Jum'at, 22 Juni 2018 00:56:55 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 151
Total pengunjung : 400446
Hits hari ini : 1682
Total hits : 3639739
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sejarah GKJW Bondowoso
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 26 Juni 2016 08:21:36
Sejarah GKJW Bondowoso
Apa yang ada sekarang sesungguhnya tidak akan lepas dari masa lalu. Ada pepatah “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai dan belajar dari masa lalu, demikian juga dengan GKJW Jemaat Bondowoso. Greja Kristen Jawi Wetan [GKJW] Jemaat Bondowoso adalah Gereja yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat Madura dan merupakan gereja tertua di wilayah Kabupaten Bondowoso.

GKJW Jemaat Bondowoso adalah gereja yang tumbuh dan berkembang di lingkungan suku madura, sebelum lahir menjadi Jemaat kumpulan orang-orang percaya di wilayah Bondowoso dan Sumberpakem ( Orang –orang Madura yang percaya) adalah satu wilayah kerja pelayanan Pengkabaran Injil (PI ) oleh perkumpulan pekabaran injil "Java Comite" dengan pendeta utusan/ Zendelingnya pada tahun 1880.

Pendeta-pendeta zendeling bergantian bertugas di Bondowoso dan Sumberpakem. Bondowoso adalah lahan Pengkabaran Injil perkotaan karena Bondowoso adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda di Karesidenan Besuki sedangkan Sumberpakem adalah disebut lahan Pengkabaran Injil Pedesaan. Jarak Bondowoso dan Sumberpakem hanya + 15 Km; karena jarak yang tidak terlalu jauh itulah Bondowoso dan Sumberpakem dalam satu kegiatan pelayanan pada saat itu, dan sekarang Bondowoso dan Sumberpakem menjadi Jemaat sendiri-sendiri, tetapi tetap dalam satu pelayanan Majelis Daerah Besuki Barat.

GKJW jemaat Bondowoso adalah sebuah gereja Kristen terletak di kota Kabupaten Bondowoso, di Jalan Ahmad Yani No. 51/22 Bondowoso, Propinsi Jawa Timur. Secara geografis luas wilayah Bondowoso adalah 1.560,10 km 2 terletak di antara 7050,50" – 7056" lintang selatan dan 113048’27" – 113048’26" Bujur Timur dan batas wilayahnya adalah:
Sebelah Barat : Kabupaten Probolinggo dan Situbondo
Sebelah Utara : Kabupaten Situbondo.
Sebelah Timur : Kabupaten Banyuwangi.
Sebelah Selatan : Kabupaten Jember.

Kota Bondowoso berada di ketinggian 253 m dari permukaan laut berada di lereng gunung, dataran paling tinggi terletak pada 475 m dan dataran paling rendah 73 m, keadaan dataran sebesar 44,4%, pegunungan dan perbukitan 30,7% dan dataran rendah 24,9%.

Menilik pada sejarah pembangunan GKJW Jemaat Bondowoso, bahwa telah kita sadari bahwa warga Jemaat Bondowoso adalah tumbuh dan berkembangnya secara historis dari jemaat madura. Waktu itu Java Comite dengan gigih dan tidak kenal menyerah menyampaikan Pengkabaran Injil [PI] kepada masyarakat Madura khususnya di Bondowoso dengan mengutus pendeta utusan.

Pengkabaran injil di Bondowoso maupun di Sumberpakem terbilang kurang subur / proses tumbuh kembangnya lambat hal ini dikarenakan corak khas budaya suku Madura yang kental dengan adat istiadat ditambah lagi sikap Pemerintah Hindia Belanda yang kurang mendukung, tetapi jika dibandingkan dengan Bondowoso lahan Pengkabaran Injil [PI] di Sumberpakem relatif lebih lancar.

Lahirnya Jemaat Bondowoso pada 16 Agustus 1896


Pendeta pertama Jemaat Madura adalah Dr. J.P Esser [tahun 1880 – 1889] dan orang Madura pertama yang menerima Baptis Suci adalah Bp. Ebing [Sadin] pada tanggal 23 Juli 1882 di Slateng [kawasan Sumberpakem] . Tahun 1889 Dr. J.P Esser meninggal dan digantikan oleh Ds. Van Der Spiegel dari tahun 1889 sampai 1919.

Dalam perjalanan pelayanannya Ds. Van Der Spiegel membeli tanah dan membangun berbagai bangunan [Pastori, Sekolah dan Balai Pengobatan] serta membangun sebuah Rumah Ibadah [Gereja] di Bondowoso di atas tanah yang dia beli [sekarang menjadi GKJW Jemaat Bondowoso yang berlokasi di Jl. A. Yani 51- Dabasah Bondowoso]. di bangun pertama kali pada 30 September 1895 dan selesai dibangun pada tahun tahun yang sama. Setahun kemudian tepatnya pada 16 Agustus 1896 orang suku Madura pertama yang bernama Amin yang berasal dari Desa Cumedak, kecamatan Ambulu – Kabupaten Jember [sekarang] menerima Baptis Suci di Gereja Bondowoso yang dilayani oleh Ds. Van Der Spiegel. Sejak saat itulah [setiap 16 Agustus] dinyatakan sebagai lahirnya Jemaat Bondowoso.

Jadi Usia Jemaat GKJW Bondowoso pada tahun 2011 berusia 116 tahun. Usia yang sangat tua bagi sebuah iman dan organisasi gereja, Bagi manusia semakin tua menjadikan semakin lemah tetapi bagi pertumbuhan iman adalah suatu pendewasaan dalam iman. Hal ini mematahkan pendapat yang mengatakan bahwa di GKJW tidak ada Roh Kudusnya; fakta membuktikan selama 114 tahun GKJW tetap bertumbuh dan hidup ditengah-tengah suku madura itu semua berkat kasih dan anugerah Kristus Yesus semata, GKJW Bondowoso bisa ada sampai sekarang [114 tahun] juga berkat adanya karya Roh Kudus di dalamnya.

Pada tahun 1900 jumlah orang Kristen suku Madura yang dibaptis di Bondowoso mencapai 38 orang / jiwa; di Sumperpakem sendiri sebanyak 43 orang/ jiwa.

Perkumpulan / persekutuan Pengkabaran Injil di tanah Jawa Timur Java Comite

Java Comite muncul berawal dari upaya balas budi [Belanda] kepada orang-orang Jawa , maka pada 19 Oktober 1854 J. Esser mendirikan Java Comite di Amsterdam [Belanda]. Java Comite adalah suatu badan usaha yang berperan sebagai pencari dan penyandang dana kepada orang-orang [donatur] Indo-Eropa dalam kegiatan Pengkabaran Injil [PI]. Dalam pelayanan Java Comite di Jawa, bekerja sama dengan pengaturan badan Zending untuk orang Belanda dan Pribumi [Genootschap Van In En Uitwendige Zending] yang berkedudukan di Batavia [1851]. Lembaga Java Comite ini memberikan bantuan Zendeling tukang, atas utusan Gossner, Heldring dan Witteveen. Daerah yang dituju adalah komunitas madura dan sekitarnya; Kepada komunitas madura di Bondowoso dan di Sumberpakem dengan mendirikan sekolah dasar.

Het Java Comite atau Komite Jawa yang membiayai Pengkabaran injil serta berperan mengatur pengiriman pendeta utusan [Zendeling] ke Indonesia khususnya kepada orang suku Madura di kawasan Jawa Timur bagian Timur yang berkedudukan di Bondowoso. Bondowoso adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda di kawasan Karesidenan Besuki.

Java Comite adalah pintu gerbang Pemashuran Injil kepada suku Madura sehingga lahir jemaat -jemaat Madura antara lain Jemaat Sumberpakem ( 1882); Jemaat Bondowoso [1896]. Wilayah pelayanan Java Comite adalah Slateng, Kayu Mas, Bremi, Pulau Kangean [timur Pulau Madura]. Program Java Comite adalah melayani orang-orang Belanda yang mulai meninggalkan imannya.

Pelayanan Java Comite adalah "Personal Evangelism" atau "Individual Witness" yaitu dengan melibatkan warga jemaat untuk ikut bersaksi. Pendekatan tersebut diikuti dengan sarana dan prasarana berupa brosur , Pendirian gedung sekolah, pendirian gereja, pendirian balai pengobatan, pastori dll, serta pendekatan spiritual dengan mengadakan ersekutuan doa, ibadah keluarga / perkunjungan. Pola pelayanan Java Comite ini ternyata tidak jauh berbeda dengan Pelayanan yang dilakukan oleh Nederlandsche Zendiling Genootschap /NZG. NZG juga sebuah perkumpulan pengkabaran injil seperti Java Comite yang wilayah kerjanya di Jawa Timur bagian barat yang berkedudukan di Jemaat Mojowarno.

Fakta membuktikan bahwa para pendeta utusan [Zendelingen] dari Java Comite juga menjalin hubungan dengan NZG di Mojowarno. Sebagai saudara seiman antara NZG dan Java Comite ibadarat keluarga dan saudara, saling mengunjungi. Hal inilah sehingga ketika NZG berupaya menggabungkannya dalam satu wadah Majelis Agung tidak ada hambatan.

Pendeta Utusan Java Comite

I. Pendeta Pertama Jemaat Madura
Pendeta pertama Java Comite di Bondowoso adalah Ds. Dr. J.P Esser [Putra pdt. J.Esser] yang bertugas pada tahun 1880 s/d 1889. Ds.Dr.J.P Esser setelah menyelesaikan pendidikan Teologi ia melanjutkan study kedokteran di Skotlandia ia menerima permintaan untuk melayani Jawa. Pada 3 September 1879 Dr.J.P Esser ditetapkan dalan kedudukan sebagai Zendeling. Setalah tiba di Jawa untuk beberapa waktu ia singgah di Mojowarno dan Swaru [NZG] sebagai langkah persiapan diri sebelum tiba di tengah-tengah komunitas orang madura.

Pada bulan September 1880 Dr.J.P Esser tiba di Bondowoso dan memilih tinggal di Sumberpakem. Ia mendirikan sekolah dasar dan merawat orang sakit sebagai media untuk kesaksian. Tetapi sayang orang -orang madura hanya mau menerima pelayanan kesehatan dan pendidikan saja tetapi tidak mau mendengar kesaksian Dr. J.P Esser. Bahkan sekolah dasar mulai ditinggalkan murid-muridnya. Pdt. Drm J.P Esser mempunyai seorang murid yang setia, yang bernama Sadin, setlah dewasa Sadin lebih popoler dengan sebutan Pak Ebing karena anak pertamanya bernama Ebing. Melalui ketekunannya Pak Ebing [Sadin] dipakai Roh Kudus untuk mengenalkan karya Kristus kepada suku Madura.

Mula-mula pak Ebing dibaptis oleh Pdt. Dr. J.P Esser pada 23 Juli 1882 dan menjadi orang Kristen pertama di kawasan itu [pada 23 Juli 1882 sebagai lahirnya jemaat Sumberpakem], dan selanjutnya pada 1884 saudara-saudara Pak Ebing juga menerima Baptis yaitu Pak Sonidin, Pak Kaniso, Mbok Bangsa, Masora dll. Pak Ebing membantu Pdt. Dr. J.P Esser dalam menterjemahkan Alkitab dalam bahasa madura, juga membantu mengabarkan Injil ke daerah-daerah, sehingga pada tahun 1887 sudah ada 14 orang percaya di Sumberpakem. Ketika Pdt. Dr. J.P Esser cuti panjang ke Belanda Pak Ebing dijadikan pemimpin komunitas kristen di Sumberpakem, bahkan Pak Ebing di ijinkan melayani sakramen dan sebagai guru pengganti di sekolahnya. Karena jerih payahnya pada 1900 jumlah orang kristen di Sumberpekem berjumlah 43 orang.

Ketika Pdt. Dr. J.P Esser akan pulang ke Nederland terlebih dahulu ia menabiskan Pak Ebing menjadi pendeta. Jadi Pak Ebing [Sadin] ini adalah pendeta pertama bumi putra yang ditabiskan secara resmi di Jawa Timur. Tetapi Pak Ebing menggunakan Jabatannya sebagai pendeta jika tidak ada pendeta utusan Java Comite. Pak Ebing melayani Tuhan dengan tulus selama 45 tahun dan meninggal dunia pada tahun 1928. Sedangkan Pdt. Dr. J.P Esser meninggal dunia pada tahun 1889 di Nederland.

I. Ds. Van Der Spiegel (1889-1919)
Selanjutnya Java Comite mengutus Ds. Van Der Spiegel yang berkedudukan di Bondowoso, karena Bondowoso adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda dan lahan pengkabaran injil yang lebih luas jangkauannya : Orang Madura- orang Cina- orang Ambon dll yang tinggal di Bondowoso, dalam pelayanannya Van Der Spiegel juga melayani Sumberpakem.. Pada tahun 1895 Van Der Spiegel membeli tanah dan membangun berbagai bangunan [Pastori, Sekolah dan Balai Pengobatan] serta membangun sebuah Rumah Ibadah [Gereja] di Bondowoso di atas tanah yang dia beli [sekarang menjadi GKJW Jemaat Bondowoso yang berlokasi di Jl. A. Yani 51- Dabasah Bondowoso]. Gedung Gereja tersebut selesai dibangun pada tahun 1895. Setahun kemudian tepatnya pada 16 Agustus 1896 orang suku Madura pertama yang bernama Amin yang berasal dari Desa Cumedak, kecamatan Ambulu – Kabupaten Jember [sekarang] menerima Baptis Suci di Gereja Bondowoso yang dilayani oleh Ds. Van Der Spiegel. Sejak saat itulah setiap 16 Agustus dinyatakan sebagai lahirnya Jemaat Bondowoso.

Pada tahun 1900 jumlah warga madura di Bondowoso yang menjadi percaya sebanyak 38 orang. Van Der Spiegel mengangkat Bp. Paulana [Indo- Jerman] menjadi Guru Injil dan sebagai guru sekolah. Kemudian Bp. Amin [suku Madura] diangkat menjadi Guru Injil menggantikan Bp. Paulana, kemudian Mudiman [Cina], Sanidin, Painten; mereka diberi pekerjaan di balang pengobatan dan membantu Pengkabaran Injil di Kayu Mas. Pada 22 Agustus 1918 Yosafat Paulana [Putra Paulana] diangkat menjadi Kepala Sekolah di Bondowoso dan diangkat menjadi Guru Injil dan menolong orang sakit. Sedangkan yang membantu bagian Komportir adalah Bp. Markus Simon, Bp. Yosian Pradoto, Bp. Pilipus Kaeden , Bp. Sastro dan Bp. Djajimah.

Pada tahun 1905 terjadi perjumpaan antara Van Der Spiegel dengan orang-orang kristen jawa yang membuka lahan hutan di daerah Lumajang, ternyata orang-orang tersebut berasal dari Kertorejo dan parerejo [naungan NZG] yang berpindah ke Timur dan Selatan untuk membuka hutan, dari sini lahirlah jemaat jemaat :
Jemaat Tunjungrejo [1897]; Jemaat Rejoagung [1907]; Jemaat Sidoreno [1905], Jemaat Sidorejo [1905]; Jemaat Sidomulyo [1936]; Jemaat Tulungrejo [1913]; Jemaat Purwodadi [1915]; Jemaat Pesanggaran [1943]; Jemaat Wonorejo [1929]; Jemaat Ranurejo [1923].

Dari Perjumpaan dengan orang-orang Kristen tersebut [naungan NZG], terjalan kembali hubungan antara Java Comite dengan NZG [A. Kruyt dari Mojowarno], dikarenakan jarak pelayanan yang jauh dari Majowarno akhirnya NZG menyerahkan pelayanan jemaat-jemaat baru tersebut kepada Java Comite [Van Der Spiegel] yang lebih dekat jaraknya daripada Mojowarno. Dari Sini Program Pengkabaran Injil Java Comite yang semula untuk suku Madura bergeser ke orang-orang jawa.Pada tahun 1919 Van Der Spieagel jatuh sakit dan meninggal dunia kemudian di makamkan di Bondowoso. Seiring dengan pembangunan Kantor Pemda Bondowoso dengan memindahkan makam Belanda; atas usul Jemaat Bondowoso maka Kerangka Alm Van Der Spiegel dipindahkan dari Makam Belanda ke Makam GKJW Bondowoso [Jl. Jambu] pada tahun 1975 dengan upacara khusus.

III. Ds. O. De Dekker [1891]
Selanjutnya Java Comite mengutus Ds. O. De Dekker sebagai pendetan Zendeling di Bondowoso, juga melayani di Sumberpakem. Beliau tidak lama di Bondowoso karena istrinya sering sakit-sakitan sehingga harus kembali ke Nederland.

IV. Ds. H. Hendriks [1897 - 1908]
Ds. H. Hendriks berkedudukan di Sumberpakem dan Slateng. Tidak banyak data tentang Ds. H. Hendriks.

V. Ds. F. Schelfhost [1905-1932]
Ds.F. Schelfhorst menggantikan Ds. H. Hendriks, pada tahun 1912-1931 melayani di Pulau Kangean [Utara pulau Madura] namun hasil Pengkabaran Injil di sana nihil [tidak berhasil], kemudian pada tahun 1932 ditugaskan kembali ke Bondowoso. Ds.F. Schelfhorst tinggal di Bremi - Kraksaan- Probolinggo setelah memasuki masa pensiun [1935] Wilayah pelayanannya dalah Bremi, Kayu Mas, Klampokan.

VI. Ds. H.W.Van Den Berg [1924-1942]
Ds. H. W. Van Den Berg ditawan oleh Jepang sampai beliau meninggal pada 1942. Pada Masa hidupnya beliau tinggal di Jember.Pada masa penjajahan Jepang Gedung Gereja hampir dijadikan tempat penyimpanan garam, tetapi diselamatkan oleh Pdt. Suitela.

Masa Penjajahan Jepang

Pada tahun 1942 atau zaman Jepang, kegiatan Zending terpaksa berakhir. Dalam Konferensi NZG dan Java Comite memutuskan menunjuk Greja Kristen Jawi Wetan [GKJW] sebagai satu-satunya ahli waris dari pekerjaan Zending [16 Mei 1942].

Bukti bahwa GKJW sebagai ahli waris [Bondowoso] tertuang dalam Nota Rieel-Akte Pemindahan dan Penyerahan Hak Milik, yang menyatakan bahwa Badan Hukum "Het Java Comite" memberikan hak milik khusus Bondowoso berupa:
1. Eigendom, perpondeng no. 7 dan 1260 terletak di Bondowoso , Kampung Dabasah.
2. Eigendom, perpondeng no. 637, terletak di Bondwoso - Kampung Dabasah
3. Eigendom, perpondeng no. 1663 dan 711 terletak di Kampung Dabasah
4. Eigendom, perpondeng no. 747 terletak di Bondowoso- Padukuhan Pakuwesi - Desa Tjoerahdamie.

GKJW JEMAAT BONDOWOSO MENGGABUNGKAN DIRI DALAM LEMBAGA MAJELIS AGUNG GKJW [MA GKJW] PADA TAHUN 1940.

GEMBALA GKJW JEMAAT BONDOWOSO :
1. Pdt. R. Nugroho S [1936 - 1940]
2. Pdt. R. Suatmadi [1940]
3. Pdt. Darmo [1940 - 1942]
4. Pdt. Alpeus Kaeden [1942 - 1946]
5. Guru Injil Suitella/GPIB [1942 - 1946]
6. Pdt. Markus Kaeden [1946 - 1967]
7. Pdt. R. Atmodjo [1968 - 1975]
8. Pdt. Supandri, S.Th [1976 - 1981]
9. Pdt. Kristanto S, S.Th [1982 - 1985]
10. Pdt. Widayat Misro [1985 - 1992]
11. Pdt. Soegiri Sahijoes [1992 - 1996]
12. Pdt. Sardji, S.Th [1996 - 2002]
13. Pdt. Muryo Djajadi [2002 - 23 Oktober 2011]
14. Pdt. Hutomo Suryo Widodo, S.Th [23 Oktober 2011 - 02 September 2012]
15. Pdt. Hari Sabda Winedar, S.Th [02 September 2012 - sekarang]

Sumber: http://gkjwbondowoso.blogspot.co.id/2011/07/sejarah-gkjw-bondowoso.html
Sumber:

dilihat : 3235 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution