Senin, 10 Desember 2018 10:34:08 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 78
Total pengunjung : 448708
Hits hari ini : 393
Total hits : 4137826
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Menggagas Pendidikan Agama Inklusif






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 17 Januari 2006 00:00:00
Menggagas Pendidikan Agama Inklusif
PADA era otonomi daerah, pemda menjadi penting untuk ikut berperan serta secara aktif memfasilitasi pendidikan

agama yang berpihak pada kemajemukan, khususnya dalam menyusun kurikulum pendidikan agama di wilayah rawan konflik suku, agama,

ras, dan antargolongan (SARA). Pendidikan agama di sekolah harus dapat membebaskan diri dari paradigma lama yang menekankan

hafalan atau yang menekankan eksklusivitas.



Sebagai contoh, kurikulum pendidikan agama yang lama tidak efektif

memutuskan rantai kekerasan dan konflik antar-etnis di Kalimantan Barat. Selama 30 tahun, belasan kali terjadi konflik berskala

luas dengan korban jiwa dan material besar. Konflik pecah kembali sebelum kecurigaan dan permusuhan antar-etnis itu sirna.

Sedikit saja terjadi insiden sepele yang tidak ada sangkut pautnya dengan etnisitas, itu sudah cukup menyulut konflik yang

besar.



Memori kolektif yang negatif itu terpelihara kepada generasi muda dan rekonsiliasi hanya setengah hati.

Dendam antar-etnis dan sentimen primordial tetap dominan, memberi stigma negatif kepada kelompok lawan, dan tidak dapat

mengembalikan rasa saling percaya. Impresi dan emosi negatif itu menjadi lahan subur untuk benih konflik yang akan datang. Dan,

semua itu sepertinya tidak tersentuh pendidikan agama sebagaimana konflik sosial terus terjadi. Karena pendidikan agama tidak

dikaitkan dengan realitas konflik, tidak dapat diharapkan pengaruh positif agama dalam meredam berbagai sentimen negatif yang

menjadi lahan subur bagi konflik.



Kekuatan spiritual agama



Filantropis Albert Schweitzer (1875-1965)

pernah mengajukan sebuah pertanyaan retorik, Is religion a force in the spiritual life of our age? yang dengan tegas dijawabnya

"Tidak" (Reverence for Life: An Anthology of Selected Writings, New York, 1965, hlm 28). Ia mengaku gembira dengan adanya

agama, rumah ibadah, banyak orang saleh, kerinduan untuk beragama. Namun, ia tidak menutup mata, agama tidak menjadi kekuatan

spiritual pada zamannya. Bukti tunggal yang diajukannya adalah perang. Sebagai orang Jerman, ia saksi hidup dua kali Perang

Dunia.



Dalam kaitan ini, Schweitzer mengkritik realisme Hegelian bahwa manusia tidak harus mentransformasi realitas

sebab apa saja yang real adalah konkret. Idealisme dalam etika adalah real sebab kebenaran moral otomatis menempati ruang dan

waktu. Ide yang dimengerti dan realitas sama saja. Yang dimengerti adalah real dan yang real selalu bisa dimengerti. Dalilnya

yang terkenal berbunyi, "Semua yang nyata bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat nyata." Kemajuan peradaban akan

maju dengan sendirinya bersamaan dengan penyataan (revelation) dari Roh Absolut.



Namun, menurut Schweitzer, ketika

dunia beserta dengan idealisme moralnya dibiarkan bergerak sendiri, hasilnya adalah Perang Dunia yang menghancurkan peradaban

(hlm 230). Maka agama harus direkayasa agar menjadi kekuatan transformatif. Kritik Schweitzer sesungguhnya menghunjam langsung

ke jantung raison d'etre agama. Perang-perang besar di zaman modern notabenenya melibatkan bangsa-bangsa beragama, yang di

negerinya menjulang megah rumah-rumah ibadah, yang para ahli agamanya menuliskan buku-buku tebal multivolume. Namun, agama yang

dipeluk ternyata tidak berhasil mentransformasi peradaban khususnya dalam pergaulan antarbangsa. Perang dengan mudah menjadi

solusi praktis dari kebuntuan diplomasi.



Berangkat dari keluhan Schweitzer itu, harus diakui betapa sulitnya agama

mempengaruhi peradaban dan melahirkan perilaku yang beradab. Tidak perlu jauh-jauh, realitas konflik sosial di Indonesia adalah

sebuah bukti nyata yang memilukan. Bangsa Indonesia mengaku beragama dan demikian juga dikenal di luar negeri. Ironisnya,

bukannya spiritual force agama meredam gejolak konflik sosial, malah agama dipakai untuk mengidentifikasi lawan dan

menjustifikasi aksi kekerasan seperti terjadi di Ambon dan Poso. Tragedi itu telah mencederai kehidupan berbangsa. Dan

kehidupan berbangsa kita mundur.



Pendidikan agama perlu direkayasa agar berperan sebagai sumber inspirasi moral

properdamaian untuk masyarakat yang terperangkap dalam konflik bernuansa SARA. Agama harus memberi kontribusi positif bagi

nation building dengan cara menggali spiritualitas sosialnya, supaya umat beragama mampu menerima perbedaan dan hidup bersama

secara harmonis dalam masyarakat majemuk. Bila tidak, agama juga dapat dipakai sebagai sumber inspirasi moral yang membenarkan

tindak kekerasan dan menghalalkan perang, kendati dengan demikian sebenarnya mendevaluasi nilai agama.



Pendidikan

agama inklusif



Untuk itu, pendidikan agama harus dikembangkan guna menghasilkan insan muda yang tahu menghargai

perbedaan dan peka akan nilai-nilai kemanusiaan universal. Agama kaya sekali dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Sebagai

makhluk ciptaan Tuhan, martabat setiap manusia bersumber dari fakta keterciptaan itu, sedikit pun tidak bergantung pada etnis

dan agama. Martabat itu harus dihormati begitu saja, oleh siapa saja, tanpa syarat sebagai sesuatu yang inheren dan inviolable.

Kewajiban manusia dan negara hanya mengakui martabat yang tidak dapat diganggu gugat itu dan melindunginya dari berbagai

pelanggaran.



Untuk membebaskan murid dari perangkap sekat-sekat primordial, pendidikan agama inklusif adalah sebuah

alternatif yang cocok dengan sifat majemuk masyarakat Indonesia. Di sekolah, pelajaran agama harus lebih menekankan nilai-nilai

pluralisme dan kebersamaan. Dengan metode dialogis dan tidak indoktrinatif, murid diajak berefleksi atas realitas kemajemukan

dan menggali nilai-nilai spiritualitas sosial. Dengan sendirinya, tidak tepat bila pendidikan agama di sekolah mengedepankan

nilai-nilai eksklusif yang mengeksklusikan orang lain.



Ganti dari materi pelajaran yang menegaskan eksklusivitas

adalah ajaran-ajaran yang bernuansa inklusif. Murid dibiasakan pertanyaan "Bagaimana menjadi sesama bagi orang lain?" bukan

selalu bertanya-tanya "Siapakah sesamaku?" (berdasarkan agama atau etnis). Dalam hal ini, kitab suci dan tradisi religius kaya

dalam memberikan motivasi bagaimana hidup sebagai sesama dan menjadi sesama bagi orang lain. Dengan paradigma inklusif itu,

pendidikan agama di wilayah konflik akan menolong anak melepaskan diri dari memori kolektif yang bermusuhan.



Di era

otonomi pendidikan, pemda di wilayah konflik harus berinisiatif menyusun kurikulum pendidikan agama yang relevan dengan kondisi

sosial yang rawan konflik. Secara isi, kurikulum itu harus digagas dalam kerangka inklusivisme oleh guru-guru agama yang

berpengalaman dan berwawasan kebangsaan. Unsur lain yang perlu ada ialah kearifan lokal. Setiap adat dan etnis sebenarnya

memiliki mekanisme penyelesaian konflik secara damai. Itu perlu digali dan dipadukan dengan ajaran agama, supaya resolusi

konflik juga diinspirasikan dari struktur sosial masyarakat itu sendiri dan pembelajaran agama akan mendarah

daging.



Namun, betapa pun baiknya sebuah buku pegangan pendidikan agama, guru tetap faktor kunci yang paling

menentukan. Guru agama hadir dan berperan di sekolah sebagai agen rekonsiliasi. Di tangan guru yang kreatif, pelajaran agama

yang terbatas akan dapat dimanfaatkan untuk hasil maksimal. Guru, misalnya, dapat memasukkan proyek live in individual maupun

kolektif untuk mempraktikkan kebersamaan lintas suku, agama, dan strata sosial. Dengan langsung hidup dalam komunitas majemuk,

murid belajar melihat kemanusiaan dalam diri orang lain secara manusiawi lepas dari identifikasi etnis dan

agama.



Tugas guru agama di wilayah konflik dapat digambarkan secara negatif dan positif. Secara negatif, salah satu

tugas guru agama adalah membersihkan murid dari memori kolektif yang negatif itu. Untuk itu, guru agama harus kreatif dalam

menerjemahkan bahan pelajaran agar pembusukan kolektif dalam alam sadar murid tidak berlanjut. Sebagai guru, ia tidak boleh

terpancing memberi komentar pribadi yang menguatkan stigma negatif untuk salah satu kelompok bertikai. Secara eksplisit maupun

implisit, guru tidak boleh mencela, lebih-lebih lagi menyatakan keberpihakan pada salah satu kelompok. Ia harus menjadi figur

rekonsiliasi.



Secara positif, guru agama membekali generasi muda dengan kesadaran kolektif yang positif berdasarkan

nilai-nilai kasih dan penghargaan pada hukum positif. Daripada memandang teman di sekolah sebagai patut dicurigai, anak mulai

dengan cara pandang baru. Keadilan dibicarakan di kelas dari perspektif hukum masyarakat beradab, bukan hukum rimba.

Dibicarakan makna penghargaan terhadap harta benda milik orang lain termasuk musuh. Dibicarakan juga praktik mengasihi musuh

secara konkret, yakni tidak berbuat sesuatu yang merugikannya secara sewenang-wenang. Kalau bisa, musuh yang haus diberi

minum.



Hanya dengan begitu, memori kolektif yang mengandung kecurigaan dan permusuhan mengalami transformasi. Murid

menghayati spiritualitas menjadi sesama yang pada gilirannya mampu mematahkan potensi rantai kekerasan kolektif. Tragedi

pertikaian tinggal menjadi sejarah masa lampau dan tidak hidup terus dalam kesadaran generasi muda. Akan muncul generasi baru

yang mindset-nya baru dan bersahabat dengan perbedaan. Dengan demikian, konflik antar-etnis di Kalbar yang sampai berusia tiga

dekade tidak akan terulang di Ambon atau di Poso, dan tidak juga di daerah lain.





Yonky Karman Pemerhati sosial

keagamaan

dilihat : 435 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution