Sabtu, 17 Agustus 2019 22:41:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520076
Hits hari ini : 1547
Total hits : 4875963
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Histeria dan Bahasa Keterpurukan Kita






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 04 April 2006 00:00:00
Histeria dan Bahasa Keterpurukan Kita






Histeria dan Bahasa Keterpurukan Kita





Limas Sutanto



Berita "Menerawang

Kesurupan Massal Bangsa Ini" (Kompas, 24/3/06) mewakili makin terpuruknya bahasa keterpurukan (deficiency language) kita.





Diwartakan, puluhan pegawai sebuah pabrik rokok di Malang "kesurupan bersama". Diberitakan pula di sana-sini

siswi-siswi SMP dan SMA menampilkan gejala serupa. Media elektronik rajin menayangkan serbaneka warta-dan-gambar histeria

massal (mass hysteria) yang dialami puluhan murid sekolah atau masyarakat. Lalu dibuat semacam simpulan, bangsa ini

digelantungi kesurupan massal. Benarkah?



Ketika manusia menghayati tekanan kejiwaan berat yang tidak bisa

ditanggung seorang diri, dia memerlukan curahan perhatian, dukungan, dan excuses dari orang-orang lain. Manusia bisa

mendapatkan itu semua lewat cara realistik, bisa pula lewat cara nonrealistik. Gejala histeria merupakan salah satu cara

nirsadar dan nonrealistik yang bisa dioperasikan manusia untuk mendapatkan curahan perhatian, dukungan, dan excuses.





Pada titik ini dapat dipahami gejala histeria akan menjadi-jadi saat gejala itu benar-benar efektif menghasilkan

curahan perhatian, dukungan, dan excuses dari orang-orang lain. Maka sebenarnya pewartaan besar-besaran gejala histeria yang

dialami seseorang atau sekelompok orang bisa jadi menjadikan gejala itu makin menjadi-jadi dan merebak di tengah masyarakat.

Para psikiater, psikoterapis, konselor, dan psikolog klinis memahami berdasarkan data empiris dan data riset bahwa gejala

histeria yang ditampilkan seseorang bisa memengaruhi orang-orang yang berkerumun di sekitarnya sehingga orang-orang dalam

kerumunan itu juga mengalami histeria. Lagi-lagi pada titik ini dapat dimengerti, pewartaan berlebih gejala histeria bisa

memfasilitasi perebakan histeria lebih luas.



Padahal, benarkah bangsa Indonesia digelantungi "kesurupan massal"?

Benar, di sana-sini dijumpai insan yang "kesurupan". Namun, begitu gampangkah kita boleh mengatakan, aneka warta "orang yang

mengalami kesurupan" mencerminkan betapa bangsa Indonesia digelantungi "kesurupan massal"? Bukankah penyimpulan yang terlalu

generalistik juga mencerminkan betapa kita semua telah kuat diresapi cara berpikir keterpurukan, yang kemudian mekar dalam

bahasa keterpurukan, bahasa suram, bahasa orang kalah, bahasa negatif dan pesimistik, yang justru menjadi jalan untuk pemenuhan

self-fulfilling prophecy yang benar-benar mengejawantahkan keterpurukan nyata kita semua?



Sebenarnya, dengan

mengoperasikan cara berpikir keterpurukan dan bahasa keterpurukan, kita berlaku tidak adil terhadap bagian besar warga bangsa

Indonesia yang justru gigih berjuang, tekun bekerja, tabah mengatasi berbagai hambatan di tengah kehidupan yang memang sedang

banyak ditebari aneka masalah pelik. Tidak ada yang bisa membantah bahwa kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya sedang dalam

keadaan sulit. Kesulitan itu tidak hanya berdimensi ekonomik, namun juga berdimensi krisis budaya, berdimensi sosial, politik,

biologik, fisikal, menyeluruh. Namun, hari demi hari kita selalu melihat orang-orang Indonesia bertahan, meneruskan kehidupan,

dan tetap memelihara kehidupan mereka.



Maka di jalan-jalan kita masih lebih banyak menjumpai warga bangsa Indonesia

yang bekerja dengan baik ketimbang yang "kesurupan". Di sawah ladang kita masih menjumpai para petani yang bekerja keras

menumbuhkembangkan tanaman-tanaman mereka. Di sekolah-sekolah kita masih lebih banyak menemukan siswa-siswi yang belajar dan

terus belajar ketimbang yang membolos atau dilanda histeria. Di pusat-pusat perdagangan kita masih lebih banyak menemukan

orang-orang yang berdagang dengan sungguh-sungguh ketimbang yang mengeluh dan menjerit meminta pertolongan. Itu semua adalah

hamparan masyarakat sipil yang berjuang dengan baik di tengah bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis multidimensional.





Apa yang kita semua inginkan? Apakah kita menginginkan bangsa kita "kesurupan massal"? Tentu tidak. Yang kita

inginkan adalah bangsa Indonesia yang terus hidup, bekerja, bertumbuh kembang, mengatasi masalah-masalah secara realistik,

menjadi makin sejahtera biopsikososiospiritual. Dan apa yang kita inginkan itu telah diejawantahkan diam-diam oleh hamparan

luas masyarakat sipil di sebagian besar wilayah bumi negeri Indonesia. Memang mereka itu tidak banyak bicara. Mereka juga tidak

banyak diwartakan oleh media massa cetak dan elektronik, padahal sesungguhnya mereka itulah yang secara sejati menghidupi

bangsa ini.



Tidakkah sebaiknya kini kita mulai menyadari betapa perlunya kita juga berpikir dan berbahasa seperti

hamparan masyarakat sipil yang sungguh menghidupi bangsa ini secara sejati? Hamparan masyarakat sipil itu adalah orang-orang

yang berpikir untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya mengeluh-ngeluh dalam kubangan masalah. Mereka itu adalah orang-orang

yang mengoperasikan bahasa pemerkuatan (empowering language), bukan orang-orang yang gemar bermain-main dengan bahasa

keterpurukan (deficiency language). Dengan cara berpikir dan bahasa seperti itu, mereka mentransformasikan problem menjadi

solusi. Justru ketika kita semua menyadari belitan krisis multidimensional, kita perlu makin cepat mentransformasikan problem

menjadi solusi, bukan berkubang dalam problem dengan tetek bengek bahasa keterpurukan yang tak habis-habis.



LIMAS

SUTANTO

Psikiater, Konsultan Psikoterapi, Tinggal di Malang - Kompas,Senin, 03 April 2006





dilihat : 439 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution