Senin, 10 Desember 2018 09:24:55 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 67
Total pengunjung : 448685
Hits hari ini : 238
Total hits : 4137671
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Tidak Masalah Teori Bernaulli Digunakan PPLS, Namun Berbahaya Dibuat Wisata Lumpur Lapindo






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 30 Mei 2018 15:05:30
Tidak Masalah Teori Bernaulli Digunakan PPLS, Namun Berbahaya Dibuat Wisata Lumpur Lapindo

Sidoarjo,pustakalewi.com - Dua belas tahun semburan Lumpur Lapindo belum berhenti, Pencetus teori Bernoulli, ir. DJaja Laksana tidak mempermsalahkan teorinya digunakan PPLS, namun dirinya sarankan pemerintah untuk lebih fokus menghentikan seburan timbang membuang lumpur ke Kali Porong apa lagi memanfaatkan sebagai Wisata Lumpur Sidoarjo (Lusi).

Pada hari, Selasa, (29/05/2018) tahun kedua belas lamanya dimana lumpur lapindo menyembur dan penahan lumpur semakin dilebarkan dan terus ditinggikan. ‎Ir Djaja Laksana yang merupakan pencetus teori Bernaulli  (tekanan atas dan bawah seimbang)y‎ ang selalu perduli terhadap nasib akan dampak dari luapan lumpur tersebut kembali mendatangi area lokasi tanggul dan melihat teori penemuannya yang selama ini digunakan oleh Badan Pengendalian Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang kini menjadi Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS).

ir Djaja mengatakan, Bahwa dirinya lebih mementingkan bagaimana semburan itu secepatnya bisa berhenti. karena tepat pada Selasa, (29/05/2018) ini, semburan Lumpur Lapindo sudah berlangsunng selama 12 tahun lamanya. Meskipun berbagai upaya untuk menghentikan semburan sudah dilakukan oleh PPLS.

Menurut Djaja, pada peringatan Semburan Lumpur Lapindo yang ke 12 tahun ini, Pemerintah diharapkan agar segera mengehentikan semburan lumpur lapindo dengan menggunakan teori Bernaoulli hasil temuannya itu. ‎Karena teori tersebut sudah teruji secara ilmiah. Saat ini nampak terlihan pada sisi dalam tanggul digunakan untuk menahan rembesan air yang dinamakan Bio tekstil yang terlihat seperti plastik wrna hitam.

"Hal itu karena jika turunnya tanah atau subsidence terjadi mendadak pasti akan dalam ambles nya, kan bahaya karena akan menimbulkan korban jiwa, tak hanya itu kerusakan infrastruktur yang akan lebih parah," kata Djaja Laksana saat ditemui kawasan Tanggul Penahan Lumpur dikawasan Desa Siring, Sidoarjo, Selasa (29/5/2018).‎

Dijelaskan, pria lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu, bahwa saat ini kawasan disekitar semburan lumpur sudah mengalami penurunan atau tanah yang mengarah ke amblesan pelan-pelan (Lane Subsidence) sedalam 3 cm setiap enam bulannya. Oleh karena itu, diharapkan Djaja, Pemerintah Indonesia sebaiknya cepat menghentikan semburan lumpur tersebut, salah satunya dengan teori Bernoulli ini. Bukan malah dijadikan obyek wisata, sangat membahayakan.

"Ancaman bahaya atas Subsidence bisa membahayan infrastruktur serta mengancam keselamatan jiwa masyarakat di area sekitar lokasi seburan lumpur lapindo yang kini di gadang-gadang oleh pemerintah akan dijadikan Wisata lumpur Sidoarjo (lusi)," jelasnya.‎

Djaja menyarankan, Pemerintah untuk lebih fokus kepada menghentikan semburan lumpur bukan hanya membuang atau menglirkan lumpur ke Kali Porong yang nantinya justru akan berpotensi bisa merusak ekosistem air dan mengakibatkan pencemaran lingkungan. Meski demikian atas digunakannya teori yang ia ciptakan itu digunan, dirinya tidk mau mempermasalahan nya, namun ia sedikit kecewa kalau teori tersebut tidak diakui itu adalah teori bernama Bernoulli.

"Wong mengakui saja tidak kok, tapi teori ini digunakan iya. Kita itu disegala bidang disegala tempat harus sportif. Kepada siapapun kalau kita mau maju, pasti maju," cetusnya.

Menurutnya, penanganan yang dilakukan PPLS terhadap seburan lupur Lapindo selama ini diakuinya hampir sama dengan teori Bernoulli (tekanan atas dan bawah seimbang), yang dicetuskan oleh Ir. Djaja Laksana, agar semburan bisa berhenti. Namun hal tersebut tidak dipermasalahkan oleh Djaja, asalkan Pemerintah mengakui secara resmi bahwa teori tersebut adalah teori Bernaoulli. ‎"Saya oke, biyar. Asal teori ini digunakan dan secara sportif diakui bahwa ini teori Bernaoli, saya sudah senang," ujarnya.‎

Perlu diketahui, proyek pengeboran minyak oleh PT. Lapindo Brantas di sumur Banjar Panji Satu yang saat itu tiba-tiba mengeluarkan Lupur bercampur air hingga akhirnya menenggelamkan hampir tiga kecamatan diwilayah selatan Kota Delta yakni Kecamatan Porong, Tanggulangin dan Jabon. Meski berbagai upaya sudah dilakukan namun hingga hari ini seburan tersebut belum juga berhenti total.‎ 

Sementara, dikutip dari voaindonesia.com, Para pakar geologi mengatakan lahar lumpur yang meletus di Sidoarjo, Jawa Timur sejak tahun 2006 akan terus memuntahkan lumpur dan gas selama paling sedikit 26 tahun lagi. ‎Lahar vulkanis yang dinamakan Lusi itu telah memaksa 40 ribu orang mengungsi dari rumah mereka dan mengubur seluruh desa-desa dengan lumpur yang tebal.

Para ilmuwan yang menulis dalam “Journal of Geological Society” yang berbasis di London menyimpulkan prediksi itu dengan menggunakan simulasi komputer yang didasarkan pada kegiatan seismik dan pelepasan gas yang kadang-kadang terjadi. Mereka mengatakan Lusi akan terus meletus dan lambat laun melemah sampai tahun 2037.

Pemerintah Indonesia dan para pakar terus mempedebatkan penyebab letusan itu.‎ Para pejabat mengatakan gempa bumi mengakibatkan letusan vulkanis itu sementara para ilmuwan menuduh proyek pengeboran yang tidak aman sebagai penyebabnya. (An)‎

dilihat : 35 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution