Senin, 18 November 2019 05:25:00 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520218
Hits hari ini : 461
Total hits : 5088640
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pemprov dan BI Kendalikan Inflasi di Jawa Timur






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 23 Januari 2019 23:08:56
Pemprov dan BI Kendalikan Inflasi di Jawa Timur

Surabaya,pustakalewi.com - Gubernur Jatim, H Soekarwo mengusulkan penguatan supply chain atau penyediaan barang pada rantai pasokan serta supply side atau penawaran pada konsumen untuk mengendalikan inflasi. Dengan penguatan tersebut, maka antara kebutuhan dan ketersediaan barang akan bisa stabil.

“Pemerintah harus ikut menyiapkan apa saja yang dibutuhan oleh masyarakat,termasuk tersedianya pasar. Jangan sampai ketika masyarakat sudah memproduksi, tapi tidak ada yang beli,” demikian disampaikan Pakde Karwo pada acara High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Jawa Timur di JW Marriot Hotel Surabaya, Rabu (23/1).

Pakde Karwo menjelaskan, penguatan suplai stok juga harus disertai dengan pemantauan intensif di pasar pantauan inflasi. Selain itu, pasokan mitra pedagang atau pelapak di pasar rakyat dan gerai pangan harus dioptimalkan. “Apalagi, saat ini infrastruktur sudah semakin baik, maka pemerintah harus menghitung betul permintaan kebutuhan dan kemampuan produsen,” jelasnya.

Ditambahkan, dalam rangka mengendalikan inflasi, Pemprov Jatim juga menerapkan aplikasi berbasis Teknologi Informasi (TI) untuk memantau harga barang kebutuhan pokok. Diantaranya melalui Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Barang Pokok (SISKAPERBAPO), dan Sistem Informasi Perdagangan Antar Provinsi (SIPAP). “Dengan menggunakan kedua aplikasi ini, perkembangan harga dan stok barang pokok dapat dipantau secara online,” ujar Pakde Karwo.

Lebih lanjut disampaikan, pasar murah dan operasi pasar untuk barang kebutuhan pokok, makan minum (mamin) dan produk ikm (ukm) telah dilakukan di 38 kabupaten/kota. Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan kabupaten/kota khususnya selama bulan Ramadhan atau momen khusus di masing-masing daerah.

“Pemprov Jatim juga melakukan operasi pasar mandiri, dengan harga jual menyesuaikan atau di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi),” terang orang nomor satu di Jatim ini sembari menambahkan stakeholder yang rutin melaksanakan yaitu Perum Bulog, PT. Kebon Agung, PT. Wonokoyo, dan APRINDO.

Dalam rangka efisiensi distribusi barang, Pemprov Jatim telah bekerjasama dengan bukalapak. Lewat kerjasama ini, akan memotong rantai dan biaya distribusi, mempermudah perolehan bahan kebutuhan pokok, dan harga barang lebih terjangkau. “Saat ini sudah ada sekitar 18 ribu IKM di wilayah Surabaya dan Sidoarjo yang tergabung dalam marketplacebukalapak, kedepan akan kita tambah 9 ribu untuk diluar Surabaya Sidorajo,” terang Pakde Karwo.

Di akhir, Pakde Karwo meminta adanya otoritas yang jelas terkait komponen yang menyebabkan inflasi di Jatim, khususnya dalam hal kebijakan pemerintah atau administired price. Selain itu, inflasi juga dikarenakan core inflation dan komponen volatile food. “Sistem pengaturan stok harus diatur betul, misalnya beras di bulan September stok di Jatim harus diatas 1 juta ton. Lewat metode ini maka inflasi di Jatim akan terus terkendali,” pungkasnya.

Sementara itu ditempat yang sama Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IV Jatim,Difi Ahmad Johansyah mengatakan, nilai inflasi di Jatim selalu lebih rendah di bawah nasional. Pada tahun 2018 inflasi Jatim sebesar 2,86 sedangkan nasional 3,13.

Dengan inflasi Jatim yang lebih rendah dari nasional, Provinsi Jatim kerap menjadi rujukan bagi provinsi lain. “Berkat kepemimpinan Gubernur Jatim Pakde Karwo inflasi Jatim selama 5 tahun terakhir ini sangat baik dan selalu di bawah nasional,” ungkapnyasaat High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Rabu (23/1)melalui siaran pers Humas Setdaprov Jatim.

Difi sapaan akrab Kepala Perwakilan BI menjelaskan, selama lima tahun kedepan banyak yang harus disiapkan untuk mengendalikan inflasi di Jatim. Diantaranya yakni peningkatan nilai tambah di petani, integrasi hulu hilir dalam supply chain, serta penggunaan finance technologydi sektor pertanian.

Ditambahkan, ke depan akan dilakukan profiling pada petani maupun gabungan kelompok tani (gapoktan) agar bisa dikenal oleh perbankan. Ini penting dilakukan, karena lembaga keuangan butuh profiling untuk memberikan bantuan pembiayaan pada petani. “Jadi kita akan memperbanyak integrasi di sisi hulunya, dengan cara meningkatkan kapabilitas petani dan mengintegrasikan dengan marketplace,” tukas Difi.mwp

dilihat : 450 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution