Rabu, 24 April 2019 23:50:45 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 330
Total pengunjung : 495401
Hits hari ini : 2905
Total hits : 4553956
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Sampel Kotoran untuk Selamatkan Gajah Sumatera?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 15 Januari 2013 02:46:50
Sampel Kotoran untuk Selamatkan Gajah Sumatera?
Jakarta - Sebuah pendekatan alternatif untuk melindungi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) diambil oleh lembaga pegiat konservasi World Wildlife Fund (WWF) Indonesia. Bersama tim peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mereka mengumpulkan ratusan sampel fekal (kotoran) gajah.

Sebanyak 350 dari 500 sampel fekal gajah telah dikumpulkan sejak Juli 2012. Ratusan sampel kotoran itu digunakan untuk mengembangkan marka genetik gajah. Teknik yang tidak menyakiti gajah ini dapat memberikan data yang efektif tentang ukuran populasi, pemetaan sebaran, rasio seks, hubungan kekerabatan, dan aspek ekologi lainnya.

"Kami menargetkan 18 marka genetik untuk mempelajari populasi gajah Sumatera," kata Deputi Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, Senin, 14 Januari 2013. Sampai saat ini, analisis DNA sudah menghasilkan 14 marka genetik.

Pengembangan marka genetik berguna untuk mengkaji pola genetik pada populasi gajah yang berbeda secara geografik. Teknik untuk menentukan identifikasi spesies dan subspesies ini pada akhirnya dibutuhkan bagi pengelolaan manajemen konservasi gajah.

Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Kuppin Simbolon, mengatakan, konservasi gajah Sumatera selama ini selalu tersandung persoalan pelik, terutama berkaitan dengan alih fungsi hutan. "Pengelolaan dan penyelamatan gajah sangat membutuhkan informasi terkini yang berasal dari penelitian yang baik," ujar dia.

Ia mengatakan, di Riau, terdapat sembilan kantong populasi gajah yang letaknya tersebar. Dua di antaranya terdapat di dalam kawasan taman nasional, masing-masing di bagian utara dan selatan. Populasi gajah di Riau terancam karena sebagian besar hidup di luar kawasan nasional.

Pakar gajah dan harimau WWF Indonesia, Sunarto, mengatakan, populasi gajah Sumatera terancam oleh kerusakan habitat akibat hak pengusahaan hutan (HPH). Hutan di kawasan taman nasional rusak, terutama akibat penebangan untuk dijadikan kebun sawit dan akasia.

Penebangan hutan secara masif sejak dekade 1980 membuat gajah terpecah ke dalam kantong-kantong populasi. Akibatnya, populasi gajah di Riau, sebagai contoh, menurun drastis dari 1.342 pada 1985 menjadi 210 ekor pada 2007.

"Ketika kami masuk Tesso Nilo, tempat itu sudah compang-camping akibat pengelolaan yang tidak berkelanjutan," kata dia.

Faktor lain yang mengancam kelangsungan hidup populasi gajah adalah status "hama" yang disematkan oleh kelompok perambah maupun perusahaan sawit dan akasia. Predikat yang juga disematkan ke rayap, tikus, dan landak ini membuat gajah diusir, diburu, bahkan tak segan dibunuh karena dianggap merusak tanaman perkebunan.(DAP)


sumber:
http://www.tempo.co/read/news/2013/01/14/061454350/p-Sampel-Kotoran-untuk-Selamatkan-Gajah-Sumatera

dilihat : 429 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution