Selasa, 19 November 2019 14:43:45 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520219
Hits hari ini : 2096
Total hits : 5092989
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kapitalisme






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 08 September 2006 00:00:00
Kapitalisme
Ketika Nietzche, seorang filsuf Jerman yang

hidup tahun 1844-1990, melontarkan amarahnya “God is dead”, jauh hari setelah wafatnya banyak orang tersinggung karena

menganggap Nietzche telah menghina kekristenan.



Sesungguhnya, omongan sinis Nietzche tersebut adalah luapan

kejengkelannya terhadap kapitalisme yang merajalela akibat lahirnya revolusi industri di Barat. Ia sangat kecewa bahwa

orang-orang Barat yang nyata-nyata menjujung tinggi kekristenan ternyata melakukan ketidakadilan dan penindasan secara sistemik

terhadap kaum lemah dan tertindas. Itu sebabnya ia menganggap bahwa Tuhan telah mati dalam sanubari masyarakat ketika

itu.



Gugatan-gugatan semacam itu kadang masih sering muncul ketika mengamati kehidupan kekristenan saat ini. Meski

kondisinya, barangkali tidak se-ekstrem pada masa maraknya revolusi indudtri ketika itu, dunia kekristenan yang kita jalani pun

sering lepas kendali bukan lagi sebagai lembaga agama melainkan mewujud bak raksasa lapar.



Meski gereja telah

berusaha memahami kritik terhadap egoistik yang dikandung kapitalisme, gereja masih tanpa sadar justru mempraktekkan

mentah-mentah meski dalam kasus yang berbeda. Sebut saja ketika program-program gereja saling berlomba membangun sebuah

institusi yang besar dan megah. Konsekwensi dari kebijaksanaan seperti ini adalah harus tunduk pada hukum pasar dan tidak

peduli bahwa dengan demikian harus membunuh pihak lain. Dan kritik terhadap nilai- nilai egois ini dianggap sebagai hal yang

tidak realistik.



Dalam kehidupan yang tak lagi sederhana kini, kapitalisme memang sulit dihindari. Namun setidaknya,

bagaimana menyisati kapitalisme bukan melulu berpacu memperbesar modal melainkan berupaya mengolah modal yang ada menjadi

bermakna bagi kehidupan.



Suatu kali saya mendengar keluhan seorang kawan yang mengaku bahwa kini malas ke gereja.

Ternyata masalahnya, ia dan beberapa jemaat merasa dianaktirikan karena tidak pernah mendapat kunjungan pastoral dari gereja.

Setelah tanya kanan-kiri, ia baru tahu bahwa yang mendapat kunjungan adalah mereka yang rajin menyerahkan perpuluhan.





Sebenarnya aku berusaha memaklumi bahwa menyelenggarakan institusi bernama gereja, apalagi gereja besar, butuh

anggaran yang tidak sedikit. Karena itu kreatifitas bagaimana menggali dana adalah kiat yang perlu dipelajari.



Aku

pun berusaha diam saat gereja tak lagi tertarik mengajarkan orang-orang muda untuk kritis dan terbuka sebab orang-orang seperti

ini pada akhirnya akan balik mengkritisi gereja. Bagi kapitalisme memang sudah jelas, tiang gereja bukanlah kaum muda melainkan

uang.





*Budayawan dan kolumnis tinggal di Malang







dilihat : 443 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution