Jum'at, 22 Juni 2018 00:48:05 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 151
Total pengunjung : 400446
Hits hari ini : 1626
Total hits : 3639683
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Tahta Manusia
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 23 Juli 2014 08:14:23
Tahta Manusia

Kita membaca dalam Yesaya 6 : 1 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

Raja Uzia memiliki tahta, TUHAN memiliki tahta, setelah Raja Uzia mati, maka tahta TUHAN yang kelihatan.

Di dalam pembacaan ini ada dua macam tahta yaitu
Tahta manusia (tahtanya Raja Uzia) yaitu kekerasan hati (“hatiku adalah rajaku”).

Tahta TUHAN (tahta kemuliaan TUHAN).

Jika tahta manusia dihancurkan/mati, maka kita akan merasakan tahta TUHAN (hadirat TUHAN nyata ditengah-tengah kita). Selama kita mempertahankan tahta manusia, maka tahta TUHAN tidak akan kelihatan, jadi kita harus memilih salah satu.

Kekerasan hati ini harus dihancurkan pada saat ini (seperti Raja Uzia mati), supaya kita mengalami tahta TUHAN.

Wujud atau prakteknya keras hati/tahta manusia adalah
2 Tawarkh 26 : 16 – 18, (judulnya adalah Raja Uzia)
16. Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.
17. Tetapi imam Azarya mengikutinya dari belakang bersama-sama delapan puluh imam TUHAN, orang-orang yang tegas;
18. mereka berdiri di depan raja Uzia dan berkata kepadanya: "Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, karena engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN Allah karena hal ini."

Ayat 16  “ia” = raja Uzia. Semestinya yang membakar ukupan adalah imam, tetapi setelah Raja Uzia diberkati ia menjadi sombong/tinggi hati, sehingga ia sendiri yang membakar ukupan.

Praktek pertama adalah sombong. Sombong (setelah diberkati menjadi sombong) artinya mengangkat diri = merasa lebih dari orang lain (dari imam-
imam yang semestinya melayani), sehingga dia salah dalam tahbisan/pelayanan. Tahbisannya tidak sesuai dengan pengajaran yang benar.

Kalau pengajaran yang benar : imam-imam yang membakar ukupan, tetapi disini raja Uzia yang membakar ukupan. Ini berarti salah tahbisan (melayani
tetapi tidak sesuai dengan pengajaran yang benar/alkitab). Hati-hati ! Salah tahbisan/sombong ini terjadi juga dalam perjanjian baru (di akhir zaman).

Wahyu 2 : 19, 20,
19. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama.
20. Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.

Pada jemaat Tiatira (jemaat akhir zaman) terjadi lagi seperti pada raja Uzia (sombong)  mau melayani sembarangan, yang penting melayani tetapi tidak sesuai pengajaran yang benar.

Kesalahan tahbisan yang nanti akan terjadi lagi yaitu wanita boleh mengajar dan memerintah laki-laki (padahal dalam 1 Timotius 2 ini tidak diperbolehkan).
Seperti dulu TUHAN bilang  semua buah pohon di taman boleh kau makan buahnya dengan bebas, kecuali satu yang tidak boleh, ini artinya wanita boleh melayani apa saja, kecuali satu yaitu tidak boleh mengajar dan memerintah laki-laki. Inilah yang akan terjadi lagi di akhir zaman (meninggikan tahta manusia, bukan tahta TUHAN). Mungkin ada yang berkata  buktinya kita diberkati, buktinya gerejanya besar, padahal ini meninggikan tahta manusia, seperti raja Uzia merasa kuat, padahal sudah melanggar Firman (tahta manusia ditinggikan, sehingga tahta TUHAN tidak kelihatan). Semoga kita dapat mengerti.

Pada 2 Tawarikh 26 : 17 imam Azarya bersama 80 imam bersikap tegas (tidak peduli sekalipun itu seorang raja), demikian juga kita harus tegas jika ada yang salah, jangan mengatakan  tidak apa-apa, jangan ! Jadi kita harus tegas dalam tahbisan yang benar berdasarkan pengajaran yang benar sampai kita terangkat bersama YESUS. Pengajaran yang benar ini adalah alkitab. Jika tidak sesuai dengan alkitab, tidak boleh diikuti. Jika sesuai dengan alkitab itu harus dilakukan. Contohnya adalah Hawa melakukan satu hal saja yang tidak sesuai dengan Firman (memakan satu buah yang dilarang), akibatnya adalah habis, ditelanjangi.

Itu sebabnya, kita harus tegas, tidak peduli itu saudara kita dll, kita harus tegas dalam tahbisan yang benar berdasarkan pengajaran yang benar. Jadi semuanya harus benar. Salah satu penentu kita terangkat ke surga atau tidak adalah pelayanan/tahbsian yang benar berdasarkan pengajaran yang benar. Biarpun kita sudah melayani dan hebat, tetapi jika tidak sesuai dengan alkitab, maka kita tidak akan terangkat.


Markus 6 : 30, Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.

Jadi pelayanan itu tidak boleh dipisahkan dengan pengajaran yang benar (alkitab) dan ini harus sesuai. Bukan hanya ada bukti pelayanan yang maju, tetapi kalau tidak sesuai dengan pengajaran, bagaimana tanggung jawab kita kepada TUHAN ? Jadi ini harus dipertanggung jawabkan kepada TUHAN.

Kisah Para Rasul 1 : 1, 2,
1. Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus,
2. sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya.

Ayat 1  “segala sesuatu yang dikerjakan”  tahbisan.
“diajarkan Yesus”  pengajaran.
Tahbisan dan pengajaran ini menentukan kita terangkat atau tidak ! Kalau tahbisan dan pengajarannya seperti YESUS, maka pasti terangkat seperti YESUS. Kalau tahbisan dan pengajarannya tidak seperti YESUS  biarpun memiliki gereja yang besar, semuanya berhasil (yang jasmani), maka tidak akan terangkat bersama YESUS, sebab ini merupakan tahta manusia bukan tahta surga.

2 Tawarikh 26 : 19, Tetapi Uzia, dengan bokor ukupan di tangannya untuk dibakar menjadi marah. Sementara amarahnya meluap terhadap para imam, timbullah penyakit kusta pada dahinya di hadapan para imam di rumah TUHAN, dekat mezbah pembakaran ukupan.

Praktek kedua adalah marah terhadap teguran/nasihat Firman TUHAN. Saat raja Uzia ditegur/dinasehati oleh imam Azarya dan imam yang lain  “tidak boleh itu”, maka raja Uzia marah terhadap Firman pengajaran yang benar yang
bagai Firman yang lebih tajam dari pedang bermata dua, Firman ini memang tajam, sebab dapat menegur seorang raja. Seperti dalam perjanjian baru yaitu saat raja herodes mau mengambil istri saudaranya untuk menjadi istrinya, lalu Yohanes pembaptis langsung menegurnya  tidak halal kamu (inilah Firman), tetapi raja herodes mengamuk. Inilah jika raja mempertahankan tahta manusia.

Seharusnya kalau Firman menunjukkan kesalahan, dosa, keadaan kita, maka kita harus bersyukur kepada TUHAN  terima kasih TUHAN, ubahkan sayatolong saya. Untuk itu kita jangan keras hati.

Praktek yang ketiga adalah kusta (“timbullah penyakit kusta”).
Kusta adalah:
Dosa kenajisan (dosa makan minum dan kawin mengawinkan). Saudara bisa membaca di dalam Imamat 13, orang kusta itu menutupi mukanya, kalau ada orang yang lewat, maka mereka akan berkata  najis, najis, supaya orang tidak mendekat dengan dia. Jadi tahta manusia itu mempertahankan dosa makan minum dan kawin mengawinkan. Dosa makan minum adalah merokok, mabuk, narkoba. Dosa kawin mengawinkan adalah dosa sex, nikah yang salah.

Putih tetapi kusta. Semestinya putih itu benar. Jika putih tetapi kusta, maka ini namanya kebenaran diri sendiri.

Kebenaran diri sendiri artinya menutupi dosa = orang berdosa, tidak mau mengaku dosa, tetapi menunjuk / menyalahkan orang lain, bahkan sampai menyalahkan TUHAN / menyalahkan Firman pengajaran yang benar dengan mengatakan bahwa TUHAN tidak adil dll. Semoga kita dapat mengerti.

Jadi kalau yang ditinggikan adalah tahta manusia/keras hati (salah tahbisan, marah terhadap Firman/kusta), maka tidak ada tahta TUHAN. Mari malam ini, raja Uzia mati/tahta manusia hancur, baru tahta TUHAN kelihatan ini berarti kita harus menghancurkan tahta manusia/keras hati, supaya tahta TUHAN nyata didalam kehidupan kita.

Kekerasan hati/tahta manusia dihancurkan = kita bisa hancur hati supaya bisa ke tahta TUHAN. Jika kita keras hati, maka kita tidak bisa ke tahta TUHAN (tidak merasakan tahta TUHAN). Mari malam ini kita harus hancur hati, jangan keras hati, jangan pertahankan pelayanan yang salah  biarpun maju dll, tetapi kalau tidak sesuai Firman, itu berarti tidak ada tahta TUHAN. Itu sebabnya, kita harus tegas, terhadap pengajaran yang tidak benar. Semoga kita dapat mengerti.

Yesaya 57 : 15, Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.

Ayat 15  “”Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus”  tahta TUHAN.
“orang yang remuk dan rendah hati”  hancur hati.
Dia berada di tahta tinggi/surga, tetapi malam ini bisa bersama dengan kita, jika kita hancur hati (tahta surga pindah ditengah-tengah kita). Semoga kita bisa mengerti.

Praktek hancur hati adalah:
Mazmur 119 : 20, 22
20. Hancur jiwaku karena rindu kepada hukum-hukum-Mu setiap waktu.
22. Gulingkanlah dari atasku cela dan penghinaan, sebab aku memegang
peringatan-peringatan-Mu.

Ayat 20  hancur hati = merindukan Firman (rindu mendengarkan Firman) = menghargai Firman.
Jika digabungkan ayat 20 dan ayat 22, praktek hancur hati yaitu merindukan Firman pengajaran yang benar sampai mempraktekkan Fiman pengajaran yang benar, sehingga kita mengalami penyucian dari segala yang cela, hina (dosa-dosa) sampai tidak bercacat cela. Mari, saat-saat Firman diberitakan kita hancur hati = bisa menerima Firman.

Lukas 20 : 17,18
17. Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: "Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?
18. Barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur, dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk."

Ayat 17  YESUS yang disalib (yang dibuang) menjadi batu penjuru. Batu penjuru itu dikaitkan dengan korban Kristus. Batu penjuru = korban Kristus. Batu yang indah tetapi dibuang itulah YESUS yang disalib.

Ayat 18 “Barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur”  hancur hati.
“barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk."  jika tidak hancur hati, maka akan hancur dan binasa.

Praktek hancur hati adalah menghargai korban Kristus (“mau jatuh diatas batu penjuru”).

Bagaimana praktek menghargai korban Kristus ? mungkin ada yang berkata  jika saat perjamuan suci kita menangis, ya itu boleh, tetapi yang penting adalah prakteknya, jangan dinilai yang kelihatan saja, jadi harus sampai pada praktek.

Praktek menghargai korban Kritus adalah:
Mengaku dosa dengan linangan air mata = dengan kesungguhan = dengan hancur hati = dengan penyesalan kepada TUHAN dan sesama, jika diampuni jangan berbuat dosa.

Mengaku tidak berdaya (mengaku hanya tanah liat), tidak mampu berbu-at apa-apa dan hanya berharap kepada belas kasih, kemurahan, anugerah TUHAN semata-mata. Ini seperti bayi yang menangis. Bayi itu kalau lapar/sakit, hanya menangis (hanya berharap belas kasih TUHAN).

Sekarang ini kita harus selesaikan dosa dan kita berteriak kepada TUHAN (menyembah TUHAN). Seperti bayi yang hanya menangis kepada TUHAN (tidak
ada bahasa lain). Kita harus hancur hati seperti bayi, mau lapar, mau dalam kesulitan, apapun keadaan kita (baik dalam rumah tangga), pelayanan menghadapi kesulitan (bagi hamba TUHAN), maka kita harus menangis kepada

TUHAN  tidak ada bayi yang mengadu, tidak ada ! tetapi hanya menangis saja kepada TUHAN.

Contohnya adalah raja Hizkia saat divonis mati dan raja Hizkia menangis dengan sangat seperti bayi, padahal raja Hizkia adalah raja yang memiliki tahta. Siapa saya? Siapa kita yang mau keras hati, sebaiknya kita harus banyak menangis kepada TUHAN !

Yesaya 38 : 1 – 5,
1.Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.”
2. Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN.
3. Ia berkata: “Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu.” Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.
4. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya:
5. “Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi,

Ayat 3  “Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat”  seperti bayi. Misalnya saat-saat ramai begini, kita menangis, mungkin kita sudah berjaga-jaga, tetapi kalau bayi menangis, tidak peduli lagi, mau di pesawat atau mau dimana saja dia akan tetap menangis. Raja harus menjadi bayi, apalagi Wijaya/apalagi kita yang tidak memiliki apa-apa, untuk itu kita harus banyak menangis kepada TUHAN. Bagi kaum muda, masa depan nanti tidak tahu apa yang akan terjadi, karena itu harus banyak menangis  jangan banyak berbicara di sana-sini.

Disini raja Hizkia divonis mati oleh TUHAN. Yang memberi vonis ini bukan dokter, kalau dokter yang memberi vonis, masih ada TUHAN. Bagaimana jika TUHAN sendiri yang memberi vonis mati ? Bilang kepada Hizkia  kamu akan
mati dan tidak sembuh lagi. Kalau manusia/dokter yang memberi vonis, kita tidak boleh stress. Contohnya : tentang pekerjaan TUHAN, saya divonis dua kali. Saat di Malang (1)  gereja ini nanti akan hancur nanti dan di Surabaya juga (2)  nanti gereja itu akan tutup → tidaklah mengapa, menangis saja kepada TUHAN.

Sekali-pun TUHAN yang memberi vonis, tetapi kalau kita masih dapat menangis dengan sungguh-sungguh seperti Hizkia (ayat 5), maka TUHAN pun dapat berubah. Mungkin kita najis, kotor dan TUHAN sudah vonis binasa, tetapi jika kita hancur hati seperti bayi  TUHAN beri saya kesempatan, aku hanya


hidup karena anugerah Mu (karena korban Kristus), maka TUHAN masih memberi kita kesempatan.

Yesaya 57 : 15, 16,
15. Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.
16. Sebab bukan untuk selama-lamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan.

Mari jika kita hancur hati, TUHAN yang bersemayam di tahta surga akan datang ditengah-tengah kita dan bersama dengan kita.

Untuk apa TUHAN dari tempat yang tinggi turun?untuk:
memperhatikan, memperdulikan, bergumul bersama kita  orang lain tidak mau tahu, suami/istri/anak/orang tua tidak mau tahu,gembala/jemaat tidak mau tahu, kita tidak perlu berputus asa, sebab masih ada TUHAN. Justru kalau orang lain tidak mau tahu dan diijinkan TUHAN seperti itu  kita jangan bertengkar, tidak perlu! ini supaya kita tidak berharap orang lain, tetapi hanya berharap kepada TUHAN.

Contohnya adalah
Ada anak yang tidak diperhatikan orang tuanya.

Orang tua yang tidak diperhatikan anaknya  anak ku tidak perhatian padahal aku sudah tua.

Divonis dokter.
Kita tidak perlu mengamuk dll, ini diijinkan TUHAN supaya mata kita hanya tertuju kepada belas kasih TUHAN.

Hasilnya adalah
Belas kasih anugerah TUHAN memberi kekuatan kepada kita supaya kita tidak kecewa, tidak putus asa, tetapi tetap berseru kepada TUHAN dan tunggu waktu-Nya TUHAN.

Yesaya 57 : 18 Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung


Belas kasih anugerah kemurahan TUHAN sanggup memberi penghiburan dan kebahagiaan kepada kita.

Belas kasih anugerah TUHAN sanggup untuk menyelesaikan segala masalah kita, sampai yang mustahil. Seperti Hizkia yang sudah divonis oleh TUHAN akan mati dan tidak sembuh, tetapi masih dapat disembuhkan dan usianya diperpanjang lima belas tahun lagi.

Jadi rahasianya adalah tahta manusia harus roboh (jangan keras hati) : Jika ada yang salah : pelayanannya salah, ibadahnya salah, pengajarannya salah (tidak sesuai dengan pengajaran yang benar), maka harus:
kembali kepada pengajaran yang benar

Jika ada Firman pengajaran yang benar, maka kita harus menerimanya kusta harus dibuang

Yesaya 57 : 19, Aku akan menciptakan puji-pujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat—firman TUHAN—Aku akan menyembuhkan dia!

Belas kasih anugerah TUHAN memberikan damai sejahtera, sehingga semuanya menjadi enak dan ringan.

Mari sekarang ini kita pulang dengan damai. Setelah bayi menangis, maka TUHAN ulurkan Tangan untuk memeluk kita (Tangan anugerah TUHAN menggendong kita). Saat bayi digendong ibunya, mau apa saja bisa. Kalau berat bayi 10 kg, maka seluruhnya 10 kg digendong oleh TUHAN (tidak mungkin kepalanya saja yang digendong) sehingga semua letih lesu, beban berat ditanggung oleh TUHAN, kita damai sejahtera, enak dan ringan.

Bayi itu tidak bisa buang kotoran, tetapi tangan ibunya yang membersihkannya. Yang terakhir adalah belas kasih anugerah TUHAN menyatukan, menyempurnakan, menyucikan dari kotoran-kotoran dosa, sampai Israel dengan kafir menjadi satu tubuh yang sempurna.

Mari sekarang ini kita hanya seperti bayi saja. Raja Hizkia yang hebat digiring oleh TUHAN (kita yang merasa hebat akan digiring oleh TUHAN) sampai bisa hancur hati. Serahkan hidup kita kepada kemurahan dan anugerah TUHAN. TUHAN memberkati. CP


Pendeta Wijaya hendra
Gereja Pantekosta Tabernakel Kristus Kasih


dilihat : 697 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution