Jum'at, 22 Juni 2018 23:46:22 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 207
Total pengunjung : 400670
Hits hari ini : 1858
Total hits : 3641895
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Tanamkan Cinta NKRI, Mahasiswa Siskal ITS Ujian dengan Berbaju Adat






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 14 Juni 2018 10:01:07
Tanamkan Cinta NKRI, Mahasiswa Siskal ITS Ujian dengan Berbaju Adat

Surabaya, Pustakalewi.com-Ada yang menarik pada pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) di Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kamis (7/6). Pada ujian mata kuliah Desain 4 bagi mahasiswa semester akhir Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) ini mewajibkan peserta untuk mengenakan busana adat daerah dari seluruh Indonesia.

Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS, Dr Eng M Badrus Zaman ST MT menjelaskan, tujuan pertama mewajibkan busana daerah Indonesia ini adalah melatih mahasiswa untuk menerima keberagaman dan bermental Bhinneka Tunggal Ika. Kedua, nantinya saat mahasiswa lulus dan terjun secara langsung ke masyarakat diharapkan bisa lebih memahami Indonesia secara utuh dan memahami keberagaman yang ada di masyarakat.

“Negara kita membutuhkan generasi-generasi yang siap menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, sehingga diharapkan dari pakaian daerah yang mereka kenakan ini mereka dapat lebih mencintai tanah air dan mampu menyumbangkan karya mereka kepada negeri kita Indonesia,” tutur Doktor lulusan Kobe University, Jepang ini.

Kewajiban mengenakan kostum tematik saat ujian ini merupakan tradisi yang sudah lama berjalan di Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS. Dimulai sejak tahun 2003 dan hingga saat ini masih terus dipertahankan. Bahkan, sebelumnya peserta ujian juga pernah diwajibkan mengenakan kostum superhero untuk memperingati Hari Pahlawan. “Kami sesuaikan setiap semester untuk tema pakaiannya dan kebetulan kali ini bertepatan dengan momen Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, karena itu kita usung tema ke-bhinnekaan ini,” ungkap Badrus.

Badrus juga menjelaskan, di Siskal ini terdapat empat mata kuliah bidang desain kapal. Ujian Desain 4 merupakan ujian final bagi para mahasiswa semester akhir di departemen ini. “Bobot ujian Desain 4 ini sama seperti Tugas Akhir (TA), sehingga diharapkan nanti mahasiswa memahami seluruh sistem yang ada di kapal,” ujarnya.

Lebih lanjut Badrus menerangkan, ujian dengan sistem presentasi itu mengujikan sistem pelumasan, sistem perpipaan, sistem kelistrikan, navigasi dan sistem pendingin yang ada di dalam sebuah kapal. Luarannya adalah mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana merancang sistem dalam sebuah kapal.
Untuk tahun ini, ujian diadakan secara berkelompok atau tim. Sebanyak 80 mahasiswa dibagi menjadi dua, sehingga satu tim terdiri dari dua orang. “Agar kelak ketika mereka terjun di dunia kerja, sistem teamwork mereka juga sudah terbangun dengan baik,” jelas dosen yang juga pakar keselamatan transportasi laut itu.

Tiap kelompok menghadap seorang dosen penguji dan mempresentasikan desain sistem perkapalan rancangan mereka. Bagi mahasiswa program Double Degree, harus mempresentasikan rancangannya dalam bahasa Inggris. Busana adat yang mereka kenakan sangat bervariasi, ada yang mengenakan pakaian adat Betawi, Dayak, Jawa Timur-an, Madura, Makassar dan bahkan juga ada yang mengenakan Kencongan pakaian adat Yogyakarta yang biasanya dikenakan oleh anak-anak.
Sementara itu, Rohmatus Shifa mahasiswi semester enam Siskal mengaku awalnya sedikit kerepotan saat mengenakan busana adat Jawa ini. Namun, dengan berbalut kebaya modern ungu dan mengenakan bawahan kain serta jilbab yang selaras, ia malah merasa lebih nyaman dengan suasana ujian yang terkesan tidak terlalu formal seperti ini. “Biasanya kan tegang kalau ujian, tapi dengan berpakaian seperti ini kita bisa lebih menjiwai dan lebih santai,” tutur mahasiswi asal Mojokerto ini.

Begitu pula dengan Unzila, mahasiswi asal Makassar yang mengaku bangga bisa mengenakan busana adat daerahnya sendiri. “Dengan mengenakan busana adat Makassar ini saya juga bisa menunjukkan kepada yang lain keindahan busana yang ada di daerah saya,” ungkapnya bangga. (IBS)

dilihat : 39 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution