Senin, 18 November 2019 05:25:37 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520218
Hits hari ini : 464
Total hits : 5088643
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -OJK: Masih Banyak Masyarakat Belum Paham Literasi Keuangan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 24 September 2019 08:05:12
OJK: Masih Banyak Masyarakat Belum Paham Literasi Keuangan

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut saat ini tingkat pemahaman masyarakat di Indonesia masih rendah dengan literasi sekitar 25-26%. Namun untuk inklusi keuangan atau menggunakan produk keuangan sudah mencapai 70%

Direktur Pelayanan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Fajri Zam menceritakan OJK sebagai regulator berupaya untuk memberikan pengetauhan dan edukasi kepada masyarakat.

"Tapi aneh bin ajaib, kita sudah edukasi dan literasi ke masyarakat untuk memberikan pemahaman. Supaya melek keuangan semuanya, tapi inklusinya 70% dan literasinya 26%," kata Agus dalam acara Fintech Summit & Expo di JCC, Jakarta, Senin (23/9/2019).

Dengan rendahnya literasi tersebut, Agus menyebut ada masyarakat yang menggunakan produk keuangan namun tidak memahami cara kerjanya.

"Artinya mereka suka pakai, tapi tidak mau tahu apa yang dipakai, celakanya pakai kartu kredit atau asuransi tapi tidak mengerti apa yang dia tandatangani," ujar Agus.

Menurut dia banyak masyarakat yang tak memahami dan baru menyadari aturan main produk saat ia sudah menggunakan produk tersebut. Hal ini terjadi karena banyak pengguna yang tidak membaca kontrak dengan seksama saat perjanjian pinjaman.

"Tak heran banyak pengguna yang di tengah jalan baru ngeh produk keuangannya. Oh ini begini ya padahal di kontrak sudah ditanda tangani, tapi dia tidak mengerti karena tak mau baca," ujarnya.

Agus menceritakan, saat ini kebanyakan pengguna yang menemui masalah dalam produk keuangan selalu mengadu ke OJK untuk penyelesaian. Padahal, dalam kontrak atau perjanjian yang mengikat para pihak harus menyelesaikan sendiri dan tak ada satu orangpun yang bisa ikut campur.

Sehingga jika ada perjanjian utang dan pembayarannya, maka tak ada orang lain yang bisa membantu untuk menghilangkan isi perjanjian. Kecuali ada kesepakatan untuk pembatalan.

Sumber : detik finance

dilihat : 39 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution