Jum'at, 22 Juni 2018 00:50:23 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 151
Total pengunjung : 400446
Hits hari ini : 1644
Total hits : 3639701
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sejarah Awal Permulaan GKJW Jemaat Sidotopo
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 07 November 2014 10:18:14
Sejarah Awal Permulaan GKJW Jemaat Sidotopo
SEJARAH AWAL PERMULAAN GKJW JEMAAT SIDOTOPO, SURABAYA

Salam Kasih Didalam Tuhan Yesus Kristus,

Pendirian/ Sejarah terbentuknya GKJW Jemaat Sidotopo-Surabaya tidak terlepas dari peran penting pendiri dan para jemaat mula-mula waktu itu, GKJW Jemaat Sidotopo adalah Jemaat yang bisa dikatakan muda usia didalam jajaran berdirinya gereja-gereja GKJW dimanapun, meskipun dikatakan dan dikategorikan masih muda namun keberadaan gereje ini sudah dikenal sejak lama keberadaannya jauh sebelum para pengerja/ majelis jemaat yaang sekarang ini muncul dan melayani, banyak tokoh yang terdahulu yang sudah asing dikenal oleh jemaat GKJW Jemaat sidotopo masa kini namun kiprah dan pelayanannya sudah ada sejak sekitar era tahun 1965an waktu itu, untuk menjelaskan asal-muasal terbentuknya jemaat di GJKW Jemaat Sidotopo tentu kita tidak hanya melihat dari saat GKJW Jemaat Sidotopo-Surabaya tersebut "ditahbiskan" menjadi jemaat baru GKJW, karena ada pepatah bahwa Gereja yang besar adalah gereja yang selalu mengenang dan menghargai para pendirinya yang sejak dulu ada dan melayani dan menghargai para pendirinya terdahulu.

Guna menjelaskan sejarah berdirinya Gereja yang saat ini dikenal dengan GKJW Jemaat Sidotopo-Surabaya, untuk itu juga ditulis secara runtut dan obyektif guna melengkapi runtutan sejarah yang ada. GKJW khususnya GKJW Jemaat Sidotopo merupakan Gereja bercirikan daerah (Jawa) dengan mengutamakan cirinya yaitu gereja Prebisterian Christian Church (gereja aliran Prebisterian) yang Pada saat itu sekitar tahun 1965, muncul beberapa tokoh pendiri demikian ada seorang kristiani yang bergabung dengan GKJW Jemaat Surabaya (GKJW Pasamuwan Surabaya, Pada saat itu) bernama bapak Eswoto Suwita(alm) (termasuk Wilayah 1 GKJW Jemaat Sidotopo) adalah seorang pegawai PJKA waktu itu, bertempat tinggal di jalan Sidotopo Wetan ( 1-D ) Dalam No. 28 Surabaya saat itu beliau adalah ketua paguyuban olahraga bola volly di wilayah Sidotopo Wetan dengan lapangan latihan pada saat itu di Jalan Platuk (yang saat ini telah menjadi rumah), kemudian pada saat pertemuan olah raga rutin bola Volly, bapak Eswata Suwita(alm) berkenalan dengan bapak Diroen Dirowidodo(alm) seorang anggota TNI-AL yang tinggal dijalan platuk saat itu yang memiliki istri seorang kristiani bernama ibu R.Ng.Poerwantini yang sama-sama menggemari kegiatan olahraga bola Volly, karena mengetahui bapak Diroen Dirowidodo (alm) adalah seorang yang belum percaya Tuhan Yesus saat itu maka bapak Eswata Suwita saat itu berniat melakukan penginjilan kepada bapak Diroen Dirowidodo(alm) dengan maksud mengajak untuk menjadi kristen dan secara terpisah dengan waktu yang tidak bersamaan (di lain kesempatan) saat itu bapak Eswata Suwita berniat menginjili para calon jemaat mula-mula yang belum masuk kristen antara lain ada juga Bapak Mujiono adalah seorang anggota TNI-AL yang beralamat Sidotopo Wetan (diwaktu kemudian bapak Mujiono pindah domisili beberapa tahun setelah baptis dan jarang bergabung lagi dengan ibadah yang diketuai bapak Eswata Suwita), bapak Prihadi (GKJW Jemaat Sidotopo Wilayah 2) adalah seorang anggota TNI-AL yang beralamat Jalan Sidotopo Sekolahan, Bapak Yusak Witoyo (GKJW Jemaat Sidotopo Wilayah 1) yang juga seorang anggota TNI-AL beralamat Jl. Sidotopo Wetan, Bapak Kasael(alm) (GKJW Jemaat Sidotopo Wilayah 2) adalah seorang yang bekerja dibidang Pelayaran yang beralamat Sidotopo Wetan dan bapak Setuarto(alm) (GKJW Jemaat Sidotopo Wilayah 1) adalah seorang pegawai Pertamina yang beralamat Jalan Sidotopo Wetan serta bapak Jumiran(alm) (GKJW Jemaat Sidotopo Wilayah 2) yang saat itu bertempat tinggal di Tenggumung, para calon jemaat kristen tersebut sangat antusias menjadi kristen. Kemudian dari hasil penginjilan tersebut calon jemaat mula-mula yaitu bapak Diroen Dirowidodo(alm) karena keaktifannya mengantar istrinya yaitu ibu R.Ng.Poerwantini kegereja (GKJW Jemaat Surabaya atas arahan beribadah dari bapak Eswata Suwita ) yang memang adalah seorang kristiani, maka bapak Diroen Dirowidodo(alm) kemudian dibaptis menjadi seorang kristen dan dengan sekaligus peneguhan kawin secara kristiani pada tahun 1968 (karena sebelumnya pernikahan bapak Diroen Dirowidodo (alm) dilakukan secara muslim), baptisan tersebut juga diikuti oleh bapak Mujiono, sehingga ada 2 (dua) pasangan suami-istri pertama yang dibaptis dan diteguhkan kawinnya secara kristen, hal ini adalah baptisan mula-mula pada jemaat mula-mula pada saat itu hasil penginjilan bapak Eswoto Suwito. Baptisan kemudian diikuti secara beruntut kemudian oleh pasangan bapak Yusak Witoyo, pasangan Bapak Prihadi, pasangan Bapak Jumiran(alm), pasangan bapak Setuarto(alm), pasangan bapak Kasael(alm), baptisan dilakukan di GKJW Jemaat Surabaya, yang kemudian pasangan kristiani baru terbentuklah kelompok kecil yang terdiri dari 7(tujuh) keluarga beserta anak keluarga masing-masing termasuk keluarga bapak Eswata Suwita(alm).

Pada saat itu 7 keluarga ini menggabungkan diri di GKJW Jemaat Surabaya dengan diketuai bapak Eswata Suwita(alm) sekitar tahun 1971, sehingga praktis penggembalaanya pada GKJW Jemaat Surabaya. Pada saat itu wilayah di GKJW Jemaat Surabaya yang terdekat adalah Blok 6 yang meliputi wilayah Kenjeran, Rangkah, Kapas Krampung, Ngaglik, Kapasan, Tambak Segaran dan sekitarnya yang merupakan daerah yang terdekat dengan wilayah dari 7 keluarga tersebut maka bergabunglah 7 Keluarga tersebut ke GKJW Jemaat Surabaya Blok 6 yang pada saat itu ketua Blok 6 - nya adalah bapak Tayib yang tinggal didaerah Karang Empat, saat itu Blok 6 memiliki gedung ibadah sendiri yang berguna sebagai tempat ibadah kegiatan Blok 6 sendiri yaitu kemudian disebut Balai Pertemuan Gading (yang kemudian dijual dan dibeli Gereja Bethel Karang Empat). Setiap ada kegiatan Blok 6 maka 7 keluarga tersebut datang beribadah di Balai Pertemuan Gading tersebut.

Saat itu perkembangan jemaat kristiani semakin banyak, hal itu dilihat dari jumlah warga yang beribadah dan yang dibaptis semakin meningkat. Dalam perkembangannya kemudian bapak Eswata Suwita(alm) diteguhkan menjadi Guru Injil. Perkembangan dari 7 Keluarga mula-mula tersebut semakin berkembang dengan seiring penginjilan oleh masing-masing dari 7 keluarga jemaat mula-mula tersebut, karena 7 keluarga mula-mula masih belum memiliki tempat untuk melayani ibadah anak-anak maka sering ibadah sekolah minggu di lakukan dirumah bapak Diroen Dirowidodo(alm) yang saat itu di jalan Platuk ( mengingat 7 keluarga mula-mula tersebut sangat mengutamakan pertumbuhan iman oleh anak-anak sehingga diadakan sekolah minggu meskipun seadanya/ sederhana saat itu ), dan juga ibadah anak-anak sekolah minggu juga dilayani oleh bapak Tayib seorang guru STM (masih hidup sampai sekarang warga GKJW Jemaat Surabaya), dan ibu Poerwantini (istri dari bapak Diroen Dirowidodo juga turut serta menjadi pelayan sekolah minggu). Peran masing-masing jemaat mula-mula tersebut membuahkan hasil dengan mengenalkan Kristus kepada warga non kristen di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing untuk dibaptis di GKJW Jemaat Surabaya.

Berkembangnya jemaat mula-mula tersebut kian semakin bertambah banyak sehingga jemaat hasil penginjilan 7 keluarga masing-masing tersebut dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu Kelompok Sidotopo, Kelompok Sidomulyo, Kelompok Granting (seiring dengan waktu yang kemudian menjadi kelompok Sidotopo I dan kelompok Sidotopo II). Karena semakin pesatnya jemaat maka Tuhan memberkati dengan memiliki tanah di Sidotopo Indah dan dari Kelompok lain memiliki Balai Pertemuan di Tenggumung Baru Selatan, di sisi lain karena begitu pesat pertumbuhan jumlah jemaatnya Blok 6 (waktu itu juga kemudian Blok 6 memiliki perwakilan majelis yaitu bapak Diroen Dirowidodo (alm), bapak I Wayan Elisah, bapak Setijo Muljo, bapak Joanwas Lahoe, semua majelis ini adalah juga merupakan majelis jemaat mula-mula di Blok 12 waktu itu) maka Blok 6 dibagi menjadi 2 (dua) yaitu Blok 12 dan Blok 13 (sekarang GKJW Jemaat Mulyosari).

AWAL PEMBENTUKKAN DARI MENJADI BLOK KE JEMAAT SIDOTOPO

Kemudian para jemaat mula-mula masuk dan kemudian disebut Wilayah Blok 12 GKJW Jemaat Surabaya yang kemudian Blok 12 diketuai oleh bapak Drs. Joanwas Lahoe, saat itu Wilayah Blok 12 memiliki gedung sebagai tempat ibadah yang dikenal dengan Balai Pertemuan di Tenggumung Baru Selatan namun demikian karena ada keberatan oleh masyarakat sekitar tentang ibadah yang dilakukan oleh jemaat Blok 12 dengan masyarakat disekitar Balai Pertemuan di Tenggumung Baru Selatan maka dari kesepakatan jemaat saat itu dijual-lah Balai Pertemuan di Tenggumung tersebut untuk membangun pembangunan tanah di Sidotopo Indah, bangunan awal yang didirikan adalah berupa bangunan belum permanen pada Gereja saat itu sekitar tahun 1980an, waktu itu jemaat Blok 12 sangat bersemangat karena memiliki tanah yang hendak dibangun meskipun jemaat bersepakat dengan menggunakan dana pembangunan bersama untuk membangun gedung gereja. Peningkatan jumlah jemaat Blok 12 yang semakin banyak maka sekitar tahun 1989 atau awal 1990 jemaat Blok 12 berniatan untuk menjadi Pasamuwan baru (Jemaat baru), kemudian Blok 12 berubah nama menjadi GKJW Calon Pasamuwan (Capas) Sidotopo kemudian berubah nama menjadi GKJW Calon Jemaat (Cajem) Sidotopo, saat itu sekitar tahun 1994 bangunan gereja sudah didirikan Pilar gedung gereja dan atap dengan genting namun belum ada temboknya secara penuh, namun upaya jemaat sangat tinggi untuk memiliki gedung gereja sendiri. Tahun 1996 terjadi peristiwa pengerusakan yang berbau agama yang terjadi di Surabaya utara yang mana beberapa gereja surabaya wilayah utara banyak mengalami pengerusakan dan penjarahan terhadap perlengkapan gereja, Peristiwa Surabaya (Minggu Kelabu), 9 Juni 1996, dimana 10 gedung Gereja dihancurkan di daerah Sidotopo oleh massa sebanyak ribuan masa disertai penjarahan.

Gereja yang dirusak adalah : salah satunya GKJW Cajem Sidotopo. Dengan pengerusakan tersebut maka keprihatinan kaum kristiani memberikan dukungan dan sumbangan baik berupa moril maupun materiil sehingga dengan waktu 1 tahun sejak peristiwa pengerusakan tersebut banyak sekali donatur yang lebih tergerak untuk memantapkan / meneruskan pekerjaan pembangunan gereja GKJW Cajem Sidotopo baru sekitar tahu 1997 GKJW Calon Jemaat Sidotopo memantapkan diri memiliki gedung gereja dan menyakinkan diri menjadi gereja dengan jemaat yang mandiri, seiring dengan itu juga GKJW Jemaat Sidotopo sendiri juga memiliki anggota/ jemaat yang berasal/ sebelumnya berasal dari bermacam-macam gereja yang ada antara lain GKI, GKJW Jemaat lain, GPIB, HKBP, Gereja Tiberias, GBI, Gereja Bethany dan gereja lainnya akibat dari perkawinan dan perpindahan jemaat anggota jemaat GKJW Jemaat Sidotopo maupun jemaat gereja lain yang ingin beribadah dan/atau menjadi anggota GKJW Jemaat Sidotopo, kemudian tahun 1998 tepatnya tanggal 18 Oktober GKJW Cajem Sidotopo resmi menjadi GKJW Jemaat Sidotopo.

Seiring dengan perkembangan yang ada, GKJW Jemaat Sidotopo mengalami berbagai perubahan dan pendewasaan yang ada sehingga perubahan itu menjadi ide dan ciri tersendiri dari keberadaan GKJW Jemaat Sidotopo ditengah-tengah masyarakat, GKJW Jemaat Sidotopo pada hakikatnya merupakan Gereja beraras daerah yang memiliki ciri tersendiri yang mengutamakan prinsipnya yaitu “Patunggilan ingkang Nyawiji” meskipun berlatar belakang dari beberapa etnis namun GKJW Jemaat Sidotopo tetap menjadi idialis gereja jawa di Indonesia. Mulai tahun 1970 sampai dengan tahun 1990, Pada sosok penggiat gereja yang selanjutnya muncul setelah masa terkemudian pembaharuan gereja GKJW Jemaat Sidotopo seiring waktu diantaranya : bapak Moelyono; bapak Sutiman; Drs. Jatiman; bapak Sukemi; dan para penggiat gereja serta tokoh baru yang muncul seiring dengan pemilihan Pengerja/ Majelis Jemaat tiap "Dauran" yang silih berganti yang baru antara lain bapak A. Djabar; ibu Abdullah WS lanjut lama terkemudian setelah saat diresmikannya GKJW Capas Sidotopo menjadi GKJW Jemaat Sidotopo sekitar tahun 1997 akhir kemudian muncul para pelayan majelis jemaat baru yang berkiprah terkemudian dengan nama-nama penggiat gereja seperti ibu Magdalena S; bapak Djono; bapak Lanjar Winarso; bapak Sugianto; bapak Wajib Tulus; bapak M.Suparno; ibu Pudji; bapak A. Djabar; ibu Siswanto; ibu Wiiwik W; dan pengerja majelis jemaat lainnnya yang dikenal kemudian oleh warga jemaat sebagai Majelis penggiat gereja baru lainnya yang berkecimpung dipelayanan kegerejaan di GKJW Jemaat Sidotopo, baru diera tahun 2001 keatas muncul nama-nama pelayan majelis jemaat yang memiliki kerinduan melayani Tuhan antara lain bapak D. Agus; bapak Pramono B.; bapak ibu Budiman dan para majelis jemaat yang senantiasa melayani Tuhan dengan multi pelayanan dan talenta maka gereja GKJW Jemaat Sidotopo semakin berkembang mengikuti dinamika masyarakat yang berkembang.

MASA KINI

GKJW Jemaat Sidotopo semasa sejak diresmikan menjadi Jemaat baru telah mengalami 3 (tiga) masa kepemimpinan pendeta yakni : Pendeta pengampu yaitu Pdt. Widodo Kamso kemudian ke Pdt. Edy Prasetyaningsih kemudian Pdt. Tyas R. Djoar Kemudian Pdt. Sudjianto (yang merupakan pendeta Konsulen GKJW Jemaat Sidotopo berasal dari GKJW Jemaat Bangkalan). Pendeta yang ditugaskan dari Majelis Agung GKJW ditempatkan di GKJW Jemaat Sidotopo diharapkan menjadikan gereja menjadi sarana pendewasaan jemaat, GKJW Jemaat Sidotopo kini memiliki 8 Wilayah yang tercakup wilayah sekitar Sidotopo Wetan, Granting Baru, Pogot Baru Pogot Lama, Kedung Mangu, Tembok, Tuwowo, Kedung Cowek, Pantai Mentari, Randu, Lebak, Kenjeran, Kapas, Tanah Merah dan sekitar daerah terdekat wilayah tersebut, meskipun hiruk pikuk masalah yang ada menjadikan jemaat dan GKJW Jemaat Sidotopo menjadi semakin dewasa dalam mewujudkan iman kepada Tuhan Yesus.

Demikian uraian singkat sejarah berdirinya Gereja GKJW Jemaat Sidotopo-Surabaya mula-mula hingga sampai pada saat dimantapkan dari GKJW Calon Pasamuwan (Capas) Sidotopo hingga menjadi GKJW Jemaat Sidotopo dengan kemajuan dan perkembangannya hingga saat ini (akhir 2012).

Dirangkum dari beberapa sumber, saksi-saksi dan narasuber pelaku sejarah.
Editor : Pdt. Prof. DR. Imanuel, Ph.D.

Sumber: http://forumjemaatkristen.blogspot.com/2012/12/sejarah-gereja-gkjw-jemaat-sidotopo.html

dilihat : 5418 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution