihat secara umum, gambaran umum jemaat Tuhan yang ingin mencari kesembuhan ilahi seperti ini juga

melakukan hal yang sama, entah disadari atau tidak. Mereka pergi ke dalam suatu ibadat atau kebaktian bukan untuk bersekutu

atau memuliakan nama Tuhan, tapi mencari mukjizat. Dan apa yang terjadi apabila mukjizat yang mereka nantikan itu tidak kunjung

datang atau kesembuhan tidak kunjung tiba, tentu perasaan kecewa. Perasaan kecewa ini bukan hanya terhadap hamba Tuhan yang

melayani atau terhadap gereja, tapi juga terhadap Tuhan. Jika sudah begitu maka timbullah fenomena eksodus atau pindah gereja

(denominasi) untuk mencari mukjizat tersebut. Akibat pada diri jemaat sendiri tentu imannya tidak berkembang dan kunjung

dewasa.



Fenomena gerakan kesembuhan ilahi ini tak diketahui kapan pastinya merebak pada umat Kristen Indonesia.

Tapi mendapat andil yang besar dari para penginjil dari luar negeri. Pada medio akhir 1990-an kita tentu sering mendengar

nama-nama seperti Rev. Peter Youngren , Reinhard Bonke, Rev. John Hartman dll. Merekalah yang sering mengadakan kegiatan

seperti KKR, Crusade, dan semacamnya yang disertai gerakan penyembuhan ilahi. Hal inilah yang kemudian menjadi semacam “trend”

di kalangan penginjil lokal.



Dalam mengadakan KKR atau kebaktian khusus selalu diadakan acara penyembuhan ilahi

seperti ini.

Kesembuhan ilahi seperti inipun bukan lagi bisa disebut mukjizat tapi sebagai hal yang biasa, karena banyak

penginjil yang bisa melakukannya. Bahkan kemampuan penyembuhan pun bisa diajarkan hanya dalam tempo waktu yang singkat. Gerakan

seperti inilah yang banyak menarik simpati banyak orang Kristen sekarang. Karena selain menjanjikan kemampuan penyembuhan

ilahi, juga karena sifatnya yang interdenominasi. Salah satu contoh yang penulis ambil adalah Healing Ministry Course yang

diselenggarakan oleh KPPI (Kebaktian Pujian dan Penyembuhan Ilahi) dari GPPI Pondok Daud Jakarta yang menjanjikan kemampuan

penyembuhan dalam 6 kali pertemuan dan gratis.6



Bagaimana sikap kita…?



Pertanyaan besar yang kemudian

muncul adalah bagaimana kita sebagai umat Kristen menanggapi fenomena ini? Apakah kita harus menghindar, bersikap menolak dan

tidak setuju atau kita justru setuju dan malah mendukungnya? Inilah pergumulan kita yang harus selalu kita renungkan baik baik

dengan mendasarkan diri pada firman Allah. Perlu diketahui perdebatan mengenai fenomena ini sudah terjadi sejak dahulu kala,

bahkan diantara para reformator pun terjadi perdebatan masalah ini.



Marthin Lutter (1483-1546) beranggapan sama

dengan Augustinus bahwa mukjizat seperti kesembuhan ilahi ini sudah tidak diperlukan lagi dan harus dinilai dengan terang

Firman Allah. Sedangkan John Calvin (1509-1546) berpendapat sedikit lebih moderat dibandingkan Luther. Ia masih mempercayai

keberadaan karunia-karunia roh.



Kita pada suatu saat nanti pasti berhadapan dengan fenomena seperti ini, dan sikap

yang harus selalu didahulukan adalah selalu menguji setiap fenomena gerakan kesembuhan ilahi tersebut apakah sesuai atau tidak

dengan firman Tuhan. Ini sangat penting sekali dilakukan mengingat keadaan dunia ini yang semakin penuh dengan cobaan. Dan

salah satu yang penting adalah motivasi dan sikap kita dalam memuliakan nama Tuhan. Jangan sampai kita dating ke tempat ibadat

dengan motivasi untuk mendapatkan berkat atau mukjizat saja, kita harus benar-benar punya motivasi untuk memuliakan nama Tuhan,

bukan motivasi untuk kesenangan atau kepentingan kita sendiri saja.



Dan yang paling penting, kesembuhan rohani

lebih penting daripada kesembuhan fisik kita. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kelahiran baru terutama iman kita atau secara rohani

merupakan hal yang penting dalam mengalami kerajaan sorga, bukannya tanda-tanda atau mukjizat. Jika kita mengalami suatu

penyakit, kita harus instropeksi pada diri kita sendiri, apakah ada yang salah dalam kehidupan kita, terutama kehidupan rohani

kita. Dan ingatlah bahwa terkadang Tuhan pun terkadang menggunakan menggunakan sarana-sarana penderitaan seperti ini untuk

membangun iman kita jika kita bisa menemukan hikmah dari ini semua.



Gloriam Majorem Dei



Amin







1.Microsoft Encarta Encyclopedia 2005 C 1993-2004

2 ibid

3“Penyembuhan Alternatif”, Herlianto,

YABINA Ministry Homepage

4 John Wimber sendiri meninggal dunia pada tanggal 17 November 1997 setelah terkena serangan

radang otak.

5 Artikel dari www.bethanygraha.org pada 1 Desember 2005

6 Homepage KPPI Jemaat Pondok Daud

http://kppi.or.id



• Santo Auxerre Vormen (savindievoice@gmail.com), mahasiswa Hubungan Internasional, Fisip

Unair

• Catatan redaksi: Artikel ini dibuat bulan Desember 2005. Informasi tambahan Rev.Peter Youngren tgl 1-4

November 2006 baru mengadakan Festival Rohani di stadion 10 November, Surabaya



dilihat : 503 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution