Senin, 18 November 2019 23:14:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520218
Hits hari ini : 2596
Total hits : 5090775
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Mana Saja Negara Paling Tidak Toleran di Dunia?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 17 Mei 2013 22:12:51
Mana Saja Negara Paling Tidak Toleran di Dunia?

Sebuah penelitian tentang sikap sosial global memperlihatkan bahwa penduduk yang paling tidak toleran secara rasial semuanya berada di negara berkembang. Negara seperti Banglades, Jordania, dan India menempati peringkat teratas.

Sebaliknya, studi terhadap 80 negara selama tiga dekade itu menemukan bahwa negara-negara Barat paling menerima budaya lain, dengan Inggris, Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia lebih toleran ketimbang tempat-tempat lain di dunia. (Lihat peta, yang berwarna biru menunjukkan wilayah yang penduduknya lebih toleran, sebaliknya yang berwarna merah mengindikasikan penduduknya yang kurang toleran.)

Bagaimana dengan Indonesia? Tidak masuk dalam level teratas, tetapi Indonesia berada di lapisan kedua negara-negara yang tidak toleran secara rasial.

Data tersebut berasal dari World Values Survey, yang sudah lama mengukur sikap sosial masyarakat di berbagai negara, sebagaimana dilansir Washington Post, Rabu (15/5/2013).

Menurut Washington Post, survei itu bermula dari keinginan dua ekonom Swedia untuk memeriksa apakah kebebasan ekonomi membuat orang lebih atau kurang rasialis. Mereka tahu bagaimana mereka akan mengukur kebebasan ekonomi, tetapi mereka perlu menemukan cara untuk mengukur tingkat toleransi rasial di sebuah negara. Maka, mereka berpaling ke World Values Survey, yang telah lama mengukur sikap dan pendapat global selama beberapa dekade.

Di antara puluhan pertanyaan yang ditanyakan World Values, para ekonom Swedia itu menemukan satu pertanyaan yang, mereka yakin, bisa menjadi indikator yang cukup baik tentang toleransi terhadap ras lain. Survei itu menanyai para responden di lebih dari 80 negara untuk mengidentifikasi jenis orang macam apa yang mereka tidak inginkan sebagai tetangga. Beberapa responden, berdasarkan opsi yang ada dalam daftar, memilih "orang dari ras yang berbeda". Semakin sering orang di suatu negara mengatakan mereka tidak ingin bertetangga dengan orang dari ras lain, para ekonom itu berpendapat bahwa Anda dapat menyebut masyarakat negara itu kurang toleran dari sisi ras. (Studi itu menyimpulkan bahwa kebebasan ekonomi tidak punya hubungan dengan toleransi rasial, tetapi hal itu tampaknya berkorelasi dengan toleransi terhadap homoseksual.)

Sayangnya, para ekonom Swedia itu tidak memasukkan semua data World Values Survey dalam makalah penelitian akhir mereka. Maka, Washington Post pun kembali ke data asli, menyusun data itu dan memetakannya dalam bentuk infografis seperti terlihat di peta. Negara-negara, yang dalam peta berwana biru, menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang mengatakan mereka tidak ingin bertetangga dengan orang dari ras berbeda. Sebaliknya, negara-negara dengan warna merah memperlihatkan adanya banyak orang yang tidak suka bertetangga dengan orang dari ras yang berbeda.

Negara dengan proporsi tertinggi orang-orang "yang tidak toleran", yang ingin hanya bertetangga dengan orang dari ras yang sama, adalah Hongkong. Sebanyak 71,8 persen populasi Hongkong menolak untuk bertetangga dengan orang dari ras yang berbeda. Urutan berikutnya yaitu Banglades (71,7 persen), Jordania (51,4 persen), dan India (43,5 persen). Negara-negara itu, yang persentasenya di atas 40 persen, tergolong level teratas negara-negara yang tidak toleran.

Indonesia, Mesir, Arab Saudi, Iran, Vietnam, dan Korea Selatan berada di lapis kedua, di tingkat persentase 30-39,9 persen. Di lapis ketiga, dengan persentase 20-29,9 persen, terdapat Perancis, Turki, Bugaria, Maroko, Mali, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Dalam daftar negara-negara yang paling toleran, yang tingkat ketidaktoleranannya 0-4,9 persen, terdapat AS, Kanada, Brasil, Argentina, Inggris, Sweida, Norwegia, Australia, dan Selandia Baru. Di AS, berdasarkan survei itu, hanya 3,8 persen penduduk yang enggan bertetangga dengan orang dari ras lain. Orang-orang Inggris, kata survei itu, juga toleran terhadap perbedaan lain seperti terhadap orang yang berbicara dalam bahasa asing atau meyakini agama alternatif.

Peringkat kedua negara-negara paling toleran, dengan persentase ketidaktoleranan 5-9,9 persen, terdapat Cile, Peru, Meksiko, Jerman, Belgia, Jepang, Pakistan, dan Afrika Selatan.

Timur Tengah, yang saat ini berurusan dengan sejumlah besar imigran berketerampilan rendah dari Asia selatan, tampaknya menjadi sarang ketegangan rasial. Eropa sangat terpecah, bagian barat benua itu umumnya lebih toleran ketimbang bagian timur, tetapi Perancis mengalami pengecualian yang mencolok dengan 22,7 persen orang Perancis menolak bertetangga dengan orang dari ras lain.

Beberapa pihak menunjukkan sejumlah kelemahan dalam survei itu. Mereka menyatakan bahwa karena survei itu punya jangka waktu yang panjang, hasilnya tidak bisa menjadi panduan untuk memperlihatkan kondisi saat ini. Namun, kelemahan yang lebih serius terdapat pada fakta bahwa di banyak negara Barat, rasialisme merupakan hal yang begitu tabu sehingga banyak orang akan menyembunyikan pandangan tidak toleran mereka dan berbohong kepada para penanya survei.

Max Fisher dari Washington Post menduga bahwa mungkin orang Amerika dikondisikan oleh pendidikan dan media untuk menjaga preferensi ras menjadi hal yang privat, misalnya berbohong tentang hal itu saat survei, sementara orang India mungkin tidak melakukan hal seperti itu.(DAP)

sumber:
http://internasional.kompas.com/read/2013/05/17/09432479/Mana.Saja.Negara.Paling.Tidak.Toleran.di.Dunia

dilihat : 445 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution