Rabu, 13 November 2019 11:23:48 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 520208
Hits hari ini : 1396
Total hits : 5076236
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Menteri Perdagangan Ajak Pengusaha Ritel Tingkatkan Penjualan Produk UMKM






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 27 Februari 2019 08:05:28
Menteri Perdagangan Ajak Pengusaha Ritel Tingkatkan Penjualan Produk UMKM

Surabaya,pustakalewi.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam kunjungan kerjanya di Surabaya berkesempatan hadir menemui para pengusaha yang ada di Jawa Timur di gedung Spazio, Selasa (26/02).

Pertemuan yang dikemas dalam Bincang Bisnis bertemakan "Optimisme Perdagangan dan Ekonomi 2019" ini dihadiri sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Pada kesempatan tersebut Enggar menyoroti produk UMKM yang menurutnya memiliki kualitas baik dan punya potensi besar untuk dipasarkan ke seluruh Indonesia melalui jaringan ritel modern. Dan ini tidak kalah dengan ekspor. 

"Sebelum masuk kesini saya berkesempatan melihat produk makanan frozen yang tahan hingga enam bulan, sesegera mungkin produk-produk seperti itu bisa masuk ke minimarket maupun ritel modern lain. Karena UKM harus didorong untuk masuk ke pasar modern, tentu ini saling menguntungkan. Nah, begitu bisa penetrasi di domestic market, baru masuk ke ekspor," kata Mendag

Enggartiasto menambahkan gejolak perekonomian global mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Pada 2017 lalu, pertumbuhan ekspor sebesar 16 persen. Kemudian pada 2018 ekspor hanya tumbuh 6,5 persen atau di bawah target sebesar 11 persen.

"Saya akui ada defisit perdagangan hingga USD 8,5 miliar. Tapi tidak perlu berkecil hati, karena defisit itu disebabkan peningkatan impor bahan baku dan barang modal, yang ada korelasi dengan pertumbuhan investasi dan pembangunan infrastruktur," ujarnya. 

Sementara itu pada kesempatan yang sama Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menambahkan sebelum 2015 lalu ritel terpuruk karena tingginya inflasi yang menyentuh sekitar 7-8 persen. Tapi kemudian akhir 2018 lalu, ritel lambat laun mencatat pertumbuhan meski belum signifikan.

"Terlihat dari indeks kepercayaan yang meningkat menjadi 122,4, dari sebelumnya 121,6. Indeks ini menunjukkan persepsi pada minat beli dan kualitas produk lebih meningkat dibandingkan masa sebelumnya," paparnya.

Sementara itu, sejumlah pengusaha juga menyampaikan sejumlah keluhannya terkait beberapa kebijakan dagang pada Mendag. mwp

dilihat : 470 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution