Minggu, 20 Januari 2019 01:56:01 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 40
Total pengunjung : 462847
Hits hari ini : 285
Total hits : 4252223
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Mengembangkan Budaya Keramahan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 22 Februari 2006 00:00:00
Mengembangkan Budaya Keramahan
Mengembangkan Budaya

Keramahan



Andreas A Yewangoe



ALAH satu topik penting yang dibicarakan dalam Sidang Raya ke-9 Dewan

Gereja-gereja se-Dunia (DGD) di Porto Alegre-Brazil adalah tentang pluralitas agama-agama dalam kaitannya dengan pemahaman diri

kekristenan (Religious Pluralism and Christian Self-Understanding).



Sudah tidak dapat diabaikan, bahkan hampir

merupakan "hukum besi" di dalam perkembangan peradaban abad ini bahwa kita hidup di dalam pluralitas masyarakat, baik

kebudayaan maupun agama-agama. Tidak ada lagi ruang di dunia ini di mana hanya terdapat satu kebudayaan dan agama yang tidak

dipengaruhi oleh kebudaya- an-kebudayaan dan agama-agama lainnya.



Proses pluralisasi yang menguasai hampir seluruh

bidang kehidupan juga mempengaruhi kehidupan keberagaman kita. Ini mengisyaratkan bahwa tidak mungkin lagi, bahkan tidak boleh

agama-agama mengisolasi dirinya di dalam dinding-dinding tradisi mereka sendiri. Bahkan, munculnya sikap-sikap ekstrem di dalam

agama-agama disebabkan terutama oleh sikap mengisolasi diri itu. Ada semacam sikap triomfalisme di situ yang mengesampingkan

agama-agama lain. Seakan-akan para penganut agama-agama lain telah diperuntukkan bagi kebinasaan. Padahalnya kita semua, apapun

agama kita, adalah peziarah bersama menuju masa depan dalam upaya kita mencapai kebenaran. Tak Seorang pun yang boleh mengklaim

bahwa ia telah menggenggam kebenaran itu di dalam tangannya sendiri. Allah begitu mahakaya dan maha sempurna, sehingga tidak

mungkin dapat dibahasakan secara penuh hanya oleh cara formulasi tertentu oleh tradisi agama

tertentu.





Tantangan



Maka sikap yang memut- lakkan dan mengklaim kebenaran dalam tangan sendiri itu

tidak dapat dipertahankan lagi. Kekristenan yang untuk waktu yang cukup lama melihat dirinya sebagai satu-satunya agama yang

memiliki kebenaran, justru ditantang oleh kehadiran dari agama-agama lain itu. Kekristenan dengan demikian ditantang untuk

melihat kehadiran agama-agama lain itu secara baru.



Kekristenan ditantang untuk mengakui kehadiran "yang lain" (the

others) dalam perbedaan-perbedaan mereka, menyambut mereka, kendati kadang-kadang mereka mengancam kita. Dengan kata-kata lain,

kita (kekristenan) ditantang untuk memperkembangkan suatu iklim spiritual (spiritual climate) dan pendekatan teologis yang

menyumbang kepada terciptanya relasi-relasi yang kreatif dan positif di antara tradisi-tradisi dari agama-agama

dunia.



Maka, sebagai yang melakukan ziarah bersama, kita saling memperkaya spiritualitas kita masing-masinng.

Perjalanan ziarah spiritual kekristenan sendiri telah memperkaya dan membentuk perkembangannya sendiri. Kekristenan misalnya

dipengaruhi oleh kehidupan Yahudi-Helenistis.



Kekristenan pun pernah mengalami apa artinya menjadi "orang

asing"(stranger), dan sebagai demikian dianiaya dan ditindas. Tetapi ketika kekristenan menjadi agama dunia, maka ia pun

mengalami keterpecahan di mana-mana. Keterpecahan itu tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan yang mempengaruhinya.





Maka, dalam kaitan dengan kebudayaan ini, perlu ditegaskan, kekristenan justru dibentuk olehnya. Tapi hal yang sama

dapat pula dikatakan untuk agama-agama lain. Bahkan tidak ada satu agama pun yang tidak dipengaruhi oleh agama-agama lain dalam

perjalanan bersama ini.



Menghadapi kenyataan-kenyataan yang tidak terelakkan ini, maka pertanyaannya adalah

bagaimanakah kekristenan menghadapinya? Satu kata penting yang dikemukakan dalam Sidang Raya itu adalah "hospitality"

(keramahan). Keramahan dilihat sebagai kata kunci hermeneutis dan titik masuk ke dalam percakapan-percakapan selanjutnya.

Bahkan di dalam pergaulan-pergaulan yang lebih mendalam.



Tentu saja ini mempunyai akarnya di dalam Alkitab. Allah

adalah Allah semua bangsa-bangsa, demikian ditegaskan di dalam Perjanjian Lama. Ia adalah Allah yang aktif di dalam semua

ciptaan, bahkan sudah sejak awal. Sedangkan di dalam Perjanjian Baru, inkarnasi (menjadi daging-Nya) Firman Allah, yang oleh

rasul Paulus diartikulasikan sebagai keramahan, dan sebagai kehidupan yang mengarah kepada "orang lain". Dalam bahasa

puji-pujian (doksologi), Paulus menegaskan, bahwa Ia (Kristus) berada dalam rupa Allah, namun tidak memandang kesetaraan dengan

Allah itu sebagai yang dipertahankan. Sebaliknya, Ia mengosongkan dirinya dan taat hingga mati di kayu salib.



Bagi

orang Kristen, pengosongan diri ini, di mana Kristus mengambil kemanusiaan kita sebagai wajah-Nya, merupakan inti (pusat) dari

pengakuan iman kita. Maka tidak diragukan lagi, kita pun dipanggil untuk "mengosongkan diri" menyambut "yang lain"itu sebagai

saudara. Dalam bahasa yang dipakai oleh Sidang Raya PGI yang baru lalu, Kristus adalah manusia Bagi Orang Lain. Maka risikonya

adalah, gereja pun mestilah menjadi "gereja Bagi Orang Lain". Itu tidak berarti bahwa sikap seperti itu bukannya tanpa risiko.

Dalam situasi dimana ketegangan-ketegangan politik dan agama terjadi, sikap-sikap keramahan membutuhkan keberanian dan

ketabahan. Bisa saja sikap keramahan ini ditafsirkan lain, misalnya sebagai taktik baru untuk kristenisasi. Namun, budaya

keramahan (the culture of hospitality) mesti terus diperkembangkan. Inilah yang memberi harapan bagi lestarinya kehidupan

manusia (dan kemanusiaan).



Apa maknanya ini bagi kita di Indonesia ? Orang Indonesia dikenal sebagai orang- orang

yang sangat ramah tamah, yang menyambut orang-orang lain, bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai keluarga sendiri.

Keberbagaian para penganut agama-agama di Indonesia mestinya tidak harus merupakan alasan untuk saling curiga satu terhadap

yang lainnya.



Kita adalah keluarga besar bernama Indonesia. Kita hidup bersama di dalam sebuah "rumah" bernama

Indonesia. Rumah itu telah kita bangun bersa-ma dengan darah dan airma-ta Maka sebagai keluarga, keramah- tamahan mestinya

menjadi budaya yang dihirupi dan yang mengarahkan kehidupan. Para penganut agama-agama yang berbeda-beda itu mestinya makin

membuka diri kepada "the others", siapa pun mereka. *





Penulis adalah Ketua Umum

PGI







--------------------------------------------------------------------------------

Last modified:

22/2/06 (SUARA PEMBARUAN DAILY)



dilihat : 332 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution