Minggu, 17 Februari 2019 23:07:22 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 439
Total pengunjung : 473260
Hits hari ini : 2525
Total hits : 4345632
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Menjalin Kerjasama dalam Keragaman






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 08 September 2006 00:00:00
Menjalin Kerjasama dalam Keragaman
Menjalin

Kerjasama dalam Keragaman



Indonesia adalah sebuah negeri yang pluralistik. Terletak di daerah tropis dan dilintasi

oleh garis khatulistiwa. Indonesia terdiri dari puluhan ribu pulau yang didiami oleh lebih dari 200 juta penduduk yang berasal

dari ratusan suku. Mereka berbicara dengan bahasa dan dialek yang berbeda-beda. Bagian terbesar penduduk Indonesia, hampir 90%,

adalah muslim.



Sisanya 10% terdiri dari pemeluk agama-agama lain seperti Kristen, baik Protestan maupun Katolik,

Hindu, Budha, dan Konghucu. Dalam masing-masing agama juga masih terdapat berbagai aliran pemikiran. Keenam agama tadi diakui

oleh pemerintah dan dijamin haknya oleh undang-undang untuk melaksanakan ibadah dan ajaran agamanya

masing-masing.



Bhinneka Tunggal Ika



Keberagamaan dan pluralisme bukan merupakan sesuatu yang baru bagi

kita, karena merupakan pengalaman dan menjadi karakteristik Indonesia sejak awal sejarahnya. Pluralisme Indonesia itu

dinyatakan dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika", yang berarti "beraneka ragam tapi satu". Sekalipun berbeda-beda suku, bahasa,

adat istiadat, dan agama, semua penduduk Indonesia menghayati diri mereka sebagai satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa.

Mereka juga memiliki satu tujuan nasional, yaitu terjadinya sebuah masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.





Pancasila adalah falsafah negara Indonesia. Pancasila terdiri dari lima macam prinsip, kelima prinsip itu menjadi

prinsip pembimbing dinamika kehidupan bangsa Indonesia, dan telah memperkokoh persatuan nasional karena Pancasila diterima

sebagai satu-satunya asas dan pedoman utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berdasarkan Pancasila, Indonesia menjadi

sebuah negara yang unik karena menegaskan diri bukan negara agama dan juga bukan negara sekuler. Di bawah Pancasila, setiap

agama yang diakui di Indonesia memperoleh hak dan perlakuan yang sama.



Tidak salah jika dikatakan bahwa Indonesia

merupakan sebuah "miniatur dunia" dalam arti di Indonesia dapat ditemukan keanekaragaman tetapi yang dihayati dalam kesadaran

kesatuan. Seperti telah kita ketahui, Tuhan telah menciptakan manusia terdiri dari berbagai jenis suku bangsa dan membekali

manusia dengan berbagai agama. Model penciptaan manusia seperti itu jelas sekali-kali tidak dimaksudkan untuk memecah belah

manusia atau menjadikan mereka saling bermusuhan satu sama lain. Sebaliknya, berdasarkan perbedaan-perbedaaan yang ada manusia

didorong untuk saling mendekat dan saling bekerjasama berlandaskan kesadaran bahwa sesungguhnya mereka adalah umat yang satu.

Sebagaimana yang telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya, "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang

satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku," (QS Al-Mukminun [23]: 52).





Manusia, apa pun tradisi

dan agamanya, bahasa dan warna kulitnya, adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kesadaran atas kesatuan manusia ini dan kesadaran bahwa

Tuhan yang satu telah menciptakan kita semua, memiliki hak-hak yang sama, dan karena itu kita harus memperlakukan setiap orang

secara manusiawi. Hal ini merupakan prinsip utama yang bisa menyatukan manusia sekalipun mereka memiliki latar belakang

berbeda-beda.



Dalam sejarah, kesadaran kesatuan seperti itu telah terkoyak-koyak oleh ambisi dan kepentingan kita

sendiri. Kita telah menciptakan tragedi dalam kehidupan kita sendiri. Tragedi kehidupan ini bukan saja terjadi dalam bidang

sosial, politik, atau ekonomi, tetapi juga dalam sejarah kehidupan manusia beragama bahkan, bila dicermati secara seksama, akan

selalu terdapat tumpang tindih antara bidang kehidupan dengan bidang kehidupan lainnya. Karena agama muncul paling dulu dalam

kehidupan manusia, maka ada yang menyatakan bahwa sejarah dunia sebenarnya adalah sejarah agama.



Tiga

Serumpun



Di antara agama-agama besar dunia, Islam dan Kristen adalah dua agama yang dipeluk oleh sebagian besar

penduduk dunia. Hubungan antara kedua agama tersebut juga sangat erat. Bersama-sama dengan agama Yahudi, Islam dan Kristen

termasuk apa yang sekarang dikenal dengan sebutan agama Ibrahimi, karena akar sejarah ketiga agama tadi bertemu pada Nabi

Ibrahim. Jika diibaratkan manusia, ketiga agama tersebut dapat disebut "tiga serumpun" atau "tiga bersaudara", dengan agama

Yahudi sebagai yang tertua dan Islam sebagai agama yang termuda. Jadi, ketiga-tiganya masih satu keluarga. Tapi ibarat

kehidupan dalam sebuah keluarga, di samping terdapat banyak persamaan dan kerjasama, hubungan antara ketiga agama tadi,

terutama antara Islam dan Kristen, juga sering memperlihatkan segi-segi negatif.



Sejarah menunjukkan bahwa pada

mulanya hubungan antara Islam dan Kristen berlangsung baik. Islam selalu menghormati agama Kristen sebagaimana menghormati

agama-agama lain. Setiap muslim menjunjung tinggi Jesus atau Isa sebagai seorang Nabi sebagaimana juga menjunjung tinggi

nabi-nabi lain. Bersama-sama agama Yahudi, Islam menempatkan orang-orang Kristen pada posisi yang sangat terhormat dan mulia,

Ahl Al-Kitab, pemilik wahyu atau kitab. Sebagaimana yang telah di jelaskan dalam Alquran surat Al-Hajj ayat 78, "Dan

berjuanglah pada (jalan) Allah dengan sekuat-kuat perjuangan, dialah yang memilih kamu dan tiada dijadikan-Nya atas kamu

kesempitan dalam agama. Agama Bapak kamu ibrahim. Dia telah menamakan kamu muslimin, dari dulu dan dalam (Alquran) ini supaya

Rasul menjadi saksi (juru penerang dan teladan) bagi kamu dan kamu menjadi saksi bagi manusia…."



Orang pertama

yang percaya pada Tuhan telah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. adalah seorang pemeluk Kristen yaitu Waraqah. Ketika

generasi pertama kaum muslimin terpaksa hijrah ke Abissinia sebuah negeri dengan mayoritas penduduknya adalah Kristen, rajanya,

Najashi, dan penduduknya yang Kristen, menyambut mereka dengan baik dan memandang mereka sebagai orang-orang percaya kepada

Tuhan. Dalam hadis cukup dikenal riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad pernah menjamu para pendeta asal Najran di

masjid.



Namun, hubungan baik antara Islam dan Kristen seperti tergambar di awal pertumbuhan Islam itu tidak bertahan

lama. Hanya beberapa dekade sesudah Islam menyebar keluar semenanjung Jazirah Arab, orang-orang Kristen mulai memandang Islam

sebagai sebuah fenomena baru yang memunculkan banyak masalah dan mengancam eksistensi mereka, baik dari segi teologis,

intelektual maupun politik. Dalam debat teologis dan intelektual yang timbul menyusul perjumpaan kedua agama tadi, Islam

sebenarnya berada di pihak defensif, tetapi pemecahan yang diberikan oleh masing-masing pihak dalam menghadapi masalah-masalah

yang timbul telah memperburuk hubungan antara pemeluk kedua agama tersebut.



Sebagai pemikir Kristen, fenomena

kehadiran dan perluasan Islam yang sedemikian cepat--mereka Kristiani-tetap merupakan sebuah misteri yang tak terpecahkan.

Sebagai "saudara termuda", Islam mungkin dipandang agak "nakal". Islam memang santun dan hormat terhadap saudara-saudaranya

yang lebih tua, Yahudi dan Kristen, tetapi Islam juga kritis terhadap kedua agama tersebut dalam level teologis, Islam telah

memunculkan persoalan yang serius bagi Kristen.



Aksi dan reaksi teologis di kalangan para pemikir Islam dan Kristen,

terutama di zaman pertengahan, muncul dalam bentuk debat dan polemik sebagaimana telah banyak diuraikan berbagai literatur.

Saya tidak akan memperpanjang uraian tentang hal tersebut. Tetapi, saya ingin menyatakan bahwa uraian masing-masing pihak

banyak di dominasi oleh corak-corak apologis, kecenderungan dan kesengajaan untuk memberikan interpretasi dan informasi yang

keliru tentang agama lain daripada usaha memahami agama lain seperti apa adanya.



Karena uraian-uraian itu, Islam,

umpamanya, oleh sementara pihak sering diberi predikat sebagai "misunderstood religion". Orientalisme, sebagai suatu gerakan

intelektual untuk mempelajari dunia timur, yang muncul dan tumbuh seiring dengan perkembangan kolonialisme dan imperialisme,

ternyata juga banyak membantu menciptakan kesalahpahaman tentang Islam. Perluasan Islam juga menimbulkan persoalan politis bagi

hegemoni dunia Kristen. Runtuhnya kekuasaan Byzantium di negeri-negeri Timur Tengah, munculnya kekuasaan Islam di Andalus, dan

ekspansi kekuasaan Turki ke pedalaman Eropa, adalah contoh yang paling jelas.(CMM)



http://www.sijorimandiri.net

(Friday, 08 September 2006)



dilihat : 407 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution